Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Weblink
SPTT Cimbuak
Advertisement
Cimbuak Toolbar
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Saba ado duo pucuaknyo
Nan patamo saba jo kainginan
Nan kaduo saba jo nan indak diinginkan
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Perang Si Padang (3) PDF Print E-mail
Written by Zulkarnain Kahar   
Monday, 06 October 2008

ImageKe Jakarta aku kembali seperti lagu koes plus,  Setelah ibu baikan, aku memilih berkeluarga. Mulai mencari kerja dengan sebuah kartu nama tua yang tersimpan dirumah pemberian seorang turis bule yang ketemui di Swiss Restorant Bali beebrapa tahun silam. Beliau salah satu expatriate di pabrik kaset ternama B di jalan Lodan Raya.  YVE initialnya. " I am leaving soon zul katanya". kalau saja  ku temui beliau tiga tahun lalu akan lain ceritanya.

Adikku sudah bekerja di sebuah bank pemerintah dia melangkah dengan mudah lewat olah raga karate yang ditekuninya dan dapat pula kuliah di sore hari dengan biaya bank tersebut. Aku masih luntang lantung. Kalendar yang terpampang didinding menunjukan tahun 1985. Istriku tidak mau tinggal diam life must go on. Dengan keahliannya urusan rambut dia bekerja di sebuah salon di kawasan pluit.  Aku mulai merubah tongkrongan ke stasiun senen menjadi calo dan kemudian bertranformasi menjadi supir taksi gelap.

Tanggal 2 May 1986, ada telegram dari Maninjau, Nenek sakit. Naik ALS saya pulang ke maninjau berdua dengan Ibu. Nenek tergeletak badannya tidak berfungsi sebelah, dia hanya bisa tidur. Ibu hanya dua hari dikampung dan kembali ke jakarta. Tinggalah saya dengan Nenek yang sedang terbujur tak bisa apa apa. Satu bulan saya mengurus beliau dari memandikan, menyuapin, dan membersihkan kotoran, serta mencuci pakaian kotor beliau. Kalau waktu saya kecil beliau yang menjaga saya nampaknya sekarang pay back time nek, kata saya. Tersungging senyum pahit dibibirnya.

Karena penyakit nenek tidak ada perubahan dan saya tidak mungkin lama lama di kampung ini. Istri saya di Jakarta sedang hamil tua akhirnya saya dan ibu di jakarta memutuskan membawa nenek ke Jakarta. Diiringi derai air mata saudara saudara di kampung, kugendong nenek menaiki Bis sampai di bukit tinggi. Ketika membeli tiket Bis AC di Bukit Tinggi tak ada satupun Bis yang mau, alasan mereka kalau terjadi apa dijalan bagaimana. Yang non AC pun sama sama menolak. Akhirnya saya buat perjanjian kalau nenek saya meninggal ditengah jalan tinggalkan kami berdua, dan kalian bisa jalan terus. Nenek tak bisa duduk dan berbicara lagi, yang bisa dilakukannya hanya mengangguk dan menggeleng. Dua hari dua malam dengan bus Non AC dan pandangan mata tak bersahabat dari para penumpang sampai juga kami di Pulo Gadung. Inilah nasib, mau dibawa ke rumah sakit uang tidak ada. Hampir setiap malam saya berdoa dipinggir ranjang nenek di rumah kami di Jakarta. Doa ku sederhana saja, " Ya Allah, kami tak punya uang untuk membawa nenek ke Rumah Sakit. Yang ada, cuma hati dan kasih sayang. Bila Engkau berkenan , sembuhkanlah Nenekku dan bila kesembuhan bukan lagi pilihan, kami rela melepas beliau". Jumat pagi, setelah 30 hari nenek di jakarta, beliau menghembuskan nafas terakhir. Sebagai rasa terima kasih untuk nenek yang menjagaku dengan kasih sayang dari kecil, kuantar beliau hingga melepas tali kafan di liang lahat perkuburan di Jakarta Timur. Selamat jalan Nek.

