Merintis Karir PDF Print E-mail
Written by S. Brotosumarto   
Friday, 10 September 2004
Article Index
Merintis Karir
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
Page 7
Page 8
Page 9
Page 10
Page 11
Page 12
Page 13
Page 14
Page 15
Page 16
Page 17
Page 18
Page 19
Page 20
Page 21
Page 22

Merintis Karir 21

Peringkat LoC

Kita sederhanakan peringkat tersebut menjadi 3

1. ELC - External Locus of Control : < 40

ELC adalah mereka yang memahami bahwa kejadian2 yang dialami lebih disebabkan oleh faktor2 diluar kendalinya. Mereka percaya bahwa tindakan2nya terdorong oleh kekuatan2 luar. Sebagai konsekuensinya ia menjadi pasifis (sangat pasip), apatis, dan punya sikap fatalistik. Ia menyerahkan dirinya kepada ‘nasib’. Kurang berinisiatif, motivasinya lemah, dan kurang berani untuk ambil resiko. Peluang untuk sukses rendah. Seandainyapun ia ‘beruntung’, tidak mudah baginya untuk mempertahankan keberuntungannya.

2. Berimbang : >=40 dan <=60

LoC berada diantara External dan Internal. Secara umum mereka menganggap bahwa sampai derajad2 tertentu mereka bisa mengendalikan dan mempengaruhi beberapa aspek kehidupan. Pada sisi yang lain mereka merasa bahwa keadaan2 yang terjadi berada diluar jangkauannya. Mereka yang lebih dekat ke angka bawah (40) lebih bersikap eksternal, kehidupannya banyak dipengaruhi faktor2 eksternal. Mereka mirip ELC, condong bersikap fatalistik dan pasip. Peluang meraih sukses tidak mudah. Mereka yang mendekati angka tinggi (60) cenderung menganggap kejadian2 yang menimpanya kebanyakan adalah karena perbuatan2nya. Mereka cenderung bertanggung jawab dan menghargai dirinya bahwa keberhasilan2 yang dicapainya adalah karena FI yang dimiliki.

Mereka ini berimbang dalam menyikapi faktor2 internal maupun eksternal.

· Sangat penting untuk menerima keterbatasan dirinya.

· Tidak kalah pentingnya untuk senantiasa berupaya semaksimal mungkin dalam menggapai keberhasilan.

· Walaupun secara umum keadaan berimbang adalah sehat, upayakan untuk menaikkan peringkat lebih ke Internal.

3. ILC

LoC berada di Internal. Mereka mengartikan bahwa hasil2 yang terjadi berasal dari FI, bisa kecerdasan, pesona, ketekunan, kekerasan kemauan, dll. Hasil adalah akibat dari tindakan2nya. Secara umum sikap ini menghasilkan

· Kemauan untuk bertanggung jawab

· Mudah dimotivasi

· berdaya juang tinggi,

· gigih,

· punya nyali bertarung dengan resiko.

Tak pelak lagi ILC memiliki peluang lebih bagus untuk meraih sukses.

Secara teknis kita bisa katakan bahwa ELC adalah ‘kurang sehat’, Berimbang adalah ‘normal’ dan ILC adalah ‘sehat’. Ini memperkuat rumus yang sudah kita jabarkan S = S{FE(FI)+FI+Fx(FI)}

Sikap Bertanggung jawab

ILC tidak mudah menyalahkan ke faktor2 luar. Ia terbiasa memikul tanggung jawab atas peristiwa2 yang dialaminya. Kemauannya untuk bertanggung jawab terbawa keluar. Orang2 mencari mereka yang punya tanggung jawab tinggi dan ILC biasanya mendapatkan pekerjaan2 atau tugas2 yang menuntut tanggung jawab. Makin tinggi jabatan seseorang makin besar tanggung jawabnya. Tanggung jawab yang terasa berat bagi kebanyakan orang menjadi relatip enteng bagi ILC. Sebaliknya, yang bukan ILC kurang terbiasa bertanggung jawab. Mereka mudah men-cari2 kambing hitam. Atau, tanggung jawab terasa sebagai beban bagi ELC. Ini menghambatnya ke titian yang lebih tinggi.

Mudah dimotivasi

Jika mereka yang memiliki sikap Berimbang digambarkan sebagai premium, maka ILC adalah premix atau super-tt. ILC sangat responsif dengan motivasi. Mampu menghasilkan self motifvation. Sebaliknya, yang bukan ILC sering lemah motivasinya karena mereka sering menyandarkan pada nasib.

Daya juang tinggi dan gigih

Karena ia merasa bahwa nasibnya bukan ditentukan oleh faktor2 diluar dirinya, otomatis ILC memiliki daya juang yang tinggi. Ia mendapatkan segala sesuatunya dengan berupaya, bukan hanya dengan mengharap datangnya rezeki. Non ILC bersandar pada kejadian2 diluar kendalinya dan sering berpendapat buat apa repot2, nanti toh nasibnya akan ditentukan oleh faktor2 luar itu. Akibatnya daya juang non ILC memble, mudah menyerah. Sikap gigih adalah faktor penentu dalam menggapai keberhasilan. Sukses berkorelasi positip dengan kegigihan.

Punya Nyali

ILC memiliki nyali untuk ambil resiko karena ia punya keyakinan untuk mengendalikan kehidupannya. Ia berani berpindah pekerjaan, berseberangan dengan atasan, berinvestasi, mengemukakan pendapat, dst, dst. Masuk akal jika ILC punya peluang tinggi untuk meraih sukses. Sebaliknya, non ILC bersikap ‘gambling’, berjudi, dan untung2an. Jika mendapatkan keberuntungan ILC mampu mempertahankan menjadi lebih langgeng. Sebaliknya, non ILC sulit mempertahankannya. Nyali bukan hanya untuk pengusaha. Semua orang harusnya memiliki sikap ini. Semakin tinggi jabatan, makin banyak nyali dibutuhkan terutama untuk tindakan2 tidak populer seperti PHK.

