Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Weblink
SPTT Cimbuak
Cimbuak Toolbar
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Pisau gadang pisau tambatu
Dibaok urang ka taluak bayua
Di makan anak dari salido
Rumah gadang basandi batu
Adat basandi alua
Alua nan kaganti rajo
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Azwajan, Mitra Setara Kaum Lelaki PDF Print E-mail
Written by Buya Mas'oed Abidin   
Friday, 23 January 2009

(Mengkaji Peran dan Citra Perempuan)

ImageOleh: H.Mas'oed Abidin.
Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Sumbar Padang.


 Tatkala saya menulis makalah ini, pemberitaan tentang pengguguran kandungan (aborsi) telah menyita perhatian publik selama berhari hari di negeri ini. Tega teganya, calon ibu menggugurkan kandun¬gannya, paramedis menjebloskan jabang bayi ke dalam kresek plas¬tik dan membuangnya di sembarang tempat (kolong jembatan, pem¬buangan sampah, septic tank dsb). Masih dalam tahun 1997, sebuah berita dari Medan. Seorang "dukun cinta" disangka membunuh 40 orang wanita yang ingin memupuk cinta dan rumah tangga mereka. Ironinya, mereka mati mengenaskan di tangan sang dukun.
Kedua berita di atas sangat mengejutkan dan memunculkan pertan¬yaan. Berapa harga seorang wanita?

Bagaimana peran dan citra perempuan?  Banyak orang geleng kepala, dan serta merta menjatuh¬kan vonis: citra perempuan telah lenyap! Beban kesalahan terpikul ke pundak wanita. Hidupnya segumpal janin di dalam rahim perem¬puan adalah anugerah yang membuktikan peran fitrah biologis perempuan. Kecemasan sebagian perempuan atas cinta dan jaminan hidupnya merupakan sesuatu yang wajar saja.
 Sementara dalam anggapan "sebelah mata" (diferensial gender), perempuan adalah makhluk lemah. Benarkah ??? Tanpa sadar, kadang kadang perempuanpun menampilkan dirinya sebagai makhluk yang lemah. Secara psikologis, mereka acap ragu mempertahankan dan memelihara fitrahnya sebagai perempuan.

Annisa' wa Ummahat
 Perempuan sering disebut dengan panggilan 'wanita'. Panggilan ini lazim dipakai di negeri kita. Seperti darmawanita, karya wanita, wanita karir, korp wanita, wanita Islam  dsb. Kata-kata "wanita" (bhs.Sans), berarti lawan dari jenis laki-laki, juga diartikan perempuan (lihat :KUBI). Pada masa dahulu banyak penulisan cerita tentang wanita yang dianggap hanya seje¬nis komoditi penggembira, penghibur, teman bercanda. Keberadaannya pada zaman jahiliyah sangat tidak diterima, bahkan kelahirannya akan disambut dengan kematian, karena wanita itu hanya pembawa aib keluarga. Jabang-jabang bayi itu mesti dibunuh, begitu kesaksian Kitab suci tentang perangai orang-orang jahiliyah (QS.16:58).
 Dalam kebudayaan Minangkabau sejak lama yang kemudian berkembang menjadi “adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah” menempatkan wanita sebagai ‘orang rumah’ dan ‘pemimpin’ dari masyarakatnya dengan sebutan “bundo kandung”, menyiratkan kokohnya kedudukan perempuan Minangkabau pada posisi sentral. Dalam budaya Minangkabau perempuanlah pemilik seluruh kekayaan, rumah, anak, suku bahkan kaumnya. Namun, laki-laki dalam oposisi-biner perannya adalah sebagai pelindung dan pemelihara harta untuk ‘perempuan’-nya dan ‘anak turunan’-nya. Maka generasi Minangkabau yang dilahirkan senantiasa bernasab ayahnya (laki-laki) dan bersuku ibunya (perempuan), suatu persenyawaan budaya yang sangat indah.