Sempurnalah kemiskinan. Ibu adalah seorang PNS rendahan, kami tak pernah punya rumah sendiri, hidup selalu berpindah pindah, dari kontrakan ke kontrakan, dari tumpangan ke tumpangan. Lebih parah lagi, sejak aku masih di sekolah dasar, Ibu sudah menderita penyakit Psoriasis. Sekujur tubuh memerah dan mengelupas. Dengan kondisi seperti itu beliau selalu masuk kantor dengan rajin. Bolak kalik ke rumah sakit adalah hal rutin. Suatu ketika beliau down dan dirawat RSCM, hampir satu bulan masuk awal puasa sehingga kami berhari raya di rumah sakit. Giliran mau keluar, uang tidak ada yang mau dijual pun tak ada, ya satu satunya cara adalah kabur dari rumah sakit. Pagi pagi setelah mandi dan bersih bersih ibu berpakaian agak rapi walaupun wajah masih kelihatan pucat pada saat orang orang besuk mulai ramai disitulah kami pelan pelan menyusun strategi untuk keluar dan kabur dengan taksi yang sudah saya siapkan. Maafkan kami Dr Cipto. Sampai hari ini kami memangtidak membayar biaya rumah sakit tersebut, karena aku merasa pajak yang kubayar setiap bulan jauh diatas biaya rumah sakit tersebut.

6 Juni 1986 anak pertama lahir, aku dan istriku mengontrak sebuah rumah kecil berdinding gedek di kawasan kali deres. Aku harus dirumah menjaga anak kecilku sementara istriku terus bekerja dengan penhasilan pas pasan. Inilah yang dinamakan ground zero. Otak ku seakan tak mampu lagi berputar. Hijrah adalah sebuah kata yang terlintas. Dua hari menjelang hari raya di tahun 1988, kami berangkat ke Medan dan terus ke lhokseumawe Aceh.

Ya Allah tunjukkanlah saya jalan untuk mendapatkan pekerjaan, tukang sapu pun jadi selama itu halal. Anakku akan tumbuh dewasa, Aku ingin membesarkan mereka dengan rezeki yang Engkau ridhoi. Itulah doa yang selalu kupanjatkan setelah bekeluarga dan punya anak satu masih juga tidak jelas kemana arah jalan hidup. “ BANG”, 20 October 1988. jam 00:00 adalah hari pertama saya kerja, shift malam sebagai Janitor atau tukang sapu saat ini lebih populer dengan sebutan OB (office Boy), kami berempat kerja bergantian, Aziz yang masih muda yang belakangan hari jadi supir, Pak Usman dan Pak Ibrahim tetap jadi janitor sampai dipensiunkan.

Pekerjaan tukang sapu ini berawal dari informasi yang kudapat dari salah satu orang yang baru kukenal bekerja disana. Katannya mereka membutuhkan empat pesuruh. Dengan menaiki mobil pekerja shift malam terselip dibelakang aku duduk sendiri. Sampai masuk kekawasan industri tersebut karena malam sekuriti yang menjaga tidak begitu teliti. Duduak diam sampai pagi. Jam 7 pagi aku langsung menemui seorang bule setelah diberitahu kawan yang memberikan info tadi dimana lokasi tempat bule itu berkantor. "Morning Sir", I hear you are looking for janitor?, bule itu agak terkejut kemudian dia berkata "Yes, I need four" katanya. Aku masih berdiri dalam kebigungan, dia melanjutkan "go see mr YS, in  Poin a he is Service supervisor, tell him to call me at this number" sambil memberikan nomor telp. nya. Aku hanya mengangguk angguk kayak orang bego. Pada saat aku akan meninggalkan ruangannya di berkata " bring your friend with you,  I need four" katanya sambil mengangkat empat jarinya. "ya" kataku. Aku bejalan keluar pabrik ada lagi satu tanda tanya didalam kepalaku dimana itu Point A, pada waktu melewati petugas satpam aku disetop.  Sebelum dia bertanya aku duluan bertanya "Pak point A dimana?". "Mana badge katanya?, tak ada kata saya, entah apa yang ada dibenaknya saya tak tahu kemudian dia berkata" Sana keluar?" seraya membentak.

