Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Weblink
SPTT Cimbuak
Cimbuak Toolbar
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Nak kayo kuek mancari
Nak Tuah batabua urai
Nak mulie tapek-i janji
Nak Luruih rantangkan tali
Nak namo tinggakan jaso
Nak pandai kuek baraja

Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Rendang Praktis PDF Print E-mail
Written by Andi Jupardi (Jepe)   
Tuesday, 04 November 2008

ImageHampir tiap hari mantan menantu Presiden ke dua Negara kita,  Pak Harto yaitu Letnan Jenderal (Purnawirawan) Prabowo dalam layanan iklan partai yang di bidaninya menyerukan ajakan agar kita berbelanja untuk kebutuhan pangan sehari-hari di pasar tradisional, bagi saya jauh sebelum Prabowo menyerukan ini, pasar tradisional yang becek dengan segala hiruk pikuknya sejak jaman kuliah sampai sekarang setelah berumah tangga dan dikarunia seorang istri dan empat orang anak, “paisson”  saya ke pasar tradisional tidak pernah padam dan luntur.

Selalu ada keasyikan tersendiri bagi saya berlama-lama berputar-putar kedalam pasar tradisional ini melihat aktivitas perdagangan ditingkat masyarakat bawah ini, seandainya ada “Ujian Pengetahuan Umum” tentang seluk beluk apa saja yang dijual  dan  berapa harga komiditi pertanian rakyat, mudah-mudahan nilai B sudah berada digenggaman saya tidak seperti kuliah di IPB Tingkat Persiapan Pertama (matrikulasi)  mata ajaran Ilmu Kimia maka saya sudah bisa memastikan D adalah nilai yang akan saya dapat pada semester pertama, lalu dengan sedikit “keajaiban” maka untuk semester kedua target yang paling realistis adalah C, jika tidak ada keajaiban itu dipastikan saya akan mengulang lagi (Tinggal kelas) di Tingkat I..

(Entah kenapa selalu pelajaran Kimia ini menjadi sebuah memori penting saya ketika berkuliah, sayapun sedikit bingung kok tiba-tiba begitu “lemah” saya menyerap ilmu ini dibandingkan ketika SMA dulu, bisa jadi saat mengikuti mata pelajaran ini dengan buku pegangannya yang tebalnya dua kali ukuran bantal standar serasa saya sedang kuliah  di Fakultas/Jurusan Kimia disebuah Universitas (menulis jika ingin menarik dibaca memang  harus didramatisir dan bermetafora, untuk sesuatu yang kira-kira ada “anomaly”..itu pendapat dan gaya saya dalam menulis, intinya buku kimia tersebut tebal dan berat lalu faktanya saya berkuliah di IPB tapi dengan ilmu Kimia menjadi “Serasa” bukan berkuliah di IPB)

Saat saya bekerja di kampung halaman (Kota Padang) sekitar pertengahan tahun 2001 sampai dengan awal 2005, dua perintah dan tugas penting istri saya dengan hati penuh damai, senang, riang gembira penuh berbunga-bunga akan saya laksanakan tanpa sedikutpun bantahan. Perintah pertama adalah “Bang  pergi belanja ya pasar tradisional untuk membeli bahan dan bumbu masakan untuk menu kita hari ini” sedangkan tugas kedua adalah “Bang bawa anak-anak jika nonton bola di Stadion Agus Salim ketika klub Semen Padang sedang bertarung dengan tamunya di Liga Indonesia”

Perintah pertama istri saya cukup berkata “ Kita masak pangek ikan suaso/ kembung hari ini Bang” jangan ditambahin lagi kalimat tersebut, saya bisa menterjemahkannya lebih melebar lagi apa yang harus dibeli di pasar tradisional itu, bahkan diluar perintah tersebut saya melakukan tugas “rahasia” lain dalam urusan perut ini, bisa jadi setelah saya sampai di pasar tersebut akan saya beli misalnya buat padanan nantinya menikmati  pangek ikan kembung adalah tahu dan tempe goreng, lalu ulaman timun local dan tidak lupa “buah ajaib” kegemaran saya dalam bahasa yang sangat rahasia, kami menyebutnya “Mr Peter” alias Petai.

Hanya ada tiga pasar tardisional yang beceknya luar biasa ketika hujan yang sering saya kunjungi diakhir pekan di Kota Padang, yang pertama berjarak cukup dekat dari rumah saya di Muaro Penjalinan adalah pasar pagi Tabing, lalu merayap lebih jauh ke Pasar Ulak Karang dan terakhir di Pasar Pagi  lampu merah persimpangan antara jalan  Raden Saleh dan jalan Juanda. Nah bercerita tentang pusaka kuliner kita yaitu Rendang dan dibuat dengan bumbu yang serba praktis dan tersedia di pasar ini, seperti halnya yang dilakukan oleh Soni teman sealumni SMA  ketika menghadapi lebaran 1429 H di Jakarta,  sebagai orang Minang ada rasanya yang kurang jika tidak menghadirkan menu ini disaat lebaran. Soni menemukan sebuah solusi total membuat “Rendang Praktis” tanpa bersusah payah meramu bumbunya yang memang cukup komplit dan ribet.

