Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Bursa Jual Beli
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Makmur Hendrik
Episode Terbaru :
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Pituah

Kok indak nan dihati
Nan tajadi
Cubolah sanang jo
Nan tajadi
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Palanta
This is not a Login form

Name:

Message:

Advertisement
Pelaksanaan Pembangunan Pertanian th 2003 di Sumatera Barat (1) Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Ditulis oleh Kuartini Deti Putri (Bapeda Sumatera Barat)   
Kamis, 23 September 2004
Pelaksanaan Pembangunan Pertanian tahun 2003 di Sumatera Barat disajikan sebagai bahan pelajaran atau data untuk masa yang akan datang.

PELAKSANAAN PEMBANGUNAN  PERTANIAN TAHUN 2003
DI SUMATERA BARAT
OLEH: KUARTINI DETI PUTRI



PENDAHULUAN

Pembangunan Pertanian saat ini masih mempunyai peranan yang sangat strategis dalam pembangunan daerah di  Sumatera Barat, terutama terhadap peningkatan ketahanan pangan, pembentukan  PDRB, penyediaan kesempatan kerja dan lapangan usaha. Hal ini sesuai dengan tujuan umum pembangunan pertanian yang diarahkan kepada (1) peningkatan produksi untuk memantapkan ketersediaan pangan guna memenuhi kebutuhan pokok masyarakat dari segi jumlah, kualitas dan harga terjangkau; (2) peningkatkan pendapatan petani dengan mengembangkan sistem usaha tani yang berwawasan agribisnis agar mampu menghasilkan produk yang berkualitas, berproduktivitas tinggi dan efisien.

Kalau kita kaitkan dengan jumlah penduduk Sumatera Barat pada tahun 2003 berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Sumatera Barat sejumlah 4.456.816 jiwa. Dari jumlah penduduk  tersebut sebanyak 2.187.156 orang laki-laki (49,07%) dan 2.269.660 orang perempuan (50.93%) dengan jumlah penduduk terbesar berada pada Kota Padang dan Kab.Pasaman. Dimana  lapangan usaha pertanian masih menjadi sumber pendapatan utama dari sebagian besar penduduk Sumatera Barat. Hal ini terlihat pada tahun 2003 jumlah orang yang bekerja di lapangan usaha ini mencapai sekitar 50% dari angkatan kerja yang bekerja. Disamping itu lapangan usaha pertanian juga menjadi kekuatan perekonomian dengan kontribusinya terhadap PDRB Sumatera Barat menurut harga berlaku pada tahun 2003 sebesar 22,87 % , dimana untuk sektor pertanian tanaman pangan dan hortikultura menyumbang sebesar 11,93 % dan peternakan 2,27 %.

Sementara nilai ekspor pertanian pada tahun 2003 mengalami kenaikan yaitu sebesar 18,26 % yaitu dari US$ 13.644.805,76 tahun 2002 menjadi US$ 16.136.544,53 dari total ekspor Sumatera Barat dengan volumenya 152.284,63 ton dengan nilai ekpor sebesar US$ 39.975.107,54. Adapun komoditi sektor pertanian yang di ekspor adalah buah-buahan dan sayuran segar, sementara untuk pertanian secara umum yang disekpor adalah casiavera, kopi, gardamon, coklat, pinang, cengkeh/bunga cengkeh, ikan kerapu, ikan hias dan rotan.

Dari data tersebut di atas terlihat bahwa peningkatan produktivitas pertanian akan mendorong peningkatan sebagian besar pendapatan tenaga kerja yang ada, disamping pengembangan usaha pertanian sekaligus akan memberikan peluang terbukanya kesempatan kerja yang lebih luas di pedesaan, karena per unit usaha pertanian akan menyerap tenaga kerja dalam jumlah lebih besar.

