Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Weblink
SPTT Cimbuak
Advertisement
Cimbuak Toolbar
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Nan babarih nan dipahek
Nan baukua nan di kabuang
Jalan luruih nan ditampuah
Labuah Pasa nan dituruik
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Mulianya Pemaaf PDF Print E-mail
Written by Buya H. Masoed Abidin   
Friday, 10 October 2008

Image“Wahai ‘Uqbah, maukah engkau aku beritahukan akhlak penghuni dunia dan akhirat yang paling mulia ? Yaitu, menyambung silaturrahmi dengan orang yang memutuskannya, memberi kepada orang yang tidak mau dan tidak pernah memberimu, memaafkan orang yang pernah menzalimi dan menganiayamu.” (HR. Al Hakim)

Pemaaf adalah sikap yang suka memberi maaf terhadap kesalahan orang lain tanpa ada sedikitpun rasa benci dan dendam di hati. Sifat pemaaf adalah salah satu manifestasi dari ketaqwaan kepada Allah. Sebagaimana firman-Nya, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. Yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun di waktu sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuata kebajikan.” (Q.S. Ali Imran: 133-134)

Islam mengajarkan untuk bersikap pemaaf dan suka memaafkan kesalahan orang lain tanpa menunggu permohonan maaf dari orang yang berbuat salah kepada kita. Karenanya, tidak ditemukan satu ayat yang menganjurkan untuk meminta maaf, tetapi yang ada ialah perintah untuk memberi maaf.

Adakalanya seseorang berbuat salah dan  menyadari kesalahannya serta berniat untuk meminta maaf, namun ia terhalang oleh hambatan psikologis untuk menyampaikan permintaan maaf. Apalagi jika orang itu merasa status sosialnya lebih tinggi dari orang yang akan dimintainya maaf. Misalnya, seorang pemimpin kepada orang yang ia pimpin, orang tua kepada anaknya, atau yang lebih tua kepada yang lebih muda. Barangkali, itulah salah satu hikmah kenapa Allah memerintahkan kita untuk memberi maaf sebelum dimintai maaf.

Memberi maaf haruslah disertai dengan ketulusan hati dan berlapang dada. Sehingga tak ada tersisa rasa dendam atau keinginan untuk membalasnya. Allah berfirman dalam surat An Nuur ayat 22.

Berlapang dada dalam bahasa Arab disebut ash shafhu secara etimologis berarti lapang. Halaman pada buku dinamai shafhah karena kelapangan dan keluasannya. Dari sini ash shafhu dapat diartikan kelapangan dada. Berjabat tangan dinamai mushafahah, karena melakukannya berarti perlambang kelapangan dada.

Diibaratkan kita adalah dalam menulis di sebuah lembaran kertas, dan kesalahan itu kita hapus dengan alat penghapus. Serapi apapun kita menghapusnya, tentu akan meninggalkan bekas, bahkan barangkali kertas tersebut menjadi kusut. Karena itu, supaya lebih bersih dan lebih rapi, maka kertas yang terdapat kesalahan tulis padanya diganti saja dengan kertas lembaran yang baru. Memaafkan diibaratkan menghapus kesalahan pada kertas, sedangkan berlapang dada diibaratkan mengganti lembaran kertas yang salah dengan lembaran yang baru.

Rasulullah SAW pemilik akhlak yang paling mulia, dengan keagungan akhlaknya telah memberikan suri tauladan kepada umatnya. Diantaranya sikap pemaaf. Diantara sikap pemaafnya dapat kita simak dalam kisah berkut ini.

Dalam peperangan Khaibar, Zainab binti Al Haris istri Salam bin Miskan, salah seorang pemuka Yahudi, memberikan hadiah kambing bakar yang telah matang kepada Rasulullah SAW. Zainab bertanya kepada Rasulullah tentang anggota badan kambing yang disukai beliau, lalu ada yang menjelaskan kepadanya bahwa yang disenangi Rasulullah adalah paha kambing. Kemudian Zainab memberi racun sebanyak-banyaknya pada paha kambing dan menghidangkannya kepada Rasulullah. Kemudian Rasulullah mengambil sedikit daging paha kambing tersebut dan mengunyahnya, tetapi tidak menyukai rasanya. Bisyar Al Barra’ bin Ma’ruf yang saat itu bersama Rasulullah ikut menyantap daging paha kambing tersebut. Rasulullah SAW memuntahkan kembali daging kambing yang beliau kunyah, kemudian berkata: “Sesungguhnya tulang ini memberi tahu kepadaku bahwa dia diberi racun.” Lalu Zainab dipanggil dan ditanya tentang hal tersebut, dan diapun mengakuti perbuatannya. Rasulullah SAW bertanya kepada Zainab tentang perbuatannya itu. Zainab menjawab, “ Karena engkau telah menaklukkan kaumku, sebagaimana engkau ketahui, lantas terlintas di hatiku untuk mengujimu dengan racun itu. Jikalau Muhammad seorang raja, maka aku akan aman dari tindakannya (mati lantaran memakan daging paha kambing yang telah diberi racun), dan jikalau dia memang seorang nabi, tentu ia akan diberitahu (tentang daging yang beracun itu). ” Lalu Zainab dimaafkan oleh Rasulullah, sedangkan Basyar al Barra’ yang telah memakannya, meninggal seketika. Sebenarnya pengakuan Zainab hanya dusta belaka. Sesungguhnya ia benar-benar berniat untuk berbuat jahat terhadap Rasulullah SAW. Walaupun demikian, niat jahatnya itu telah diampuni oleh Rasulullah berka tsifat pemaafnya dan kelapangan dadanya.

