Para sosiolog dan ahli ahli ilmu lain, seperti ahli filsafat, ahli sejarah, ahli ekonomi dan sebagainya berpendapat bahwa kecendrungan terjadi perubahan-perubahan sosial dalam masyarakat merupakan gejala-gejala yang wajar sebagai akibat pergaulan hidup manusia.

Setiap masyarakat manusia selama hidupnya mengalami perubahan-perubahan. Perubahan-perubahan itu dapat berupa perubahan yang kurang menarik atau mencolok, ada perubahan yang memiliki pengaruh terbatas maupun luas, serta ada pula perubahan yang yang lambat dan ada yang sangat cepat.
Dengan demikian tidak ada satu masyarakat pun terhenti pada suatu titik tertentu didalam perkembangannya sepanjang massa.
Perubahan-perubahan didalam masyarakat dapat mengenai nilai-nilai sosial, norma-norma sosial, pola-pola perilaku, organisasi, susunan lembaga-lembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan dalam masyarakat, kekuasaan, kewenangan, interaksi sosial dan sebagainya.
Perubahan sosial itu terjadi disebabkan adanya kondisi-kondisi primer seperti kondisi ekonomi, teknologis, geografis, atau biologis yang mempengaruhi pula terjadinya perubahan-perubahan pada aspek-aspek kehidupan sosial lainnya.
Gambaran sepintas tentang teori-teori perubahan sosial diatas dapat dijadikan sebagai acuan (term of refference) dalam membahas masalah sistem sosial masyarakat Minangkabau yang matrilineal, yaitu suatu sistem sosial yang mengikuti garis keturunan dari pihak ibu. Suatu sistem sosial yang termasuk langka didunia ini sehingga menarik minat para ahli dan peneliti.
Sistem matrilineal menurut ahli antropologi merupakan suatu sistem sosial masyarakat tertua yang telah lahir jauh sebelum lahirnya sistem patrilineal yang berkembang sekarang.
Engel seorang antropolog barat yang evolusionis mengatakan bahwa setelah bentuk masyarakat liar (savagery) yaitu suatu bentuk masyarakat yang masih berkelompok kelompok(bersama-sama). Sehingga bentuk keluarga belum jelas, berubah jadi masyarakat yang memiliki keahlian beternak dan bertani, maka keadaan memungkinkan terjadinya pengumpulan harta benda sebagai kekayaan pribadi.
Pada titik itulah munculnya bentuk keluarga baru, yakni keluarga yang berdasarkan perkawinan pasangan. Bentuk keluarga dari perkawinan pasangan ini adalah seorang laki-laki atau seorang wanita memiliki satu orang istri atau satu orang suami utama, disamping adanya istri-istri atau suami-suami lainnya. Dalam bentuk ini yang berkuasa menentukan perkawinan anaknya adalah pihak wanita (ibu).
Kalau seorang laki-laki meninggal dunia, kekayaannya tidak diwariskan kepada anak-anaknya yang sebenarnya, sebab dia sendiri juga tidak tahu mana anaknya yang sebenarnya berhubung sang istri juga memiliki suami-suami yang lain.
