Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Bursa Jual Beli
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Makmur Hendrik
Episode Terbaru :
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Pituah

Dek ribuik rabahlah padi
Dicupak Datuak Tumangguang
Hiduik kok tak babudi
Duduak tagak kamari cangguang
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Palanta
This is not a Login form

Name:

Message:

Advertisement
Alam Minangkabau (03) Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Ditulis oleh Ibrahim Dt. Sangguno Dirajo   
Sabtu, 28 Agustus 2004
V. Sungai Tarab  Nagari Tua
Seiring dengan perkembangan waktu, masyarakat di Nagari Pariangan bertambah ramai juga, sedang nagari itu tidak begitu luas sehingga sudah penuh sesak oleh orang banyak. Maka bermusyawarahlah ninik Sri Maharaja Diraja dengan segala orang besarnya untuk memindahkan sebagian orang kedaerah baru.

Setelah bulat mupakat, mendakilah ninik Sri Maharaja Diraja ke puncak gunung merapi hendak melihat dimana tanah yang baik dan subur akan tempat memindahkan orang orang itu. Setibanya beliau dipuncak gunung merapi, memandanglah beliau kesegala arah. Pandang jauh dilayangkan pandangan dekat di tukikkan.
Kelihatan oleh beliau setumpuk tanah tanah gosong yang ditumbuhi rimba di baruh gunung kearah selatan yang kelihatannya tanahnya berpasir. Gosong gosong itu adalah puncak puncak bukit yang tersembur dari permukaan laut waktu itu.
Setelah itu beliau kembali turun, dan bersama sama dengan Cateri Bilang Pandai beliau pergi melihat tanah itudengan berlayar. Pelayaran beliau itu hanya menepi gunung merapi saja dan akhirnya beliau sampai ditepi pantai, lalu berlabuh dan langsung memeriksa tanah tadi.
Didapati oleh beliau tanah itu lebih luas dari Pariangan Padang Panjang dan nampaknya lebih baik dan lebuh subur.
Disebelah mudik tanah itu ada pula sebidang padang pasi yang amat luas yang sangat baik untuk tempat orang bermain dan bergembira.
Setelah ada keyakinan bagi ninik Sri Maharaja Diraja dan Cateri Bilang Pandai, lalu keduanya kembali ke Pariangan Padang Panjang untuk menjeput orang orang yang akan mendiami tempat tersebut.
Beliau membawa tujuh karib bai'id beliau laki laki dan perempuan, begitupun Cateri bilang pandai membawa pula enam belas orang, yaitu delapan pasang suami istri.
Setelah mereka tiba ditanah tadi, mereka mulai membuka ladang, berladang mencencang melateh, membuat teratak ditempat itu. Lama kelamaan teratak menjadi sebuah dusun bernama dusun Gantang Tolan dan dusun Binuang Sati.
Kemudian dusun itu bertambah lama bertambah ramai pula. Maka dibuat orang pula dipinggir dusun itu sebuah koto tempat berkampung, berumah tangga. Dari koto itulah orang orang berulang ulang keladangnya yang didusun tadi.
Semakin lama didalam koto tadi orang semakin bertambah ramai juga, lalu koto itupun dijadikan nagari, diberi nama nagari Bunga Setangkai. Kenapa bunga setangkai, sebab sewaktu ninik Sri Maharaja Diraja sampai disitu beliau mendapatkan setangkai bunga yang sangat harum baunya, dan dibawah bunga itu ada pula sebuah batu luas dan datar. Panjangnya tujuh tapak ninik Sri Maharaja Diraja, batu itu diberi nama oleh beliau "Batu Tujuh Tapak" Sampai sekarang batu itu masih ada didalam nagari Bunga Setangkai.
Adapun padang pasir yang di mudik nagari Bunga Setangkai, lama-kelamaan ditumbuhi oleh kayu-kayuan, sehingga kemudian menjadi rimba yang berkampung kampung. Pada akhirnya daerah itu menjadi koto, lalu menjadi nangari yang diberi nama Pasia Laweh, takluk kepada nagari Bunga Setangkai.
Didalam nagari Bunga Setangkai dibuat orang sebuah balairung tempat ninik Sri Maharaja Diraja dan Cateri Bilang Pandai menghukum. Dekat balairung itulah ninik Sri Maharaja Diraja membuat istana tempatdiam.
Kemudian keluarlah sebuah mata air dibawah sebuah pohon yang bernama tarab dihalaman istana ninik Sri Maharaja Diraja. Air yang keluar sangat jernih dansejuk serta besar sehingga menjadi suatu anak sungai, oleh sebab itu Cateri Bilang Pandai memberi nama Sungai Tarab.
Karena Sungai itu sangat termasyhur nama Bunga Setangkai dilupakan orang sehingga nagari itu berubah nama jadi nagari Sungai Tarab.
Didalam nagari Sungai Tarab ditanam orang delapan orang penghulu yang diambil dari dalam kaum orang yang delapan pasang, yang mula mula mencencang melateh nagari tersebut. Penghulu yang delapan itu memerintah orang dalam nagari Sungai Tarab dan menguasai masing masing kaumnya. Penhulu itu bernama "Datuk nan Delapan Batur" Yakni delapan batu kedudukan dahulu.
Kemudian setiap penghulu itu membuat pula sebuah balairung sehingga disebut orang pula delapan balai kedudukan Datuk Nan Delapan Batu.
Delapan balai kemudian menajdi delapan suku yang terbagi atas 2 kampung. Satu kampung di mudik (Sungai Tarab) dengan lima balai dan satu lagi di hilir dengan 3 balai sehingga kampung ini disebut TigaBatur.
Setelah berkoto, bernagari dan berpenghulu yang akan memelihara orang didalam Sungai Tarab, ninik Sri Maharaja diraja merasa senang sekali dan beliau beserta Cateri Bilang Pandai kembali lagi ke Pariangan Padang Panjang.
Meninggalnya Ninik Sri Maharaja Diraja  
Ninik Sri Maharaja Diraja meninggal di Pariangan Padang Panjang, yaitu beberapa   lalu kemudian setelah beliau kembali dari Sungai Tarab. Sepeninggal beliau jabatan raja di pariangan Padang Panjang tidak ada karena beliau tidak mempunyai waris. Posisi beliau dijabat oleh karib beliau yang ada di Sungai Tarab. Adapun yang memerintah di Pariangan Padang Panjang sepeninggal ninik Sri Maharaja Diraja adalah Datuk Bandaharo Kayo, Datuk Maharaja Besar, Datuk Suri Diraja, Cateri Bilang Pandai dan Cateri Rino Sudah. Sedangkan yang memerintah di Sungai Tarab dipegang oleh Datuk Delapan Batur, dibantu oleh Cateri Bilang Pandai mewakili karib ninik Sri Maharaja yang belom dewasa.
Tuan Putri Jamilan
 Setelah beberapa lama ninik Sri Maharaja Diraja meninggal dunia, Tuan Putri  Indah Jalia janda beliau kawin dengan Indra Jati yang bergelar Cateri Bilang Pandai.
Dari perkawinan itu beliau berputra enam orang, dua orang laki laki, pertama bernama Sutan Balun dan yang kedua bernama Sikalab Dunia dan empat orang perempuan bernama: Putri Reno Sudi, Putri Reno Mandi, Putri Reno Judah dan si bungsu Puteri Jamilan. Tuan Putri Jamilan ini kawin dengan karib ninik Sri Maharaja Diraja yang menjadi raja di Sungai Tarab itu.

