|
Pituah |
Kamanakan barajo ka mamak Mamak barajo ka panghulu Panghulu barajo ka mufakat Mufakat barajo ka nan bana Bana badiri sandirinyo |
|
|
Jumping on the Sky to the sea…… serrruu….. |
|
|
|
|
Written by Hifni HFD
|
|
Wednesday, 19 November 2008 |
Bukan bermaksud bernarsis narsis, bila berkisah tentang pengalamanku ini. Akan tetapi sebenarnya terkandung keinginan menyampaikan suatu cerita factual yang berdasarkan olahan dari memori yang tersimpan didalam benak ini. Apalagi bila kejadian itu benar-benar membekas di kepala kita.
Si Tukang kaba - dengan thema " aa nan takana " - Mengkisahkan sesuatu, bertujuan sebagai jembatan menuju masa lalu. Bukan hanya terfokus kepada obyek cerita, namun ada penggalan penggalan yang terkadang akupun merenung bahwa aku ini pernah menjadi murid kehidupan dan berguru kepada pengalaman. Ya… kita harus menjadi murid kehidupan. Bila diuraikan akan terlalu panjang kisahnya dan yang penting bagi Anda, Anda ingin mengetahui .. apa sih… Jumping on the sky to the sea..….???
Dalam menjalani " the long and winding road for my life " Alhasil, akhirnya aku merantau dan menetap didesa terpencil di Sulawesi Tenggara – suatu desa yang dirancang dan difasilitasi oleh PT ANTAM -sebuah BUMN bagaikan menara gading dipinggir teluk Bone Sulawesi. Selama tiga tahun di Pomalaa, apa yang menjadi angan-angan untuk meraup permen di pesawat udara, sebagaimana yang kuceritakan sebelumnya tidak menjadi perhatian lagi, walaupun aku bolak balik naik pesawat komersial jika kembali ke Jakarta – Sulawesi. Bagiku dibawah asuhan seorang kakak inilah bermulanya perjalanan hidup manusia yang berawal dari satu langkah itu. Ternyata kehidupan itu merupakan upaya bagaimana menemukan dirimu serta bagaimana menciptakan dirimu sendiri.
Diantara perjalanan bolak balik Jakara – Sulawesi, pada suatu ketika, kami naik Merpati Ailines dari Bandara Kemayoran dengan tujuan kota Makassar. Pada jam 05.00, pesawat sudah take off. Setelah Pramugari secara khusus dengan bahasa verbal dan tubuhnya begitu lincah dan terlatih memperagakan cara pemasangan pelampung dan tindakan apa yang dilakukan jika pesawat dalam keadaan darurat, tak lama kemudian beredarlah sang pramugari dengan permen, snack, dll. Ketika empat puluh lima menit kemudian, terdengar olehku letusan kecil seperti bunyi suara ban sepeda meletus. Suasana hening. Entah apa jenis pesawat yang kunaiki itu, yang jelas, semula ada dua deru mesin secara teratur mengiringi perjalanan itu, ternyata yang terdengar hanya satu saja. Setelah itu terdengar suara halus pramugari, yang meminta semua awak pesawat menuju cockpit. Tidak ada perasaan takut didalam diri, dibanding saat pertama kami naik pesawat Cesna dulu. Akhirnya dengan suara lembut, seorang Pramugari mengumumkan kepada para penumpang : “ Kami atas nama Pilot a, dan copilot B – ( Entah siapa namanya) , menyatakan bahwa “ berhubungan ada gangguang teknis pada mesin sebelah kiri – kanan pesawat, maka pesawat Merpati Airline dengan Nomor penerbangan sekian, terpaksa kembali mendarat ke Bandara Kemayoran. Suasana pesawat hening entah apa yang dirasakan penumpang kala itu. Setelah mendarat, para penumpang Merpati itu, oleh crew Airlines -dipersilahkan menunggu pemberangkatan kembali. Namun tidak bagi pada rombongan kami. Kakakku memilih menunda keberangkatan dan berencana menyewa pesawat Cesna dari Jakarta – Surabaya – Makassar – Pomalaa. “ Wah .. aku serasa jadi jutawan lagi nih.. meniru ucapan abangku dulu. Lama perjalanan Jakarta – Surabaya adalah empat jam.
Bangga deh…merasakan bagaimana seorang jutawan yang memilik pesawat pribadi – kita tidak bersentuhan dengan penumpang lain. Padahal aku bukanlah anak siapa siapa dan aku bukan seorang apa apa.. begitulah pendapatku sekarang. Dipesawat itu, jumlah penumpang hanya 5 orang, yaitu : kakakku suami isteri dan bayinya, aku dan seorang calon karyawan PT ANTAM yang akan ditempatkan disana. Jangan Anda mengira bahwa Kakakku berlagak sebagai jutawan atau aji mumpung memanfaatkan fasilitas Perusahaan – walaupun ia memiliki hak untuk itu, akan tetapi adalah semata-mata membawa gaji ribuan karyawan. Ingat .. 36 tahun yang lalu, kondisi perbankan tidak secepat dan secanggih sekarang. Waktu itu, Uang masih dibawa secara manual dari Kantor Pusat – ke Unit pertambangan nikel itu.