Kisah di atas satu dari sekian banyak kisah tentang keluhuran budi pekerti dan akhlakul karimah yang dimiliki oleh Rasulullah SAW. Betapapun besarnya kezaliman yang dilakukan atas diri beliau, tiada sedikitpun beliau menaruh benci apalagi dendam untuk membalasnya. Bahkan pintu maaf selalu beliau buka dengan lebar bagi siapa saja yang bermaksud atau berlaku jahat dan menganiaya beliau.

Perlu disadari, bahwa di dunia ini tidak seorang pun yang tidak pernah berbuat kesalahan. Maka hal yang terbaik bagi setiap diri adalah menyadari akan kesalahan yang pernah diperbuat, kemudian bersegera untuk memohon maaf atas kesalahannya.

Jika kesalahan itu terhadap Allah SWT, maka bersegeralah  minta ampun-Nya. Dan jika kesalahan itu terhadap sesama manusia, maka bersegeralah memintakan maaf kepadanya.

Paling utama adalah jika ada yang pernah berbuat kesalahan terhadap seseorang, maka maafkanlah kesalahannya, walau orang yang berbuat kesalahan itu tidak pernah memohon maaf dari kita. Karena ketahuilah, bahwa dengan begitu rahmat Allah akan senantiasa meliputi kita. Allahu a’lam

 

 

Trackback(0)
Comments (2)add comment

melati said:

assalamualaikum..
masa mudaku.masa persekolahan ..bisa menaruh rasa kurang senang akan teman sepermainan..dek sikapnya ....hingga tidak lagi mahu menyapai nya...hingga lewat 3 hari tanpa ku sedari ku meneguri nya kembali..hairan namun mungkin kerna ibu sering menyatakan masa kecil2 lagi ..3hari tidak bertegur sapa (marah atau benci) berdosa besar...
ya hingga dewasa hingga kini...ku tak akan ada rasa benci pada sesama insan....sebagai manusia pasti ada rasa kurang senang dengan sesaorang...bagai tak ingin memaafkan namun telah ku lontar jauh perkataan benci...jadi ku bersedia memaafkan walaupun ambil masa sehari dua kadang sebulan dua ..untuk mendalami kenapa dia atau aku ada rasa kurang senang hati ..irihati atau cemburu...dan sering kali Allah menolong aku..melihat sedalamnya kenapa ada rasa sebegitu maka ...timbullah rasa menyesal dan terus memaafkan..
namun salahkah jika aku harus awasi akan sifat sesaorang seandai dia telah membuat hatiku terasa keraguan akan kesetian seorang sahabat atau saudara..?
Hanya Allah jua yang tahu akan jawapan ...aku manusia yang tak bisa lari dari melakukan kesilapan...

memaafkan adalah satu satunya ubat untok hidup tenang, gembira, dan dapat sering terukir senyuman iklas ...

comment : benar sekali ..memaafkan sesaorang membuat kita rasa aman dijiwa...

salam mesra
melati malam...

maka disini melati memohon kemaafan .. seandainya ada cara tulisan dan bicara ku yang melanggar adat minangkabau atau menyakiti hati sesiapa.. dicimbuak.net, di palanta atau tika mendj.. atau masa kita bertemu di mana saja...maafkan melati ya..jua..usah ragu dihati ..melati tak bisa simpan rasa dendam atau marah pada sesiapa...ku sayangi semua..
 
report abuse
vote down
vote up
October 10, 2008
Votes: +0

hifni hfd said:

Assalamualaikum Warrahmatullahi wa barakatuh,

Buya, saya pernah dihempaskan dalam karir oleh Direksi suatu perusahaan tempat saya bekerja. Hanya karena saya sering bersebrangan dalam penerapan sistem dan prosedur yang berlaku di perusahaan itu. Maklum saya membuat aturan dan saya ingin semua lapisan di perusahaan itu mentaati ketentuan yang berlaku termasug k para anggota Direksi.Rupanya 2 x 2 tidak selalu 4, namun bagi Direksi sebuah BUMN menyebutnya 5. Akibatnya sebagai seorang legal advisor, saya dianggap sebagai batu sandungan bagi kebijakan pimpinan. Demi pencapaian target perusahaan Direksi memang harus melakukan itu. Namun bagi saya ya ng orang minang - dimana berjalan pada alur yang patut, saya kukuh menganggap terjadi penyimpangan dan pelanggaran. Akibatnya tanpa dilakukan musyawarah saya diberhentikan dari jabatan saya. Hati saya limbung dan saya marah, namun hati ini tidak ingin membuat kemarahan menjadi hari-hari suram saya. Yang ada saya tetap dendam dengan Dirut Perusahaan itu. Saya bertekad tidak akan pernah memaafkannya.
Anehnya, Mungkin saja ia tidak pernah merasa bersalah terhadap saya. Namun diamata saya - ia tetap bersalah.
Bagaimana sikap saya dalam hal ini, meskipun kami tidak pernah saling berjumpa lagi. Karena ternyata selang 3 bulan kemudian - iapun diberhentikan sebagai Dirut BUMN itu.
Hati saya puas namun saya tetap dendam terhadapnya.
Bagi saya - sebagai manusia hal ini lumrah saja tidak memaafkannya bukan ?

Wassalam,
 
report abuse
vote down
vote up
October 13, 2008
Votes: +0

Write comment
You must be logged in to a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy
Last Updated ( Saturday, 11 October 2008 )
 
< Prev   Next >


Advertisement

Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Yayasan Cimbuak
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 22 guests and 17 members online
Generated in 0.96127 Seconds