Disadur oleh : Dewis Natra
Sumber : Buku Curaian Adat Minangkabau
Penerbit : Kristal Multimedia Bukittinggi

Komentar

Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar.
Silahkan login atau daftar.

Powered by AkoComment 2.0!

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
Member Area
Radio Online Minang Pendengar: 4 dari 50 (4 Unik)
Peak: 27
Server Status: Online
Bitrate: 24 Kbps
Sedang Di putar: Boy Sandi & Lolly Asir - Padiah Di seso Bayang

Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Donasi Terakhir

Donasi untuk Cimbuak
Dari Jumlah
 Harmailis Rp.   200.007,--
 Ajo Duta / Mak Uncu Rp.   1.000.000,--
Inyiak Jangkuang Rp.   56.789,--
Dave, Melbourne Rp. 300.000,--
Balance Sementara
Rp. 1.116.796,--
Situs Terbaik
Member
 Cimbuak.net | Minangkabau Community Portal Groups Online
 Anggota ( 2 ) Anggota 2
 Tamu ( 14 ) Tamu 14
  Total  16
 Angoota ( 7,356 ) Angoota  7,356


Statistik
Agg Baru  A2d
Hari Ini 11
Minggu Ini 96
Bulan Ini 410
Tahun ini 3,151
Online Sekarang
Online Sekarang
Saat ini ada 14 pengunjung dan 2 anggota yang online
User Terbaru

penyok

Terdaftar pada
2008-07-19 10:28:40

Pengunjung: 3593034