Melihat keadaan demikian maka pewarisan harta dilakukan menurut garis keturunan ibu lebih jelas mengetahui mana anaknya yang sebenarnya. Dengan demikian munculah sistem sosial yang patrilineal, dimana seorang anak memiliki seorang ibu dan seorang bapak.
Dari pernyataan Engel yang melihat sistem kekeluargaan dalam kerangka evolusi jelas menunjukkan bahwa sistem matrilineal merupakan sistem kekeluargaan yang dulu muncul dari sistem sosial patrilineal. Namun sistem ini akan mengalami evolusi dan pada gilirannya akan digantikan oleh patrilineal. Dilihat dari kerangka ini, maka timbulah pertanyaan bagaimana dengan sistem matrilineal yang dianut oleh masyarakat Minangkabau? Mungkinkah sistem ini akan berlansung dan keampuhannya terjamin dalam menghadapi arus perubahan masa yang begitu cepat.
Untuk menemukan jawaban dari pertanyaan itu, telah banyak dilakukan penelitian para ahli yang tertarik dengan sistem sosial masyarakat Minangkabau tersebut. Misalnya J.V. Maretin dari hasil penelitian dan pengamatannya, berkesimpulan bahwa lambat laun sistem matrilineal ini akan musnah sama sekali dari Minangkabau dan akan digantikan sistem patrilineal yang dianut oleh sebagian masyarakat di dunia ini. Adat istiadat Minangkabau tradisional sudah mulai musnah. Asas-asas sistem matrilineal sudah mulai tidak berlaku lagi.
Fenomena-fenomena ini dapat kita lihat dari kedudukan mamak dalam suatu suku yang mulai memudar citranya. Keluarga besar yang tinggal dalam suatu rumah gadang mulai bergeser kedudukannya oleh perkembangan keluarga inti, dimana ayah atau suami lebih dominan. Bahkan keturunan dan pembagian warisan pun tidak berdasarkan sistem matrilineal lagi.
Gejala-gejala perubahan sosial di Minangkabau sebagaimana yang dikemukakan Maretin, memang sedang dialami masyarakat Minangkabau, bahkan jauh sebelum itu proses kearah perubahan itu sudah terjadi.
Namum banyak juga pengamat dan peneliti lain yang kurang sependapat dengan Maretin ini. Mereka mengatakan bahwa perubahan yang mendasar tidak terjadi di Minangkabau. Hal ini disebabkan oleh sistem sosialnya yang disatu pihak sangat baku tapi pihak lain sangat fleksibel. Sehingga dengan sistem yang baku ini muncul pepatah yang mengatakan :
               Adat nan tak lakang dek paneh
               Dan tak lapuak dek hujan
Tapi disamping itu orang Minangkabau juga menyadari bahwa dinamika kehidupan akan selalu membawa perubahan. Dengan demikian perubahan itu diperkenankan, sebatas tidak melanggar hal-hal yang dianggap fundamental. Dengan itu muncul juga pepatah mengatakan :
               Tapian bisa baraliah
               Duduak buliah baranjak
               Asa dilapiak nan sahalai
               Tagak buliah bapaliang
               Asa ditanah nan sabingkah

