I. Pendahuluan Pengembangan perekonomian daerah di era otonomi daerah seyogyanya mengedepankan keunggulan komparatif dan kompetitif dari setiap produk unggulan daerah untuk mendukung pembangunan daerahnya.
Menyambut era perdagangan bebas (AFTA) dan globalisasi, percepatan dalam peningkatan pengembangan keunggulan produk daerah tersebut menjadi sangat penting dan mutlak, terutama dalam kaitannya dengan peningkatan sumberdaya manusia, tekhnologi informasi dan masalah lingkungan. Berbagai program -program dalam rangka percepatan pembangunan daerah telah dijabarkan dalam Program Pembangunan Daerah.
Dengan dilaksanakannnya penyelenggaraan otonomi daerah sesuai dengan amanat UU Nomor 22 dan UU Nomor 25 Tahun 1999, maka Pemerintah Daerah terutama Kabupaten dan Kota mempunyai kewenangan yang luas untuk mengatur dan mengurus rumah tangga sendiri termasuk merumuskan program pembangunannya. Sehingga dapat menjadi paradigma baru dalam mensikapi kebijakan pembangunan daerah, komponen yang mempengaruhi perubahan tersebut, seperti adanya perubahan lingkungan strategis pada skala lokal, nasional, regional dan golbal.
Oleh karena itu mengingat pentingnya akan peran suatu rancangan program, perlu disusun secara konseptual, terencana dan mampu menjabarkan langkah-langkah kebijakan daerah sesuai dengan program pembangunan daerah yang penjabaran langkah-langkah kebijakan tersebut dapat sejalan dengan pola kebijakan pemerintah (Propenas)
Dengan memahami situasi dan kondisi yang berkembang saat ini, tampaknya perubahan perubahan nuansa tersebut juga mempengaruhi terhadap pola kebijakan pembangunan pengembangan kawasan atau wilayah.
II. Kondisi Perekonomian Daerah Pada tahun 2002 nilai PDRB Sumatera Barat adalah sebesar Rp.29,12 triliun. Sebelum terjadi krisis moneter yang berlanjut pada krisis ekonomi tahun 1997 perekonomian Sumatera Barat mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi. Pada tahun 1994 pertumbuhan ekonomi daerah adalah sebersar 7,45 %, selanjutnya pada tahun 1995 dan tahun 1996 masing-masing sebesar 8,93 % dan 7,43 %. Kemudian pada tahun 1997 yang mulai dipengaruhi oleh dampak krisis moneter mengalami penurunan menjadi 5,14 % dan berlanjut terus dengan krisis moneter pada tahun 1998 yang menyebabkan turunnya pertumbuhan ekonomi menjadi minus 6,78 % , tetapi jauh lebih baik dari pertumbuhan ekonomi nasional yang sekitar minus 13 %. Sejak tahun 1999 perekonomian daerah sudah mulai membaik dengan pertumbuhan sebesar 1,59 %, pada tahun 2000 sebesar 3,85 % pada tahun 2001 sebesar 3,63 dan pada tahun 2002 sebesar 4,29 %
Perekonomian daerah Sumatera Barat masih didominasi oleh sektor pertanian, pada tahun 1996 kontribusi lapangan usaha pertanian adalah sebesar 20,98 %, industri pengolahan sebesar 15,36 %, perdagangan hotel dan restoran sebesar 16,21 % serta jasa-jasa sebesar 15,82 %. Pada tahun 2001 kontribusi lapangan usah pertanian meningkat menjadi 21,16 %, industri pengolahan sebesar 16,34 %, perdagangan hotel dan restoran sebesar 16,67 % serta jasa-jasa sebesar 16,28 %. Sedangkan pada tahun 2002 kontribusi lapangan usaha pertanian meningkat menjadi 22,01 %, industri pengolahan turun menjadi 16,06 %, perdagangan , hotel dan restoran naik menjadi 16,77 % serta jasa-jasa sebesar 16,98 %. Mata pencaharian penduduk Sumatera Barat juga didominasi oleh lapangan usaha pertanian. Pada tahun 2001 penduduk yang bekerja di lapangan usaha ini mencapai 49,62 % dari angkatan kerja yang bekerja, sedangkan di sektor industri hanya sekitar 7,44 %, pada lapangan usaha perdagangan, rumah makan dan hotel mencapai 19,96 %. Selama 5 tahun terakhir tidak banyak terjadi pergeseran yang terlihat dari penduduk yang bekerja pada sektor pertanian pada tahun 1996 ada sekitar 51,08 % dan industri sebesar 5,77 %.
