Kisah Perjalanan Haji Zul Amry PDF Print E-mail
Written by Zul Amry   
Saturday, 04 September 2004
Article Index
Kisah Perjalanan Haji Zul Amry
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7
Page 8
Page 9
Page 10
Page 11
Page 12
Page 13
Page 14
Page 15
Page 16
Page 17
Page 18
Page 19
Page 20
Page 21
Page 22
Page 23
Page 24
Page 25

Bag 9

Menuju Musdhalifah dan Mina

Matahari baru saja tenggelam di ufuk Barat , azan sholat Maghrib telah dikumandang diseluruh Padang Arofah , dan para jamaah sudah siap siap melakukan sholat jamak takdim Maghrib dan Isya . Karena sebentar lagi seluruh jamaah akan diberangkatkan menuju Mushdalifah untuk Mabit disana . Karena Rombongan saya merupakan rombongan terakhir yang diberangkatkan ke Arofah dari Makkah , maka sebagai konpensasi , untuk menuju Mushdalifah kloter 71 Ex Surabaya menjadi rombongan pertama yang diberangkatkan pada ja 18.30 . Masing masing rombongan dimasukkan dalam suatu kerangkeng ( lokasi yang dipagari dengan besi ) dan ketua rombongan dan regu menghitung anggotanya setelah itu baru naik ke bis menuju Mushdalifah .

System transportasi yang diterapkan Arab Saudi saat ini ialah systeem “ Turaddudi “ yakni system shuttle service , bis yang membawa jamaah rombongan pertama akan mendrop jamaah di Mushdalifah kemudian menjemput lagi jamaah berikutnya , dan begitu seterusnya sampai semua jamaah terangkut semua . Karena saya rombongan pertama menuju Mushdalifah , suasana di disana masih sepi dan dengan diterangi lampu mercury yang terang benderang , saya langsung memungut batu batu kerikil sebanyak 70 buah untuk persiapan pelemparan jumroh besok harinya . Selesai memilih batu kerikil saya dan rombongan dapat istirahat dilapangan terbuka dengan menggelar tikar yang dibawa dari Arofah . Semakin lama Mushdalifah semakin rame saja , karena tidak henti hentinya bus bus besar membawa jamaah dan ada juga yang jalan kaki dan akan berhenti sementara ( mabit ) disini sampai tengah malam nanti . Akhirnya Mushdalifat padat oleh jamaah . Untuk meluruskan badan saja , hampir tidak ada tempat kosong . Jadi kita tidur harus “bakaluak” seperti udang goreng dalam pakaian ihrom , dan tak perduli lagi dengan siapa yang tidur disebelah kita . Untung sebelumnya regu saya dari Bali sudah mengambil tempat duluan dan tidak bercerai berai. Tepat jam 24.00 atau jam 00 tanggal 1 Februari 2004 atau 10 Zulhijjah 1422 H para jamaah mulai diberangkatkan menuju Mina dan kebetulan rombongan saya termasuk yang pertama diberangkatkan . Tak sedikit para jamaah yang berjalan kaki menuju Mina . Perjalanan Mushdalifah - Mina ditempuh lebih kurang 1 jam dengan bus yang berjalan beringsut dan langsung menuju maktab 60 di bibir sebuah bukit . Ada sebagian teman teman setelah sampai dimaktab dan menarok barang barang bawaan langsung berangkat menuju Makkah untuk mengejar sholat Idul Adha di Masjidil Haram dan sekalian melakuka thowaf Ifadah , sai dan tahalul . Dan sore hari harus sudah kembali lagi ke Mina . Sedangkan saya dan Ketua Rombongan beseta teman lain lebih kurang 20 orang tetap tinggal di Mina karena kondisi yang agak lelah dan kurang tidur . Pada tengah malam lebih kurang jam 02.00 masuk pula rombongan kloter 16 Batam dan umumnya terdiri dari jamaah Sumatera Barat , dan ini dapat saya ketahui dari pembicaraan mereka yang kental logat Minangnya . dari perkenalan besok harinya , ternyata jamaah kloter 16 Batam tersebut berasal dari Duri Riau dan diantaranya jamaah dari perusahaan Caltex ( PT CPI )



 
< Prev   Next >




Powered By PageCache
Generated in 10.27591 Seconds