|
Page 1 of 4 Satu Lagi karya Bpk H Darwin Bahar yang yang pantas untuk disimak. Cerpen yang terdiri dari 4 bagian, yaitu : Ballada Si Samsu Part I: Anak Daro jo marapulai Ballada si Samsu Part II: Hari-Hari Yang Menekan Dan Semakin Tidak Terpikulkan Ballada si Samsu Part III: Pamit Ballada si Samsu Part IV: Merantau Selamat Menikmati.
Ballada Si Samsu Part I: Anak Daro Jo Marapulai
Samsuar tinggal bersama mande (ibu) nya di sebuah dusun di kaki Gunung Merapi, di dataran tinggi Agam yang di malam hari dingin menusuk tulang. Lalu pepohonan dan rumput-rumputan kuncun kedinginan dan sesekali terdengan cicit burung malam. Dan ketika pagi tiba dan burung murai berkicau kabut belum berancak dari pucuk pepohonan, bukit-bukit dan lembah.
Samsuar atau Samsu begitu dia biasa disapa, menjadi yatim sejak berusia dua tahun. Samsidar, mandenya tidak berniat lagi bersuami dan bertekat membesarkan anak kandung sibiran tulangnya, obat jerih pelerai demamnya sendirian. Tidak heran kalau kemudian Samsidar agak berlebihan melindungi anaknya yang sampai berumur tiga setengah tahun masih disusuinya. Karena itu, berbeda dengan anak sebayanya, Samsu setelah akil baligh tidak tidur di surau, namun di rumah belaka.
Surau di Sumatera Barat tidak hanya tempat mengaji, tetapi juga tempat anak-anak muda Minang belajar silat, belajar “pasambahanâ€, bahkan belajar “galirâ€, terkurung nak di luar, terhimpit nak di atas. Bahkan di Surau anak-anak muda Minang “belajar†sesuatu mengenai reproduksi manusia.
Samsu tumbuh sebagai pemuda tampan yang rajin tetapi lugu. Lebih-lebih setelah si Buyung, konco “palangkinnya†merantau pergi “menggalas†ke Jawa. Buyung memang lebih cerdik, penuh inistiatif dan tangkas. Kalau mereka berdua mencuri buah perawas, yang memanjat pohon adalah Buyung dan Samsu tinggal memungut perawas yang dijatuhkan Buyung. Pernah mereka kepergok oleh yang punya pohon, dan yang kepegang adalah Samsu walaupun ia yang lari lebih dulu, karena Buyung larinya lebih cepat. Buyung juga yang sering melindungi Samsu yang tidak pandai bekelahi dari kejahilan teman-teman sebayanya. Buyung kemudian menjadi “Sutan Betawiâ€, sebutan bagi orang Minang yang kawin dengan orang “Jawaâ€.
Samsu memang agak lugu, tetapi rajin. Walaupun sawah pusako mandenya tidak begitu luas, tetapi hasilnya bagus. Selain itu Samsu juga berkebun, memelihara itik dan ikan di tebat (kolam). Boleh dibilang dari pagi sampai petang hampir tidak ada waktu luangnya untuk maota- ota atau main damini (domino) di lepau Mak Leman.
“Berumahlah waangko (maksudnya kawin lah kamu), lah taragakpulo mande manimang-nimang cucuâ€, ujar Samsidar suatu hari kepada Samsu. Karena melihat anak semata wayangnya akan menolak, karena tidak sampai hati meninggalkan mandenya sendirian, Samsidar buru-buru melanjutkan: “Mamak waang Datuk Mangkuto Sati, sudah menanyakan waang untuk si Kiah anaknya satu-satunya dari isterinya si Suma almarhumahâ€. “Bagi Mandeâ€, Lanjut Samsidar, “tidak ada masalahâ€. “Si Kiah tu kan ringan tangan, rupo elok budi katuju. Sawahnya pun luasâ€. “Lagi pula karena Datuk Mangkuto Sati mamak waang, perkawinan itukan serupa kuah tertunggang ke nasi, nasi akan dimakan juaâ€. “Nanti adik si Kiah dari mandenya yang sekarang akan menemani mande di siniâ€, imbuh Samsidar.
Samsu memang setuju dengan gambaran mandenya mengenai si Kiah. Ketika pulang dari sawah, Samsu pernah melihat gadis yang berkulit kuning langsat dan berhidung mancung itu sedang mandi di pancuran. Kain basahnya yang tidak menutup seluruh lututnya menimbulkan perasaan “aneh†di bagian bawah pusar Samsu yang cepat-cepat dilawannya. Pendeknya dia suka sama si Kiah. Sekalipun demikian karena kecintaan pada Mandenya dan tidak sampai hati meninggalkan beliau Samsu mencoba untuk menolak. Tetapi akhirnya karena kecintaan kepada mandenya pula. Permintaan mandenya dia turuti juga. “ baa nan ka rancak di mandelah†ujarnya kemudian.