Meskipun sektor pertanian merupakan penyumbang terbesar dalam perekonomian daerah, namun dilema yang dihadapi adalah rata-rata tingkat pendapatan petani masih tetap rendah. Untuk kedepan yang perlu diupayakan bagaimana menjadikan sektor pertanian sebagai lapangan usaha yang mampu mengangkat pendapatan petani ke tingkat setara dengan pendapatan tenaga kerja di sektor lainnya.

Berdasarkan hal tersebut di atas, pendekatan  yang digunakan dalam mengevaluasi capaian pembangunan bidang pertanian di Sumatera Barat pada tahun 2003 yaitu : perkembangan dilihat dari data tahun sebelumnya . Beberapa indikator yang digunakan untuk mengukur capaian pembangunan bidang pembangunan ini dalam sub sektor pertanian tanaman pangan hortikultura dan sub sektor peternakan antara lain lahan, produksi, produktivitas, lapangan usaha, penyerapan tenaga kerja, kontribusi terhadap PDRB, pemasaran baik ekspor maupun impor, persediaan bahan makanan serta  jumlah pangan yang dikonsumsi.
a. PERTANIAN TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA

Potensi sumberdaya lahan tanaman pangan di Sumatera Barat pada tahun 2003 adalah seluas 887.110 ha yang terdiri dari potensi lahan sawah seluas 455.376 ha dan lahan bukan sawah (pekarangan,ladang,tegal/kebun) seluas 431.734 ha. Dari potensi tersebut yang telah dimanfaatkan untuk tanaman pangan seluas 528.644 ha (59.59%) dan masih belum dimanfaatkan seluas 358.466 ha ( 40,41 % ).

Masih besarnya potensi lahan yang belum termanfaatkan menunjukan bahwa intensitas pertanaman sampai saat ini masih rendah, terutama di lahan bukan sawah. Penurunan luas potensi lahan  bukan sawah yang belum termanfaatkan dibandingkan tahun sebelumnya salah satu contohnya disebabkan lahan yang sebelumnya ditanami tanaman pisang karena terserang penyakit fusarium maka tanaman pisang harus dibongkar dan lahan tersebut belum dimanfaatkan karena dieradikasi.

Sedangkan  luas sawah pada tahun 2003 mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya  237.263 ha menjadi  238.949 ha , yang terdiri dari berpengairan tekhnis, ½ tekhnis, berpengairan sederhana, berpengairan desa, tadah hujan dan lainnya. Sementara luas lahan kering untuk tanaman pangan juga mengalami kenaikan dari 545.808 ha tahun 2002 menjadi 590.455 ha pada tahun 2003 yang terdiri dari pekarangan, tegal/kebun, ladang/huma.

Lahan sawah yang dapat ditanami dengan padi sawah, 2 kali setahun atau lebih (IP 200 atau lebih) seluas 175.929 ha, dan yang ditanami  1 kali setahun (IP 100) termasuk lahan tadah hujan seluas 52.580 ha. Sedangkan lahan bukan sawah pada umumnya ditanami dengan tanaman palawija, sayur-sayuran dan buah-buahan, untuk palawija seluas 51.400 ha dan hortikultura 73.410 ha.

Sementara itu produksi padi di Sumatera Barat mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yaitu  1.875.834 ton dengan luas panen 424.253 ha dan produktivitas 44,21 Kw/Ha, menjadi  1.818.019 ton GKG atau tersedia beras sebanyak 1.013.175 ton dengan tingkat ketersediaan 222,33 kg/kap/tahun dengan luas panen 411.860 ha dan produktivitas 44,14 Kw/Ha pada tahun 2003 berdasarkan perhitungan angka sementara. Namun sesuai dengan perhitungan perimbangan produksi pada tahun 2003 dengan penduduk lebih kurang 4,43 juta jiwa, konsumsi per kapita 143,55 Kg/Kap/Tahun (Susenas 2002) dengan ketersediaan padi mencapai 1.569.111 ton setara dengan beras 1.013.175 ton, sedangkan kebutuhan Sumatera Barat hanya 637.806 ton, dengan demikian walaupun disisi produksi mengalami penurunan dari tahun sebelumnya namun masih terjadi surplus beras sebesar 350.040 ton. Seperti terlihat pada tabel perkembangan produksi padi di bawah ini :
Tabel : Perkembangan Produksi Padi 2002 - 2003 di Sumatera Barat

