|
Pada artikel yang lalu, saya telah mengupas tentang Mata, baik mata sebagai indera penglihatan maupun mata sebagai jendela jiwa. Ternyata didalam kehidupan kita ini, ada 8 jenis mata yang masing-masing memiliki arti kiasan yang berbeda-beda. Mata lah yang paling menguasai diri kita. Lebih – lebih disaat mengantuk. Sebagus apapun keinginan kita melihat sesuatu, jika ia meminta dilelapkan, maka mau tak mau kita dibuatnya tertidur. Dari tinjauan kalbu, maka untuk memperoleh kecerdasan hati kita harus mengasah mata hati. Kecerdasan hati adalah wujud dari tingkat keimanan seseorang. Allah SWT, berfirman dalam surah Al Isra’, ayat 72 ; Barang siapa buta (hatinya) didunia ini, maka diakhiratkan dia akan buta dan tersesat jauh dari jalan (yang benar).
Kini saatnya kita bicara tentang “ telinga “. Telinga merupakan sebuah organ yang mampu mendeteksi/mengenal suara. Banyak berperan dalam keseimbangan dan posisi tubuh. Dari sisi budaya, telinga menenjadi menjadi perhiasan wajah, bila disertai sepasang anting-anting, subang yang tergnatung ditelingan seorang wanita. Bisa berupa berlian, emas atau sejenis asesoris perhiasan wanita yang menarik hati. Riwayat penggunaan anting atau subang sudah berlangsung ribuan tahun, melalui penindikan telinga. Bahkan pada budaya primitive, tidak sekedar anting-anting sebagimana yang kita saksikan pada wanita gaya, melainkan beberapa bonggol ditempatkan ditelinga seorang wanita, untuk menarik dan memperbesar daun telinga. Seperti yang kita temui yakni pada suku Dayak di Kalimantan. Wanita Dayak sedari kecil dipasangi anting dari tembaga. Satu kuping 10 anting. Jadi semuanya 20 anting. Ini sudah tradisi yang dipakai sejak kecil. Makna apa yang tersirat dari telinga yang panjang dari Wanita Dayak, tentunya mereka punya pandangan dan alasan dari sisi budaya primitive mereka. Meskipun kita menganggap wanita dayak berbudaya primitive, bertelinga panjang karena anting anting yang digunakan, lalu apa bedanya dengan wanita masa kini yang memakai anting sebesar benggol itu kita sebut berbudaya primitive. Kita bisa saksikan bukan ? ada anting-anting yang bertengger di daun telinga kaum wanita. Ada ng yang “segede benggol”, tegantung ditelinga sang wanita gaya itu. Entahlah – kadang manusia memang selalu memiliki ekspresi yang aneh. Jika dikatakan bahwa mata untuk melihat hal-hal yang terindah didunia ini. Namun hal-hal hal yang terindah di dunia ini, tidak akan terlihat indah, bila kita tidak merasakan dan meresapinya. Katakanlah betapa indahnya bentangan alam yang tidak pernah kita syukuri sebagai nikmat dan karunia yang diberikan Allah kepada kita. Atau kita memiliki mata kosong atau nanar, karena kita tidak merasakan dan tidak meresapi apa yang kita lihat. Hal ini terjadi karena hati /kalbu kita sedang kosong. Bagaimana dengan “ telinga”. ? Telinga untuk mendengar setiap bunyi apapun, untuk kemudian direspon ke otak menjadi suara yang suara yang merdu. Suara suara yang indah-indah didunia, memberi kenyamanan pikiran dan kalbu kita. Namun betapun keindahan suara yang bisa ditangkap oleh telinga, ternyata ada suara yang tidak bisa didengar oleh telinga, yaitu “ suara hati .. Yang mampu mendengar suara hati hanyalah Allah Swt, ketika hambanya yang beriman berdoa atau menyampaikan sesuatu kepadaNya. Namun kepada hamba Allah yang memiliki jiwa yang dalam – maka Allah akan memberikan salah satu sifat Allah yang mulia yaitu rasa pengasih dan penyayang kepada hamba Allah itu, Kita sering mendengar istilah “ masuk telinga kiri keluar telinga kanan”. Artinya mengabaikan suatu info yang masuk ketelinga tanpa perlu direspon oleh otak. Bahkan tidak perlu di simpan sebagai dalam memori. Ada pula suatu gurauan, apabila ada sesuatu info yang tidak layak saya olah. Saya akan mengatakan “ masuk telinga kiri keluar telinga kiri saja”. Artinya saya benar benar “cuek beibeh “, atas info itu. Sudah tentu yang menjadi ukuran “ cuek beibeh “ itu adalah info yang benar benar tidak berguna bagi kebaikan. Karena kita tidak selayaknya mendengar sesuatu yang keliru – gossip dan info yang mengandung fitnah. Dengan deimkian kita akan terbebas dari sifat berburuk sangka (su ud dzan). Ada lagi istilah penggambaran manusia yang “ cuek beibeh “ atau tidak mau diatur dalam tatanan kehidupan rohaniah, yaitu “ kareh kapalo pakak talingo”. Dikeluarga kami, kami menyebutnya “ karkapngo”. Sudah lah keras kepala – pekak pula telinganya. Ini benar benar manusia yang bebal dan menyebalkan. Segala macam nasehat yang dilontarkan kepadanya, tidak ada yang mangkus. Saya kutipkan sebuah pepatah minang yang diajarkan kepada saya mengenai prilaku manusia “ karkapngo “ ini ; Babana ka ampu kaki – ba utak kapangka langan- kareh ati indak manantu – bakareh hangok - kareh arang – kareh kapalo pakak talingo. barajo ka hati surang – ba sutan dimato – indak ditiliak jo pikia panjang – nan tahadok disantuang sajo. Bisa diyakini bahwa kita pasti menemukan dalam kehidupan nyata – tipe manusia seperti yang digambarkan oleh pepatah ini. Begitulah uztad berkata saya, manusia bisa tersesat dalam kehidupannya – apabila Allah SWT telah mengunci mati hati dan pendengarannya. Orang – orang seperti ini digambarkanya melalui ayat yang tercantum dalam (surah 2 : 18) : “ summum bukmun unyum fahum laa yarjiu’n. Mereka tuli – mereka bisu – mereka buta, mereka tidak kembali (ke jalan yang benar). Asytagfirullah al adziim. Mereka adalah orang-orang yang dikutuk oleh Allah SWT karena keingkaran mereka. Barangkali, kita akan termasuk dalam golongan yang dilaknat Allah seperti disebutkan dalam surah al baqarah ayat 18 ini, apabila kita men tulikan kepedulian kita terhadap lingkungan khususnya kaum dhuaffa, atau apabila kita tidak menanamkan kebaikan bagi keluarga dan anak-anak. Demikian pula, apabila secara zahirnya kita memiliki kemampuan untuk mendengar apa yang dikatakan dan apa yang diharapkan orang lain dari diri kita, namun kita mengacuhkannya. Akibatnya, telinga kita tidak lebih bagaikan sebuah gantungan perhiasan belaka atau mungkin seperti gantungan kuali. Akhirul kalam, doakan saya semoga menjadi Seorang hamba Allah yang baik (para Ibadurrahman). Selalu menjadikan rumah tangganya menjadi sorga yang di dalamnya berisi suasana senang dan tenang, ketika para penghuninya adalah orang – orang yang sholeh. Hal ini saya harapkan dalam kehidupan saya. Kawasan Puspiptek, Kota Tangerang Selatan, 17 Ramadhan 1430 H
Trackback(0)
|