 Ada lagi yang memanggil wanita dengan sebutan 'perempuan.' (bhs.kawi,KUBI). Kata "empu" berasal dari Jawa kuno, berarti pemimpin (raja), orang pilihan, ahli, yang pandai, pintar dengan segala sifat keutamaan yang lain. Bila istilah ini yang lebih mendekati kebenaran, saya lebih cen¬derung memakai kata perempuan selain wanita. Karena di dalamnya tergambar banyak peran. Antara lain pemimpin, pandai, pintar, dan memiliki segala sifat keutamaan rahim, penuh kasih sayang, juga dengan jelas mengungkapkan citra perempuan sebagai makhluk pili¬han, pendamping jenis kelamin lain (laki laki). Laki laki yang kebanyakannya, dalam pandangan sebagian wanita, memiliki sifat pantang kerendahan, pantang kalongkahan, superiority complex, tak mau disalahkan dan tak mau dikalahkan, tidak sedikit yang akhirnya bisa bertekuk lutut dihadapan perempuan.
 Ada nama yang lebih bagus daripada kata wanita atau perempuan itu. Dalam kitab suci Al Qur'an di sebut Annisa' atau Ummahat. Konotasinya adalah ibu. "Ibu" bisa berakronim "Ikutan Bagi Ummat." Annisa' adalah tiang bagi suatu negeri. Bila Annisa' nya baik, baiklah negeri itu, dan bila Annisa' nya rusak, celakalah negeri itu (Al Hadits).  Sorga di bawah telapak kaki ibu (Umma¬hat) sesuai ajaran Islam. Kaidah Al Qurani menyebutkan, Nisa' nisa' kamu adalah perladangan (persemaian) untukmu, kamupun (para lelaki) menjadi benih bagi Nisa' nisa' kamu. Kamu dapat mendatan¬gi ladang ladangmu darimana (kapan saja). Karena itu kamu berkew¬ajiban memelihara eksistensi atau identitas (Qaddimu li anfusikum) dengan senantiasa bertaqwa kepada Allah (Q.S.2:23). Dalam bagian lain Nabi saw meungkapkan, dunia ini indah berisikan pelbagai perhiasan (mata'un), perhiasan yang paling indah adalah isteri isteri yang saleh (perempuan atau ibu yang tetap pada perannya dan konsekwen dengan citranya) (Al Hadits). Begitu penafsiran Ialam tentang kedudukan perempuan, yang diyakini seorang Muslim (walau ditolak non Muslim yang menganggap Islam sebagai misunder¬stood religion.)

Skor Laki laki dan Perempuan
Bagaimana kedudukan perempuan atau ibu itu?
 Pertama, perempuan adalah makhluk yang bermartabat manusia, dan merupakan Rahmat Allah yang agung, seperti disebutkan: "Wamin ayatihi an khalaqa lakum min anfusikum azwajan, litas kunu ilai¬ha, wa ja'ala bainakum mawaddatan wa rahmatan," maknanya menjadi salah satu bukti kebenaran ayat Allah (Rahmat Allah). Dijadi¬kannya dari diri kamu sendiri (manusia) pasangan pasangan jenis lain, supaya dengan pasangan pasangan itu kamu bisa membina kehidupan yang sakinah, dan saling menumbuhkan cinta kasih (mawaddah) serta perlindungan (rahmat) (Q.S.30:21).
 Sejak hampir dua millenium berlalu, menurut Al Qur'anul Karim, perempuan telah ditetapkan dalam derajat yang sama dengan jenis laki laki dengan penamaan azwajan atau pasangan hidup (Q.S.16:72, 30:21, 42:11). Dalam masa pemerintahan “le roi cest moi” di Perancis, orang masih mempertanyakan, apakah makhluk perempuan tergolong jenis manusia yang punya hak dan kewajiban yang sama dengan laki laki? Atau hanya sekedar benda yang boleh dipindah tangankan sewaktu waktu atau untuk diperjual belikan sebagai komoditi budak yang menjadi sumber pendapatan bagi pemiliknya?
 Kata woman dalam bahasa Inggris berasal dari “womb man”, atau manusia berkantong, sebuah pemahaman Eropa klasik tentang suatu makhluk setengah manusia yang mempunyai kantong dan bertugas menjadi tempat tumbuh calon manusia. Ah “dia” kan hanya womb man atau manusia kantong (“manusia” yang hanya kantong tempat manusia).


