|
Topik #02
Kamanakan : Lah salamo a indak batamu jo Mamak, ado bulo nan kaditanyokan ka mamak.
Mamak :
meya nan ka diang tanyogan ?
Kamanakan : Ado papatah mangecekan : Bak malapehkan anjiang tasapik, Bak manggadangan anak harimau. Meya mukasuik-no du Mak ?
Mamak : Den jawab miang jo bahasa Indonesia supayo adiak jo kamanakan ang nan lahia jo gadang di rantau dapek mamfahami.
Kamanakan : Rancak bana, kadia no du.!
Mamak : Seperti melepaskan anjing kejepit, dan membesarkan anak harimau. Identik dengan air susu dibalas dengan air tuba, lalu ada lagi ungkapan : babuek baik pado-pado, babuek jaek jauhi. Berbuat baik, kira-kira dan berbuat jahat jangan sekali-kali. Dikatakan kepada orang yang setelah ditolong ternyata tidak tahu diri, bahkan ingin menjerumuskan penolongnya. Manusia tipe ini tidak mengenang jasa bahkan sebaliknya. Anjing galak yang tadinya terbelenggu, lalu dilepaskan, kini malah ingin menggigit penolongnya. Anak harimau yang sejak kecil dipelihara dan dibesarkan, setelah besar ingin memangsa orang yang merawatnya.
Kamanakan : Pepatah : Bakato bak balalai gajah, Kok mangecek sarupo katiak ula. Meya pulo arati-no du Mak ?
Mamak : Berkata-kata seperti belalai gajah (panjang), berbicara seperti katiak ular (berputar-putar). Berbicara dikatakan menceracau alias mimpi di siang bolong . Dialamatkan kepada orang yang dalam mengemukanan sesuatu tidak jelas juntrungannya/tidak jelas ujung pangkalnya, alias selalu ngawur. Sulit dimengerti maksud dan tujuan pembicaraannya. Pembawaan sampingan yang biasanya nebeng/ikut-ikutan memamerkan kebolehan orang ini adalah sikap menggurui dan serba bisa, serba tahu, katanya.
Kamanakan : Pepatah : Cadiak malam Binguang siang, Gilo maukia kayu tagak, Meya mukasuik-no du Mak ?
Mamak : Malam hari : cerdik, tapi siangnya bego/linglung, asyik berkhayal, melukis pada kayu. Menurut istilah sekarang : pengalaman/pengkhayal kelas berat. Orang yang kerjanya hanya menggatang asap, panjang angan-angan. Selalu memikirkan hal-hal yang sama sekali tidak akan pernah berhasil dicapainya, dilihat dari kemampuan, sifat dan kondisi fisiknya.
Kamanakan : Pepapatah : Gadang nak maimpok, Panjang nak malindin, Laweh nak manyaok Meya tujuan-no du Mak ?
Mamak : Besar ingin menimpa/menggencet, panjang mau menggilas, lebar mau meraup/menutup. Artinya : mentang-mentang, seseorang yang selalu bersikap mentang-mentang. Mentang-mentang berkuasa, mentang-mentang berani, mentang-mentang pintar, mentang-mentang kaya dan lain sebagainya. Sikap yang melebihi takaran, biasanya sambil bertepuk dada, dan nafsu ingin melebihi orang lain, walaupun kandas ditengah jalan.
Kamanakan : Pepatah : Baradat sapanjang jalan, Bacupak sapanjang batuang. Apo artinyo du mak ?
Mamak : Beradat sepanjang jalan, bacupak atau bagantang sapanjang bambu. Maksudnya : sopan, tahu dengan aturan. Mengetahui batas-batas kesopanan, baik di rumah atau di dalam kehidupan masyarakat, maupun dimana saja dan dalam kondisi bagaimanapun. Berusaha menyesuaikan kata dengan perbuatan dalam batas-batas yang telah ditentukan. Ungkapan ini sama dengan : dilabiahi ancak-ancak dikurangi sio-sio, yang maksunya : dilebihi jadi main-main dan dikurangi malah sia-sia atau percuma.
Kamanakan : Kalau : Lai usah dimakan, Indak baru dimakan Meya mukasuidno du Mak ?
Mamak : Ada jangan dimakan, tidak ada baru dimakan. Barangkali aneh, mengapa ketika ada jangan dimakan, sebaliknya sesudah tidak ada barulah dimakan. Artinya : ketika masih punya (banyak) nafsu untuk menghabiskan supaya ditahan (dibendung/dikendalikan), tegasnya harus berhemat, karena hemat adalah pangkal kaya, dan hemat bukan berarti pelit. Seperti masakan rendang, yang bisa tahan lama, orang-orang tua dahulu sering menyimpan rendang berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, kalupun dimakan biasanya sedikit-sedikit, atau sepotong dua potong. Tapi kalau ada tamu berkunjung, rendang tersebut dikeluarkan, dengan demikian tidak perlu repot karena persediaan selalu ada. Jadi maksud dari pepatah diatas, baru dikeluarkan setelah diperlukan.
Kamanakan : Cukuik sakitu dulu, Mak. Karano hari lah laruik sanjo nanti disambuang.
Mamak : Layi jaleh diang, meya nan den tarangkan cako du ?
Kamanakan : Layi, Mak ! tarimo kasih !.
Disadur Oleh : Erwin Moechtar Sumber : Bulettin Sungai Puar No . 24 Maret 1988
Trackback(0)
|