Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Nan kuriak iyolah kundi
Nan merah iyolah sago
Nan baiak iyolah budi
Nan indah iyolah baso
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Di Padang Tidak Ada Restoran Padang PDF Print E-mail
Written by Bondan Winarno   
Thursday, 30 September 2004
Sampai penat kaki menyelusuri jalan jalandi kota Padang. Anda tidak akan pernah menemui rumah makan Padang," begitu kata Rinaldi Munir, urang awak yang kini tinggal di Bandung. Ah, itu tidak mengherankan. Orang-orang keturunan India di Medan tidak mau menyebut Kampung India, melainkan Kampung Sendiri. Di Ambon juga kita justru tidak bisa mendapatkan pisang Ambon. Yang ada di Ambon adalah pisang meja.
Tentu saja, di Padang orang tidak perlu lagi memakai label Padang

Di Padang Tak Ada Restoran Padang
Oleh Bondan Winarno (Pemimpin redaksi harian suara pembaharuan)
www.kompas.co.id 16 juli 2003



Sampai penat kaki menyelusuri jalan jalandi kota Padang. Anda tidak akan pernah menemui rumah makan Padang," begitu kata Rinaldi Munir, urang awak yang kini tinggal di Bandung. Ah, itu tidak mengherankan. Orang-orang keturunan India di Medan tidak mau menyebut Kampung India, melainkan Kampung Sendiri. Di Ambon juga kita justru tidak bisa mendapatkan pisang Ambon. Yang ada di Ambon adalah pisang meja.
Tentu saja, di Padang orang tidak perlu lagi memakai label Padang. Semua juga sudah tahu! Berikut ini adalah tulisan Rinaldi Munir untuk penggemar "Jalansutra".
Selain kaya dengan objek rekreasi, Kota Padang juga surga bagi penikmat makanan berlemak. Hampir di setiap sudut kota mudah ditemui rumah makan. Hidangannya khas, yaitu masakan bersantan kental dan pedas. Di mana pun kita makan di Padang - mulai dari lepau di kaki lima sampai yang berkelas restoran - pasti akan ketemu makanan enak. Semua masakan di Padang hampir seragam dalam soal kelezatannya.
Bagi orang Minang, masakan Padang di Jawa akan terasa hambar. Soalnya, bumbunya sudah disesuaikan dengan selera masyarakat di sekitar rumah makan itu berada. Rumah makan Padang di Yogyakarta punya citarasa yang berbeda dengan rumah makan Padang di Surabaya dan Jakarta. Kadang-kadang santannya kurang kental, atau kepedasannya kurang menyengat.
Banyak rumah makan terkenal di Padang, antara lain RM Goyang Lidah dan Hidangan Sederhana di Pasar Raya Timur, dekat Bioskop Raya. Ada pula RM Semalam Suntuk di Jalan Rohana Kudus, RM sabana Nasi Kapau di Jalan Permindo, RM Selamat di sebelah Bioskop Mulia. (Catatan BW: William Wongso, seorang restaurateur dan sommelier, menganggap RM Pagi-Sore yang paling top di Padang. Sedangkan Rinaldi Munir lebih menyukai RM Selamat).
Pada saat jam makan siang, RM Selamat ini selalu penuh sesak. Selain dimakan di tempat, banyak pula yang memesan nasi bungkus untuk dibawa pulang. Pelayannya hilir-mudik membawa piring ditumpuk dengan satu tangan. Gesit sekali! Hampir tidak pernah terdengar ada "kecelakaan" piring terjatuh.
Masakan yang populer di situ adalah dendeng batokok, yaitu dendeng yang dipukul-pukul dengan palu sebelum dibakar, dengan sambal cabe hijau. Hidangan populer lainnya adalah gulai banak (otak), gulai tunjang (kikil), gulai cancang (daging cincang). Jangan lupa rendang, ikan bakar, gulai ayam, yang semuanya membangkitkan nafsu makan. Ada pula sambal goreng petai. Petainya dipotong-potong lengkap dengan kulit buahnya (papannya) dan digoreng kering dengan teri.
Makan di RM Selamat ini dijamin berkeringat. Selain karena masakannya pedas nian, ruangannya juga sempit dan penuh sesak. Ditambah lagi udara Kota Padang yang gerah. Belum sempurna makan di rumah makan Padang bila belum berkeringat.
Orang Minang suka makan ditemani teh kosong, yaitu teh tawar dengan es batu. Tetapi, ada pula minuman khas Padang, yaitu teh talua atau teh telur. Telur mentah dikocok hingga mengembang di gelas, kemudian ditambah teh panas dan gula pasir. Rasanya sedikit anyir dan berbau amis. Tetapi, minuman ini lezat nian!
Jika malam hari, cobalah martabak Mesir. Ini semacam martabak telur, tetapi dimakan dengan kecap encer yang dicampur cuka, bawang Bombay, irisan tomat, dan cabe rawit. Martabak Mesir yang terkenal dapat dijumpai di Jalan Muhammad Yamin. Mereknya Martabak Kubang, karena pemilik dan pekerjanya berasal dari Kampung Kubang, sebuah nagari yang terletak di Kabupaten 50 Kota, Sumatra Barat. Tempat ini selalu penuh sesak setiap malam, khususnya malam Minggu. Selain martabak Mesir, rumah makan ini juga menghidangkan roti canai.
Hanya berjalan kaki sekitar dua ratus meter dari Martabak Kubang, kita akan tiba di kawasan Pantai Padang. Di pinggir pantai ada bulevar. Sambil duduk-duduk di tepi pantai, atau berjalan-jalan di tepi bulevar, kita bisa makan kacang garing yang banyak dijual di sana. Orang Minang juga suka makan talua katuang (telur penyu) rebus sebagai snack. Entah mengapa, belum ada tindakan dari pemerintah untuk menghentikan kebiasaan yang dapat mempercepat kepunahan spesies penyu. Pada siang hari, di sepanjang pantai ini banyak penjual rujak. Rujaknya diulek dalam cobek besar. Banyak juga yang berjualan udang goreng merah, hasil tangkapan nelayan.
Pada pagi hari, makanan yang laris di Padang adalah katupek gulai paku (ketupat dengan sayur pakis). Pakis yang dijadikan gulai ini diambil dari hutan, bukan pakis yang dibudidayakan. Ketupat sayur pakis yang terkenal di Padang bisa dijumpai di Pasar Simpang Haru. Kiosnya kecil, tetapi selalu ramai. Selain ketupat sayur pakis, kios ini juga menjual bubur kampiun (semacam bubur sumsum), dan kacang padi alias bubur kacang hijau. (Catatan BW: orang Minang juga suka sarapan ketan yang ditaburi parutan kelapa dengan "lauk" pisang goreng atau talas goreng. Bila ditemani kopi kental, kombinasi ini memang sangat cocok. Sedang Sate Padang rupanya lebih merupakan makanan selingan atau kudapan porsi setengah besar).

