Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Weblink
Advertisement
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Sakali kato rang lalu
Anggap angin lalu
Duo kali kato rang lalu
Anggap garah samo gadang
Tigo kali kato rang lalu
Jan takuik darah taserak
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Tuanku Imam Bonjol (1772 - 1864) PDF Print E-mail
Written by Admin   
Wednesday, 29 September 2004
Peto Syarif yang kemudian lebih dikenal dengan Tuanku Imam Bonjol dilahirkan pada tahun 1772 di Kampung Tanjung Bunga, Kabupaten Pasaman Sumatra Barat. Ia dilahirkan dalam lingkungan agama. Mula-mula ia belajar agama dari ayahnya, Buya Nudin. Kemudian daribeberapa orang ulama lainya, seperti Tuanku nan Renceh. Imam Bonjol adalah pendiri negeri Bonjol

Peto Syarif yang kemudian lebih dikenal dengan Tuanku Imam Bonjol dilahirkan pada tahun 1772 di Kampung Tanjung Bunga, Kabupaten Pasaman Sumatra Barat. Ia dilahirkan dalam lingkungan agama. Mula-mula ia belajar agama dari ayahnya, Buya Nudin. Kemudian daribeberapa orang ulama lainya, seperti Tuanku Nan Renceh. Imam Bonjol adalah pendiri negeri Bonjol.

Pertentangan kaum Adat dengan kaum Paderi atau kaum agama ikut melibatkan Tuanku Imam Bonjol. Kaum paderi berusaha membersihkan ajaran agama islam yang telah banyak diselewengkan agar dikembalikan kepada ajaran agama islam yang murni. Golongan adat yang merasa terancam kedudukanya, mendapat bantuan dari Belanda. Namun gerakan pasukan Imam Bonjol yang cukup tangguh sangat membahayakan kedudukan Belanda. Oleh sebab itu Belanda terpaksa mengadakan perjanjian damai dengan Tuanku Imam Bonjol pada tahun 1824. Perjanjian itu disebut "Perjanjian Masang". Tetapi perjanjian itu dilanggar sendiri oleh Belanda dengan menyerang Negeri Pandai Sikat.  Pertempuran-pertempuran berikutnya tidak banyak berati, karena Belanda harus memusatkan kekuatanya terhadap Perang Diponogoro. Tetapi setelah Perang Diponogoro selesai, maka Belanda mengerahkan pasukan secara besar-besaran untuk menaklukan seluruh Sumatra Barat. Imam Bonjol dan pasukanya tak hendak menyerah dan dengan gigih membendung kekuatan musuh. Namun Kekuatan Belanda sangat besar, sehingga satu demi satu daerah Imam Bonjol dapat direbut Belanda. Tak urung Bonjol pun jatuh ke tangan musuh. Tapi tiga bulan kemudian Bonjol dapat direbut kembali. Ini terjadi pada tahun 1832.
Belanda kembali mengerahkan kekuatan pasukanya yang besar. Tak ketinggalan Gubernur Jendral Van den Bosch ikut memimpin serangan ke Bonjol. Namun ia gagal. Ia mengajak Imam Bonjol berdamai dengan maklumat "Palakat Panjang", Tapi Tuanku Imam curiga. Untuk waktu-wakyu selanjutnya, kedudukan Tuanku Imam Bonjol bertambah sulit, namun ia tak sudi untuk berdamai dengan Belanda.Tiga kali Belanda mengganti panglima perangnya untuk merebut Bonjol, sebuah negeri kecil dengan benteng dari tanah liat. Setelah tiga tahun dikepung, barulah Bonjol dapat dikuasai, yaitu pada tanggal 16 Agustus 1837.
Akhirnya Tuanku Imam Bonjol terjebak oleh pengkhianatan Belanda dengan berselubung perundingan. Ia dapat ditangkap dan diasingkan ke Cianjur. Takut akan pengaruh pemimpin Paderi itu di Jawa Barat, ia pun dipindahkan ke Ambon dan kemudian ke Manado. Di sana Tuanku Imam Bonjol wafat tanggal 6 Nopember 1864 dalam usia 92 tahun

Berdasarkan Surat Keputusan Presiden No 087/TK/Tahun 1973, tgl 6 November 1973, Tuanku Imam Bonjol ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

Bagi masyarakat Minahasa Tuangku Imam bonjol mempunyai arti sendiri, di sebelah adalah makam Tuanku Imam Bonjol di Minahasa.

Tuanku Imam Bonjol bukanlah seorang Minahasa, tetapi dia meninggal di Minahasa di dekat Pineleng pada tanggal 6 Nopember 1864.  Dia berasal dari Sumatra Barat.  "Tuanku Imam Bonjol" adalah sebuah gelar yang diberikan kepada guru-guru agama di Sumatra.  Nama asli Imam Bonjol adalah Peto Syarif Ibnu Pandito Bayanuddin.  Dia adalah pemimpin yang paling terkenal dalam gerakan Padri di Sumatra, yang pada mulanya menentang perjudian, adu ayam, penggunaan opium, minuman keras, tembakau, dll., tetapi kemudian mengadakan perlawanan terhadap penjajahan Belanda, yang mengakibatkan perang Padri (1821-1838).  Pada tahun 1837, desa Imam Bonjol berhasil diambil alih oleh Belanda, dan Imam Bonjol akhirnya menyerah.  Dia kemudian diasingkan di beberapa tempat, dan pada akhirnya dibawa ke Minahasa.  Dia diakui sebagai pahlawan nasional.
Sebuah bangunan berciri khas Sumatra melindungi makam Imam Bonjol.  Sebuah relief menggambarkan Imam Bonjol dalam perang Padri menghiasi salah satu dinding.  Di samping bangunan ini adalah rumah asli tempat Imam Bonjol tinggal selama pengasingannya.

Sumber www.minahasa.net

Trackback(0)
Comments (2)add comment

Lizen said:

Untukai Tukang tulih. Paralu dibaco Buku Palakat Panjang supayo ada pembanding managanai sejarah Imam Bonjol
 
report abuse
vote down
vote up
August 18, 2005
Votes: +0

SUTAN CANIAGO said:

yang jaleh, ambo pernah mambuek pilem ampek lakon perang padri samo pak wisran di TVRI, lagi pulo sejarah kebanyakan ditulih oleh urang nan manang. Labiah rancak baco buku lain juo, selain plakat panjang ado buko di leiden bulando, tapi ambo lupo judulnyo...
 
report abuse
vote down
vote up
September 05, 2007
Votes: +0

Write comment
You must be logged in to a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy
Last Updated ( Wednesday, 29 September 2004 )
 
< Prev   Next >
Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Donasi Terakhir

Donasi untuk Cimbuak
Dari Jumlah
 Harmailis Rp.   200.007,--
 Ajo Duta / Mak Uncu Rp.   1.000.000,--
Inyiak Jangkuang Rp.   56.789,--
Dave, Melbourne Rp. 300.000,--
Balance Sementara
Rp. 1.116.796,--
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 7 guests and 15 members online
Powered By PageCache
Generated in 0.73094 Seconds