|
![]()
Eva Rayyan Irmi Chaniago
said:
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| eva baru mambaco artikel ko bundo..tapi apakah uang jemputan itu berasal dari antara Deman dan Supaly atau permintaan dan penawaran di istilah ekonominyo tetapi lebih cocok dikatana sebagai balas budi terhadap jasa seorang ibu yang telah membesarkan anaknya meskipun uang tidak bisa membayar jasa seorang ibu..tetapi lebih baik kita bilang begitu karano kalau dikaitkan dengan hukum ekonomi seolah2 terkesan merendahkan harga diri seorang lelaki yang bisa dibeli..mohon maaf atas tanggapannya..karena eva bukanlah orang yg mengerti istilah adat dan budaya meskipun eva orang minang asli..sekali lagi ohon maaf kepada semua pihak apabila kometarnya tidk pas.. | |
|
report abuse
vote down
vote up
|
|
klau menurut ambo, budaya bantuak iko ndak ado unsur merendahkan harga diri. dilihat dari segi budaya hal yg spt iko malah mempunyai nilai yg tinggi dan menggambarkan betapa indahnya perbedaan budaya di nagari awak. Tapi klau yg dinilai dari pitih, bara bana harga pitih klau dibanding jasa seorang ibu. iko lah bukti urang awak ndak mandang sesuatu cuma dari segi materi sajo.. |
|
|
report abuse
vote down
vote up
|
|
Tulisan yang sangat bagus, dari pembahasan ini diharapkan dapat menambah wawasan generasi muda minang, sekaligus dapat terpanggil untuk meneliti persoalan adat yang teradat yang beraneka ragam di berbagai daerah di minangkabau. Karena dapat diyakini segala sesuatu jika tidak diteliti secara baik akan menimbulkan kesimpang siuran dalam memahami persoalan itu sendiri. Persoalan seperti ini diranah kita tercinta sangat bergam bahkan jika kita mau meneliti terkadang pada dua desa yang berdekatan saja di satu kecamatan sudah terlihat perbedaan yang sangat signifikan. contohnya beberapa desa kita temui di Pariaman yang mengembalikan uang hilang itu dalam bentuk lain diberi namo " manyiriah, panyiriahan " yakni diwaktu anak daro datang manjalang semua pemuda dan orang kampuang bahkan undangan yang lain ikuik " Barantam " artinya mancari pitih biasanya dipimpin oleh seorang kapalo mudo uniknya barantam seperti ini semakin dekat dg pihak marapulai maka semakin banyaklah dia menurunkan uang, secara umum para pemuda dikampuang bisa menghabiskan uang sampai 100 s/d 200 ribu dan dan pihak keluarga dekat marapulai ipa bisan adik, kakak bahkan sampai bapaknya sendiri masing-masing harus memiliki uang banyak dikantong dan mereka bisa habis 300 s/d 500 ribu. Uniknya semua uang yang didapatkan pada malam barantam itu diberikan semuanya kepada anak daro nan sadang duduak mangamek di pelaminan rumah mintuonyo oleh seorang pemuda kampuang yang ditunjuak sacarao basamo di perhelatan tersebut. Kemudian jika kita pergi ke Bukiktinggi dan paya kumbuah misalnya ado istilah maisi sasuduik oleh pihak keluarga marapulai terhadap keluarga anak daro dan mungkin perbedaan lain akan kita temuakn di negri yang lain. Terima kasih Uni Hifni Semoga ada yang tertarik untuk meneliti lebih jauh dan lebih dalam |
|
|
report abuse
vote down
vote up
|
lain lubuak lain ikan nyo, lain padang lain bilalang. lain daerah lain pulo caro adat nyo, yang pantiang menghormat opo pun perbedaan nyo. mangecek soal uang jemputan, uang asap atau aDO juo yang manamokan pitih pambali laki, EMANG NYA BARANG DU JUAL BELI pro, kontra, itu lah yang tajadi, kalau di caliak dari segi positif nyo, positif lah hasil nyo baitu juo sabaliak nyo, tabi bagi ambo mamandang dari kaduo sisi nyo, mancalik jo mato ambo yg indak bara tarang jo otak ambo yg indk baraa encer, masih barek timbangan ka negatif, ado yang paliang manyadiah kan di kalo seorang bini maraso bakuaso terhadap laki nyo, dengan alasan nyo, dek alah di bali, Uni yang cadiak pandai, dari bilo mulai nyo adat ko di anut dek sabahagian urang minang, ado kah sabalun atau sasudah masuak nyo si'ar islam?? ambo tunggu bana jawaban nyo, tarimo kasih, mohon maaf ambo anak indak taplajar tapi ingin salalu baraja |
|
|
report abuse
vote down
vote up
|
|
Salam dari jauh bagi sanak -sanak yang menanggapi artikel ini, And. Eva, tulisan bundo ini adalah editing dari pencerhan Bapak Arman Bahar pada suatu milist yang Uni anggap sangat Obyektif untuk dikemukan. Bahwasanya tradisi ini tetap menimbulkan hak dan kewajiban masing - masing pihak. Juga atas dasar kesepakatan kedua belah pihak. Add. Ali Nurdin, Wah Uni baru tau kalo ada pulo tradisi Barantam ko. Intinya bagi kita bahwa hikmah dari suatu tradisi adalah semangat ke gotong royongan. Jika pelaksanaannya ber - keadilan - tentunya tidak ada anggapan bahwa " padusi " dilecehkan oleh kaum pria. Saling memberi dan saling menerima. Barangkali itu yang ingin Uni titipkan pesan moral terhadap pelaksanaan tradisi ini. Jangan biasakan menjadikan " UANG HILANG " Sanak Nedi, Kan alah dijalehkan bahwasanya tradisi ini berawal dari pemberian kepada 3 orang yang bergelar itu. Untuk yang bergelar Sidi - berasal dari kata Sayyid bagi yang bernasab pada Ulama. Dengan demikian Agama islam telah menjadi pegangan masyarakat minang khususnya Pariaman. Mohon maaf - takut ada keterbatasan banwith - maka tanggapan ini atas artikel ini kita sudahi ya... Dan komentar adik-adik/kemenakan dapat dijadikan referensi tentang kepedulian genarasi muda untuk memahami adat dan budaya nya. Wassalam, Uni Hifni |
|
|
report abuse
vote down
vote up
|
| < Prev | Next > |
|---|
| Member Area |
|---|
| Yayasan Palanta Cimbuak |
|---|
![]() Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko |
| Cimbuak Features |
|---|
|
|
| Online Sekarang |
|---|
| We have 145 guests and 10 members online |
© Copyright 2006 - Cimbuak.net Powered By Kanvasdigital.net All Right Reserved |