Sampai diluar pagar saya bertanya pada beberapa orang yang berdiri diluar pagar dimana itu lokasi Point A. Rupanya sekitar dua kilo meter jaraknya dari tempat saya berdiri.

Sampai digerbang pintu Point A, saya langsung ke loket satpam, meminta tanda pengenal visitor. "Mau ketemu siapa kata pak satpam?". saya menyebutkan nama yang diberikan bule tersebut. Pak Satpam langsung menelpon pak YS. Kemudian dia bertanya lagi "Mau apa?". Dengan lugu saya ceritakan saya mau kerja jadi tukang sapu di Kilang LPG itu dan bule itu menyuruh saya menghadap pak YS dan dia perlu empat orang kata saya.

Pat Satpam langsung berkata pak YS tidak ada ditempat. Besok saja katanya. Pulanglah saya hari itu, Besoknya pagi pagi saya kembali ke Point A, ketemu pak satpam yang sama dia memberi saya pass visitor. Setelah bertemu pak YS, saya katakan saya disuruh bule itu menemuinya untuk kerja sebagai janitor. Pak YS bilang sudah ada yang nasuk katanya. Empat orang sudah diterima kemarin katanya. Rupanya pak Satpam bergerak cepat  merealisasikan informasi dari saya . Saya mencoba menenangkan diri saya sendiri. Saya katakan sama pak YS,  "Pak bule itu meminta bapak menelpon beliau ini nomornya kata saya". Kamu tunggu diluar, biar saya telp dia" katanya.

Saya tak tahu apa yang terjadi dari pembicaraan tersebut. setengah jam kemudian saya disuruh ke sekuriti untuk membuat temporary badge dan diberi tahu kapan saya mulai kerja. Kami bekerja dibawah bendera PT Koalisi. Sebuah Kilang LPG yang baru beroperasi Lhoksukon , adalah nama tempat saya mulai bekerja di tanah air tercinta ini. Bekerja bergiliran selama delapan jam sehari.

Gaji pertama hanya puluhan ribu rupiah semua kusedekahkan ke mesdjid sebagai rasa syukurku, dan tak pula ada bayangan di benakku bahwa suatu hari nanti akan bergaji puluhan juta rupiah. “Kalian berempat disini hanya sementara paling lama tiga bulan bila sudah selesai masa sibuk start-up paling hanya satu orang yang dibutuhkan” Itulah kata Bapak MI salah seorang supervisor yang bertugas beliau adalah satu satunya orang Indonesia yang jadi supervisor di kilang LPG tersebut yang lainnya adalah orang asing.

Saya hanya butuh satu minggu saja untuk meyakinkan bapak bapak disini bahwa saya akan terus bekerja disini pak. Delapan jam waktu kerja tidak satu menitpun saya sia siakan, mengepel lantai sampai berkilat, membuat minuman, menyediakan piring dan gelas bila tiba waktu makan, dan membersihkan toilet. Dan saya pastikan tidak ada satu titik noda pun di lantai dan di toilet, walau para operator operator dan konsultan konsultan sibuk keluar masuk control room karena berbagai masalah operasi pabrik gas LPG yang baru mulai tersebut.

"Zul, you kerja kayak robot. Istirahatlah", kata pak MI suatu hari. Dalam hati saya lalu berkata, "Yes ,". Itulah yang saya inginkan, someone must recognize what I am doing . Setelah tiga bulan saya tinggal dan tiga kawan aceh saya harus keluar serperti apa yang pernah dikatakan pak MI. Menurut informasi beberapa teman, beliau kini bekerja di Lybia. Ini bukanlah hal mudah, saya bukan orang aceh dan tak pula bisa berbahasa aceh dan bersaing pula dengan orang aceh di daerah aceh untuk jenis pekerjaan yang mampu dilakukan semua orang.

