|
Pituah |
Kaluak paku kacang balimbiang Buah simantuang penggang-penggangkan Anak dipangku kamanakan dibimbiang Urang kampuang di petenggangkan |
|
|
Pengalaman Pertama Naik Pesawat |
|
|
|
|
Written by Hifni HFD
|
|
Monday, 17 November 2008 |
Entah mengapa disaat aku berkeinginan untuk menulis kisah Pengalaman Naik Pesawat Udara – tiba tiba muncul berita di media elektronik, bahwa sebuah pesawat Cesna milik Sekolah Penerbang milik swasta terdampar mendarat di jalan Tol ; Km 71 – Jakarta – Cikampek. Seandainya instruktur dan siswanya sempat mengemukakan pengalaman pribadi saat ia menentukan pilihan mendarat di jalan tol itu pasti kisahnya juga akan menarik.
Apa yang kualami adalah begini. Ketika masih kecil doeloe, apa yang terbersit dibenakku, mana kala ditayangkan iklan pesawat Garuda Indonesian Air Ways – GIA – adalah aku akan meraup begitu banyak permen yang disodorkan oleh pramugari pesawat. Persis aku ingin meniru perbuatan pemeran iklan pesawat Garuda itu. Ternyata apa yang aku angan-angankan itu berbeda dengan apa yang aku alami disaat naik pesawat pertama kalinya.
Ceritanya, kami mendapat tawaran berlibur ke Sulawesi. Seketiak aku langsung membayang akan naik pesawat kesana.. kemudian.. aku akan meraup permen yang disosorkan pramugari sebanyaknya. Akan tetapi angan angan tak seindah kenyataan karena datang surat kawat berikutnya dari kakakku sebagai sponsor nya yang berbuyi : “ Kalian naik kapal laut saja, sekalian mengisi liburan panjang kalian, demikian bunyi surat waktu itu. Padahal, sebelumnya aku sudah melonjak kegirangan – bahwa aku akan naik pesawat dan akan meraup permen sebanyak-banyaknya. Walau kami bertiga kecewa saat itu – maklum semuanya kepengen naik pesawat – kami patuh mengikuti saran kakakku itu untuk naik kapal laut ke Makassar pada tahun 1970 itu. Setelah menempuh perjalanan enam hari enam malam dari Tanjung Priok Jakarta menuju pelabuhan Sultan Hasanuddin Makassar, maka menginaplah kami di Mess tamu milik PT Aneka Tambang beberapa hari lamanya. Ketika itu aku dan 2 orang abangku bermaksud mengisi liburan panjang kami di Unit Pertambangan Nikel Pomalaa – Kolaka - Sultra.
Aku yang saat itu selesai mengikuti Ujian akhir Sekolah Dasar serta abangku selesai mengikuti ujian STM/SLTA, ditawarkan Kakak perempuanku/suami untuk berlibur ke Lokasi Pertambangan Nikel itu. Singkat cerita ; di Kota Makassar kami sudah menginap selama 4 hari. Namun angkutan yang akan mengantarkan ke desa terpencil itu tak kunjung tiba. Mengapa demikian ? satu satunya angkutan menuju kesana adalah menunggu kapal muatan nikel yang balik dari Jepang dan singgah di pelabuhan Makassar itu. Kapal itu sebesar kapal tanker yang kita kenal. Kapal itu membantu mengangkut Pempinan/karyawan Unit Nikel termasuk orang yang berkunjung kesana.
Pada hari kelima di kota Makassar, menjelang sholat Jum’at, seorang staf PT Antam menemui kami dan berkata : “ Adik-adik nanti setelah sholat Jum’at, kalian Oom antar ke Bandara Mattoangin “. Kalian kami berangkatkan dengan pesawat Cesna… Aku diam karena tidak mengerti dan bersikap tidak kepingin tahu. Sementara abangku tersenyum senyum sambil berkata : Waduh… kita bak orang kaya nih… Tahu gak kamu Evy… ini pesawat kecil yang biasanya digunakan untuk mengangkut jutawan atau digunakan sebagai pesawat latih. “Hemmm .. terserahlah , kataku angkat bahu. Sesampai di Bandara, aku melihat pesawat itu bagai sebuah burung raksasa yang putih dan cantik. Seperti aku melihat burung “ Bourag “ – bersayap panjang seperti Tabut – di Pariaman yang pernah kulihat masa kecil sebelumnya di tanah kelahiranku. “ Benarkah ini pesawat…????, bisikku gemetar. “Kok kecil sekali.. Pada jam 14.00 WIT siang itu berangkatlah kami sebanyak 5 orang, yaitu kami bertiga bersaudara, satu pejabat keuangan Unit Nikel dan sang Pilot. Tidak ada pramugari yang manis-manis datang membawa makanan, semisal sebuah kotak yang cukup mewah isinya serta menu bergizi dengan standar empat sehat lima sempurna serta menawarkan minuman kepada kami.
