|
Selain pilihan2 kemarin, bung Al bisa jadi Investor aktip. Menganalisa saham sendiri. Bisa pula jadi pengamat politik, ekonomi, hukum, dll. Jadi Arkitek system, sistim akuntansi, sistem rumah sakit, sistim lalu-lintas dan banyak lage. Jadi anggauta CSIS, CMI dan segala macam institusi think tank.
Managerialship[14f] Multithingking & Multitasking Oleh S. Brotosumarto Diposting pada mailing list UGM (Disadur oleh : Dewis Natra)
Selain pilihan2 kemarin, bung Al bisa jadi Investor aktip. Menganalisa saham sendiri. Bisa pula jadi pengamat politik, ekonomi, hukum, dll. Jadi Arkitek system, sistim akuntansi, sistem rumah sakit, sistim lalu-lintas dan banyak lage. Jadi anggauta CSIS, CMI dan segala macam institusi think tank. Profesi2 ini sebatas analisa, mengamati, dan tak terbebani eksekusi. Titian M hanya satu pilihan. Titian M sudah pas untuk mereka yang punya naluri follow thru, doing, executing, dengan well done, dengan tuntas tas tas tas. Karyawan mogog tak bisa diselesaikan dengan think doang. Proyek terlambat tak akan beres dengan direnungi doang. Tidak semua tindakan bisa didelegasikan, diwakilkan, atau disubkontrakkan. Harus dilakukan ybs themselves. Banyak tindak2 lanjut yang lebih efektip jika dilaksanakan ybs. Katrin mengalami kesulitan karena ia hanya bagus di perencanaan dari matarantai M perencanaan-pengarahan-pelaksanaan-pengendalian. Akibatnya tidak tuntas, tidak well done dan ia harus bolak balik memperbaiki. Padahal pekerjaan2 baru antre bertandangan. Akibatnya makin menumpuk dan ia membutuhkan waktu lebih banyak. Ambrol. Kasus Katrin tak ada sangkut pautnya dengan uang. Kok uang yang di-salah2kan ? Dalam pengamatan saya eksekutip2 yang baik tidak mengalami seperti Katrin. Mereka bekerja teratur dan punya waktu untuk R3, keluarga, hobi, dll. Karena mereka cekatan, desisif, dan well done. Tidak menunda2, tidak dalam kebimbangan, sehingga tekanan waktu dapat teratasi. Ketika sampai dipuncak seorang Eksekutif bisa sering melakukan tindakan2 multitasking. Beberapa pelaksanaan harus dilakukan simultan, serempak, dalam satu tepukan. Ia me-loncat2 dari ngurusi pinalti pajak, nego dengan bank, menegur QC Manager, mewawancara staff baru, dll. Bisa ia sedang telpon dengan supllier, sembari memberi arahan staffnya, dan orang2 hilir mudik jedal jedul minta tanda tangan ini itu. Sementara dimejanya tergelar laporan akuntan yang diliriknya sekali2. Aktivitas multi tasking ini dibarengi dengan multithinking, memikirkan multidisiplin masalah. Sikap2 follow thru, kemampuan multi tasking & multithinking bisa nature atau alamiah, bisa nurtured atau terlatih, bisa pula kombinasi nature & nurture. Bagi saya, sikap follow thru adalah bawaan. Saya terbiasa menindak lanjuti apapun yang berkecamuk dipikiran termasuk intuisi. Saya otomatis meresponse follow-thru2, deadline, dll. Jika ada yang tak beres saya pasti berekasi lintang pukang jumpalitan mengatasi. Tanpa disuruh, tanpa ada rasa keterpaksaan. Saya melakukannya dengan alamiah, efortlessly, dan tak ada kesulitan. Saya senantiasa terdorong untuk well done walau tak selalu bisa. Saya tidak suka kalau ada yang terbengkalai. Jika itu terjadi saya jadi 'bawel' dan itu otomatis memaksa jajaran bawahan saya untuk go, .... go, .... go, .... cepet beresin. Daripada dibawelin atasannya mereka lebih suka membereskan. Bung Nukman adalah sosok dengan sikap follow thru. Ini kelihatan ketika beliau mempertanyakan 'purna jual' dari konsep 'bisnis cepat' bung Iwan. Purna jual adalah sebentuk follow thru. Ia tak hanya menjual terus 'end', titik. Ia masih membuntuti, folow thru. Bung Nukman adalah sosok yang komplit. Ia bisa do-think-bet. Tidak ada jaminan bahwa ia akan sukses tetapi ia sudah tergolong 'bermodal kuat'. Bung Kudo adalah bibit dengan follow thru yang potensial kuat. Ini tersirat dari kata2nya. ... mungkin karena sudah kebanyakan nge-cek gambar dan troubleshooting di lapangan, ... yah karena tiap hari kebanyakan nemuinnya angka/gambar ... Bung Kudo pada awal karirnya mulai menyadari pentingnya think, bukan doing thok, sehingga ia bakal lebih smart. Saya jadi terperangah dan tersadar apa yang telah saya lakukan selama ini? Dan akan menuju kemana? Hanya rutinitas belaka? Bung Kudo sudah mampu menyadari bahwa ia harus pakai strategi, pakai think in doing things dan doing all thougt. Berpikir dalam bertindak dan menindak lanjuti buah pikir.
Trackback(0)
|