Dari dua pepatah diatas dapat dipahami bahwa orang Minangkabau itu sangat kuat mempertahankan adat dan sistem yang dianggap universal. Namun disamping itu mereka juga mengaku adanya perubahan dalam unsur-unsur adat dan sistem itu sejauh tidak mengenai hal-hal dianggap mendasar.
Diantara hal hal yang sangat mendasar itu kata Prof. Mr. M. Nasroen dalam bukunya "Dasar Falsafah Adat Minangkabau" adalah sistem sosial yang matrilineal. Sistem ini menunjukkan keaslian adat itu sendiri, sebab sistem matrilineal merupakan sistem yang asli dan pertama dianut oleh masyarakat di dunia ini.
Sistem ini akan tetap kuat dan berlaku dalam masyarakat Minangkabau sampai sekarang, dia tidak akan mengalami evolusi, sehingga menjadi sistem patrilineal sebagaimana yang dikawatirkan Maretin. Sistem ini menjadi langgeng dan mapan karena sistem ini memang sejiwa dengan adat Minangkabau yang universal, yang meliputi seluruh segi kehidupan manusia, baik kehidupan secara individu maupun kehidupan bermasyarakat.
Adat dan sistem matrilineal bersama-sama diciptakan yang berdasarkan pengamatan terhadap alam terkebang bagi orang Minangkabau :
             Alam takambang itu
             Dijadikan sebagai guru
.
Dengan demikian dalam membentuk sistem sosial yang universal, mereka juga berpedoman kepada prinsip-prinsip dan ketentuan-ketentuan yang berlaku pada alam. Ini bisa kita lihat misalnya dalam pepatah-pepatah Minangkabau yang selalu menyebutkan unsur alam dalam menetapkan sesuatu yang dijadikan adat. Mereka selalu menginterprestasikan hukum-hukum alam dan mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Kita memang seharusnya angkat tangan dan mengakui kehebatan dua orang yang terkenal sebagai peletak batu pertama dasar dasar falsafah adat dan sistem sosial Minangkabau, yaitu Datuak Katumangguangan dan Datuak Parapatiah Nan Sabatang. Mereka berdua merupakan filosof besar yang telah mampu membaca ayat-ayat Allah yang terdapat dalam alam nyata ini dan menafsirkan untuk keperluan hidup masyarakat. Padahal kalau kita lihat, masa itu jauh sebelum agama Islam datang membawa ajaran-ajarannya yang terangkum dalam kitab suci Al Qur'an. Namun mereka telah sanggup berpikir filosofis tentang alam dan realitas yang ada. Sehingga ketika Islam ketanah Minangkabau tidak mengalami pertentangan yang berarti. Tidak banyak dari unsur unsur adat dan sistem sosial itu yang berubah, akan tetapi Islam malah sebaliknya, menyempurnakan dan melengkapinya. Al qur'an sendiri juga memerintahkan manusia mengamati dan meneliti ayat-ayat Allah yang terdapat dalam alam nyata ini. Karena dapat dijadikan ajaran bagi orang yang berpikir.
Sistem sosial matrilineal di Minangkabau dibentuk berdasarkan kepada ketentuan ketentuan alam yang qodrati.
Secara alamiah yang mengandung, melahirkan, menyusukan, mengajarkan anak berkata-kata dan mendidiknya adalah seorang ibu. Sedangkan ayah sedikit sekali mendapat kesempatan untuk bergaul dengan anak-anak dan memperhatikan kebutuhan kebutuhannya. Seorang ayah lebih banyak berada diluar rumah karena harus mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan istri dan anaknya. Konsekwensinya tidak jarang terjadi anak-anak lebih dekat dan merasa nyaman ketika berada disamping ibunya. Kondisi-kondisi alamiah seperti inilah yang dijadikan sebagai sumber dalam menetapkan suatu sistem sosial di Minangkabau.
Sebagai suatu sistem sosial yang ditetapkan  berdasarkan kondisi kondisi objektif alamiah, maka sistem ini menjadi sistem yang universal dan sangat kuat mengakar dalam masyarakat Minangkabau. Sehingga betapapun derasnya arus perubahan yang dibawa merong-rong kekokohan posisinya, dia tetap tegar. Misalnya arus perubahan yang dibawa oleh , arus modernisasi ataupun arus merantau. Faktor-faktor tersebut tidak mampu menggeser kedudukan ini, bahkan yang terjadi malah sebaliknya, faktor-faktor ini membuat posisinya semakin kuat.
