|
Page 1 of 5  a. Riwayat Hidup 1. Nama lengkap : Prof. Dr. H. Mukhtar Yahya (Muchtar Jahja) 2. Tanggal/tempat lahir : 3 Maret 1907. Balingka, Bukittinggi (Sumbar) 3. Nama isteri : Saminar Luthan a. Tanggal menikah : 6 Mei 1943 b. Pekerjaan isteri : Mengurus rumahtangga 4. Agama : Islam 5. Alamat : Jln. Cemarajajar (Monginsidi) 11A, Yogyakarta 6. Nama orangtua a. Ayah : Yahya gelar Majo Kayo b. Ibu : Midah (Hamidah)
 B. Latar Belakang Keluarga dan Pendidikan Prof. Dr. H. Mukhtar Yahya lahir pada tanggal 3 Maret 1907 di Balingka, 11 km selatan kota Bukittinggi, persis di kaki Gunung Singgalang. Beliau adalah putera dari pasangan suami isteri bapak H. Yahya Majo Kayo dengan ibu Hamidah. Bapak H. Yahya dikaruniai oleh Allah SWT tiga orang anak, yang tertua bapak Mukhtar, kedua ibu Nurma dan yang terakhir adalah bapak Rusydi (pensiunan Depag). Ketiga orang bersaudara ini sekarang sudah berpulang ke
 Prof. Dr. H. Mukhtar Yahya bersama isteri tercinta, Ny. Saminar Luthan (Tahun 1960)
Rahmatullah. Bapak H.Yahya Majo Kayo adalah seorang saudagar kain yang berhasil di negeri- nya. Meskipun beliau hanya mengalami pendidikan di rumah tangga, karena pendidikan formal di desa Balingka belum lazim di waktu itu, namun beliau dapat mendidik ketiga putranya dengan baik melalui jenjang pendidikan formal. Khusus tentang bapak Mukhtar Yahya, setelah beliau menyelesaikan sekolahnya di Gubernemen Kelas II Koto Tuo (semacam SD sekarang), dari tahun 1913 – 1918, lalu melanjutkan pelajarannya ke Madrasah Diniyah (Diniah School) di Padang Panjang (semacam Madrasah Tsanawiyah sekarang) dan merangkap pula di Sumatra Thawalib (semacam Madrasah ‘Aliyah sekarang) yang juga berada di Padang Panjang. Sekitar tahun 1924 dan 1925 para pelajar Sekolah-sekolah Agama (Madrasah) di Minangkabau banyak yang ingin meneruskan pelajarannya ke luar negeri. Diantaranya ke British Indie dan Mesir. Apalagi pada tahun 1925 itu sampailah ke Indonesia berita tentang lulusnya dengan baik seorang putera Minangkabau dalam ujian merebut ijazah ”Al ’Alimiyah” di Universitas Al Azhar, Mesir, yaitu Al Marhum Al Ustadz Djanan Thaib. Beliaulah putra Indonesia yang pertama kali mendapat ijazah tinggi itu di Mesir. Berita ini amat besar pengaruhnya kepada para pelajar sekolah-sekolah agama di Indonesia, khususnya Minangkabau. Pemuda Mukhtar sendiri setelah membaca berita ini, amat inginlah hendak meneruskan pelajaran ke Mesir. Akan tetapi keinginan ini rasa-rasanya tidak akan terpenuhi mengingat ketiadaan biaya. Akan tetapi pada saat-saat tsb beliau didatangi oleh seorang pamannya dan menanyakan kesediaan beliau dikirim ke Mesir untuk belajar di sana, sebab paman-paman dan orang tua beliau bersedia membiayai studi di Mesir. Tentu saja dengan gembira pemuda Mukhtar menjawab : ”Bersedia !”. Waktu itu beliau berusia 18 tahun. Akhirnya berangkatlah beliau dari Bukittinggi di bulan Mei 1925, lewat Medan, Penang, Madras, Bombay, Suez, dan sampailah di Kairo, Mesir. Pemuda Mukhtar Yahya ketika itu memilih memasuki Abdul Azis lil Muallimin di Cairo Mesir dan itu terjadi pada tahun 1925. Sekolah-sekolah Mu’alimin ini berada di bawah Kementrian Pendidikan dan Pengajaran Mesir. Beliaulah pemuda Indonesia yang pertama kali memasuki Sekolah Mu’alimin di Mesir. Sesudah beliau diterima di Sekolah Abdil ‘Aziz lil Mu’alimin ini, barulah ada 13 orang pemuda Indonesia yang telah lebih dulu berada di Mesir, juga diterima di sekolah-sekolah Mu’alimin tersebut.. Diantaranya adalah Prof. Abdul Kahar Mudzakkir, Ustadz Nasruddin Thaha dan Ustadz Muhammad Nur Marwan. Pemuda Mukhtar tamat dari Abdul Azis lil Muallimin pada tahun 1928, dengan memperoleh sertifikat. Sesudah tamat dari Abdul Azis lil Muallimin, beliau masuk ke jenjang perguruan tinggi, yaitu pada Perguruan Tinggi Darul Ulum, yang kemudian menjadi Fakultas Darul Ulum dari Cairo University. Perguruan ini merupakan suatu perguruan tinggi yang mengajarkan bidang agama Islam dan bidang bahasa Arab. Mata pelajaran di perguruan ini cukup padat dan sukar. Mahasiswa-mahasiswa Mesir sendiri agak enggan belajar di Perguruan Tinggi Darul Ulum ini. Akan tetapi pemuda Mukhtar memilih melanjutkan pelajarannya di sini. Teman-teman sejawat beliau lainnya selama berada di Mesir adalah Prof. K.H. Farid Ma’ruf, Prof. K.H.A. Kahar Mudzakir (mantan Rektor UII), Prof. H. Mahmud Yunus (mantan Rektor IAIN Imam Bonjol Padang), Prof. H.M. Thaher Abdul Mu’in (mantan Guru Besar Ilmu Kalam di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) dan lain-lain.

