Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Weblink
SPTT Cimbuak
Cimbuak Toolbar
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Kok indak nan dihati
Nan tajadi
Cubolah sanang jo
Nan tajadi
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Demokrasi Panjat Pinang" dalam Perebutan Tahta Istana PDF Print E-mail
Written by Erison J Kambari   
Tuesday, 16 June 2009

ImageAgak sesekali…
rindu aku menepuk dada ini…
pengeeeen.. rasanya berbangga diri…
ingin kukalungkan garuda di leher ini…
lalu….. ku tegak di atas gerobak..
dengan kaosku yang terkoyak…
kulafaskan suara serak….

dalam geraham yang gemeretak…..

lantas, dengan setengah bersorak...

aku berteriak dengan ketiak mengepak…;

iINILAH DEMOKRASI BANGSA KAMIII....!!

Tapiii…aahhh..
selalu saja….
setiap mengeja sepotong kata; DE-MO-KRAS-SI...
tiba-tiba pangkal lidahku ini serasa tersekat duri….
tiba-tiba pula di hidungku, negeri ini seperti bau terasi…
tiba-tiba juga dimataku, demokrasi itu seperti mayat berbungkus kafan…,

yang diatas peti mati itu aparat penegak hukum seolah-olah menari dalam gelinjang yang menggairahkan….
sambil mengacungkan neraca keadilan di tangannya yang kiri..
sementara di tangannya yang kanan, rupiah mereka taburkan berpeti-peti….
iiihh….betapa kurasa demokrasi ini mengiris hati…! ngeriii….!

Mimpikupun tinggal mimpi untuk berbangga diri…

Dan ketika pesta demokrasi ini semakin mendekati hari…
Televisi swastapun berpacu diri….

menyajikan nyaris sepanjang hari menu membosankan yang serasa basi tentang demokrasi negeri ini yang sudah menjadi KOMODITI…..Image

Yaaah….KOMODOTI.
Sebaiknya, tak usah Basa-basi lah untuk mengobati borok diri ini…, 
Tak usah kita takutlah ditangkap polisi untuk membenahi negeri ini…
Mari kita singkap saja kudis di kulit diri..,

bahwa ; bukankah pesta Berebut Tahta Istana adalah komoditi dagang dengan harga yang menggiurkan….?

Lihatlah iklan-iklannya di layar kaca…..
Beragam gaya menggoda seperti merayu-rayu nurani dan akal sehat kita…

Ada iklan Capres yang seperti iklan sampo…

janjinya berbusa-busa….tapi sampai di mata pedih terasa…

Ada iklan Capres yang seperti iklan pembalut…

menawarkan kenyamanan…

tak gampang ditembus hukum….

dan cepat menyerap aspirasi rakyat….

Ada iklan Capres seperti dukun cilik Ponari…..

yang dengan ujung jari beliau bermimpi ingin mensejahterakan segenap penghuni anak negeri….

Akupun sebenarnya rindu iklan Capres yang seperti Syekh Puji…

yang berani membuat penjara mandiri sebelum rakyat memenjarakan akibat ulahnya sendiri….

Namanya juga orang lagi jualan….

maklum sajalah…
Tinggal kita sebagai penonton…

sebagai pembeli…

sebagai pemilik negeri ini..
perlu jeli dan kecerdasan ekstra untuk tak tertipu dengan kiat iklan..muslihat dagang…

untuk sebuah KOMODITI yang namanya DEMOKRASI…

Dan..
Ketika….: sepanjang hari televisi tak henti mempertontonkan pada kita ; bagaimana sangarnya perang dagang antar tiga kubu calon penguasa….
Ketika…: tim sukses mereka saling serang dengan urat leher meregang dalam suasana debat terbuka dan benak kita seakan diremasa-remas dalam logika yang serasa dijungkirbalikkan saja….
Ketika….; Tim Poles Capres beradu gigih memoles barang dagangannya agar tampak menggiurkan dan terbit selera rakyat untuk memilihnya….
Ketika….; yang namanya Deklarasi Kampanya Damai justru menjadi ajang menabur benih kebencian dari Capres wanitanya….
Nah…ketika begini, maka pesta Pesta Demokrasi BEREBUT TAHTA ISTANA tak ubahnya seperti Lomba PANJAT PINANG di kelurahan saja….

Yaaah….
Layaknya panjat pinang…Image
Mereka saling menginjak….
Saling menyakiti….
Kursi yang menggantung di ubun-ubun
mereka jolok dengan ambisi…
Tahta yang menggayut di langit-langit
sepertinya mereka kait dengan demokrasi berkalung clurit….oh, tentulah sakit.
Sepertinya saja mereka berpadu…
sesungguhnya mereka berseteru…
Tak sadar….badan diripun ditelanjangi…
Ada yang menyerang untuk menang..
Ada yang takabur dalam bertempur…
Roman coreng morengpun mereka tak hiraukan…
Asalkan impian tertinggi bisa mereka renggutkan,
maka cara apapun bisa dihalalkan…..
Soal logika, menjadi urutan kesekian saja…
Dan dalam suasana yang begini hingar ,bingar dan sangar…
maka ADEGAN BERSALAMAN-pun adalah sesuatu yang bikin gempar…

Semoga saja Demokrasi negeri yang kucintai bukan Demokrasi Panjat Pinang yang menggelikan…
Sebab, kalau Panjat Pinang sudah menjadi model demokrasi dalam setiap Pesta Berebut Tahta Istana….maka; ….tepuk tangan yang menggemuruhpun tentulah bukan tepuk tangan atas DEMOKRASI YANG MEMBANGGAKAN…..tapi justru, itulah TEPUK TANGAN KEPRIHATINAN ketika DEMOKRASI telah menjadi HIBURAN….!

Trackback(0)
Comments (2)add comment

rafki said:

hidup demokrasi ... makin banyak memuji diri dan mengumbar janji, makin besar peluang untuk berbohong ...

gunakan hati nurani ... lebih cepat lebih baik ... hehehe

 
report abuse
vote down
vote up
June 17, 2009
Votes: +0

Sutan zamzamir chaniago said:

perubahan penuh pengorbanan, siapa yang ingin perobahan harus pengorbana,..perlu di lanjtkan kan hukum tampa nurani?, apa kah butuh pembangunan yang merata?, butuh kah kesamaan hak dalam mencari kerja?, berkarya?, dan sebagainya?, hindari pemimpin yang berbudaya piodal...
 
report abuse
vote down
vote up
June 22, 2009
Votes: +0

Write comment
You must be logged in to a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy
 
< Prev   Next >


Advertisement

Member Area
Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Yayasan Cimbuak
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 29 guests and 2 members online
Generated in 0.93707 Seconds