 Hak asasi perempuan dalam rangkuman Hak Asasi Manusia yang diper¬juangkan orang hingga hari ini, sudah diperlakukan secara sangat sempurna sejak 15 abad yang silam dalam ajaran Islam. Itu berarti delapan abad mendahului pandangan Barat yang ragu ragu mengakui perempuan. Agama Islam melihat perempuan (ibu) sebagai mitra yang setara (partisipatif) bagi jenis laki laki. Dalam konteks Islam ini, sesungguhnya tak perlu ada emansipasi bila emansipasi diartikan perjuangan untuk persamaan derajat. Yang amat diperlukan adalah pengamalan sepenuhnya peran perempuan sebagai mitra, yang satu dan lainnya saling terkait, saling membutuhkan, dan bukan untuk eksploatasi. Sebagai pemahaman azwaajan, pasangan atau kesetaraan. Tidak punya arti sesuatu kalau pasangannya tidak ada. Tidak jelas eksistensi sesuatu kalau tidak ada yang setara di sampingnya. “Pasangan”, mungkin tidak ada kata yang lebih tepat dari itu.
Di barat, selama ini memang ada gejala kecenderungan penguasaan hak hak wanita itu, bahkan paling akhir adalah hi¬langnya wewenang "ibu" dalam rumah tangga sebagai salah satu unit inti dalam keluarga besar (extended family).

 Kedua, secara fisikal dan kasat mata perempuan memiliki fisik yang lebih lemah dari laki laki. Contoh sederhana, seorang laki laki sehat yang menjadi buruh di Teluk Bayur mampu memikul beban satu kwintal di atas punggungnya. Hal yang mustahil bagi perem¬puan. Skornya 1 0 untuk laki laki. Namun harus diakui ada kekua¬tan dalam diri perempuan yang tidak tertandingi oleh laki laki. Di antaranya kemampuan menanggung beban berat dalam rahimnya selama sembilan bulan sepuluh hari. Beban itu dipikulnya dengan segala senang hati dan penuh ketabahan. Beban berat itu tak pernah ditinggalkan di rumah walaupun ia berpergian. Tak pernah dititipkan ketika bekerja. Tidak pernah minta dipikulkan kepada orang lain, suaminya (yang sesungguhnya juga memiliki beban itu). Sepanjang "membawa" hingga sang bayi keluar, tidak ada upah yang diharapkan (jika hendak dibandingkan: buruh angkat menerima upah). Kalau toh ada rasa cemas dan beban berat bagi laki laki ketika menunggu di luar kamar bersalin, hanya tampak dalam mon¬dar mandir sambil menghabiskan berbatang batang rokok. Mungkin dadanya gedebak gedebuk apakah bayi akan selamat. Begitu kecema¬san pada laki laki sekuat apapun. Kini skor menjadi 0 1 untuk laki laki.