Pemuda Mukhtar Yahya (berpeci, baris kedua di tengah, duduk di kursi) bersama teman-teman sejawat beliau di Mesir (Tahun 1935)
Selama menuntut ilmu di negeri Mesir, beliau sangat cenderung untuk menekuni Ulumut Tarbiyah, termasuk di dalamnya Sejarah Pendidikan, Teori Pendidikan dan Perbandingan Pendidikan di samping Ilmu Jiwa, yang meliputi Ilmu Jiwa Umum, Ilmu Jiwa Perkembangan dan Ilmu Jiwa Pendidikan. Di samping itu juga tekun belajar untuk memperoleh keahlian dalam bidang Bahasa Arab, yang selain Qowaid sebagai sasaran utamanya, juga Sastra Arab dan Fiqhul Lughah. Tidak ketinggalan pula pemuda Mukhar Yahya menekuni Dasar-Dasar Ilmu Agama Islam, seperti Ushul Fiqh, Tarikh Tasyri’ dan Perbandingan Mazhab. Dari dasar-dasar utama ini akhirnya beliau juga menekuni bidang Tafsir, terutama yang berhubungan dengan bahasanya yang kemudian dikenal dengan nama At Tafsirul Lughawy. Dalam pada itu sewaktu masih belajar di Mesir, pemuda Mukhtar Yahya juga giat dalam bidang jurnalistik, antara lain dengan menulis dalam harian dan majalah, seperti Majalah Peninjauan yang terbit di Jakarta di bawah pimpinan redaksi P. F. Dahler dan Majalah Pilihan Timur yang terbit di Cairo di bawah pimpinan redaksi Iljas Ya’coub dan Mukhtar Luthfi. Oleh karena pada saat itu orang-orang Mesir belum mengenal nama Indonesia, yang dikenal adalah Jawa, maka dalam rangka mengenalkan nama Indonesia kepada mereka, putera-putera Indonesia di Mesir termasuk Mukhtar Yahya menuliskan namanya dengan tambahan Indonesi di belakang nama aslinya. Maka jadilah Mukhtar Yahya menjadi Mukhtar Yahya Al Indonesi. Selain kegiatan-kegiatan di atas, pemuda. Mukhtar Yahya sewaktu masih di Mesir juga berlatih dalam bidang kepemimpinan, yaitu dengan ikut memasuki organisasi pelajar-pelajar Indonesia – Semenanjung Melayu yang bernama “Jami’yah Khairiyyah”. Di dalam organisasi itulah beliau pernah mengadakan ceramah-ceramah antara lain di depan para anggotanya, terutama mengenai Ilmu Pendidikan dengan judul “Dalton Plan”, yang kemudian diterbitkan sebagai buku oleh Toko Buku Siti Syamsiyah di Surakarta. Bahkan beliau juga pernah berbicara di depan corong Radio Mesir dengan pidato tentang Indonesia. Dengan kegiatan-kegiatan belajar ilmu dan organisasi selama di Cairo Mesir tersebut, maka pada diri pemuda. Mukhtar Yahya terdapat kesan dan pengalaman yang cukup dikenang oleh siapapun bangsa Indonesia, yaitu bahwa otak bangsa Indonesia ternyata tidak kalah jika dibandingkan dengan otak bangsa-bangsa lain di dunia. Berbicara tentang belajar di Mesir, pada umumnya pelajar yang sukses dalam studi ialah mereka yang biayanya pas-pasan atau bahkan kurang. Tidak sedikit mahasiswa Indonesia di Mesir yang kekurangan biaya, akan tetapi justru merekalah yang biasanya tekun belajar. Mereka dapat menyelesaikan studinya tepat pada waktunya. Sedang yang kelebihan biaya malah banyak yang berfoya-foya dan tidak dapat menyelesaikan pelajaran tepat pada waktunya atau bahkan ada yang putus sekolah. Mahasiswa-mahasiswa Mesir biasanya dapat merampungkan studinya di sini selama 6-7 tahun, jarang yang dapat selesai selama 5 tahun. Karena itu kalau pemuda Mukhtar dapat menyelesaikan studinya selama 5 tahun, tentu hal ini merupakan suatu prestasi yang baik dan beliau tentu termasuk mahasiswa yang cerdas. Yang mendorong kesuksesan beliau adalah niat dan keyakinannya bahwa kedatangan beliau ke Mesir adalah untuk mencari Ilmu Pengetahuan yang kelak akan disumbangkan kepada Agama, Nusa dan Bangsa. Setelah belajar selama lima tahun dari tahun 1929 sampai tahun 1934, beliau lulus dengan memperoleh “Ijazah At Tadris” tepatnya pada tanggal 9 Agustus 1934 dan segera kembali ke Tanah Air yang masih menjadi jajahan kolonial Belanda dengan sebutan Hindia Belanda.

Ijazah At-Tadris dari Perguruan Tinggi Darul Ulum Cairo, Mesir. |