Tiap suku bangsa mempunyai adat sendiri sendiri. Suku bangsa Minangkabau mempunyai adat yang disebut "Adat Minangkabau" Dengan demikian adat adalah mengatur hidup dan kehidupan masyarakat menjadi tertib dan aman.
Kita sering mendengar ucapan yang dilontarkan orang tua-tua, setiap gerak dan pekerjaan yang kita lakukan , harus mempunyai aturan yang mengatur prilaku kita, adalah adat. Contohnya berkata beradat, berjalan beradat, dudut beradat, demikian juga berdiri apalagi makan, minum dan sebagainya. Dewasa ini seiring dengan zaman komputerisasi memang banyak dari pihak anak atau kemenakan yang sudah kehilangan adat kesopanan. Kendatipun demikian kita tidak perlu terlena lebih jauh dalam masalah ini. Namun yang perlu bagaimana kita bergerak dan berbuat sehingga kita selaku manusia beradat, dapat melakukan sebagai suku bangsa Minangkabau yang mempunyai adat, sebab adat Minangkabau adalah pandangan hidup yang berpangkal pada "budi". Karena budi mendapat tempat utama dalam pergaulan beradat. Seperti dibawah ini : Pisang ameh bawok balayia Pisang lidi diateh peti Utang ameh dapek di bayia Utang budi dibawo mati. Dari sebait pepatah (bidal) tersebut jelaslah bagi kita, Utang uang itu dapat dibayar dan utang budi dibawa mati maka orang takut berutang budi. Apalagi berutang budi yang jelek. Bertitik tolak kepada adat, adat Minangkabau tegak dengan teguh sejak berdirinya, karena berdasarkan alua dan patuit, raso jo pareso, bersumber ka alam seperti yang dikatakan pepatah : Alam Takambang jadi Guru. Menurut cerita orang tua tua, dahulu kala mamak sebagai urang tuo kampuang, maupun bapak bagi anak, sedang berjalan dilabuah nan golong, kemanakan ataupun anak takut mendahuinya. Kalaupun waktu mendesak, kemenakan atau anak mohon permisi : "Dahulu ambo saketek mak" sapanya. Tapi sekarang dizaman teknologi modern hal ini langka ditemui. Apakah kurang komunkasi antara mamak dengan kemenakan, maupun bapak kepada sianaknya. Kemenakan tidak mungkin kita salahkan demikian juga si mamak. Kalau kemenakan kurang bertanya, tentu mamak tidak mewariskan. Disini jelas peran dan fungsi sebagai mamak, yang memahami posisinya menurut adat dalam memimpin kemenakan begitu juga dalam memimpin nangari, sesuai dengan kata adat : Adat basandi syarak, Syarak basandi Kitabullah Kalau disimak dari pepatah ini, selalu penanggung jawab memimpin kemenakan adalah Mamak. Eksistensi mamak dalam system bakampuang dan bangari saat ini sudah patut dipertanyakan. Sebaliknya tugas kemenakan kepada mamak. Kalau kedua ini sudah duduk hal ini sudah duduk pada posisinya sesuai dengan alur dan patut, maka terciptalah : Kemenakan saperentah mamak Dan mamak saparentah bana Apabila mamak sudah mewariskan rasa beradat kepada kemenakan, otomatis kemenakan menjadi orang beradat. Memang manusia lahir kedunia ini membawa sifat baik dan buruk. Sifat buruk itu apabila tidak dibimbing serta di bendung, akan terjadi seperti petitih adat : Gadang malendo Cadiak maniayo Nan ketek jan talendo Nan binguang jan tajua Disini jelas adat dapat mengatur sosial dan keamanan masyarakat. Menurut hemat penulis, kalau kita dalami pengertian adat, maka adat berguna untuk menjaga ketertiban ditengah masyarakat, seperti petitih adat : Nagari nak nyo aman Anak nagari nak nyo sentosa Sangketo nak nyo jauah Damai nak nyo dakek Nan tuo jan mangusuik Nan gadang jan malendo Nan cadiak jan manjua Nan ketek jan talendo Nan binguang jan tajua. Maka kedepan sangat diharapkan peranan KAN (Kerapatan Adat Nagari) dalam pendidikan adat istiadat ini.
Sumber : Bulettin Sungai Pua No. 46 April 1994 Disadur Oleh : Dewis Natra Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar. Silahkan login atau daftar. Powered by AkoComment 2.0! |