|
Pada sebuah rumah tangga apalah fungsi seperangkat meja makan. Ia tidak lebih berfungsi sebagai perangkat untuk memberi kenyamanan disaat kita makan. Pada sebuah pasangan baru berumah tangga, diyakini meja makan dimilikinya setelah giliran sekian dari kebutuhan sekunder rumah tangganya. Kebanyakan pasangan rumah tangga mendahulukan perangkat kursi tamu sebagai benda idaman yang ingin dimiliki dalam rumahnya. Atau bahkan mendahulukan perangkat rumah tangga lainnya seperti, TV atau radio dibanding sekedar kursi tamu. Apalagi jika mereka masih berkedudukan sebagai pasangan “ kontraktor “ alias menempati rumah rumah kontrak atau rumah sewa. Belum terpikir untuk menyediakan perangkat meja makan ini.
Suatu ketika kakakku laki-laki meneruskan beberapa pesan singkat kepada diriku. Hari sudah larut malam menjelang waktu 00.00 Wib. Bunyi terusan SMS itu adalah sebagai berikut : “ Pa…. aku kan sudah besar.. Beri dong saya kepercayaan “. “ Saya kan udah berusaha melaksanakan sesuai keinginan Papa” “ Aku tau ..apa yang dimaui Papa, namun Papa gak pernah beri aku kesempatan... Cukup banyak postingan SMS itu “. Selanjutnya SMS itu, ditutup oleh pesan asli dari kakaku itu kepada diriku dan juga tentunya kepada kakakku lain-lain. Isinya ; “ wah gua gak nyangka, anak gua udah berani mengkritik papanya. Hal beginian ….Gak pernah pernahnya kita lakukan sama ortu kita lho…. Seperti biasa, kami beradik kakak memang selalu berkomunikasi melalui SMS – satu sama lain dengan menggunakan teknologi seluler ini. Saling mengkomunikasikan keadaan keluarga, tanpa perlu berlama-lama bicara secara langsung. Walaupun sudah pada usia 50 th-an, memiliki kapasitas dan peran masing-masing sesuai rezeki yang diberikan Allah SWT, namun dalam hal persaudaraan yang hakiki ini, kebiasaan ini tidak pernah diputus oleh adanya kesibukan masing-masing untuk kepentingan Negara atau perusahaannya. Walaupun mata mengantuk berat, namun kebiasaan kakakku yang satu ini menghubungiku dimalam hari, aku layani dengan hati senang. Ada satu pesan yang ternyata ampuh kulayangkan kepada kakakku itu. Dan tidak kusangka – aku mendapat acungan jempol dari kakak-kakakku yang lain, karena pesan yang sama aku sebarkan pula pada kakak-kakakku yang lain. Bunyinya begini : Oom…. Segera ganti meja makan. Ganti yang lebih besar….!!!. Akhirnya kakakku itu membalas SMS ku : Ha… ha…. Benar Vi. Besok aku beli meja makan yang lebih besar deh… Tahukah Anda ? itu adalah keritikan halus kepada seorang kakak. Mana mungkinlah adiknya yang paling kecil menggurui dirinya - (kakakku itu) - yang pasti memiliki pengalaman yang lebih dari sang adik. Selain itu, terkadang kesibukan dan beban tanggung jawab seseorang - seorang ayah sering mengabaikan kepentingan anak. Bahkan bila ia memiliki anak-anak yang sudah remaja, seorang ayah sering berkeinginan untuk mendapatkan hasil yang serba instant dari anaknya. Persis seperti yang diinginkan dari laporan para bawahannya. Dengan kesibukannya itu - bahkan pada keluarga tertentu - begitu besar kesibukan di luar rumah - meja makan tidak lebih dari sekedar pajangan. Ketika rumah tangga dihadang kemarahan, kegaduhan dan keluh kesah, maka meja makanlah tempat yang paling tepat untuk berunding. Ia dapat berfungsi sebagai sarana pertemuan