Langganan tetap saya jika ingin membuat  Rendang Praktis ini adalah seorang ibu-ibu paro baya yang menjual segala bumbu-bumbu siap masak dalam bentuk yang dihaluskan maupun bumbu-bumbu kunci lainnya seperti daun jeruk purut  dan daun kunyit dalam bentuk utuh. Beginilah episode saya dengan ibu-ibu yang menjual bumbu ini ketika saya berhadapan “head to head” dengan dia. Komunikasi terjalin dua arah, saya tidak tinggal diam pasrah begitu saja apa yang diambilkan, dikantongi, bayar lalu bawa pulang.

Jepe :
“Ni…bumbu bali bumbu randang” (Uni beli bumbu buat memasak rendang)

Uni :
“Bara kilo ko ka marandang induak bareh” (Berapa kilo istrinya mau buat rendang”

Jepe :
“Sakilo se nyo Ni, agak padeh sakatek yo “ (Sekilo saja, bumbunya agak pedas sedikit ya)

Dengan cekatan Uni ini memasukan ke plastik gula segala bumbu yang dihaluskan untuk rendang mulai dari bawang putih, bawang merah, cabe giling, kunyit, jahe, lengkuas, tongkol serai, ketumbar dan lain sebagainya sesuai takaran untuk satu kilo daging yang direndang.

Jepe :
“Ni..bia agak padeh bisa ndak ditambahkan saketek lado kutu giliang tu”

Uni
“Ndak baa juo…tapi sakatek sajo yo” (Nggak masalah tapi sedikit saja ya)

Saya mendikte Uni ini misalnya ketika memberikan beberapa helai daun jeruk purut yang sudah menguning agar dia menggantinya dengan daun yang segar, begitu juga daun kunyit yang sudah layu sekiranya tidak layak lagi bercampur dengan daun kunyit yang masih segar agar diganti, mungkin dalam hati Uni berkata “ Ndee..cerewet bana apak-apak ko mah “ (Walah..cerewet benar Bapak-bapak ini, anak siapa sihhhhhhh..ha..ha).

Selesai membeli bumbu praktis ini, lalu saya ke “Los Daging”, ini bisa saja sedikit dikreasikan dengan setengah kilo daging, sedangkan setengah kilo lagi hati lalu dicampur dengan kacang polong berwarna putih atau dengan kentang bulat kecil. Santannya juga yang praktis tanpa harus menguras tenaga untuk memeras parutan kelapa, sekarang sudah tersedia di pasar tradisional santan dalam bentuk cairan baik berupa pati santan yang kental maupun santan encer, tinggal bilang sama penjual dan rata-rata mereka sudah paham berapa liter kebutuhan pati santan dan santan encer untuk jumlah daging yang akan direndang. Santan ini akan dibungkus dalam plastik bening secara terpisah.

(Tips : Sebaiknya anda beli santan jadi ini dari kelapa tua yang telah dipilih, lalu bersabarlah sejenak untuk di parut dan diperas oleh penjualnya, ini agar cita rasa rendang anda akan terjaga. Santan jadi yang dijual pedagang dan ditempatkan dalam wadah plastik kita tidak bisa memastikan apakah dari kelapa tua atau kelapa muda yang biasanya untuk menggulai)

Sampai dirumah tugas belum selesai karena istri saya sibuk dan repot dengan bayi mungil saya saat itu, tanpa membuang waktu bak seorang koki terkenal saya dengan cekatan meramu dan memasak rendang ini, anda mau tahu caranya kira-kira begini :

Panaskan kuali yang cukup besar (wajan) lalu tuangkan bumbu praktis tadi ditambahkan pati santan sampai menenggelamkan bumbu tersebut, setelah daging dibersihkan masukan bersama bumbu dan pati santan lalu diaduk. Orang minang bilang kira-kira begini “dikacuik dulu” atau mungkin ditumis dulu sesaat. Setelah mengeluarkan aroma harum sambil diaduk tuangkan santan encer masukan kacang putih aduk terus jangan sampai santannya pecah (mengumpal) saat mulai mendidih masukan pati santan yang tersisa.Bumbu dedaunan seperti daun jeruk purut dan daun kunyit jangan lupa dimasukan dalam keaadaan mendidih. Aduk lagi bola balik hingga merata sampai santan mengeluarkan minyak dan rendang mulai bewarna coklat terang, jangan lupa jaga apinya cukup dengan api sedang saja..