 Mengapa laki laki menjadi lemah dan perempuan menjadi kuat, seperti kenyataan di atas ?? Jawabnya, tidak lain karena perempuan teguh dalam perannya dan berada dalam citranya. Keteguhan sikap perempuan (ibu) akan bertambah kokoh oleh ketaatan akan agamanya, dan menjadikan perempuan sanggup menghindar dari dari hal-hal yang merusak keyakinannya. Perempuan adalah juga manusia biasa, yang tidak dapat mengelak dari sifat manusiawinya, yang sewaktu-waktu merasa senang menerima hal-hal yang menyenangkan secara duniawi (lahiriyah, materi). Akan tetapi, sisi keyakinan (ukhrowiyah) mengikuti ajaran agama (basis religi, yang dalam Islam dikenal sebagai pemahaman tauhid) yang teramat dalam, akan merupakan kekuatan tangguh yang mampu membentengi perempuan dari kejatuhan kedalam jurang kehinaan (makshiyat). Keteguhan keyakinan kepada ajaran Agama dalam kehidupan (seseorang) perempuan sangat berperan dalam menjaga tidak hilangnya citra perempuan itu. Agama Islam selanjutnya dengan tegas mengingatkan bahwa citra (identitas) perempuan itu terletak pada budaya “malu”. Bila budaya malu telah hilang keteguhan perempuan akan lenyap, que sera sera, akhirnya terjadilah apa yang terjadi. Ibu rela membunuh anak sendiri, kekentalan sifat keperempuanan akan lebur menjadi perempuan jalang, dan perempuan mengandung meng¬gugurkan janinnya. Na'udzubillah.


Cinta
 Cinta adalah sesuatu yang indah. Cinta merupakan karakteristik kemanusiaan. Cinta bukan sesuatu yang turun dari langit, yang dijual di pasar swalayan, yang ditawarkan di pasar pasar wanita, klub klub malam atau motel motel. Di tempat tempat itu, cinta diawali ajakan dinner party, dan berakhir di atas ranjang. Sete¬lah itu habis perkara.
 
 Cinta perlu ditumbuhkan, dirakit, dibina dan dilestarikan. Untuk itu diperlukan tindakan nyata yang berkesinambungan antara dua jenis manusia dengan martabat yang sama, sama sama setara manusia manusia. Bukan antara seorang manusia dengan setengah manusia, atau manusia berkantong (womb man).  Mustahil cinta dapat dibina pada dua jenis manusia yang berbeda bermartabatnya, satu bermartabat manusia dan yang lain bermarta¬bat hewan. Martabat kemanusiaan ditunjukkan dengan ditunaikannya kewajiban kepada manusia yang menjadi pasangan cinta itu. Sehing¬ga hak nya dapat dinikmatinya. Hak dan kewajiban tidak semata mata diukur dengan materi, tetapi lebih pada perlakuan dan tindak kelakuan mulia dan perangai bermartabat (manusiawi, humanity).

 Dalam kasus perempuan yang ramai ramai masuk barisan abortus, mungkin sekali tidak semata mata enggan melahirkan anak, tetapi lebih dihantui rasa malu. Laki laki yang tidak mau bertanggungja¬wab menjadi bapak bagi anak yang bakal lahir itu seringkali luput dari pengamatan.  Atau, mungkin "kerjasama" membuat anak itu di luar dari kaedah kaedah kemanusiaan (aturan aturan, agama, adat, norma norma masyarakat, hukum yang berlaku).

 Bila kita melihat ke dalam Islam, hukum yang sangat berat ditim¬pakan kepada manusia yang melakukan kegiatan membuat anak tanpa aturan. Islam menyebutnya perbuatan "zina."  Hukumannya dirajam, dicambuk 100 kali, yang dalam pandangan sementara pejuang Hak Asasi Manusia (di Barat) sangat tidak manusiawi. Bahkan mereka menuding pelaksanaan surat An Nur ayat 1 4 itu bertentangan dengan HAM. Padahal mengabaikan ketentuan agama tersebut, bagi umat Muslimin, menyebabkan hilangnya HAM. Misalnya, ibu yang hamil kehilangan hak nya sebagai seorang ibu karena laki laki yang menghamilinya berperangai "habis manis serpah dibuang," atau berdalih sudah membayarkan sejumlah uang atau benda kepada perem¬puan yang melayaninya hingga hamil. Jika wanita yang juga senang dengan perlakuan itu, sebenarnya ia menghilangkan sendiri hak nya. Pada gilirannya si anak yang mempunyai hak untuk hidup tidak pernah mendapatkannya sama sekali. Tragisnya, janin manusia ber¬akhir di kantong kresek, dibuang ditumpukan sampah. Menyedihkan sekali.
  Keadaan itu juga disebabkan oleh melemahnya peran rumah tangga seiring dengan hilangnya peran perempuan dan ibu.