Makanya kekawatiran akan melemahnya sistem matrilineal dan akan bergeser oleh sistem patrilineal tidak perlu menjadi suatu ketakutan yang berkepanjangan sebab sistem ini akan tetap dianut oleh masyarakat Minangkabau, selama masih ada kaum ibu yang mempertahankan citranya dan qodratnya sebagai wanita. Meskipun banyak faktor-faktor yang bertentangan, seperti faktor agama Islam yang mencoba mempertentangkan dengan sistem patrilineal, tapi faktor ini tidak mampu menggoyahkan eksistensi ini. Dimana sampai sekarang masyarakat Minangkabau masih menganut agama Islam, akan tetapi dalam hal ini terjadi proses akomodasi yang seimbang. Dalam artian disatu pihak orang Minangkabau harus menjalankan esensi ajaran Islam yang murni dan di disatu pihak mereka tetap mempertahankan keaslian adat dan sistemnya. Proses akomodasi yang tidak merugikan salah satu pihak ini ditambah oleh suatu produk kata Tsuyushi Kato dalam tesisnya yang berjudul "Matriliny and Migration Evolving Minangkabau Tradition in Indonesia" tahun 1982.
Kerjasama yang seimbang antara pemikiran patrilineal yang dibawa  dengan keinginan untuk mempertahankan keaslian, secara sepintas memang tidak masuk akal, tetapi demikianlah yang terjadi di Minangkabau. Bahkan kerjasama yang demikian sangat menguntungkan seorang anak yang lahir dalam sistem ini.
Disatu pihak menurut sistem matrilineal seorang anak memiliki mamak yang bertanggung jawab membimbingnya. Dan dipihak lain menurut sistem patrilineal yang diajarkan , seorang anak memiliki bapak yang bertanggung jawab untuk mengasuhnya, memberi nafkah, dan memenuhi kebutuhannya. Sehingga muncullah pepatah yang mengatakan :
              Anak dipangku kemenakan dibimbing.
Keadaan seperti inilah yang membuat heran DR. Futaki salah seorang pemimpin  Jepang, kata H. Haroen Yunus Dt. Rajo Mangkuto pada peresmian Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM) tahun 1990 di Padang Panjang.
Masyarakat Minangkabau tenang hidup dalam sistem yang bertolak belakang. Di Minangkabau antara adat dan agama terjadi akomodasi, dimana dua sistem ini tidak dipertentangkan dan tidak menimbulkan pertentangan.
Dalam dunia yang semakin berubah memang tidak dapat disangkal bahwa perubahan itu mempengaruhi sistem sosial Minangkabau yang selama ini dianggap mapan. Misalnya dengan semakin berkembangnya tradisi merantau telah melemahkan pengaruh mamak dalam suatu keluarga. Dimana besar yang hidup dalam rumah gadang diganti oleh keluarga inti yang terdiri dari seorang ayah, ibu dan anak anaknya, yang berpengaruh adalah seorang ayah atau suaminya, Posisi mamak digeser oleh ayahnya, sehingga mamak tidak kelihatan campur tangan lagi. Akan tetapi keadaan demikian tidak mehilangkan hakikat keminangan seseorang. Sebab seorang anak masih mengikatkan diri kepada keluarga matrilineal. Anak-anak masih merasakan ada jarak dengan keluarga bapaknya betapapun intimnya mereka degan si bapak. Bahkan ada semacam ketakutan campur tangan keluarga si bapak yang mereka lihat secara negatif, kata Dr. Umar Yunus. Dan kalau pulang kampung mereka akan mencari keluarga ibu, bukan keluarga bapak. Dengan demikian perubahan perubahan sosial yang memaksa terjadinya perubahan pada unsur-unsur adat di Minangkabau, tidak akan berpengaruh terhadap sistem sosial matrilinial itu. Dan perubahan itu tidak akan menghilangkan keminangan. Sebab Minangkabau identik dengan matrilineal yang tidak akan mengalami evolusi. Sistem matrilineal, menunjukkan kelanggengan sosial di Minangkabau.    

Sumber : BSP No. 46 April 1994
Disadur oleh : Dewis Natra

comments powered by Disqus
Berita Cimbuak
Cimbuak - Safemode : ON
  • By Administrator
  • 12/12/2013

Dunsanak sakalian, karena hal teknis kami tapaso melakukan update website cimbuak ka mesin nan baru iko. Untuk samantaro indak sado fungsi berjalan dengan baik, namun seiring berjalannyo waktu kami...

Berita Cimbuak
Pengumunan untuk Pemesan Jaket/Kaos Cimbuak
  • By Urang Dapua
  • 07/08/2013

Assalamu'alaikum Wr. Wb.Bagi dunsanak yang pernah memesan Jaket/kaos Cimbuak, dan telah membayar uang muka pemesanan, dimohon untuk menghubungi pengurus Cimbuak, untuk pengembalian uang pemesanan dengan...

Berita Rantau
Whulandary Putri Indonesia 2013
  • By Admin
  • 02/06/2013

Terpilihnya Wulandary Herman sebagai Putri Indonesia 2013 tentunya punya konsekwensi harus mengikuti Miss Universe, sebagaimana kita tahu dalam ajang Miss Universe ada session memakai Bikini,...