Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Weblink
SPTT Cimbuak
Cimbuak Toolbar
Makmur Hendrik
Episode Terbaru :
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Jikok kato bamulo dari hati
Yo ka hati juo ka masuaknyo
Jikok kato bamulo dari lidah
Talingo sajo parantiannyo
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Palanta
Syndicate
Advertisement
Mamak/Kemenakan Tak Beradat ? PDF Print E-mail
Written by Kasnadi NP St. Rajo Pangulu.   
Saturday, 28 August 2004
Tiap suku bangsa mempunyai adat sendiri sendiri. Suku bangsa Minangkabau mempunyai adat yang disebut "Adat Minangkabau"
Dengan demikian adat adalah mengatur hidup dan kehidupan masyarakat menjadi tertib dan aman.

Kita sering mendengar ucapan yang dilontarkan orang tua-tua, setiap gerak dan pekerjaan yang kita lakukan , harus mempunyai aturan yang mengatur prilaku kita, adalah adat.
Contohnya berkata beradat, berjalan beradat, dudut beradat, demikian juga berdiri apalagi makan, minum dan sebagainya.
Dewasa ini seiring dengan zaman komputerisasi memang banyak dari pihak anak atau kemenakan yang sudah kehilangan adat kesopanan. Kendatipun demikian kita tidak perlu terlena lebih jauh dalam masalah ini. Namun yang perlu bagaimana kita bergerak dan berbuat sehingga kita selaku manusia beradat, dapat melakukan sebagai suku bangsa Minangkabau yang mempunyai adat, sebab adat Minangkabau adalah pandangan hidup yang berpangkal pada "budi". Karena budi mendapat tempat utama dalam pergaulan beradat. Seperti dibawah ini :
               Pisang ameh bawok balayia
               Pisang lidi diateh peti
               Utang ameh dapek di bayia
               Utang budi dibawo mati.

Dari sebait pepatah (bidal) tersebut jelaslah bagi kita, Utang uang itu dapat dibayar dan utang budi dibawa mati maka orang takut berutang budi. Apalagi berutang budi yang jelek.
Bertitik tolak kepada adat, adat Minangkabau tegak dengan teguh sejak berdirinya, karena berdasarkan alua dan patuit, raso jo pareso, bersumber ka alam seperti yang dikatakan pepatah :
               Alam Takambang jadi Guru.
Menurut cerita orang tua tua, dahulu kala mamak sebagai urang tuo kampuang, maupun bapak bagi anak, sedang berjalan dilabuah nan golong, kemanakan ataupun anak takut mendahuinya.
Kalaupun waktu mendesak, kemenakan atau anak mohon permisi : "Dahulu ambo saketek mak" sapanya. Tapi sekarang dizaman teknologi modern hal ini langka ditemui.
Apakah kurang komunkasi antara mamak dengan kemenakan, maupun bapak kepada sianaknya. Kemenakan tidak mungkin kita salahkan demikian juga si mamak.
Kalau kemenakan kurang bertanya, tentu mamak tidak mewariskan.
Disini jelas peran dan fungsi sebagai mamak, yang memahami posisinya menurut adat dalam memimpin kemenakan begitu juga dalam memimpin nangari, sesuai dengan kata adat :
              Adat basandi syarak,
              Syarak basandi Kitabullah
Kalau disimak dari pepatah ini, selalu penanggung jawab memimpin kemenakan adalah Mamak. Eksistensi mamak dalam system bakampuang dan bangari saat ini sudah patut dipertanyakan. Sebaliknya tugas kemenakan kepada mamak. Kalau kedua ini sudah duduk hal ini sudah duduk pada posisinya sesuai dengan alur dan patut, maka terciptalah :
              Kemenakan saperentah mamak
              Dan mamak saparentah bana
Apabila mamak sudah mewariskan rasa beradat kepada kemenakan, otomatis kemenakan menjadi orang beradat.
Memang manusia lahir kedunia ini membawa sifat baik dan buruk. Sifat buruk itu apabila tidak dibimbing serta di bendung, akan terjadi seperti petitih adat :
             Gadang malendo
             Cadiak maniayo
             Nan ketek jan talendo
             Nan binguang jan tajua

Disini jelas adat dapat mengatur sosial dan keamanan masyarakat.
Menurut hemat penulis, kalau kita dalami pengertian adat, maka adat berguna untuk menjaga ketertiban ditengah masyarakat, seperti petitih adat :
             Nagari nak nyo aman
             Anak nagari nak nyo sentosa
             Sangketo nak nyo jauah
             Damai nak nyo dakek
             Nan tuo jan mangusuik
             Nan gadang jan malendo
             Nan cadiak jan manjua
             Nan ketek jan talendo
             Nan binguang jan tajua.
Maka kedepan sangat diharapkan peranan KAN (Kerapatan Adat Nagari) dalam pendidikan adat istiadat ini.

Sumber :  Bulettin Sungai Pua No. 46 April 1994
Disadur Oleh : Dewis Natra

Trackback(0)
Comments (0)add comment

Write comment
You must be logged in to a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy
 
< Prev   Next >


Advertisement

Member Area
Status Radio
Radio Minang Online
Player External Translator Indonesia Minang
Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Status Palanta
Terdapat member di palanta.
Nan sadang Online :
Klik disiko untuak bergabung.
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Yayasan Cimbuak
Situs Terbaik
CB Online
elo, erwin, ...
Member
 Cimbuak - Forum Silaturahmi dan Komunikasi Masyarakat Minangkabau Groups Online
 Admin ( 1 ) Admin 1
 Anggota ( 1 ) Anggota 1
 Tamu ( 3 ) Tamu 3
  Total  5
 Angoota ( 8,056 ) Angoota  8,056


Statistik
Agg Baru  fetmawati
Hari Ini 11
Minggu Ini 38
Bulan Ini 135
Tahun ini 2,648
Online Sekarang
We have 3 guests and 2 members online
User Terbaru

simerah

Terdaftar pada
2009-01-06 21:39:53

Generated in 1.09056 Seconds