Singkat kata jadi jugalah perhelatan itu. Si Kiah tambah rancak pakai sunting, walaupun dia tidak dapat sepenuhnya menyembunyikan kelelahannya menjunjung sunting yang berat itu. Apalagi sewaktu rombongan marapulai (mempelai pria) tiba di rumah si Kiah ada pula pasambahan (dialog/silat kata berpantun antara wakil rombongan tamu dengan wakil tuan rumah) yang makan waktu berjam-jam sehingga gulai kambing yang sudah dihidangkan dari tadi menjadi dingin.
Dulu ada sebuah lagu Minang yang cukup populer.
Malam-malam baiko, yo mamak Malam-malam bainai, yo sayang Anak daro yo mamak Jo marapulai
Yang diakhiri dengan bait berikut.
Marapulai galak, yo mamak Anak daro manangih
Tetapi ketika keduanya dengan lelah masuk ke kamar pengantin, si Samsu tidak “tagalak†(tertawa) dan si Kiah tidak “manangih†(menangis). Samsu yang kelelahan terus tertidur sampai beduk subuh berbunyi. Dan setelah meliwati hari-hari yang sibuk mengunjungi sanak keluarga terdekat, Samsu kembali bekerja di sawah seperti semula. si Samsu belum juga “tagalak†dan si Kiah belum pula “manangihâ€. Dan tiap siang si Kiah mengantarkan nasi dan laukpauknya buat suaminya. Begitulah setiap hari sampai pada suatu ketika si Buyung pulang dari Jawa menengok Bapaknya yang sedang sakit berat. Setelah menemui Bapaknya, si Buyung langsung mencari konco palangkinnya di sawah.
“Yo lah babini waang†ujar Buyung dengan gembira. Lalu kedua sahabat itu larut dalam percakapan yang cukup serius sampai terdengar suara si Buyung yang agak keras dan bernada jengkel setelah mengetahui bahwa si Kiah belum diapa-apakan oleh si Samsu, “Oo jadi alun bakubak durian tu lai (oo jadi belum kamu kupas durian itu)! Yo lah ongok bana waang. Indak tau labu nan kamekâ€. Samsu hanya tertunduk sambil tersipu. Kemudian Buyung memberikan kuliah panjang lebar kepada karibnya itu mengenai apa yang harus dilakukan sepasang suami isteri di tempat tidurnya. “Bagaimana Mande waang bisa punya cucu?†ujar Buyung menutup kuliahnya. Melihat Samsu, yang walaupun sangat tertarik tetapi masih ragu-ragu seperti ketika akan berkelahi dengan si Poan dulu, si Buyung yang cerdik itu akhirnya mempunyai gagasan brilian: nanti malam si Samsu akan dipandu dari jauh dengan bunyi kentongan (di Sumbar di sebut tontong). Bunyi tong pertama harus begini, bunyi tong kedua harus begitu, bunyi tong berikutnya ke kiri, bunyi tong berikutnya ke kanan dan seterusnya, dan seterusnya. Kemudian kedua sahabat itu berpisah.
Malam mulai larut di dusun di kaki Gunung Merapi, di dataran tinggi Agam yang di malam hari dingin menusuk tulang itu, ketika Mak Leman menutup lepaunya. Malintang Alam, lelaki beranak delapan yang rumahnya tidak jauh dari rumah si Kiah dengan berkerumun kain sarung berjalan terburu-buru sembari membayangkan kehangatan tubuh Nurbaya “induak paja†(ibu anak-anak) nya. Malintang Alam memang sangat doyan urusan yang satu itu. Begitu sampai di rumah dan masuk ke bilik ditemuinya si Baya baru selesai menidurkan si boneh anak mereka yang paling kecil. Ketika Malintang Alam mulai merosok-merosok induak pajanya itu, Malintang Alam sempat terkejut mendengar bunyi kentongan, karena dia kira ada maling. Tetapi ketika si Nurbaya dengan manja pura-pura menepiskan tangannya, Malintang Alam tertawa terkekeh-kekeh dan sudah tidak perduli lagi dengan bunyi tontong yang berbunyi dengan teratur: tong, tong, tong…………sampai Malintang Alam dan orang sekampung mendengar teriakan kencang suara si Samsu dari rumahnya:
“Ooiiii, cape’an bunyi tontooooooooong! (Ooii, cepetin bunyi kentongan).
(Bersambung)
Darwin
|