 Kalangan liberal seringkali merendahkan atau menolak peran perempuan sebagai ibu di dalam rumah tangga. Melahirkan dan menga¬suh anak dilihat sebagai suatu peran yang out of date. Bila seseorang memerlukan anak bisa ditempuh jalan pintas melalui adop¬si atau mungkin satu ketika dengan teknologi kloning (?). Tuntutan ekono¬mi atau mengumpulkan materi menjadi perhatian utama yang perlu dise¬gerakan, sehingga seorang wanita tidak lagi mampu mengangkat wajahnya jika ia tidak memiliki pekerjaan di luar rumah. Perempuan sekar¬ang mestinya tidak bergelimang dalam dapur, sumur dan kasur. Tapi dia harus keluar dari rotasi ini, dan masuk ke dalam lingkaran kantor, mandor dan kontraktor.
 
 Akibat nyata adalah anak anak dirawat baby sitter, paling-paling dititipkan di TPA (tempat penitipan anak), atau dikurung di rumahnya sen¬diri sampai orang tua kembali ke rumah. Kondisi ini telah menyum¬bang lahirnya "X Generation", generasi yang sangat dicemasi masuk kelingkungan Asia  dimasa depan.  Satu generasi yang bertumbuh tanpa aturan, jauh dari moralitas, berkecendrungan meninggalkan tamaddun budayanya. Tercermin pada perbuatan suka bolos sekolah, memadat, menenggak minuman keras, pergaulan bebas, morfinis, dan perbuatan tak berakhlak. "X", mereka hilang dari akar budaya masyarakat yang melahirkannya. Disinilah pentingnya peran ibu.  Semestinya para perempuan (ibu) yang memelihara perannya sebagai ibu berhak  mendapatkan "medali" sebagai pengatur rumahtangga dan ibu pendidik bangsa. Inilah darma ibu yang sesungguhnya, yang sebenar-benar darma.

 Dalam perkembangan masa yang mengikuti gerak globalisasi terjadi perubahan cuaca budaya. Perubahan yang seringkali melahirkan ketimpangan ketimpangan. Bahkan kepincangan yang diperbesar oleh tidak adanya keseimbangan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan kesempatan serta terdapatnya perbedaan kesempatan yang sangat mencolok (fasilitas, pendidikan, lapangan kerja, hiburan, penyiaran mass media,) antara kota dan kampung. Akibat nyatanya adalah mobilitas terpaksa yang pada akhirnya sangat mengganggu pertumbuhan masyar¬akat (social growth). Perpindahan penduduk secara besar besaran ke kota sebenarnya merupakan penyakit menular di tengah tengah kemajuan negeri yang tengah berkembang.
Dusun dusun  mulai ditinggalkan, kota kota menjadi sempit untuk tempat tinggal pendatang baru. Kehidupan yang keras menyebabkan orang terpaksa menjual diri. Dasar dasar kehidupan menjadi rapuh, akhlak karimahpun hilang. Peran orangtua menjadi tumpul karena ketegangan ketegangan antara ayah dan ibu yang umumnya timbul karena tekanan ekonomi dan desakan materi. Ujungnya, anak anak terlantar dan keluarga menjadi berantakan.

 Efisiensi sebagai kaidah produktifitas mulai diterapkan secara salah dalam kehidupan keluarga modern. Orangtua lanjut usia (Lansia) mulai tak dihiraukan, dan tempat mereka adalah Panti Jompo. Suatu tempat yang tak memungkinkan para lansia mewariskan nilai nilai luhur pada anak dan cucunya.
 