Strategy pertama passed. Tinggal saya sendiri janitor, jadwal kerja berubah hanya siang saja . Tidak ada lagi kerja shift malam, siang dan sore. Next, saya harus keluar dari janitor ini. Caranya hanya satu, “Tell them you can do more than janitor”, itu yang ada dalam benak saya. BANG kedua – “Komputer”. Ya, inilah kendaraan saya untuk mencapai tujuan. Tapi bagaimana caranya? Waktu kerja janitor dari jam tujuh pagi sampai jam empat sore, istirahat jam 12 sampai jam satu siang. Setiap jam dua belas Bos besar JTJ, namanya orangAmerika, makan siang ke kamp dan baru kembali jam satu kurang 10 menit dan selalu begitu. Saya selalu masuk kekamar beliau membersihkan meja, menyapu, dsb. Di sudut ruangan beliau ada satu komputer IBM yang selalu on.

Otak saya mulai berputar inilah jalan keluar pertama yang kelihatan oleh saya. Kalau saya penakut takdir saya hanya seorang janitor. Saya harus menemukan takdir saya yang lebih baik dan ini perlu keberanian dan sedikit kenekatan dengan persiapan yang terukur. Saya kirim surat pada adik saya di Jakarta mohon dikirimi buku belajar komputer. Entah dia mengerti atau tidak, dua bulan berikutnya saya dapat kiriman 3 buku belajar komputer, Belajar bahasa Basic, Lotus 123, dan Formtool. Setelah membaca mungkin seratus kali mengulang dan melihat komputer yang terpajang di kamar sang bos.

Tibalah hari nekat saya, hidup ini bukan penantian tapi sebaliknya, kamu harus mengambil setiap kesempatan yang ada. 45 menit setiap hari dengan buku disebelah kiri dan tangan bergetar mulailah menekan keyboard, Lotus 123 kelihatan dalam menu persis seperti apa yang dikatakan oleh pengarang buku yang saya baca. Formtool juga begitu. Satu minggu berjalan lancar. Now what, tak ada artinya latihan tanpa kerja nyata.

Pada saat menyapu dan membersihkan control room dimana para bapak bapak operator bertugas saya melihat sebuah kesempatan emas, ada banyak form berbentuk tabel tabel yang dibuat dengan tangan, form form itu itu diperlukan untuk mencatat setiap perubahan temperatur, pressure dan indikasi indikasi lainnya yang dimonitor dari panel panel DCS maupun diluar di area kilang LPG. Dengan mendekati beberapa operator saya mulai melakukan pendekatan dan mangatakan saya bisa buat dengan komputer itu formulir formulir dengan cepat dan rapi. Ada dua hal yang saya lakukan satu membuat form form itu dan mencantumkan nama si operator dibagian bawahnya. Dari form beralih ke grafik dengan Lotus 123, nama yang nyuruh buat selalu saya ketik disetiap lembaran ini semua saya lakukan jam 12 siang. Para operator dan leadernya mulai dekat dengan saya yang akhirnya berdampak baik saya tidak lagi pulang jam empat sore.

Bila bos besar pulang, saya masuk ke kamar beliau menyelesaikan order-order operator dan leadernya. implikasi-nya, mereka tidak merecoki saya memakai komputer Toke besar sampai larut malam. Satu lagi kebaikan mereka, memberikan tumpangan pulang jam 12 malam besama rombongan shift mereka. Rupanya Pak Mukhtar diam diam melihat sepak terjang saya. Syukur Alhamdulillah beliau juga diam tidak melapor ke kolega supervisornya yang bule semua. Sepandai-pandainya tupai melompat, suatu hari jatuh juga. Hari naas itu tiba seperti biasa begitu bos pergi makan siang saya lalu masuk mengerjakan order operator membuat grafik, rupanya hari itu bos tidak punya selera makan dia kembali lebih cepat dari biasanya. Karena pintu masuk ke ruang kerjanya di belakang saya, saya tidak tahu entah sudah berapa lama beliau berdiri dibelakang saya. Waktu saya berdiri melihat hasil printout saya terperangah dan berdiri kaku tak mampu bergerak sedikitpun jantung berdebar tak keruan, beliau diam saja lalu mengambil topi dan keluar melihat kilang. Saya tambah bingung.

