|
Topik #01 Pepatah Minang.
Kamanakan : Mak! ado pepatah nan ka ambo tanyo gan bake amak.
Mamak :
meya pepatah nan ka diang tanyo gan?
Kamanakan : Ado pepatah Bak mancari jajak dalam aia Sarupo mancari pinjaik dalam lunau†Meya mukasuik-no du mak ?
Mamak : Elok-lah den jawab jo caro “alas†(bahasa Indonesia) supayo adiak-adiak jo kamanakan ang nan lahia dan gadang dirantau mangarati dan faham.
Kamanakan : Rancak bana, mak! Kadiano du!
Mamak : Pepatah itu dalam bahasa “Ibarat mencari jejak dalam air, seperti mencari jarum dalam endapan Lumpur†Seperti diketahui, mencari jejak dalam air merupakan usaha yang hampir dapat dipastikan tidak akan membawa hasil yang di inginkan atau katakanlah melakukan pekerjaan yang sia-sia, Agar lebih mantap ditegaskan dengan kalimat : mencari jarum dalam endapan Lumpur, suatu usaha yang mustahil akan berhasil. Peribahasa diatas merupakan pernyataan agar dalam melakukan sesuatu harus dipikirkan dengan matang agar tidak sia-sia.
Kamanakan : Iko ciek layi pepatah mak ! Balayia ba nankodoh bajalan ba nan tuo
Mamak : Indonesianya “Berlayar dengan nakhoda, berjalan dengan yang tua. Dalam melaksanakan sesuatu, ada yang sering dilupakan yaitu seorang penuntun yang sewaktu waktu perlu dimintakan pendapat nasihatnya. Generasi muda yang tidak mengindahkan orang tua –tua terutama yang sarat pengalaman akan sering mengalami kegagalan dalam melaksanakan rencana-rencana, betapapun terincinyanya rencana tersebut. Pepatah tersebut sejalan dengan ubgkapan “malu bertanya sesat di jalan, malu berkayuh hanyut serantauâ€, Karena itu bertanya dan minta pendapat kepada yang tua bukanlah merupakan kelemahan akan tetapi justru menunjukkan kematangan berpikir.
Kamanakan : Ado bulo pepatah : Gadang buayo dimuaro Gadang garundang dikubangan Meya mukasuik no du mak ?
Mamak : Indonesianya “besar buaya di muara, besar garundang (anak kodok) di kubangan†Seperti diketahui buaya hidupnya disungaisementara tempathidup dan berkembangnya adalah di muara sungai, di muaralah binatang tersebut dibesarkan dan dididik oleh biangnya. Kemudian dilengkapi lagi dengan ungkapan “besar garundang di kubangan, artinya kurang lebih sama kubangan itulah tempat hidup dan berkembangnya garundang. Karena kedua jenis binatang ini tempat hidup dan berkembangnya memang muara sungai dan kubangan maka tak pelak lagi kedua jenis binatang itu tahu dan mengerti betul siapa dirinya. Ini berarti, bahwa makhluk lain tidak perlu lagi mengajarinya, terutama tentang kebiasaan dan tingkah lakunya. Untuk manusia dapat dikatakan sebagai “Ma aja tentara babarih†(Mengajari tentara berbaris)
Kamanakan : Iko ciek layi mak : Elok tungkuih tak barisi Gadang agak indak manyampai Meya arati no du, mak ?
Mamak : Indonesianya : Bagus bungkus tapi isinya tak bernilai, terlalu besar perkiraan/bayangan, namun ternyata tak memadai. Rancak baju tetapi isinya kosong alias tak berharga. Sering juga di ungkapkan “gadang hantak†penampilan boleh tapi isi kepala kosong. Selanjutnya keinginan besar tetapi lupa akan kondisi diri. Pepatah ini juga merupakan nasihat yang maksudnya supaya kita berbuat yang wajar wajar saja, tidak usah berlebihan.
Kamanakan : Ado bulo papatah : Iyokan nan di urang Lalukan nan di awak Meya bana mukasuik no mak ?
Mamak : Indonesianya : Benarkan pendapat orang lain, tetapi prinsip kita jalan terus. Banyak orang berpendapat, bahwa peribahasa diatas mencerminkan bagaimana sebetulnya mentalitas orang minang yang sering dikatakan licik. Kalau suatu ketika sesama orang minang ketemu misalnya dalam rapat lalu berdiskusi, maka tak obahnya seperti “ma adu ujuang pinjaik†(mengadu dua jarum penjahit) kedua belah pihak tidak akan pernah merasa dikalahkan karena keduanya merasa runcing (cerdik/cerdas) Untuk peribahasa “Iyokan nan di urang lalukan nan diawak†merupakan sikap ingin menenggang orang lain (tidak ingin mengecewakan orang lain) Melalu perdebatan yang mungkin cukup seru ternyata bahwa yang dikemukakan lawan bicara sesudah dipertinbangkan dengan matang agak sulit bagi kita untuk menerapkan lebih baik prinsip kita yang dijalankan, untuk menjaga supaya orang tidak tersinggung atau kecewa, maka berbasa basi untuk menbenarkan pikiran orang lain. Dalam penjelasan diatas pepatah tersebut bukan berarti licik tapi yang ada lihai dalam membaca situasi seiring dengan “Pandai bamain walaupun batenggang dilapiak nan sahalaiâ€
Kamanakan : Iko ciek layi mak : Tahimpik nak di ateh Takurung nak dilua Indak mangarati ambo meya du arati no mak ?
Mamak : Indonesianya “Terhimpit maunya diatas, terkurung maunya di luar†Pepatah ini menyatakan sesuatu pekerjaan yang mustahil tidak masuk akal. Kalau melakukan sesuatu, terlebih dahulu dipertimbankan mudharat dan manfaatnya atau untung ruginya supaya nantinya tidak terbuang sia2. Pepatah diatas berkesan kepada keinginan mau menang sendiri. Tetapi kita lihat arti harafiahnya menyatakan sesuatu hal yg tidak mungkin.
Sumber : Bulettin Sungai Puar No 21 – Agustus 1987 Disadur oleh Dewis Natra
Trackback(0)
|