Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Weblink
Advertisement
Cimbuak Toolbar
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Bundo kanduang
Limpapeh rumah nan gadang
Amban puruak pegangan kunci
Amban puruak aluang bunian
Pusek Jalo kumpulan tali
Hiasan dalam nagari
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Minangkabau, 'Sumur' Keilmuan yang Perlu Ditimba PDF Print E-mail
Written by Ade Alawi   
Friday, 27 August 2004

MINANGKABAU masih memiliki kegemilangan masa lalu, sebagai 'sumur' kearifan dan keilmuan, tempat orang dari berbagai etnik belajar Islam dan berbagai ilmu lainnya.

Ranah ini mempunyai kearifan lokal (local genius) dalam berbagai manuskrip, tradisi lisan, bahasa dan sastra, serta kelembagaan tradisional. Namun, semua itu membutuhkan upaya penggalian.

Salah satu rumusan dan rekomendasi pada seminar internasional bertajuk Kebudayaan Minangkabau dan potensi etnik dalam paradigma multikultural pada  23-24 Agustus 2004 itu disampaikan Ketua Panitia Hasanuddin di Padang, Sumatra  Barat (Sumbar), kemarin.

Seminar ini diselenggarakan Program Studi Bahasa-Sastra-Budaya Minangkabau, Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra Universitas Andalas. Lembaga ini bekerja sama dengan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, Dinas Pariwisata, dan instansi terkait.

Tampil dalam seminar ini 28 pemakalah dalam dan luar negeri, di antaranya Prof Dr Azyumardi Azra MA (Rektor UIN Jakarta), Prof Dr Syafri Sairin MA (Guru Besar Antropologi UGM yang juga deputi Menristek RI), Prof Ding Choo Ming (UKM), dan Prof Amin Sweeney (Eropa). Peserta berjumlah 100 orang, terdiri dari dosen, peneliti, budayawan, praktisi kebijakan, dan mahasiswa.

Menurut Hasanuddin, 'sumur' kearifan dan keilmuan itu tak hanya digali dan ditimba, tapi juga dieksplisitkan, dan direaktualisasi sesuai tuntutan riil masyarakat dan zamannya.

Seminar juga mengidentifikasi beberapa persoalan aktual yang dihadapi masyarakat etnik. Khususnya, Minangkabau dan Indonesia saat ini, di antaranya, filosofis etnik, terutama Minangkabau telah luntur, karena tidak lagi memberi corak kepada perilaku masyarakatnya.

Ironisnya, banyak tokoh masyarakatnya sering kali berpikir abstrak, penuh idealitas, bahkan romantisme dan nostalgik, sehingga hanya sedikit sekali yang dapat bersentuhan dengan kehidupan realistik.

Pemikiran ini, kata Hasanuddin, tidak memberikan alternatif pemecahan masalah bagi kehidupan riil kontekstual di masyarakat.

Filosofi adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah (adat bersendi ajaran agama, ajaran agama bersendi Alquran) dan alam takambang jadi guru (alam terkembang jadi guru) tinggal menjadi ironi. ''Oleh karena itu, diperlukan kajian, revitalisasi dan reaktualisasi nilai, dan restrukturisasi masyarakat, sesuai tuntutan kekinian.''

Khusus untuk pendidikan muatan lokal budaya alam Minangkabau dan bidang studi keminangkabauan lainnya di SD-SLTA, jurusan Sastra Daerah Program Studi Bahasa-Sastra-Budaya Minangkabau, perlu diberikan perhatian yang besar.
Termasuk juga, diberi kesempatan untuk mengambil peran yang besar. Misalnya, menyangkut pengakuan dari lembaga, dinas, dan instansi terkait. Sebab, program studi itulah yang memiliki kompetensi untuk melakukan pengkajian dan transfer pengetahuan keminangkabauan.

Dalam strategi pembangunan ekonomi, paradigma budaya perlu diperhitungkan.
Budaya dapat menjadi bahan bakar pembangunan ekonomi, bukan sebaliknya, paradigma ekonomi untuk pengembangan budaya.

''Hal ini perlu menjadi acuan dasar bagi pengembangan kepariwisataan di Sumbar, yaitu kepariwisataan yang berbasis budaya,'' kata Ketua Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra Universitas Andalas ini.
Perubahan sosial budaya, tidak perlu ditakuti, justru diperlukan, melalui transfer nilai dan pengetahuan. Dengan dasar dan orientasi jelas tanpa kehilangan jati diri. Satu keunggulan budaya Minangkabau justru pada sikap terbuka, daya lentur, dan fleksibilitasnya dalam berakulturasi dan berasimilasi dengan budaya luar.

Menyikapi krisis budaya dengan konflik etnik dan agama dewasa ini, seminar merekomendasikan, Indonesia harus mampu menyusun strategi kebudayaan nasional yang lebih jelas dan antisipatif ke masa depan. * Ade Alawi/B-5

Copyright © 2004 Media Indonesia Online. All rights reserved. Kamis, 26 Agustus 2004 00:00 WIB
 
PENDIDIKAN

Trackback(0)
Comments (0)add comment

Write comment
You must be logged in to a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy
 
< Prev   Next >


Advertisement

Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Donasi Terakhir

Donasi untuk Cimbuak
Dari Jumlah
 Harmailis Rp.   200.007,--
 Ajo Duta / Mak Uncu Rp.   1.000.000,--
Inyiak Jangkuang Rp.   56.789,--
Dave, Melbourne Rp. 300.000,--
Balance Sementara
Rp. 1.116.796,--
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 9 guests and 10 members online
Generated in 1.00650 Seconds