Hari itu saya pulang dan bercerita sama istri saya. Habislah kita mungkin kita akan kembali ke Jakarta lagi. Kami berdua hanya terdiam sambil memandang satu sama lain. Besok paginya saya masuk kerja seperti biasa ambil sapu, nyapu, ngepel , buat minum dan semua rutin kerjaan saya lakukan. Jam 10, saya dipanggil si Bos besar. Jantung saya seakan mau copot. Inilah akhirnya perjalanan tukang sapu dalam benak saya. Tapi Tuhan berkata lain “Zul, can you make this?”, sambil menunjukan bentuk sebuah sketsa form dengan berbagai kolom dan header, itu lah kata pertama yang saya dengar seakan tidak percaya. Thanks God. 12 th kemudian beliau menggedor kamar hotel saya di Houston Texas sambil berkata " God Damned. You made it, Man".

Setahun kemuadian GS salah seorang supervisor bule, memberi saya komputer merek Tandy. Inilah komputer pertama saya. Tidak ada harddisk. Dengan adanya komputer dirumah percepatan kemampuan aplikasi komputer saya meningkat drastis. Setelah dua tahun jadi pesuruh dengan kemampuan aplikasi komputer yang lumayan saya dipindahkan dari Clerk ke Cluster II, dan bos saya sekarang adalah Pak MA, orang Aceh. Sekarang beliau bertugas di Houston, Jasa beliau pada saya juga tak terbayar dengan memberikan keleluasaan berkreasi dengan komputer. Nama saya mulai dikenal oleh para sekretaris-sekretaris jadi tempat bertanya banyak pula para supervisor dan tehnisi, bagai mana bikin ini, bagaimana bikin itu.

Semakin banyak orang bertanya semakin terasah kemampuan saya. Ada yang minta tolong di buatkan, saya buat dirumah. Semuanya berdasarkan ke ihklasan. Ada yang minta tolong komputernya diperbaiki, saya tolong tanpa seperser duit pun. Ada yang minta tolong ditemani ke Medan untuk beli komputer komisi yang diberikan toko komputer dimedan tidak saya ambil malah saya suruh mengurangi harga kumputer tsb, saya bantu dengan senang hati. Kawan kawan pada menertawai saya dikasi duit kok tidak mau, hidup sendiri saja susah. Mereka barangkali tidak atau belum tahu bahwa saya tidak suka istilah sampingan saya punya rencana besar.

Tahun 1992 aku diberi sepeda bekas anak bule. Anak laki lakiku sudah berumur 3 tahun dan yang sulung sudah kelas dua SD. Mereka berdua setiap aku pualng kerja selalu kebawa jalan jalan naik sepeda berkeliling kota lhokseumawe, kadang kubawa mereka lapangan sepak bola di komplex PT Arun. Disini kami bertiga berlarian dilapangan sepak bola yang sepi itu. Bagiku melihat anak anak berlari kian kemari dan aku ikut pula bermain bersama mereka hilang sudah rasa lelah seharian.  Anak anak inilah yang menjadi driver utamaku agar terus berlari dilapangan kehidupan yang semakin hari semakin tajam kerikilnya. Dengan bermain main dengan komputer banyak pula para expatriate  yang memberiku komputer mereka dengan Cuma Cuma pada saat mereka pulang kenegerinya. Dan semua pemberian mereka kujual satu persatu untuk membayar kontrakan rumah.  Suatu hari tiba surat dari kampung menyatakan ibu ku sakit di Kampung.