 

Simulasi

Aplikasi menyikapi kegagalan

Pertanyaan : Untuk yang baru lulus saat itu (1998), gimana ?

Saya terpaksa menangguhkan pertanyaan tersebut karena jawabannya ada dua dan berbeda. Bagi ILC dan non ILC. Sekaligus simulasi paradigma2 yang sudah diposting.

Tahun 1998 adalah ketika FE sangat buruk. Banyak PHK, pengangguran, harga2 naik, dst, dst. Yang lulus tahun itu mengalami situasi yang tidak menguntungkan. Apa yang harus kita lakukan jika teman, tetangga, saudara, dll meminta saran kita ketika mereka dihajar kegagalan bertubi dalam mencari pekerjaan.

Bagi ILC

Orang2 ini rentan karena mereka bisa kehilangan harga diri dan kepercayaan dirinya manakala pekerjaan tak kunjung didapat atau pekerjaan yang didapat tak sesuai dengan harapan. Mereka cenderung menimpakan kegagalannya kepada dirinya dan bisa mennyebabkan luka yang mendalam dan bisa permanen.

Yang pertama kita tekankan adalah dikotomi ‘stabil’ dan ‘labil’. Situasi 1998 adalah situasi ‘labil’. Dan sangat bijak jika kita menyenandungkan ‘badai pasti berlalu’, atau ‘mendung itu tidak selalu kelabu’, atau ‘esok penuh harapan’.

Kedua, melakukan ‘externalisasi’, yaitu berupaya agar ia secara realistis menimpakan (sebagian) kegagalannya ke faktor external. Th 98 adalah bukan saja petaka nasional tetapi sudah ke level regional Asia Tenggara.

Yang ketiga, mengajak mereka untuk menyikapi kegagalan2 lebih saksama. Contoh2 :

· Success is the ability to go from failure to failure without losing your enthusiasm.~ Sir Winston Churchill

· Failure is to begin more intellegently.~ Henry Ford

· I don't measure a man's success by how high he climbs but how high he bounces when he hits bottom.~ General George S. Patton

· Do not let what you cannot do interfere with what you can do. John Wooden

Sukses adalah kemampuan beranjak dari kegagalan demi kegagalan tanpa kehilangan gairah (nyali)

Kegagalan adalah untuk memulai lagi lebih cerdas

Aku tidak menilai keberhasilan seseorang dengan mengukur berapa tinggi ia naik tetapi seberapa tinggi ia bisa memantul kembali ketika jatuh kebawah.

Jangan biarkan apa yang tidak bisa kau lakukan merecoki apa yang bisa kau lakukan.

ILC sangat mudah dimotivasi. Tiga langkah tersebut diatas sudah cukup untuk melindungi ybs dari keterpurukan. No prablim, lah.

Non Ilc

Secara teknis sebenarnya bagian dalam mereka baik2 saja. Bahkan banyak yang menyalahgunakan situasi buruk ini sebagai ‘pembenaran’ untuk pasivismenya, pesimismenya, atau fatalismenya. Non ILC tidak mudah dimotivasi. Makin rendah LoC, makin sulit mereka didorong. Mereka perlu dorongan2 agar mau berupaya lebih keras. Ini adalah persoalan yang memusingkan direktur2 SDM. Berbagai upaya mereka lakukan untuk mendorong non ILC. Dari uang lembur, uang makan, bonus, insentif, penghargaan2, hadiah, dst, dst.

Kita tidak perlu mendendangkan lagu2 mendung itu kelabu buat mereka. Tidak ada apa2pun mereka cari2 dalih untuk me-nyalah2kan kambing hitam. Men-cari2 pembenaran supaya mereka tidak perlu bersusah payah. Menghadapi kasus seperti ini saya menyarankan solusi jangka menengah/panjang. Yaitu dengan menggeser LoC yang akan kita posting tahun depan.

Jika berhasil

Jika berhasil, baik untuk ILC maupun bukan, entah itu kecil seperti mendapat pekerjaan atau yang besar, seperti mendapat gaji gede + mertu kaya, dll, berikan kredit atau penghargaan kepada kualitas2 istimewa dalam diri anda. Entah itu pesona, kecerdasam, kegigihan, dll. Pahamilah bahwa keberhasilan anda bukanlah karena keajaiban alam, jompa jampi mbah dukun, nyai Blorong, rezeki, dll. Kita sudah membuktikan sampai ber-lembar2 bahwa keberhasilan adalah karena Faktor2 Internal anda. Karena anda yang istimewa. Camkan baik2 ini !

Biasakan menyatakan penghargaan anda kepada diri sendiri dengan hadiah2, mulai yang kecil2 sekadar ngebakso dengan yang tersayang sampai main rolet di Las Vegas, beli moge, beli buku2 bagus. Atau, kencan dengan artis ndang ndut ? (Hanya bagi yang lajang, lho). Atau melakukan/menyumbang kegiatan2 religius dan sosial

Banyak yang berdoa keliru. Misalnya mensyukuri kenaikan gajinya. Bukan, tetapi mensyukuri pengembangan FI sehingga anda bisa naik gaji ! Ini sikap kecil tetapi hasilnya sangat besar bedanya.

Batasnya adalah menjaga jangan sampai anda menjadi overconfident, terlalu percaya diri atau takabur. Sikap ini sama buruknya dengan kurang percaya diri dan rendah diri.

 


Last Updated ( Friday, 10 September 2004 )
 
Next >




Powered By PageCache
Generated in 0.03878 Seconds