Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Bursa Jual Beli
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Makmur Hendrik
Episode Terbaru :
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Pituah

Adaik iduik tolong manolong
Adaik mati janguak manjanguak
Adaik lai bari mambari
Adaik indak baselang tenggang
Janji nan biaso mungkie
Titian nan biaso lapuak
Pantang di anak minangkabau
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Palanta
This is not a Login form

Name:

Message:

Advertisement
Budaya Rasa Kebersamaan Nan Lah Lamo Taicia Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Ditulis oleh A.T. Zakaria   
Sabtu, 28 Agustus 2004
I. Manyabik Iriak
Pemberitahuan biasanya disampaikan melalui dunsanak/kerabat dekat, lalu menyebar kepada yang agak jauh, seterusnya kepada anggota masyarakat lainnya.

Ada semacam kode etik yang sifatnya agak halus, yaitu bila para tamu merasa yang hadir sudah lebih dari cukup, maka yang datang belakangan biasanya mohon diri untuk tidak ikut.
Caranya : dengan penuh sopan melalui pepatah petitih yang pada pokoknya bertujuan : karena yang datang dirasakan sudah cukup, barangkali tidak ada salahnya kalau mereka kembali saja ke rumah masing-masing.
Perlengkapan mairiak (sabik/iriak) tidak hanya disediakan oleh pemilik sawah (yang mengundang), akan tetapi tidak jarang terjadi sang tamu membawa peralatan sendiri, antara lain : sabit/arit dan dua buah tongkat bambu ukuran 1 s/d 1,25 meter.
Setelah padi disabit/dipotong kira-kira 40-50 cm lalu dikumpulkan (dionggokkan secara teratur); onggokan padi ini dinamakan lampok. Selanjutnya dibiarkan selama 1-3 hari dan dijaga siang malam.
Pada hari ketiga, orang-orang (para tamu) yang akan mairiak pun kembali berdatangan, tetapi jumlahnya tidak lagi sebanyak waktu menyabit. Biasanya mairiak ini makan waktu sekitar 2 - 3 jam, setelah itu para ibu/kaum wanita mulailan me-anginkan (untuk memisahkan pada dari daun padi yang kecil-kecil).
Yang agak memakan waktu ialah memasukkan padi ke dalam karung/sumpik  sebangsa dedaunan/mansiro bukan plastik, kemudian mengangkutnya ke rumah pemilik sawah.
Kalau tidak punya gerobak/pedati, biasanya dipanggul/dipikul atau dijujung dengan kepala. Semakin luas sawah yang dikerjakan, tentu akan semakin banyak pula mengarungkannya serta mengangkutnya.

II. Batagak Rumah
Apabila yang dibangun itu rumah adat, maka pemberitahuannya adalah melalui Balai Adat, tetapi kalau yang akan dibangun adalah rumah biasa/tempat tinggal, hanya kaum keluarga/kerabat dekat saja yang diharapkan kehadirannya. Diutamakan para tukang kayu dan batu tentunya.
Yang punya rumah hanya menyediakan makan minum secukupnya, sedang imbalan jasa tukang biasanya tidak diperhitungkan, jadi tidak komersial. Hanya sekadar "uang sarayo" (minta tolong).
Untuk membangun mesjid barulah masyarakat banyak yang turun tangan, mulai dari mencari kayu/tiang-tiang besar ke rimbo/hutan (lindung maupun liar) sampai menggunakan para tukangnya merupakan kerja bakti saja.
Tidak pernah ada tawar menawar berapa harus digaji dan berapa lama harus siap oleh tukang, pendeknya : seenaknya yang penting jadi.
Batagak mesjid memang makan waktu, masalah utamanya adalah semua serba kerja bakti ( baik sumbangan tenaga maupun materi), sedangkan pemberitahuanya jauh lebih luas dan merata. Tidak hanya melalui mesjid-mesjid, balai adat, pasar, kantor wali nagari, tetapi melalui mulut dari orang ke orang.
Kaum ibu akan berebut mengantarkan penganan/cuci mulut (bahkan tidak jarang pula yang mengantarkan nasi serta lauk pauknya sekalian). Kadang-kadang perasaan riya antar kaum ibu tak dapat dihindarkan, masing-masing akan memamerkan kemampuannya.

III.  Mamelok-I  Banda/Sungai/Kali dan atau Irigasi.
Mirip gotong royong, tetapi lebih-lebih pada  zaman penjajahan/kolonial sifatnya setengah paksa, kecuali untuk memperbaiki irigasi. Yang terakhir ini masih murni gotong royong, memanifestasikan rasa kebersamaan.
Pada zaman dulu dinamakam Rodi, yakni semacam pengganti denda/pajak bagi pribadi-pribadi yang tidak punya uang atau barang.
Apabila kentungan berbunyi dengan diselingi  nyanyian nan merisaukan/baibo-ibo, maka yang terkena kewajiban rodi itu pun bangun dari tidur nyenyaknya. Tidak kenal batasan waktu, kadang-kadang pukul 02.00 dini hari menjelang subuh, jadi tepat pada waktu penduduk tengah dibuai mimpi.
Akan halnya mebetulkan irigasi, siapa pun tidak akan pernah merasa malas/ segan turun tangan dalam mengerjkan kepentingan orang banyak tersebut.
Jadi didorong oleh spontanitas serta kewajiban moril, tanpa mengharapkan balas jasa.

Sumber  : Buletin Sungai Puar No. 23 Januari 1988
Disadur Oleh : Erwin Moechtar

Komentar

Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar.
Silahkan login atau daftar.

Powered by AkoComment 2.0!

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
Member Area
Radio Online Minang Pendengar: 6 dari 50 (5 Unik)
Peak: 25
Server Status: Online
Bitrate: 24 Kbps
Sedang Di putar: Anroy's - Surek Dari Rantau

Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Donasi Terakhir

Donasi untuk Cimbuak
Dari Jumlah
 Harmailis Rp.   200.007,--
 Ajo Duta / Mak Uncu Rp.   1.000.000,--
Inyiak Jangkuang Rp.   56.789,--
Dave, Melbourne Rp. 300.000,--
Balance Sementara
Rp. 1.116.796,--
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Situs Terbaik
Member
 Cimbuak.net | Minangkabau Community Portal Groups Online
 Admin ( 2 ) Admin 2
 Anggota ( 24 ) Anggota 24
 Tamu ( 2 ) Tamu 2
  Total  28
 Angoota ( 7,173 ) Angoota  7,173


Statistik
Agg Baru  anwal
Hari Ini 6
Minggu Ini 95
Bulan Ini 406
Tahun ini 3,044
Online Sekarang
Online Sekarang
Saat ini ada 2 pengunjung dan 26 anggota yang online
User Terbaru

anwal

Terdaftar pada
2008-07-05 12:08:47

Pengunjung: 3475015