Pesawat Cesna itu terbang dengan kecepatan sedang-sedang saja. Apa yang ku angankan - aku akan meraup permen dan meminum apa yang aku suka seperti teh manis, susu coklat dan softdrink lainnya, sirna semua dari angan angan itu. Pilot berkaca mata hitam cuek .. saja pada kami. Bagiku terasa naik mobil Commuter saja … Mengisi perjalanan yang katanya 45 menit saja, aku menatap kedarat dan betapa indahnya alam Sulawesi Selatan ini. Hampir menyerupai alam kita. Ketika pesawat berbelok menyisir teluk Bone…, tiba datang awan gelap menghadang kami. Cummuter Udara itu terlonjak – lonjak. Pilot sibuk bercakap-cakap di radio – menggunakan bahasa yang tidak kami mengerti. Kami berempat ketakutan. Rasanya tenggorokanku tercekik. Rasa haus datang mendera…., tapi tidak ada pelepas dahaga yang akan mengobati rasa haus ini. Aku belum mengerti bagaimana harus bersikap. Aku hanya anak kecil yang baru belajar mengaji hingga juz 25. Belum tahu cara menenangkan diri. Aku teringat Papa… dan ibu yang kupanggil Nanak.. Yang kulihat Oom Massie – pejabat Antam itu – tiap sebentar membuat tanda salib dimuka dan didadanya. Dia khusuk berdoa… Abangku komat –kamit. Akhirnya dengan cara yang lugu aku berdoa : Tuhan… aku masih ingin bertemu Papa… jangan pisahkan aku dengan Nanak, bujukku pada Tuhan. Sementara itu sang Pilot dan pemandu udara menggunakan kata – kata.. yanki… yanki … tanggo .. alpha…. Beta … romeo. Itulah kalimat yang pertama kali kudengar di bumi Allah ini, Adalah bahasa yang tidak aku mengerti… Persis juga seperti aku mengenal pertama kali huruf morse - ketika Papa dulu bertugas sebagai Kepala Stasiun Kereta Api di Sumbar. Dengan kode morse itulah ia memberitakan bahwa kereta api telah dilepas dari Stasiun yang dikepalainya.
Dalam himpitan ketakutan seorang anak kecil dikala itu, tidak berapa lama kemudian pesawat Cesna kami berhasil lolos dari sergapan awan gelap dan masuk ke awan yang seputih salju. Disaat pesawat menerobos awan putih itu, suara-suara komando mulai jarang terdengar. Tidak berapa lama kemudian – mulailah aku melihat sisi pantai dengan pasirnya yang putih. Pantai itu adalah salah satu kaki yang miring dari lekukan pulau Sulawesi yang berinisial huruf K. Satu setengah jam sejak kami meninggalkan Bandara Mattoangin – Makassar, akhirnya pesawat Cesna mendarat di lapangan tanah merah yang menimbulkan kepulan berwarna merah. Anak-anak dari masyarakat sekitarnya berlarian menuju pesawat kami. Kepulan berwarna merah itu menerpa baju dan mukaku dan menyisakan warna pada baju baju kami.
Dengan perasan lega, kami bertiga bersaudara tertawa gembira sambil abangku berkata : Gile bener…. Benar-benar menegangkan… Tahukah Anda… bahwa pesawat yang aku dan abangku ditumpangi pertama kali ini, sebenarnya memiliki jarak tempuh 45 menit saja, namun saat itu kami menempuh perjalanan selama 1 jam 15 menit.
Bagaimanakah kisah berikutnya dari pengalaman naik pesawat ini..? Terus terang, ada sahabat saya menuliskan pengalamannya Pertama Naik Pesawat Terbang, dalam sub judul : - Pengalaman Pertama Melihat Awan dari Udara, jawab saya Huuu…. Seram.. - Pengalaman Pertama Membaca di Udara, jawab saya .. yang ini ndak ada .. wong pesawatnya kecil mungil.. - Pengalaman Pertama Makan dan Minum Soft Drink di Udara, jawab saya .. yang ini nih… yang saya khayalkan ingin meraup permen sebanyak-banyaknya, namun tidak kudapatkan. - Pengalaman Pertama Buang Air Kecil di Udara, jawab saya… Walah…ketika rasa ketakutan datang menyergap diri, keinginan ini sering tidak bisa dibendung. Tapi siapa yang membolehkanmu untuk melakukan hal ini jika dalam keadaan genting…???
Diantara pengalamannya itu, ada yang belum didapatkannya yaitu : “ Jumping diudara…”
Trackback(0)
|
|
Last Updated ( Wednesday, 19 November 2008 )
|
|
|
Yayasan Palanta Cimbuak |
 Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko |
|
Online Sekarang |
|
We have 12 guests and 3 members online |
|