Perjalanan ribuan mil selalu diawali dari satu langkah jika langkahmu salah kamu akan mundur tanpa kamu membalikkan badan Kamu tetap melangkah menatap kedepan Jika kamu tersandung pertanda ada kelalaian dalam dirimu Kamu akan tersungkur ketika kamu tak kokoh Bahkan ketika terjerembab dirimu akan penuh luka Walau kamu tak pernah jadi matahari Kamu kan jadi bulan Walau kamu tak pernah jadi bulan Kamu kan jadi bintang Ketika kamu menjadi bintang Belumlah cukup menyinari bumi Belumlah cukup berbagi cahaya karena begitu banyak yang akan disinari Walau kamu tak menjadi bintang Cukuplah kamu menjadi seekor kunang-kunang Kunang-kunang tak dapat menyinari yang lain Namun dapat menyinari dirimu sendiri
Hemmm.. kunang kunang… Bait bait ini mengalir begitu saja ketika menyikapi perjalanan hidup ini. Entah karena pengalaman hidup yang secara fungsional begitu banyak yang saya alami, sehingga ketika ketika memasuki masa premature power syndrom (istilah “ kakak” saya), saya menemukan falsafah ini cukup dalam bagi diri saya. Renungilah…apa itu kunang-kunang ? Bagaimana kunang-kunang melalui hari-harinya. bagaimana tingkah laku kunang-kunang. Ketika dimasa kanak-kanak doeloe, saya beruntung tinggal didesa-desa Sumbar, semisal Duku, Tabing dan Lubuk Alung. Bagi anak yang hidup dikota besar – tak akan mengenal makhluk ajaib – selain dari sekedar dendang lagu kanak-kanak. Kunang-kunang adalah salah satu hewan malam. dia bertubuh kecil dan ada satu keunikan yang dia miliki, yaitu dia bisa mengeluarkan cahaya dari dalam tubuhnya. Di kala malam menyelimuti bumi ini, serombongan kunang-kunang muncul dari balik balik pohon dan semak. Beriringan mereka keluar dari sarangnya. Mereka memancarkan cahaya kecil yang indah jika lihat. Mereka tampak antusias sekali, seakan tak peduli berkelip kelip terbang kian kemari. Mereka tidak ingin kalah dengan bulan dan bintang yang memperindah malam dengan cahaya mereka yang begitu besar. Matahari – bulan – bintang, menerangi dunia dengan cahaya yang jauh lebih besar dari yang diberikan oleh seekor kunang-kunang. Namun kunang-kunang tetap saja penuh semangat memancarkan cahaya kecilnya hanya dengan satu tujuan. Ia memperindah malam yang gelap. Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, dari sisi ilmu pengetahuan, saya ingin mengetahui banyak mekanisme tubuh makhluk ajaib ini. Sepantasnya ahli biologi yang menjawabnya. Maka berselancarlah saya ke mesin pencari data semisal Google. Prof Barry Trimmer dari Tufts University, Massachusetts, menemukan rahasia cahaya kelap-kelip yang dihasilkan oleh kunang-kunang. Dalam penemuannya, ia menemukan nitrogen monoksida (NO) yang menjadi penghantar sinyal flash, sekaligus menjadi kunci mekanisme kedap-kedip cahaya kunang-kunang. Dijelaskan bahwa kunang-kunang memiliki sel pemantul cahaya yang mengandung banyak senyawa luciferin. Senyawa ini bereaksi dengan adenosine triphosfat (ATP). Cahaya lalu dihasilkan oleh bagian tubuh yang bernama luciferin, bercampur dengan enzim yang disebut luciferase. Dengan adanya luciferase, luciferin akan menjadi aktif, lalu bereaksi dengan Oksigen. Hasil reaksi ini adalah energi, yang lantas timbul sebagai cahaya dibantu oleh Nitrogen Oksida tadi. Reaksi berlangsung di dalam sel photocyte sehingga cahaya dapat terlihat. Sistem kerja syaraf akan mengatur perut kunang-kunang untuk mengeluarkan flash secara periodik dan teratur. Sudahlah.. kita tak perlu berpanjang lebar mendalami makhluk kunang kunang dari sisi biologis. Bagi saya yang penting adalah falsafahnya..! Mengumpamakan diri bagaikan kunang-kunang, tidak lain ingin keinginan hati untuk berbagi cahaya. Sekecil apapun cahaya itu – ia akan tetap bermanfaat bagi makhluk lain dan tentu bagi diri sendiri. Para pendidik selalu membangkitkan motivasi kepada peserta didik – termasuk kita sebagai orang tua dengan petuah ; “ gantungkanlah cita citamu setinggi dilangit. Atau gapailah bintang dilangit. Seorang anak akan menafsirkan petuah itu agar ia giat belajar sehingga ia akan menjadi bintang kelas dan akan mendapat pujian. Untunglah ia belum memahami bahwa ketika ia menggapai bintang sesungguhnya ada takdir Ilahi yang menyertai dirinya – apakah ia menjadi apa dan menjadi bagaimana ia kelak. Kadar kecerdasan intelektual tidak cukup untum membangun karir, akan tetapi kecerdasan emosional yang mengantarkan keberhasilan seseorang pada jenjang karirnya. Menjalani kehidupan tidak cukup dengan falsafah “ mengalir bagaikan air” akan tetapi tetap harus didayung dan berenang menghindari riak yang deras. Apakah kunang-kunang itu lebih mulia dibandingkan dengan diri kita? lihatlah kunang-kunang, bagaimana mereka memancarkan cahayanya walaupun cahaya itu jauh lebih kecil daripada cahaya bulan, tetapi mereka tetap saja menyumbangkan cahayanya untuk memperindah malam. Walaupun kunang-kunang itu binatang yang kecil, akan tetapi ia dapat memberikan penerangan kepada sesuatu. kepada saudaraku yang mempunyai semangat dan keberanian yang menggelora, bangkitkan semangat hidupmu. Kepada saudaraku yang hanya mampu berdoa, doakanlah diri dan keluargamu, semoga apa yang kami mohonkan mendapatkan keridhoan Allah dan kerelaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa Aalihi wasallam dan keluarganya yang telah disucikan oleh Allah. Amiin ya rabbal alamiin. Puspiptek, Serpong, Tangerang 21 Oktober 2008 Wassalam dari, Istana Kunang kunang
Trackback(0)
|