III. Potensi Pengembangan Pertanian di Sumatera Barat Potensi dan peluang Sumatera Barat untuk mengembangkan produksi pertanian sangat besar karena didukung oleh kondisi agroklimat, sumber daya alam dan sumber daya hayati yang memadai. Peningkatan produksi terutama ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri, baik untuk konsumsi maupun bahan baku olah dan mengisi peluang ekspor. Sasaran produksi tanaman pangan dan hortikultura Sumatera Barat tidak hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan daerah sendiri tetapi juag diharapkan dapat dipasarkan ke propinsi tetangga.
Namun kondisi geografis daerah yang berbukit dan bergunung dengan ketinggian wilayah bervariasi dari dataran rendah sampai dataran tinggi menyebabakan terbatasnya lahan untuk pengembangan usaha pertanian, akan tetapi kondisi ini memberikan corak iklim yang bervariasi pada beberapa tempat sehingga memungkinkan pengembangan berbagai jenis komoditi.
Sumatera Barat pada tahun 2002 perkembangan luas sawah yang berpengairan teknis seluas 35.497 ha, ½ teknis 53.300 ha, sederhana/Desa/Non PU sebesar 92.191 ha dan tadah hujan 48.776 ha, dimana dari 15 Kabupaten/Kota yang ada, kabupaten yang memiliki pengairan teknis tinggi adalah Kabupaten Pasaman seluas 10.715 Ha, ½ teknis 7.102 ha, sederhana 2.023 ha dan tadah hujan 7.603 ha dan lainnya, sementara pada tahun 2002 tidak ada cetak sawah baru. Sementara luas tanam dikabupaten Pasaman 68.720 ha, luas panen 76.353, produktivitas 4,17 ton/ha, seperti telihat pada tabel berikut ini.
Tabel : Perkembangan luas sawah di Sumatera Barat ( Hektar)
|
No |
Daerah |
Teknis |
½ Teknis |
Sederhana |
Tadah Hujan |
Cetak Sawah |
|
1. |
Kab. Solok |
8.827 |
7.513 |
5.61 |
1.732 |
- |
|
2. |
Kab. Pdg Pariaman |
4.097 |
6.774 |
4.105 |
5.306 |
-
|
|
3. |
Kab. Agam |
2.742 |
8.685 |
6.349 |
1.979 |
- |
|
4. |
Kab. Pasaman |
10.715 |
7.102 |
2.023 |
7.603 |
- |
|
5. |
Daerah Lainnya |
9.116 |
23.226 |
22.633 |
32.156 |
-
|
|
6. |
Sumatera Barat |
35.497 |
53.300 |
40.727 |
48.776 |
- | Sumber : Statistik Pertanian Tanaman Pangan Sumatera Barat
Dengan potensi lahan tersebut, perkembangan produksi padi di Sumatera Barat adalah seperti tabel berikut ini :
|
No |
Daerah |
Luas Tanam (ha) |
Luas Panen (ha) |
Produksi (ton) |
Produktivitas (ton/ha) |
| 1. |
Kab. Pasaman |
68.720 |
76.353 |
318.417 |
4,17 |
| 2. |
Kab. Solok |
70.949 |
77.818 |
349.068 |
4,48 |
| 3. |
Kab. Agam |
57.776 |
49.465 |
232.639 |
4,70 |
| 4. |
Kab. Pdg. Pariaman |
43.293 |
48.807 |
210.674 |
4,32 |
| 5. |
Daerah lainnya |
182.533 |
173.882 |
772.881 |
4,44 |
|
Sumatera Barat |
423.271 |
426.325 |
1.883.679 |
4,41 | Sumber : Statistik Pertanian Tanaman Pangan
Sumatera Barat Dimana pengembangan tanaman padi terbanyak terdapat pada beberapa daerah Kabupaten di Sumatera Barat seperti tabel berikut ini :
Tabel : Perkembangan Tanaman Padi Tahun 2002 di Sumatera Barat
|
No |
Daerah |
Luas Tanam (Ha) |
Luas Panen (Ha) |
Rata-Rata Produksi (Ton) |
Produksi(Ton) |
|
1. |
Kab. Solok |
70.949 |
77.818 |
4.48 |
349.068 |
|
2. |
Kab. Pasaman |
68.720 |
76.353 |
4.17 |
318.417 |
|
3. |
Kab. Agam |
57.776 |
49.465 |
4.70 |
232.639 |
|
4. |
Kab. Pesisir Selatan |
47.425 |
47.727 |
4.43 |
211.643 |
|
5. |
Kab. Pdg. Pariaman |
43.239 |
48.807 |
4.31 |
210.674 |
|
6. |
Kab. Tanah Datar |