No Uraian

2002

2003*

1

Luas Panen (ha)

424.253

411.860

2

Produktivitas (kw/ha)

44.21

44.14

3

Produksi (Ton)

1.875.834

1.818.019


  Sumber : Statistik  Pertanian Sumatera Barat Tahun 2003
  *) Angka Sementara BPS

Lain halnya dengan  produksi  palawija  mengalami peningkatan  pada tahun 2003 dibandingkan dengan tahun 2002, dimana produksi jagung 69.892 ton dengan produktivitas 27,88 kw/ha, kedelei 2.398 ton dengan produktivitas 13,13 kw/ha, kacang tanah 7.597 ton dengan produktivitas 10,60 kw/ha, kacang hijau 1.440 ton dengan produktivitas 11,30 kw/ha, ubi kayu 110.668 ton dengan produktivitas 122,15 kw/ha dan ubi jalar 39.418 ton dengan produktivitas 39,418 kw/ha. Seperti terlihat pada tabel berikut ini:


Tabel : Perkembangan Produksi Palawija Tahun 2002-2003 di Sumatera Barat

Panen Produktivitas Produksi
Komoditi

2002

2003*

2002

2003*

2002

2003*
Jagung

25.644

24.253

26,22

31,34

67.241

76.012
Kedelei

1.665

1.613

12,56

13,15

2.078

2.122
Kac. tanah

7.704

7.017

11,37

10,92

8.757

7.666
Kac. Hijau

1.391

1.353

11,48

11,32

1.579

1.531
Ubi Kayu

8.051

10.005

125,02

122,38

100.657

122.440
Ubi Jalar

3.342

3.866

112,38

116,28

37.558

44.954

           
Sumber : Statitik Pertanian Sumatera Barat Tahun 2003
*) Angka Sementara BPS

Sementara produksi sayuran juga meningkat 1,74 % dibandingkan tahun 2002 dimana pada tahun 2003 produksi sayuran sebesar 201.998 ton dan produksi buah-buahan meningkat 8,76 % dari tahun 2002 sebesar 248.162 ton menjadi 269.550 ton. Adapun daerah sentra produksi sayur-sayuran adalah Kabupaten Solok, Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah datar dengan komoditi unggulan kentang, kubis, tomat, cabe. Sedangkan buah-buahan jeruk, pisang dan manggis dengan sentranya di Kab.Agam, Pasaman, Padang Pariaman, Limapuluh Kota, Kab. Pesisir Selatan.

Untuk pangan, maka komoditi palawija tersedia untuk dimakan sebanyak 207.706 ton atau tersedia sebesar 46,61 kg/kap/tahun. Sedangkan untuk sayuran tersedia dimakan sebanyak 179.019 ton (40,29 kg/kap/tahun) dan buah-buahan tersedia dimakan sebesar 2.42.595 ton (54,60 kg/kap/tahun).

Berdasarkan data tersebut di atas, penurunan produksi padi  antara lain dipengaruhi oleh banyaknya lahan pertanian yang beralih fungsi menjadi pemukiman, pertokoan, dan pembangunan lainnya , namun penurunan produksi padi juga dipengaruhi  oleh serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), dimana luas pertanaman padi yang terkena serangan OPT pada tahun 2003 seluas 1.694,06 ha yang terdiri dari 10 jenis OPT (tikus, wereng coklat, kepinding tanah, blast, tungro, bercak coklat, penggerek batang, kerdil rumput, siput murbei, ulat grayak) dengan kategori ringan, sedang, berat dan puso. Sedangkan luas pertanaman palawija yang diserang OPT adalah seluas 38,06 ha yang terdiri dari kedelei seluas 8,35 ha, jagung 11,21 ha dan kacang tanah 18,5 ha. Sedangkan sayuran mengalami serangan seluas 319,69 ha yang terdiri dari tanaman cabe, bawang merah, terung, kacang panjang, ketimun, kubis dan tomat dengan kategori ringan, sedang, berat dan puso.