 Materi dan uang sudah menjadi buruan. Kehidupan terancam bahaya, karena kesinambungannya berubah oleh meluasnya keluarga nomaden modern. Beban resikonya tidak mudah diperhitungkan lagi. Kerusa¬kan yang sulit menghindarinya adalah hilangnya jati diri. Menta¬litas mengarah pada materialistik, permisivistik, bahkan hedonis¬tik. Biaya untuk perbaikannya niscaya lebih besar dari biaya yang telah dikeluarkan untuk pertumbuhan ekonomi. 

Profil Perempuan Mandiri
 Dalam keadaan seperti itu, kaum perempuan harus memaksimalkan peran keperempuanannya, sebagai ibu di rumahtangganya dan pendidik di tengah bangsanya. Peran dan citra perempuan mandiri terlihat jika pembedaan jenis kelamin berlaku secara jelas dan pasti. Perbedaan kewajiban dan hak serta kedudukan itu, memastikan berlakunya dual sex.
Gejala yang mulai meruyak dalam kehidupan modern sekarang, atau seti¬daknya dalam masyarakat liberal, adalah keinginan diterap¬kannya uni sex (terlihat pada pakaian, asessories, pergaulan, kesempatan, pekerjaan dan jamahan keseharian sosial budaya).


 "Pendidikan formal yang dapat membuat wanita sejajar dengan laki laki berpeluang menjadikan wanita kehilangan jati dirinya sebagai wanita. Secara tidak sadar wanita yang terpelajar itu menjadi lebih maskulin daripada laki laki. Ujung dari proses itu adalah ancaman kehidupan rumah tangganya", kata Hani'ah. Selanjutnya, Hani'ah menyebutkan, "Sifat feminim yang merupakan sumber kasih sayang, kelembutan, keindahan, dan sumber cahaya ilahi mempunyai potensi untuk menyerap dan mengubah kekuatan kasar menjadi sensitivitas, rasionalitas menjadi intuisi, dan dorongan seksual menjadi spir¬itualitas sehingga memiliki daya tahan terhadap kesakitan, pen¬deritaan dan kegagalan." (Hani'ah, "Wanita Karir dalam Karya Sastra: Ada Apa Dengan Mereka?", makalah Munas IV dan Pertemuan Ilmiah Nasional VIII, HISKI 12 14 Desember 1997 di Padang). Seperti terlukis dalam sebuah karya sastra Armyn Pane, Belenggu, "hancurnya sebuah rumahtangga ideal akibat sikap isteri terlalu maskulin." Maskulin dalam arti menunjukkan kekuasaan melebihi suami. Sirnanya asas azwajan, mitra setara.

 Sebenarnya tidak hanya ajaran Agama Islam yang mengungkapkan secara jelas peran dan citra perempuan itu. Para penulis sastera juga mengungkapkan peran perempuan Melayu (Timur) dengan pendir¬ian yang kokoh, seperti terungkapkan dalam Syair Siti Zubaidah Perang China ; "Daripada masuk agama itu, baiklah mati supaya tentu, menyembah berhala bertuhankan batu, kafir laknat agama tak tentu," (Syair Siti Zubaidah Perang China, Edisi Abdul Muthalib Abdul Ghani, hal. 230). Perempuan Melayu dengan sifat sifat mulia diantaranya lembut hatinya, penyabar, penyayang kepada sesama, keras dalam mempertahankan harga diri, tegas, teguh dan kuat iman dalam melaksanakan suruhan Allah, pendamai, suka memaafkan dan mampu menjadi pemimpin masyarakatnya. Wanita Melayu juga memper¬gunakan akal di dalam berbuat dan bertindak, bahkan terkadang terlalu keras dan berani, seperti ditunjukkan dalam syair Siti Zubaidah itu (H. Ahmad Samin Siregar, Fak.Sastra USU Medan, Profil Wanita Melayu dalam Syair Siti Zubaidah Perang China, Edisi Abdul Muthalib Abdul Ghani, makalah yang disampaikan dalam Munas IV dan Pertemuan Ilmiah Nasional VIII HISKI, Padang 12 14 Desember 1997).