39.044 |
35.445 |
4.81 |
170.655 |
|
7. |
Kab. Limapuluh Kota |
39.212 |
37.862 |
4.40 |
166.622 |
|
8. |
Kab. Swl/ Sijunjung |
28.545 |
25.484 |
4.14 |
105.742 |
|
9. |
Lainnya |
28.307 |
27.364 |
4.35 |
118.219 | Sumber : Statistik Pertanian Tanaman Pangan
Sumatera Barat diolah (Angka Sementara) Disamping lahan sawah di Sumatera Barat, terdapat lahan kering yang potensial untuk pembudidayaan berbagai jenis komoditi tanaman pangan seperti palawija, sayuran dan buah-buahan. Perkembangan lahan kering tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel : Perkembangan lahan kering di Sumatera Barat (dalam hektar)
|
No |
Daerah |
Perkarangan |
Tegal/ Kebun |
Ladang |
Tidak diusahakan |
|
1. |
Kab. Swl/Sjj |
22.064 |
42.703 |
9.227 |
13.356 |
|
2. |
Kab. Pasaman |
15.652 |
42.598 |
31.495 |
15.824 |
|
3. |
Kab. Pss. Selatan |
14.672 |
34.676 |
19.735 |
18.514 |
|
4. |
Kab. Agam |
11.874 |
30.375 |
15.520 |
11.270 |
|
5. |
Daerah Lainnya |
49.198 |
151.047 |
54.972 |
33.782 |
|
|
Sumatera Barat |
113.460 |
301.399 |
130.949 |
92.746 |
Sementara untuk beberapa komoditas sayuran dataran tinggi yang merupakan potensi pengembangan sayuran yang tercatat dan merupakan potensi pengembangan sayuran yang tercatat dan merupakan komoditi unggulan di Sumatera Barat adalah : kentang, kubis, bawang merah, cabe, tomat disamping komoditi bawang putih, sawi, bawang daun, kacang panjang, terung, buncis, ketimun, kangkung, bayam dan yang lainnya. Dimana pengembangan sayu-sayuran ini dikembangkan pada 3 kabupaten dengan luas panen seperti tabel berikut ini :
Tabel : Luas panen sayur-sayuran pada daerah produktif (dalam hektar) pada tahun 2002
|
No |
Jenis Komoditi |
Kab. Solok |
Kab.Tnh Datar |
Kab. Agam |
Daerah Lainnya |
Sumatera Barat |
|
1. |
Bawang Merah |
1.304 |
190 |
156 |
50 |
1.700 |
|
2. |
Kentang |
1.508 |
71 |
142 |
0 |
1.721 |
|
3. |
Kubis |
1.475 |
292 |
242 |
0 |
2.009 |
|
4. |
Cabe |
881 |
1.444 |
1.213 |
3.530 |
7.068 |
|
5. |
Tomat |
469 |
429 |
461 |
157 |
1.516 |
|
6. |
Lainnya |
6.153 |
4.428 |
3.242 |
8.627 |
22.450 | Sumber : Statistik Pertanian Tanaman Pangan
Sumatera Barat Sedangkan produksi sayur-sayuran pada daerah produktif tersebut dapat terlihat dalam tabel berikut ini :
Tabel : Produksi sayur-sayuran pada daerah produktif (dalam ton) pada tahun 2002
|
No |
Jenis Komoditi |
Kab. Solok |
Kab. Tnh Datar |
Kab. Agam |
Daerah Lainnya |
Sumatera Barat |
|
1. |
Bawang Merah |
11.492 |
938 |
712 |
223 |
13.365 |
|
2. |
Kentang |
25.832 |
947 |
1.700 |
0 |
28.479 |
|
3. |
Kubis |
56.306 |
4.383 |
4.071 |
0 |
64.760 |
|
4. |
Cabe |
4.283 |
8.370 |
6.070 |
17.157 |
35.880 |
|
5. |
Tomat |
2.871 |
4.067 |
5.552 |
538 |
13.028 |
|
6. |
Buncis |
363 |
1.531 |
3.355 |
467 |
5.716 | Sumber : Statistik Pertanian Tanaman Pangan Sumatera Barat
Sementara itu Sumatera Barat juga mempunyai potensi untuk pengembangan perkebunan, dimana pada tahun 2002 tercatat 685.356 ha areal perkebunan di Sumatera Barat yang terdiri dari perkebunan rakyat 506.290 ha atau 73,87 %, perkebunan besar swasta 29.454 ha atau 4,29% dan perkebunan negara seluas 149.612 ha atau 21,82 %. Perkebunan rakyat adalah ciri utama perkebunan di Sumatera Barat meskipun akhir-akhir ini porsi luas perkebunan swasta menunjukan kenaikan dari 19,71 % pada tahun 2001 menjadi 21,82% pada tahun 2002.