Aku tidak berani pulang ke kampungku maninjau,  aku belum jadi apa apa rasa malu sebagai perantau gagal selalu menghantuiku aku tak mampu menemui orang yang kukenal dalam keaadan belum jelas ini, barangkali ini juga yang menjadikan aku berjuang habis habisan. Kuminta istriku untuk pulang dan membawa Ibu ke Lhokseumawe. Istriku belum pernah mengenal maninjau. Dengan menunjukan peta dimana rumah kami di maninjau dan how to get there nya. Beranglkatlah istriku bersama dua anak ku ke Maninjau menjemput Ibu. Setelah beberapa bulan di Lhokseumawe dirumah kontrakan sempit ibu tidak betah dan beliau dijemput adiku ke Jakarta. Adiku sudah mapan dan tidak lagi bertarung di medan yang tak berujung seperti diriku. Baru pada tahun 2004, sehari sebelum  kenerangkatan ku yang kedua ke Angola aku dapat telpon seorang teman di SMA Maninjau  yang kebetulan sedang barada di jakarta dia mengatakan menungguku di suatu tempat di Lenteng Agung disana sedang berkumpul teman teman SMA Maninjau yang akan mangadakan reuni.
Besoknya pesawatku berangkat jam 7 sore,  Sekitar jam dua siang aku berangkat menuju Lenteng Agung. Beberapa teman sesama SMA dulu hadir dihadapanku dan banyak pula yang tidak kukenal karena ada generasi beberapa tahun dibawahku. Dengan sedikit senyum aku berkata pada diriku sendiri bahwa geng saya tak jauh bedalah dengan anda. Kusumbangkan 100 USD buat acara reunian tersebut. Sebelum aku pamit berangkat ke Airport  balik ke pos ku di Angola.

Kalau gaji saya sepuluh ribu, saya harus hidup dengan sepuluh ribu. Di tempat kontrakan saya, di Cunda Lhokseumawe yang kebetulan dekat pasar yang banyak anak anak muda yang mulai tertarik bongkar pasang komputer. Mulailah saya mengajari mereka dengan persahabatan, mulai instalasi, utak atik hardware, video editing dengan software yang kemudian berbuah baik. Tidak saja mereka mampu berdiri sendiri tapi berdampak baik bagi saya dan keluarga apalagi pada saat aceh ribut ribut dengan Gam. Hampir semua orang yang akan pindah dari aceh th 1999 didatangin oleh preman preman minta uang yang berlebihan pada saat menaikan barang ke atas truk. Giliran saya memberi uang, malah mereka menolak, bahkan beberapa yang tak pernah kelihatan tersenyum mengeluarkan air mata. Sampai hari ini persaudaraan dengan kawan kawan masih terjalin baik kalau mereka ke Jakarta selalu mengabari saya.

Sepanjang hidup saya disini pula saya pertama kali menerima parcel lebaran dari Toko accesories mobil Kawan Kita. Awalnya sang pemilik bengkel membawa komputernya yang bermasalah ke Reparasi Electronic Ayub asal Sigli yang pas didepan rumah saya. Entah kenapa ayub minta tolong agar saya melihat apa yang salah. Saya datang dan setelah otak atik tak ada yang salah. Apa yang dilakukan ayub sudah benar. Edie, orang cina dan sang pemilik bercerita , dia pingin buat program database untuk tokonya yang baru akan dibuka di Pekan Baru tapi dia tak tahu mau mulai dari mana. Saya anjurkan pakai clipper saja, tapi kamu yang ngerjain, saya akan bantu anda. Tiga bulan kemudian program pun jalan. Mungkin karena sudah disarankan oleh Si ayub bahwa saya tidak mau kalau dikasih uang, seminggu sebelum lebaran seseorang mengatar parcel kerumah. WOW! Keranjangnya besar sekali dengan kartu bertuliskan 'Terima Kasih' dan sebuah kipas angin yang bisa digantung di ceiling rumah.Kipas angin itu sampai sekarang masih tergantung di ruang keluarga rumah saya dan masih aktif. Apakah ini harga untuk sebuah program inventory database clipper saya? Mudah-mudahan tidak, karena saya selalu menganggap persaudaraan jauh lebih bernilai dari uang.

