|
Lemari buku saya sudah menumpuk dengan buku-buku. Buku-buku tidak tersusun lagi sudah centang parenang, dan disana sini ada debu. Saya ingin membersihkan, menyusun dan menyisihkan mana yang perlu dan mana yang tak perlu. Yang tak perlu dan tak berguna, yang memenuhi lemari dan merusak pandangan, saya buang dan saya bakar. Dalam seleksi buku-buku itu, ternyata banyak yang harus di buang dan banyak yang harus di bakar. Sewaktu saya akan menyalakan api untuk membakar buku itu. Saya balik kembali lembaran-lembarannya, kenapa mereka harus dibakar?. Mereka di bakar karena lembaran-lembaranya sudah kabur tak terbaca lagi. Karena lembaran-lembaranya sudah di makan bubuk, keropos disana sini. Karena lembarannya ada yang terkoyak. Karena lembarannya ada yang kosong sudah menguning. Karena lembaranya dulu di tulis dengan seenaknya sehingga sulit dibaca. Karena lembarannya ditulis dengan semraut, garis-garisnya nyelonong kesana-sini. Karena lembaranya banyak yang sudah remoh. Setumpuk buku-buku itu harus di bakar dan di musnahkan, menjadi makanan yang empuk oleh api.
Sewaktu api melalap lembaran-lembaran buku itu, ketika itulah saya tercenung. Merenung hidup ini. Karena hidup inipun adalah bagaikan buku. Hari-hari yang berlalu adalah lembaran-lembaran dari buku kehidupan. Saya khawatir karena hari-hari yang saya lewati, lembaran-lembaran buku saya banyak yang kosong. Tidak jarang lembaran buku itu saya tulis dengan tulisan yang tak keruan, centang parenang sehingga sukar membacanya. Banyak corat-coret dalam setiap helai buku itu. Saya coba mebalik-balik buku kehidupan. Ketika kecil boleh dikata tak ada isinya paling-paling garis lurus yang tak bisa di baca. Ketika remaja, helai-helai buku itu sering diisi dengan hal-hal yang tak berguna. Ketika itu waktu sering di buang-buang. Ketika dewasa buku itu asyik berisi dengan usaha dan kerja untuk menggapai kebutuhan dunia.
Dan ketika beranjak tua buku itupun muram karena hari-harinya sering diisi oleh sakit disana dan sakit disini. Kalau tidak kepala yang sakit, atau kaki yang ngilu, sakit di langkahkan. Lalu apa yang berharga dari lembaran-lembaran buku kehidupan yang dapat di simpan?. Saya ragu, saya sangsi, jangan-jangan lembaran-lembaran buku, dan hari-hari yang berlalu tak bernilai sama sekali. Karena lembaran-lembaran yang bernilai dan bermutu adalah lembaran-lembaran yang diisi dengan amal saleh yang di goresi oleh tinta-tinta iman. Amal saleh dan tinta iman inilah lembaran yang dapat disimpan dan di perlihatkan kelak di hadapan Allah sebagai insentif dan pahala yang akan di peroleh di akhirat kelak Saya berhitung, berapa diantara hari-hari yang telah saya lewati yang telah diisi oleh kerja (amal) bermanfaat (Saleh)? dan berapa banyak tinta iman yang telah menggoresi lembaran-lembaran buku kehidupan ini?. Jangan-jangan saya terkelompok pada golongan orang yang rugi.Karena orang yang rugi adalah orang-orang yang waktunya berlalu, tapi keimanannya tidak bertambah. Ialah orang-orang yang waktunya berlalu tapi amalnya tidak bertambah; Ialah orang-orang yang waktunya berlalu, tapi kebenarannya tidak bertambah. Ialah orang-orang yang waktunya berlalu tapi kesabarannya tak bertambah.
Taqwa adalah gabungan dari Iman dan amal saleh. Iman adalah garis vertikal tegak lurus ke atas berhungan dengan Allah. Imannya semakin tebal dan kokoh, hubungan dengan Allah semakin dekat dan semakin kuat. Garis vertikalnya atau Hablumminallah makin tebal. Amal saleh artinya kerja yang bermanfaat, bermanfaat untuk sesama manusia, dan amal saleh ini banyak berhubungan dengan kemanusiaan atau Hablumminannas, sehingga garis horizontalnya menjadi tebal dan kokoh. Kalau di gabung garis iman dan garis amal saleh ini akan terbentuk tanda tambah yang menjadi nilai tambah dalam setiap detik kehidupan. Manusia yang berkualitas adalah mereka yang paling bermanfaat bagi sesamanya.
Waktu sangat cepat berlalu, dia berlalu laksana awan yang berarak meninggalkan kita tak bisa di tahan, walau dengan cara apapun. Dia berlalu dan berlari bagaikan angin nan berhembus tanpa henti dan tanpa mengenal istirahat. Dia akan meninggalkan orang-orang yang lalai dan yang melupakannya. Kalau dia telah berlalu dan pergi tak kan mungkin kembali lagi. Kesempatan yang sama tak akan pernah berulang pada waktu yang lain.Waktu sangat berharga. Kalau hilang tak ada gantinya. Berbeda dengan uang hilang dapat di cari. Waktu tak dapat di depositokan, waktu tak dapat di kredit. waktu tak dapat dipinjam.
Kelebihan Islam adalah, kita sebagai khalifah di beri kebebasan dan kemerdekaan yang bertanggung jawab. "Perbuatlah sesukamu, tapi ingat setiap perbuatan akan diminta pertanggung jawabnya. Setiap detik waktu yang di pakai akan di tanya, untuk apa di gunakan. Kita hanya di tuntut, agar setiap detik waktu yang dipinjamkan Tuhan di gunakan untuk hal yang bermanfaat. Maka selalu kita memohon "Ya Allah berilah hambamu setiap detik waktu menjadi detik-detik yang bermanfaat". Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.Untuk itu satya teringat akan sebuah Firman Suci_Nya dalam surat Al Insyiraah:
”Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu ? Dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu. Yang memberatkan punggungmu (beban membawakan risalah), Dan Kami tinggikan bagimu sebutan namamu (Muhammad SAW), Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Maka apabila kamu sudah selesai dari satu urusan, kerjakanlah dengan sungguh2 urusan yang lain, Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap”.
P a d a n g 8 Juli 1996
Trackback(0)
|