Kisah Perjalanan Haji Zul Amry PDF Print E-mail
Written by Zul Amry   
Saturday, 04 September 2004
Article Index
Kisah Perjalanan Haji Zul Amry
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7
Page 8
Page 9
Page 10
Page 11
Page 12
Page 13
Page 14
Page 15
Page 16
Page 17
Page 18
Page 19
Page 20
Page 21
Page 22
Page 23
Page 24
Page 25

Bag 13

Thowaf Ifadah , Sai , Tahalul , bilik barokah , godaan sexual

Makkah , 18 Februari 2004 ( 27 Zulhijjah 1424 H )

Tawaf Ifadah , Sai dan Bercukur (tahalul)merupakan rentetan terakhir dari rukun ibadah haji , setelah wukuf di Arofah , sedangkan mabit di Musydalifah , Mabit di Mina dan me;empar Jumrah merupakan wajib haji . Perbedaan antara Rukun dan wajib dapat dijelaskan sebagai berikut . Apabila rukun haji yang ditinggalkan maka tak syah haji seseorang , sedangkan wajib haji apabila seseorang tidak mengerjakan hajinya tetap syah tapi harus membayar dam ( denda ) dengan seekor kambing atau puasa selama 10 hari , 3 hari ditanah suci dan 7 hari dikampung halaman . Saya berangkat menuju Masjidil Haram untuk mengerjakan rukun haji yang terakhir . Saya masuk ke Masjidil Haram melalui pintu Babussalam , dimana diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW setiap memasuki Masjidil Haram selalu lewat Babussalam , karena rumah beliau berada dekat dengan pintu Masjid tersebut , yang saat ini merupakan halaman Masjidil Haram pada sisi Utara . Seperti biasa sebelum memulai thowaf , saya berniat dulu , kemudian berdoa dan menuju Rukun Hajar Aswad , tempat titik dimulai thowaf putaran pertama . Jamaah yang melakukan malam malam begini tidak begitu padat , dan saya dengan leluasa untuk bergerak. Dan pada putaran ke tiga saya dapat menyentuh Makam Ibrahim dan putran selanjutnya menyentuh Rukun Yamani dengan sempurna , Namun selama berada disini tak sekali juapun berhasil mencium Hajar Aswad ( Batu Hitam ) . karena saking berjubelnya jamaah dilokasi tersebut . Dan saya berhasil berdoa di Multazam dan sholat sunnat di Makam Ibrahim . Setelah minum air zamzam , selanjutnya saya menuju Bukit Shofa untuk memulai prosesi Sai antara Shofa dan Marwa sebanyak 7 kali pulang pergi . dan akan berakhir di Bukit Marwa . Sesudah berdoa di Bukit Marwa dilanjutkan dengan memotong rambut minimal 3 helai . Maka tuntas sudahlah pelaksanaan ibadah haji saya dengan perasaan lega , dan merasa bersyukur kepada Allah yang telah memberikan kesehatan dan kekuatan sehingga saya dapat menuntaskan tugas yang berat dan mulia ini , dan antara kami saling mengucapkan selamat dan sejak saat itu resmi sudahlah saya dan teman teman lainnya menyandang predikat haji atau hajjah . Selesai melaksanakan Tahalul akhir , maka gugur pulalah segala larangan bagi jamaah haji , yakni larangan berhubungan suami isteri bagi yang berkeluarga yang kebetulan sama sama naik haji . Namun timbul kesulitan dimana kira kira keinginan tersebut akan disalurkan , karena 1 kamar diisi 5 sampai 6 orang dan adakalanya terpisah antara lelaki dan perempuan , dan terpaksa yang punya hajat , bisik bisik mencari bilik “ Barokah “ dan bisa disewa khusus . Dari omongan teman teman katanya berhubungan sumi isteri di tanah suci jauh lebih nikmat dibandingkan ditempat lain , Ahh ……….masakk ?? Dan tentunya Sanak Mulyadi Sutan Bangsawan bisa omong sikit tentang hal ini !

Bagi saya yang kebetulan berangkat sendirian , dan umur telah kepala lima , urusan yang satu ini , tidak begitu menjadi persoalan betul . Sebelum berangkat haji saya sering digoda teman teman saya , hati hati lho Pak Zul , godaan di Makkah sana besar sekali , dan nafsu seksual menggebu – gebu , apalagi makannya setiap hari daging kambing dan onta , Tapi setelah 16 hari saya di Makkah , ternyata biasa – biasa aja tuh . yang penting sejauh mana kita bisa mengendalikan diri kita , dan tujuan bukankah kita kesini dengan tujuan untuk ibadah bukan yang lain



 
< Prev   Next >




Powered By PageCache
Generated in 9.75305 Seconds