Trackback(0)
Comments (2)add comment

makgiper said:

koreksi sedikit bubur kampiun itu bukan bubur sum sum,tapi bubur juara Champion smilies/smiley.gif
rasanya manis ,kelapa+sirop+ketan+candel+cendol dll...
kampiun=champion
 
report abuse
vote down
vote up
April 13, 2005
Votes: +0

lizen said:

Pak Bondan, sekarang sudah ada nama rumah makan padang di Padang (Minangkabau), kadang-kadang memang lucu. Orang minang sekarang sudah mulai tidak percaya lagi terhadap kekhasan masakannya. Sudah ada rumah makan padang di padang cabang dari ........, sama seperti rumah makan Sunda di Bandung cabang dari anu. Ya itulah sekarang. Apa sudah mulai kalah bersaing karena mutu produk sudah menurun atau ditiru orang lain, atau sudah tidak menerapkan perilaku konsumen. ini ditemukan waktu mudik lebaran 2005.
 
report abuse
vote down
vote up
January 20, 2006
Votes: +0

Write comment
You must be logged in to a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy
 
< Prev   Next >
Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Donasi Terakhir

Donasi untuk Cimbuak
Dari Jumlah
 Harmailis Rp.   200.007,--
 Ajo Duta / Mak Uncu Rp.   1.000.000,--
Inyiak Jangkuang Rp.   56.789,--
Dave, Melbourne Rp. 300.000,--
Balance Sementara
Rp. 1.116.796,--
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 2 guests and 7 members online
Generated in 0.89825 Seconds