Jika aromanya membuat lapar perut anda dan bertepatan waktunya dengan makan siang silahkan anda nikmati rendang setengah jadi ini bisa juga disebut “kalio” sambil merasakan garamnya. Biarkan rendang anda mendidih dengan api yang sedang sambil sekali-kali diaduk, jika ada kebetulan tetangga anda yang dinding dapurnya berdempetan ada kemungkinan akan berkata “ Mmmmm..harumnya dan mengundang selera masakan yang dibuat tetangga saya”

Semakin berminyak dan mengental maka semakin “rendang banget” rasanya, rendang ini siap dihidangkan buat menu anda sehari-hari selama 4 hari, jika anda mengundang tetanggga atau kawan-kawan makan siang misalnya, tentunya dalam 1 atau 2 hari yang tersisa dedaknya itupun masih enak  buat sarapan pagi dengan telor dadar atau mata sapi. Dijaman yang serba bergerak cepat ini kelihatannya yang serba praktis menjadi pilihan tidak terkecuali bagaimana menghadirkan sebuah pusaka kuliner turun temurun ranah minang yang bernama Rendang.


Pekanbaru, 19 Oktober 2008

Trackback(0)
Comments (7)add comment

zaharlies nauman said:

Ass wr wb, manambahkan saketek ilmu nan oma seruni buek kalu masak randang. oma masak pakai kompor batu bara, dan katiko lah jadi kalio, oma pindahkan kalio kadalam oven bima nan bulek tutup dan masak diateh api batu bara sampai bara jadi abu, menghemat tenaga awak indak paralu mangacau kalio, randang masak sempurna, indak sampai hangus kalau lupo mangacau ..... kiniko minyak tanah lah maha pulo dan gas kalau sadang paralu kadang2 stock indak ado harago malambuang pulo, jadi oma masak pakai kompor briket/batu bara. ....
 
report abuse
vote down
vote up
November 04, 2008
Votes: +0

rafki said:

batambah lapa paruik wak deknyo da jepe, pandai uda mamasak mah, kalau awak mamasak aia tulah nan pandai
 
report abuse
vote down
vote up
November 05, 2008
Votes: +0

Aidil Fitman S.Pd / Malin Deman said:

Assalammu'alaikum da Jepe...
pasa tradisional Lubuk Buayo nan dakek bana dari tampek uda baa ndak
bacaritoan juo tu hehee
untuak daerah koto tangah,pasa Lubuak Buayo tamasuak banyak juo
nan manggaleh,..rami lo lai...
Mambaco carito Uda ttg Randang hehehe,,yo jadi taragk awak mah
klo lai buliah kirim kirim an juo lah da Jepe agak sakilo se jadi mah hahahaha

wassalam
 
report abuse
vote down
vote up
November 06, 2008
Votes: +0

elvarena Irmi said:

ondeh yo suami idaman pak jepe mah yo..bisa mamasak..bisuak wakcarilo lah yang bisa mamasak sakurangnyo bisa mamasak kopinyo surang..he.heeeeeeee

makasihpak atas informasi cara mamasak randang nyo,, krn ambo urang nan suko makan..
 
report abuse
vote down
vote up
November 06, 2008 | url
Votes: +0

Evi Djamaludin said:

Assalamualaikum.
Mau bertanya dengan Oma Seruni Setahu puti, jiko oven Bima yang bulek yang dipakai untuk mamsak randang, bukankah oven itu ditengahnya bolong ?. Bagaimana sekiranya sebagai penggantinyo, randang sadang kacak -kacak itu, awak masak pakai kuali teflon, dan kemduian dipanggang diatas batu bara. Sepertinya karajonyo kan samo ndak Oma...???
Boleh juga dicubo caro oma ko... Awak cubo bisuak lah...

Wassalam
 
report abuse
vote down
vote up
November 06, 2008
Votes: +0

zaharlies nauman said:

Wass WW Puti,
Buliah juo kalau randang sadang kacak2 tu kan minyaknyo malatuih2 kanai tangan awak katiko mangacaunyo, kalau dikuali teflon tu kan paralu dikacau taruih kalau ditingga diateh api kan bisa hanguih randang tuu., iyo di oven bima nan bolong ditangahnyo ditutup kalau indak ado kompor batu bara bisa pakai gas/minyak tanah tapi apinyo ketek sajo.... kalau pakai arang batubara indak paralu ditunggu ditingga sajo, awak bisa karajo lain atau ado kaparaluan kalua rumah... bara apinyo sampai jadi abu api padam bisa sampai 5 jam ... salamaik mancubo Puti ....
salam cayang dari oma seruni.
 
report abuse
vote down
vote up
November 10, 2008
Votes: +0

de alfiand said:

Assalamu 'alaikum...

onde... itu mungkin rahasia nenek ambo, mak tuo dan angah di padang panjang... kompor batu bara itu ternyata rahasia kelezatan tiada tara dari rendang dan kalio mereka...


tarimo kasi dunsanak....
 
report abuse
vote down
vote up
November 12, 2008
Votes: +0

Write comment
You must be logged in to a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy
 
< Prev   Next >


Advertisement

Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Yayasan Cimbuak
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 1 guest and 1 member online
Generated in 1.46329 Seconds