Beberapa orang menyarankan agar saya pindah ke IT, saya menolak. Saya pasti tidak mampu bersaing dengan para ahli ahli IT. Tetap di technical, dengan kemampuan teknik terbatas dan bahasa inggris yang buruk tapi disupport oleh kemampuan applikasi technical software membuat saya unik sendiri. Sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui. Berganti-ganti nama PT setiap tahun yang mengurusi para karyawan kontrak ditempatku bekerja. Masalah keterlambatan pembayaran gaji sudah jadi hal biasa. Setiap ganti PT selalu saja ada masalah baru. Bosku pun berganti semua, mereka orang orang pintar lulusan luar negeri. Aku terus belajar, kini arahnya berbeda. Semua orang mulai dari labour, operator, supervisor kutemani dengan baik dan belajar dari mereka tentang operasional. Kalau dulu jam makan siang aku belajar komputer sekarang setiap jam makan siang aku keluar bergabung dengan para labor-labor di lapangan.

Bertanya ini apa, itu apa, kalau ada kesempatan ikut pula bertanya dengan kawan yang operator di lapangan, memahami prosess kerja setiap alat. Buku buku panduan mulai kubuka-buka, bila ada yang tidak tahu aku bertanya. Cita-citaku kini mau jadi operator.
 

Bersambung ...

 

Silahkan Klik Perang Si Padang (2) untuk membaca tulisan sebelumnya

Silahkan Klik Perang Si Padang (1) untuk membaca tulisan sebelumnya

 

Trackback(0)
Comments (5)add comment

puti maharani said:

lanjutkan ceritanya Pak... rani sedang asyik membaca pengalaman bapak ini.

wassalam,
 
report abuse
vote down
vote up
October 06, 2008
Votes: +1

Prisdiminggo said:

smilies/smiley.gif smilies/grin.gif
Assaalamualaikum pak kahar, Minal aindin wal faizin maaf lahir jo bathin, caritonyo samakin lamak
 
report abuse
vote down
vote up
October 06, 2008
Votes: +0

Alex Hanief Isyna said:

Luar biasa !!! Saya adalah salah satu saksi sepenggal kisah dari dahsyatnya perjalanan hidup bang Zul ini. Tak disangka apa yang saya pernah dengar langsung dari beliau 10 tahun yang lalu hanya sekelumit kecil saja. Saya sendiri banyak belajar ttg kehidupan dari bang Zul.

Semoga pengalaman hidup beliau ini jadi penyemangat bagi semua terutama saya pribadi … bahwa kerja keras teriring doa akan mampu membawa kita ke takdir yang lebih baik. Saya akan sampaikan kisah hebat ini ke anak-anak saya. Terima kasih bang Zul.

Salam takzim dari saya,
Alex (budak belacan Dumai yang nyasar ke Doha)
 
report abuse
vote down
vote up
October 07, 2008
Votes: +0

Deswita said:

Assalamualaikum Wr. Wb..
Dilanjut an ceritanyo pak... indak saba mandanga cerita selanjutnyo, cubo dibuekkan novel cerita pak kahar ko... indak ka kalah saing bagai jo laskar pelangi doh.... hehehehhe
 
report abuse
vote down
vote up
October 13, 2008
Votes: +0

hifni hfd said:

wah ceritanya semakin asyik. Asyik bagi pembaca... namun tidak bagi penulisnya. Mengapa ..? pastilah menghabiskan waktu berjam - jam untuk merangkaikan suatu pengalaman menjadi suatu kisah yang menarik..Akan semakin indah bila dipoles menjadi pernik-pernik rangkaian kata indah yang dibuat oleh Melati Malam. Silahkan bekerja sama lho... Pakl

Okay.. seperti yang lain saya juga menunggu kisahnya Pak...Mau dibuat berapa episodekah.. ?

Wassalam

dari rantau Albantani
 
report abuse
vote down
vote up
October 13, 2008
Votes: +0

Write comment
You must be logged in to a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy
 
< Prev   Next >


Advertisement

Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Yayasan Cimbuak
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 22 guests and 17 members online
Generated in 2.68637 Seconds