Mengamati perkembangan produksi hortikultura khususnya sayuran Sumatera Barat , memberi peluang bagi petani Sumatera Barat untuk meningkatkan pendapatan, hal ini dimungkinkan karena ditinjau dari segi potensi keadaan alam yang punya dataran rendah dan dataran tinggi, prasarana jalan di dalam dan antar provinsi yang relatif baik. Akan halnya dengan  produksi buah-buahanan terutama pisang selama dua tahun terakhir menurun, disebabkan karena pada daerah sentra produksi pisang (Kab.Tanah Datar, Kab.Agam dan kab.Padang Pariaman) terserang penyakit layu fusarium, sehingga luas tanam pisang drastis menurun.

Namun dalam hal menghasilkan produksi yang maksimal masih perlu ditingkatkan lagi karena masih terjadinya inefisiensi yang tinggi. Salah satu penyebabnya adalah karena rendahnya pemanfaatan tekhnologi terutama pada komoditi sayuran dan buah-buahan, menyebabkan produk hortikultura kurang menarik di pasaran, selain itu permasalahan yang dihadapi dalam pemasaran komoditi hortikultura dimana sifat komoditi pertanian terutama sayur-sayuran dan buah-buahan yang tidak tahan lama (mudah busuk), belum optimalnya penanganan pra panen, panen dan pasca panen di tingkat petani terutama untuk packing dan grading hasil.

Selain itu benih juga merupakan salah satu faktor produksi yang sangat menentukan produktivitas, kesalahan dalam memilih benih berarti kesalahan dalam melakukan proses produksi. Faktor-faktor yang signifikan untuk mencapai produksi maksimal dalam peningkatan produksi tanaman pangan khususnya padi dan palawija adalah penanganan proses produksi sesuai dengan panca usaha tani yaitu : penggunaan benih bermutu, pengairan yang teratur, penggunaan pupuk sesuai dengan prinsip 6 tepat, pengendalian hama dan penyakit tanaman secara terpadu serta penangan pasca panen.

Dalam hal penyediaan benih bermutu/berlabel bagi petani baik untuk program intensifikasi ataupun usaha tani padi/palawija lainnya, didukung dengan  4 BBI/BBU  (Balai Benih Induk/Balai Benih Utama) yaitu BBI Sungai Dareh Kec.Pulau Punjung Kab.Sawahlunto/Sijunjung, BBI Sukamenanti Kec.Pasaman Kabupaten Pasaman, BBI Ladang Lawas Kec.Rambatan Kab.Tanah Datar, BBU Kinali Kab.Pasaman, dimana BBI memegang peranan sebagai produsen benih penjenis (BS) dan benih dasar (BD), sementara BBU berfungsi atau memegang peranan sebagai produsen benih pokok (BP)

Dari 4 BBI/BBU yang ada, realisasi penyaluran benih padi pada tahun 2003 dengan luas tanam 398.082 Ha, dari yang ditargetkan penyaluran benih padi  9.952.050 kg baru terealisasi sebesar 1.737.325 kg atau 17,46 %.  Sementara benih jagung dengan luas tanam 25.254 Ha dari target penyaluran benih jagung yang ditetapkan  631.350 kg baru terealisasi 477.254 atau sebesar 75,59%. Hal ini disebabkan karena masih belum terjangkaunya harga benih  bermutu oleh para petani. Namun dalam tahun 2003 petani melalui dana APBN juga diberikan bantuan benih padi dan palawija  untuk 15 Kabupaten/Kota sebesar 596.250 kg terdiri dari benih  padi sebesar 153.570 kg, jagung 429.540 kg, kedelei 13.140 kg.

