Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Gunuang biaso timbunan kabuik
Lurah biaso timbunan aia
Lakuak biaso timbunan sampah
Lauik biaso timbunan ombak
Nan hitam tahan tapo
Nan putiah tahan sasah
Disasah bahabih asa
Dikikih bahabih basi
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Tanyo Jawab Kamanakan Jo Mamak #02 PDF Print E-mail
Written by Andika   
Thursday, 16 September 2004

Topik #02

Kamanakan :
Lah salamo a indak batamu jo Mamak, ado bulo nan kaditanyokan ka   mamak.

Mamak :
meya nan ka  diang tanyogan ?

Kamanakan :
Ado papatah mangecekan :
Bak  malapehkan anjiang tasapik,
Bak manggadangan anak harimau.
Meya mukasuik-no du Mak ?

Mamak :
Den jawab miang jo bahasa Indonesia supayo adiak jo kamanakan ang nan lahia jo gadang di rantau dapek mamfahami.

Kamanakan :
Rancak bana, kadia no du.!

Mamak :
Seperti melepaskan anjing kejepit, dan membesarkan anak harimau.
Identik dengan air susu dibalas dengan air tuba, lalu ada lagi ungkapan : babuek baik pado-pado, babuek jaek jauhi.  Berbuat baik, kira-kira dan berbuat jahat jangan sekali-kali.
Dikatakan kepada orang yang setelah ditolong ternyata tidak tahu diri, bahkan ingin menjerumuskan penolongnya. Manusia tipe ini tidak mengenang jasa bahkan sebaliknya. Anjing galak yang tadinya terbelenggu, lalu dilepaskan, kini malah ingin menggigit penolongnya. Anak harimau yang sejak kecil dipelihara dan dibesarkan, setelah besar ingin memangsa orang yang merawatnya.

Kamanakan :
Pepatah :
Bakato bak balalai gajah,
Kok mangecek sarupo katiak ula.

Meya pulo arati-no du  Mak ?

Mamak :
Berkata-kata seperti belalai gajah (panjang), berbicara seperti katiak ular (berputar-putar). Berbicara dikatakan menceracau alias mimpi di siang bolong . Dialamatkan kepada orang yang dalam mengemukanan sesuatu tidak jelas juntrungannya/tidak jelas ujung pangkalnya, alias selalu ngawur. Sulit dimengerti maksud dan tujuan pembicaraannya. Pembawaan sampingan yang biasanya nebeng/ikut-ikutan memamerkan kebolehan orang ini adalah sikap menggurui dan serba bisa, serba tahu, katanya.

Kamanakan :
Pepatah :
Cadiak malam Binguang siang,
Gilo maukia kayu tagak,

Meya mukasuik-no du Mak ?

Mamak :
Malam hari : cerdik, tapi siangnya bego/linglung, asyik berkhayal, melukis  pada kayu.
Menurut istilah sekarang : pengalaman/pengkhayal kelas berat. Orang yang kerjanya hanya menggatang asap, panjang angan-angan. Selalu memikirkan hal-hal yang sama sekali tidak akan pernah berhasil dicapainya, dilihat dari kemampuan, sifat dan kondisi fisiknya.

Kamanakan :
Pepapatah :
 Gadang nak maimpok,
 Panjang nak malindin,
 Laweh nak manyaok
Meya tujuan-no du Mak ?

Mamak :
Besar ingin menimpa/menggencet, panjang mau menggilas, lebar mau meraup/menutup. Artinya : mentang-mentang, seseorang yang selalu bersikap mentang-mentang. Mentang-mentang berkuasa, mentang-mentang berani, mentang-mentang pintar, mentang-mentang kaya dan lain sebagainya.
Sikap yang melebihi takaran,  biasanya sambil bertepuk dada, dan nafsu ingin melebihi orang lain, walaupun kandas ditengah jalan.

Kamanakan :
Pepatah : 
Baradat sapanjang jalan,
Bacupak sapanjang batuang.

Apo artinyo du mak ?

Mamak :
Beradat sepanjang jalan, bacupak  atau bagantang sapanjang bambu.
Maksudnya : sopan, tahu dengan aturan. Mengetahui batas-batas kesopanan, baik di rumah atau di dalam kehidupan masyarakat, maupun dimana saja dan dalam kondisi bagaimanapun. Berusaha menyesuaikan kata dengan perbuatan dalam batas-batas yang telah ditentukan.
Ungkapan ini sama dengan : dilabiahi ancak-ancak dikurangi sio-sio, yang maksunya : dilebihi jadi main-main dan dikurangi malah sia-sia atau percuma.

Kamanakan :  
Kalau :
Lai usah dimakan,
Indak baru dimakan
Meya mukasuidno du Mak ?

Mamak :
Ada jangan dimakan, tidak ada baru dimakan.
Barangkali aneh, mengapa ketika ada jangan dimakan, sebaliknya sesudah tidak ada barulah dimakan.
Artinya : ketika masih punya (banyak) nafsu untuk menghabiskan supaya ditahan (dibendung/dikendalikan), tegasnya harus berhemat, karena hemat adalah pangkal kaya, dan hemat bukan berarti pelit.
Seperti masakan rendang, yang bisa tahan lama, orang-orang tua dahulu sering menyimpan rendang berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, kalupun dimakan biasanya sedikit-sedikit, atau sepotong dua potong. Tapi kalau ada tamu berkunjung, rendang tersebut dikeluarkan, dengan demikian tidak perlu repot karena persediaan selalu ada.
Jadi maksud dari pepatah diatas, baru dikeluarkan setelah diperlukan.

Kamanakan :
Cukuik sakitu dulu, Mak. Karano hari lah laruik sanjo nanti disambuang.

Mamak :
Layi jaleh diang, meya nan den tarangkan cako du ?

Kamanakan :
Layi, Mak ! tarimo kasih !.

Disadur Oleh : Erwin Moechtar
Sumber : Bulettin Sungai Puar No . 24 Maret 1988

 

Trackback(0)
Comments (0)add comment

Write comment
You must be logged in to a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy
Last Updated ( Thursday, 16 September 2004 )
 
< Prev   Next >
Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Donasi Terakhir

Donasi untuk Cimbuak
Dari Jumlah
 Harmailis Rp.   200.007,--
 Ajo Duta / Mak Uncu Rp.   1.000.000,--
Inyiak Jangkuang Rp.   56.789,--
Dave, Melbourne Rp. 300.000,--
Balance Sementara
Rp. 1.116.796,--
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 2 guests and 6 members online
Generated in 1.23160 Seconds