Tabel : Perkembangan Luas Perkebunan Besar dan Perkebunan Rakyat di Sumatera Barat (dalam hektar)
|
No |
Jenis Komoditi |
Perkebunan Rakyat |
Perkebunan Besar Swasta |
Perkebunan Negara |
|
1. |
Karet |
145.979 |
- |
4.845 |
|
2. |
Kelapa Sawit |
86.500 |
28.997 |
139.813 |
|
3. |
Cassia vera |
52.259 |
- |
- |
|
4. |
Kopi |
48.280 |
207 |
507 |
|
5. |
Gambir |
21.812 |
- |
- |
|
6. |
Lainnya |
151.460 |
250 |
4.447 | Sumber : Statistik Perkebunan Sumatera Barat diolah
Dengan demikian, perkebunan rakyat harus tetap menjadi prioritas dalam penyusunan program perkebunan. Selain itu, krisis ekonomi yang melanda negeri ini memberikan pelajaran bahwa usaha perkebunan menunjukan ketahanannya dalam menghadapi krisis ekonomi, bahkan mampu menunjukan pertumbuhan. Oleh sebab itu, semakin kuat alasan untuk memprioritaskan pertumbuhan perkebunan. Penekanan sebaiknya pada perkebunan rakyat karena masalah dan tantangan lebih banyak dihadapi oleh perkebunan ini. Komoditi perkebunan Sumatera Barat yang merupakan komoditi unggulan adalah karet, kelapa sawit, casiavera, gambir dan kopi .
Tabel : Perkembangan Produksi Utama Perkebunan Sumatera Barat (dalam ton)
|
No |
Komoditi |
Kab. Swl/Sjj |
Kab. Pasaman |
Kab. 50 Kota |
Kab. Solok |
Daerah lainnya |
Sumatera Barat |
|
1 |
Karet |
39.469 |
17.585 |
14.110 |
6.939 |
17.482 |
95.585 |
|
2 |
Kelapa Sawit |
194.672 |
224.140 |
335 |
153.268 |
305.000 |
877.415 |
|
3 |
Casiavera |
2.645 |
11.720 |
924 |
8.978 |
19.131 |
43.398 |
|
4 |
Gambir |
41 |
440 |
8.444 |
- |
1.804 |
10.729 |
|
5 |
Kopi |
893 |
5.618 |
1.101 |
7.890 |
11.996 |
27.496 |
Dari tabel di atas terlihat bahwa produksi komoditi utama perkebunan Sumatera Barat selama tahun 2000-2002 mengalami peningkatan yang cukup menggembirakan. Produksi karet meningkat dari 74.087 ton menjadi 95.585 ton, produksi kelapa dari 70.510 ton menjadi 77.603 ton , kelapa sawit mengalami kenaiakan yang cukup tinggi dari 584.384 ton menjadi 877.415 ton, casiavera dari 36.220 ton menjadi 43.398 ton, gambir dari 10.584 menjadi 10.729 ton, kopi dari 18.793 ton menjadi 27.496 ton sedangkan teh mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya yaitu dari 16.123 ton menjadi 10.171 ton
Penulis adalah Staff Bappeda Sumatera Barat Sumber : Statistik Perkebunan Sumatera Barat |
1. yang baru Ditulis oleh cantika pada Kamis, 05 Januari 2006 bos ini data terbarau atau baa kalau ado yang bari lai bulaih di caliak siek |
Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar. Silahkan login atau daftar. Powered by AkoComment 2.0! |