suatu keluarga inti. Dalam suatu musyawarah keluarga - Ayah berfungsi sebagai Steering Committe dan Ibu sebagai organizing comitte yang baik. Nikmatilah keluh kesah sang anak – walau sekecil apapun. Pertanyaan kita sekarang. Bagaimana sekiranya suatu keluarga tidak memiliki kesempatan untuk duduk bersama disaat makan. Yakinlah, beberapa waktu perjalanan hidup manusia, kesempatan berkumpul di meja makan itu pasti ada. Karenanya janganlah mengabaikan peran sebuah meja makan. Dimeja makan, anak akan mendapat pendidikan berharga dari kedua orang tuanya. Bagaimana berbagi jatah makanan buat saudara atas jumlah makanan yang terbatas. Terkadang ketika makanan itu terasa lezat disantap sang anak – ia melupakan saudaranya – dan ini tentu mengudang protes dari saudaranya yang lain. Persis ributnya bak ciok anak ayam. Tinggallah induk ayamnya berkokok untuk menenangkan anak ayamnya. Juga pendidikan, bagaimana cara mengunyah mengikuti sunnah Rasul. Bagaimana kedua orang tua bercerita tentang pengalaman masa kecil – yang pasti akan membuat sang anak akan berpikir, betapa hebatnya kedua orang tuanya, disaat ia telah meraih kesuksesan. Silahkan demi kebaikan – orang tua sedikit berpetualang mengkisahkan heroisme yang dilakukan sang ayah pada masa kecilnya. Selain itu sang ayah akan berkedudukan sebagai pemimpin terhadap isteri, sebagaimana ketentuan yang terdapat dalam Surah Annisa ayat 34. Kepemimpinan untuk setiap unit merupakan hal yang mutlak, lebih-lebih keluarga, karena disinilah mereka selalu bersama. Pada keluarga Minangkabau zaman dahulu, peran seorang ayah bagaikan seorang pejantan. Mohon maaf kepada pembaca. Ini adalah realita kehidupan beradat dan berbudaya di Minangkabau. Karena perkawinan menganut system eksogam. Ayah sebagai “ urang sumando” yang berkedudukan sebagai tamu abadi dirumah kerabat isterinya. Selamanya ia akan dilayani dirumah isterinya, tanpa memiliki tanggung jawab seutuhnya sebagai seorang ayah yang mendidik dan membesarkan anaknya. Bukankah semuanya itu telah diambil perannya oleh Mamaknya (saudara laki-laki ibunya). Saat kini dalam rangka penerapan ABS – SBK dalam keluarga inti, pola kehidupan kerumahtanggaan memerlukan sinergitas diantara kedua orang tua. Hal ini tidak lain untuk mencapai sasaran kualitas keluarga bahagia dan sejatera dan pada akhirnya menciptakan Sumber Daya Manusia yang tangguh menghadapi tantangan globalisasi. Semuanya itu bermula dari pendidikan dirumah dengan meja makan sebagai sarananya. Berlebihankah, jika mengumpakan meja makan sebagai tempat berunding ? Mengukuhkan persatuan keluarga ? Jawabannya pasti tidak, karena pada akhirnya ketika sang anak – anak sudah besar, suasana meja makan itu semakin berubah. Tidak terdengar lagi “ciok” ayam (mencicit) di meja makan itu. Yang ada akhirnya adalah warna-warna partai politik. Ada yang berposisi sebagai democrat. Ada yang sebagai metalizer. Ada yang nasionalis dan ada yang agamis. Anak-anak itu ternyata membawa pula pengalamannya diluar kedalam rumahnya. Persis seperti yang terjadi pada posting SMS diawal artikel ini, kuterima di malam hari itu. Bahwa seorang anak telah beralih – semula minta diperhatikan segala kemauannya menjadi minta dimengerti apa keinginannya. Megamendung, 4 Oktober 2008
Trackback(0)
|