Selain itu faktor iklim juga mempengaruhi terhadap peningkatan produksi pertanian, dimana curah hujan tahunan di Sumatera Barat berkisar antara 2.000-5.000 mm. Jarang ada bulannya bulan kering, sehingga tipe iklim rata-rata adalah termasuk tipe A  (Schmidt Ferguson) dan Tipe Alfa (Koper). Dari hasil pencatatan yang dilakukan pada stasiun yang tersebar di Kabupaten/kota, keadaan iklim Sumatera Barat pada tahun 2003 dari curah hujan dan hari hujan sebesar 3.172 mm dengan rata-rata/bulan 246,33 mm dan hari hujan sebesar 155 mm dengan rata-rata/bulan 12,92 mm, namun dibandingkan curah hujan pada tahun 2002 mengalami kenaikan, dimana pada tahun 2002 curah hujan sebesar 2.942 mm dengan rata-rata/bulan 245,17 mm, dengan hari hujan sebesar 155 mm dengan rata-rata/bulan 12,92 mm.

Dalam hal pemasaran , komoditi tanaman pangan dan hortikultura yang utama selain dikonsumsi di dalam juga dipasarkan keluar Provinsi adalah beras, palawija, sayuran dataran tinggi dan buah-buahan (pisang, jeruk, markisah dan manggis) dengan daerah tujuan Provinsi Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu dan Jakarta.

Pencatatan komoditas tanaman pangan ke luar daerah dilakukan pada 6 lokasi jembatan  timbang. Dimana hasil pencacatan diperoleh jumlah dan jenis komoditi tanaman pangan dan hortikultura Sumatera Barat yang dibawa ke luar Sumatera Barat yaitu :
· Beras (Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan dan bengkulu)
· Kacang Tanah dan kedelei (Sumatera Utara, Riau dan Jambi)
· Bawang merah, cabe, kentang, kol, tomat (Riau, Jambi, Sumatera Utara, Sumatera Selatan dan Bengkulu)
· Pisang dan jeruk (Jakarta, Sumatera Utara dan Palembang)

Tahun 2003 arus komoditi pangan keluar Sumatera Barat adalah lebih kurang 107.518 ton beras dengan pemasaran terbesar ke provinsi Riau (tahun 2002 sebesar 64.231 ton), sedangkan komoditi sayuran 147.096 ton  (tahun 2002 sebesar 82.658 ton) dan buah-buahan 54.631 ton (tahun 2002 sebesar 44.865 ton).

Komentar

Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar.
Silahkan login atau daftar.

Powered by AkoComment 2.0!

Terakhir kali diperbaharui ( Kamis, 23 September 2004 )
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
Member Area
Radio Online MinangSaat ini Radio Cimbuak
sedang Offline
Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Donasi Terakhir

Donasi untuk Cimbuak
Dari Jumlah
 Harmailis Rp.   200.007,--
 Ajo Duta / Mak Uncu Rp.   1.000.000,--
Inyiak Jangkuang Rp.   56.789,--
Dave, Melbourne Rp. 300.000,--
Balance Sementara
Rp. 1.116.796,--
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Situs Terbaik
Member
 Cimbuak.net | Minangkabau Community Portal Groups Online
 Anggota ( 3 ) Anggota 3
 Tamu ( 7 ) Tamu 7
  Total  10
 Angoota ( 7,173 ) Angoota  7,173


Statistik
Agg Baru  anwal
Hari Ini 6
Minggu Ini 95
Bulan Ini 406
Tahun ini 3,044
Online Sekarang
Online Sekarang
Saat ini ada 7 pengunjung dan 3 anggota yang online
User Terbaru

anwal

Terdaftar pada
2008-07-05 12:08:47

Pengunjung: 3477194