Kesimpulan?

 Apa yang bisa disimpulkan oleh seorang laki-laki tentang perempuan yang empu, ahlinya  ahli? Apa yang bisa disimpulkan oleh seorang anak manusia tentang  Ummahat, ibunya sendiri?  
 Sejauh mana seorang pasangan mampu menyimpulkan azwaajan, pasangannya yang setara, yang tanpa pasangan itu dia tidak lengkap? Mampukah anda menjelaskan bagian diri anda yang tidak anda miliki?

 Yang paling mudah adalah memberi kesimpulan apa itu “wanita”,  teman penggembira. Atau menyimpulkan makhluk yang lebih rendah, si manusia berkantong tempat menumbuhkan manusia. Itu mudah, womb man.

 Kesimpulannya, jadilah Anda seorang perempuan dengan citra seorang ibu, dimana kepadanya seluruh bakti diarahkan, dan sorga di bawah telapak kakinya.   

Padang, 20 Desember 1997

 

 

 

Trackback(0)
Comments (2)add comment

Tino Rustino said:

Bgaimana dengan tuntutan 'emansipasi' yang selalu dituntut kaum perempuan?. Terkadang rasanya tuntutan itu terasa agak berlebihan, karena kita tidak bisa lari dari kodrat. Nah, kalau sudah sampai di 'kodrat' ini, maka perempuan akan merasa sebagai 'kaum lemah' yang harus dibantu. Timbul pula motto 'LADY FIRST'. Lho, kalau mau menuntut emansipasi, jangan pula menuntut lady first....... (itu nan kalamak diawak se tu mah). Benar yang disampaikan Buya, bahwa hendaklah kita bisa menempatkan diri hingga tercapai keseimbangan alam semesta ini sebagaimana 'kodrat'nya, tanpa menuntut 'emansipasi' atau 'lady first'. Semua sudah diatur oleh alam (baca: Allah), sedangkan kita harus dapat mengelola dengan baik...... Baa tu buya?
 
report abuse
vote down
vote up
January 24, 2009
Votes: +0

iara said:

perempuan atau wanita atau lady yang diciptakan Allah menjadi pasangan laki-laki yang berdampingan dibumi ini dengan tugas masing-masing yang sdh jelas.
sebagai laki-laki Allah sdh memberikan tugas sebagai kepala keluarga yang berkewajiban mencari nafkah dan melindungi keluarganya, sedangkan kepada perempuan Allah menyuruh menciptakan suasana damai dalam rumah dan mendidik anak-anak dengan baik dan penuh kasih sayang , apabila seorang wanita ingin membantu keluarga dalam mencari nafkah bukanlah suatu kewajiban. kewajibannya tetap urusan dalam rumah tangganya,
berat bukan tugas seorang perempuan, kerja diluar ingin dikerjakan , sedangkan kodratnya sebagai seorang ibu tidak akan pernah bisa ditinggalkan.
sangat rugi sekali wanita-wanita yang menyia-nyiakan pemberian Allah kepadanya menjadi seorang ibu untuk mempunyai anak kemudian digugurkan. pada saatnya nanti ingin mempunyai seorang anak sdh tdk dipercaya lagi Na'uzubillah
terima kasih pak Mas'oed , peringatan bagi kaum perempuan yang lupa pada dirinya.

wassalam
.
 
report abuse
vote down
vote up
January 25, 2009
Votes: +0

Write comment
You must be logged in to a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy
 
< Prev   Next >




Member Area
Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Yayasan Cimbuak
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 4 guests and 2 members online
Generated in 1.76348 Seconds