|
Halaman 1 dari 25 ' urang Awak' dikenal dengan talenta alamnya untuk menulis. Sedemikian lekatnya penilaian ini, sampai ada joke yang berkata bahwa 'Orang Minang itu seperti telah belajar sastra sejak dari rahim'. Dan joke ini memang bukan hanya 'carito di lapau nasi'. Fakta sejarah telah lama mencatat bahwa yang menancapkan tiang-tiang pondasi Kesusateraan di Republik Indonesia itu adalah ... Urang-urang awak juo. Tapi, itu dulu ... Adalah sedikit memprihatinkan bahwa, kini, tidak begitu lagi kenyataannya.
kama see urang awak ko kini?... Mengapa kesusasteraan indonesia sekarang tidak lagi identik dengan 'urang awak'? Jawabnya kito basamo nan tau..
Berikut ini satu lagi Kisah perjalanan Haji yang ditulis oleh Uda kita Zul Amry, melengkapi kisah-kisah perjalanan haji lainnya yang ditulis Bpk Darwin Bahar, Mak St Lembang Alam, yang membuktikan bahwa urang awak memang tidak pernah kehilangan bakat alamnya
Bag 1
Persiapan , Pelepasan oleh Bupati dan Gubernur
Dengan telah terbitnya keputusan Direktur Utama Angkasa Pua I mengenai penetapan calon jamaah Haji yang dibiayai dinas bagi karyawan Ap I dan kebetulan nama saya termasuk dalam usulan yang disetujui, maka saya sangat bersyukur sekali. Begitu SK tersebut diterima maka saya juga menerima cek sebesar Rp 21.500.000 sesuai dengan biaya ongkos naik haji th 2004. Karena nilai tukar dollar terhadap rupiah mengalami kenaikan disaat saya menyetorkan cek tersebut ke Bank Mandiri , maka ongkos naik haji yang berlaku saat itu mengalami kenaikan pula karena onh dipatok berdasarkan nilai tukar dollar, maka saya menambah biaya setoran lebih kurang 300.000 untuk mendapatkan nomer porsi haji dan mendapat surat bukti bpih (biaya penyelenggaraan ibadah haji ). Berdasarkan nomer porsi yang didapatkan dari bank maka saya datang kekantor urusan agama kabupaten untuk mendaftar sebagai calon peserta ibadah haji (spph) dan menyerahkan foto terbaru sebanyak 36 lembar . Dari kantor urusan agama kabupaten kepada setiap calon diberikan buku tuntunan manasik dan doa doa untuk dipelajari dan dihapalkan. Karena keberangkatan ketanah suci bagi saya adalah untuk pertama kalinya, maka saya ingin sekali untuk ikut didalam suatu kelompok bimbingan ibadah haji, maka saya pilih yayasan Arofah. Pada tahun 2003 kemaren Yayasan ini berhasil memberangkatkan 2 rombongan jamaah haji , dan kebetulan tahun ini hanya memberangkat 1 rombongan saja sebanyak 50 orang , mungkin karena bertambahnya usaha sejenis yang telah mendapatkan ijin dari Depag , jadi sudah ada persaingan pula rupanya . Bimbingan manasik telah dimulai sejak 6 September 2003 s/d 11 Oktober 2003 dan dilanjutkan selama bulan puasa dengan acara berbuka bersama secara bergiliran ditempat anggota sebanyak 8 kali pertemuan. Dengan mengikuti kelompok bimbingan ini sungguh banyak sekali manfaat yang bisa didapat , terutama dalam mempelajari tata cara pelaksanaan ibadah haji , karena kepada kita diberikan bimbingan baik teori maupun praktek dilapangan . Walau Depag sendiri juga melaksanakan bimbingan manasik namun menurut pengamatan saya kurang begitu intensif . Untuk biaya penyelanggaraan kelompok bimbingan ini , bagi masing masing jamaah dipungut biaya lebih kurang 2 juta rupiah , sudah termasuk biaya ongkos tiket dari Denpasar – Surabaya p.p dengan pesawat udara , karena seluruh jamaah dari propinsi Bali diberangkatkan dari embarkasi Surabaya . Pemeriksaan kesehatan dilakukan sebanyak dua kali pertama di Puskesmas Kecamatan , sedangkan untuk tahap II dilakukan di Dokabu ( Dokter Kabupaten ) dan dilanjutkan dengan pemeriksaan laboratorium atas biaya sendiri . Demikian pula lebih kurang sebulan sebelum keberangkatan dilakukan imunisasi meningitis , yang merupakan suatu keharusan bagi setiap calon jamaah haji .
Lebih kurang dua minggu sebelum hari keberangkatan sesuai tradisi yang telah berlaku sejak dulu , adalah acara pamitan atau pelepasan jamaah oleh Bapak Bupati atau Walikota , dan juga ada acara pelepasan oleh Bapak Gubernur untuk tingkat Propinsi Bali dan dikuti oleh segenap calon jamaah haji . Untuk tahun ini calon jamaah haji yang mendaftar di Propinsi Bali 748 orang , berarti masih jauh dibawah quota yang ditetapkan pemerintah sebanyak 850 orang . Akibat adanya mutasi kedaerah lain dan jamaah yang meninggal dunia , maka jamaah yang betul betul berangkat dari Bali hanya 623 orang , terbagi dalam dua kelompok terbang yakni kloter 70 dan 71 embarkasi Surabaya . Dan alhamdulillah jamaah haji dari propinsi Bali tidak ada yang terkena pembatalan keberangkatan akibat adanya penolakan tambahan quota oleh pemerintah Arab Saudi sebanyak 30.000 orang . Masing masing kloter didampingi oleh : Ketua kloter 1 orang , dokter kloter 1 orang , para medis 2 orang , ppih 2 orang . Para pendamping inilah yang didalam istilah guyonan disebut calon haji Nurdin Kosasih ( Haji Nurut Dinas ongKos dikAsih ) , termasuk saya yang dibiayai Angkasa Pura hehee….Seminggu sebelum keberangkatan menuju embarkasi Surabaya kepada setiap calon jamaah haji telah dibagikan : Buku kesehatan yang dikeluarkan Dinas kesehatan Kab / Kodya , spma (surat panggilan masuk asrama ) , dan untuk bisa masuk asrama Haji surat surat tersebut harus dibawa selain bukti seoran biaya penyelenggaraan ibadah haji (bpih)
|