Dalam perhitungan biaya pokok produksi yang kita kenal, tentulah biaya transportasi semisal charter pesawat adalah komponen biaya overhead Perusahaan itu. Transportasi menuju daerah terpencil ini hanyalah - kalau tidak naik kapal tanker dari Pelabuhan Makassar – kalau ndak ya pesawat Cesna itu. Kapal tanker itu – bukan pula merapat didermaga, namun berada ditengah lautan, sehingga kami para penumpang harus menaiki sekoci lebih dahulu untuk naik dan turun kapal. Hingga sekarangpun aku mendengar bahwa untuk mewujudkan trans Sulawesi pun cukup berat. Hemmm…serasa sebagai anak jutawan, tentulah aku menyempatkan membaca majalah Tempo, Selecta, Varia, Times. Itulah bacaan orang dewasa yang harus aku baca untuk meghilangkan rasa jenuh selama perjalanan itu. Mengenai hidangan tetap tidak ada apalagi pelayan udara yang cantik. Cukuplah minuman dan kue yang dibawa kakakku dari rumah. Ada lagu berirama lautan teduh - latin atau lagu barat lainnya yang diputar sang Pilot. Ya.. pokoknya lagu jadul lah… Ia ramah dan sering bercakap cakap dengan Kakakku.
Ketinggian Pesawat rendah saja. Suasana diluar jendela pemandangan standar alam pulau Jawa; gunung, sawah dan sungai. Tidak terlihat awan yang bergumpal-gumpal, walaupun sesekali pesawat menerobos awan yang menggumpal tipis. Empat jam kemudian peawat mendarat di Bandara Juanda Surabaya. Kami istirahat di Bandara ini sambil Pesawat mengisi bahan bakar, selama 1 jam. Setelah itu, pesawat melanjutkan penerbangan ke Makassar yang memilik jarak tempuh selama 2 jam.
Sesampai di Makassar ini dan istirahat selama 1 jam, mulailah sang Pilot bertingkah. “ Pak Ruswir … kita menginap di Makassar ini saja Pak. Besok pagi kita melanjutkan perjalanan. “ Oh tidak bisa… Hari ini saya harus sampai di Pomalaa. Disini kakak iparku ini tidak mau di atur begitu saja oleh sang Pilot. Kakak saya berkata : “ Dalam kontrak perjalanan antara Perusahaan dengan perusahaan penerbangan Anda disepakati satu hari sampai ke tempat tujuan. Kalau tidak buat apa saya menyewa pesawat Anda ini. Yang diingat kakakku – bahwa saat ini ia tengah membawa uang jutaan rupiah, gaji para karyawan ANTAM – Pomalaa. “ Ingat Bapak…, kata Pilot itu tidak mau kalah. “ Tanggung jawab atas keselamatan penumpang ada di tangan saya. Saya mendengar ada angin… bla….bla… menuju … bla… bla… (bla..bla = saya tidak tau apa yang disebutnya), sedang bergerak dari lintang sekian menuju lintang sekian. Walaupun kakak saya sudah diingatkan dengan teori cuaca dan angin oleh sang Pilot, Kakak saya itu tetap tidak bergeming. Kakak saya ini tetap diam – menunjukkan bahwa ia tidak percaya dengan Pilot itu. Akhirnya sang Pilot mengalah : “Seandainya Bapak tetap ingin sampai ke tempat tujuan saya tidak keberatan, mari kita coba. Jika ada alasan keselamatan yang berbahaya mari kita turun dan kembali ke Bandara “. Akhirnya pada siang hari itu perjalanan tetap dilanjutkan. Pada jam 14.00, mesin pesawat Cesna itu mulai dihidupkan. Kami menunggu dengan sabar selama setengah jam. Kemudian berjalan sangat perlahan menuju landasan pacu. Pesawat mengambil ancang-ancang dan berjalan pelan kemudian kencang – lebih kecang dan akhirnya pesawat kami terbang bagai layang-layang. Rasanya belum mencapai kecepatan tertentu, seperti yang kami alami dalam perjalan Jakarta – Surabaya – Makassar, tiba – tiba mesinnya berhentiii……!!!!!! Dag… dig … dug…. Berdebar jantungku. Nicky – keponakanku satu-satunya mulai rewel…?? Hugh… hugh…. Suara tangisnya. Kami panic. Benarkah mesin pesawat ini mati…???? Antara marah… dan pucat pasi kepada Pilot itu, Kakakku bertanya : Ada apa… Dik……??? “ Yo.. ndak tau tho.. pak..!!! ( Oohh .. de e ne .. wong Jowo tho… begitu kataku sekarang). Manurut pengamatanku, dalam keadaan demikian kok tidak ada … tango… tango… yanki.. yanki.. alpha …betha.. Yang ada hanyalah suara desis, seperti…. Kalau Anda mendengar mesin pompa air… yang sekali kali terdengar suara berdesis …Nah… begitulah bunyi suaranya…..!!!
“Pak.. sepertinya kita memang harus kembali ke darat …, demikian katanya. “ Bukan karena gangguan cuaca yang menghalangi perjalanan kita. Ada gangguan teknis….!! “ Ya … sudah kita balik…., hanya itu satu kalimat - ucapan Kakakku kepada sang Pilot. Berapa menitkah mesin pesawat Cesna itu mati… ??? Pokoknya cukup untuk membuat shockterapy bagi seorang pilot yang nakal kepada penumpang yang tidak memahami seluk beluk penerbangan
(bersambung..)
Trackback(0)
|
|
Last Updated ( Wednesday, 19 November 2008 )
|
|
|
Yayasan Palanta Cimbuak |
 Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko |
|
Online Sekarang |
|
We have 6 guests and 2 members online |
|