Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Bursa Jual Beli
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Makmur Hendrik
Episode Terbaru :
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Pituah

Bajalan ba nan tuo
Balatia ba nakhodo
Bakato ba nan pandai
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Palanta
This is not a Login form

Name:

Message:

Advertisement
Pakaian Marapulai Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Ditulis oleh Bahri Rangkayo Mulia   
Senin, 16 Agustus 2004
Yang disebut marapulai adalah seorang laki-laki yang sedang berada dalam upacara adat (diparalekkan) karena memasuki status kedewasaan, yaitu "sumando" ke rumah orang.

Pakaian marapulai biasanya adalah "pakaian kebesaran adat" yang dilazimkan bagi penghulu dalam Luhak nan tigo di Minangkabau.
Adapun pakaian Ninik mamak tersebut pada pokoknya enam macam, walaupun tidak persis sama dengan masing-masing Luhak.

1. DETA (Destar tutup kepala)
Destar menurut bentuk ikatannya terdiri atas tiga bentuk, yaitu :
    "Tabu satuntuang"
    "Gajah manyasok"
    "Deta baikek"
Sedangkan menurut warnanya ada empat : 
    "Deta hitam bakatak" 
    "Deta ungu bapalangai"
    "Deta putiah kuniang"
    "Deta hijau baungu"
Deta baikek melalui masa dan waktu mengalami proses dalam bentuk SALUAK" yang lazim dikenal saat ini.

2. BAJU
    "Baju gadang basiba,
      siba batanti kiri kanan"

3. sarawa (celana).
Celana kebesaran ini ada dua macam, yaitu :
    "Sarawa guntiang ampek"
    "Sarawa panding Aceh"

4. SERONG (Sisamping)
dalam adat disebutkan :
    "Baserong kain bibia sirah,
     satampok laweh tapinyo,
     suto balako kasamonyo"

5. KARIH (Keris)
sebagai senjata kesaktian penghulu :
    "Dipasisik karih sabila,
     baju tasangkuik digimbanyo"

6. TUNGKEK (Tongkat)
sebagai pegangan penghulu :
    "Diganggam tungkek sabatang"

Arti Pakaian Marapulai
Dari berbagai macam perlengkapan pakaian kebesaran adat yang harus dipakai oleh seoang marapulai pada waktu dia dijemput sebagai urang sumando, berdasarkan kenyataan yang ada didalam masyarakat tidaklah seluruhnya pakaian tersebut digunakan.
Berbagai ragam pakaian marapulai yang dibiasakan pada masing-masing nagari dalam Luhak nan tigo, antara lain ada yang memakai baju gadang basiba dengan sarawa guntiang ampek atau sarawa panding Aceh, bahkan ada pula yang memakai pakaian ala Tuanku Lareh, yaitu stelan jas dan pantalon hitam bertahtakan benang emas dengan pisang sasikek pada bahu kiri kanan.
Namun, apapun macam pakaian yang dipakai menurut kebiasaan  tiap-tiap nagari,
      "tanamo urang tigo luhak,
       buliah mamakai kasamonyo, 
       ragam pakaian nan ba'itu,
       mano baju katuju pado mato, 
       buliah ditiru dituladan,
       buliah dipakai kasamonyo,
       asa lai tibo dibarihnyo,
       indaklah itu dilarangkan; 
       sabab urang nan tigo luhak,
       badunsanak kasamonyo,
       mano katuju pado hati,
       buliah dibuek dilakukan, 
       asa lai tumbuah ditanahnyo"

"Saluak, kain sisamping, keris dan tongkat", adalah merupakan unsur pokok  dalam  pakaian kebesaran adat. Keempat macam perlengkapan termaksud adalah merupakan pakaian kebesaran pemimpin masyarakat adat di Minangkabau. Perlengkapan kebesaran itu dipakaiankan kepada seorang marapulai adalah dengan maskud :

1. Bahwa mulai hari itu dia dengan resmi memasuki status orang dewasa, dengan menyandang gelar pusako yang diperturun-penaikan selama ini didalam suku, payung dan kaumnya.

2. Dengan Menyandang gelar pusaka dan memakai pakaian kebesaran pemimpin masyarakat adat tersebut, maka mulai hari itu pula dia memikul tanggung jawab sebagai pemimpin dalam menjalani liku-liku hidupnya. Pemimpin, dimaksudkan adalah baik senagai langkah pertama dalam persiapan untuk menjadi seorang pemimpin  adat dalam payung sukunya maupun dalam fungsinya sebagai pemimpin rumah tangga dengan isteri dan anak-anak yang diturunkannya.

3. Dalam pelaksanaan kepemimpinanya itu, dia harus menghayati falsafah yang terkandung dalam pakaian kebesaran yang dipakainya  dan melaksanakan dengan baik semua hak dan kewajiban serta tugas dan tanggung jawab sesuai dengan ajaran adat yang tersimpul  dalam setiap macam pakaian tersebut.

4. Dengan menyandang gelar pusaka, marapulai tersebut harus menyadari bahwa dia adalah merupakan "Seorang duta" dari suku dan kaumnya. Dia harus menyadari bahwa seorang duta kaum familinya akan selalu menjujung tinggi martabat suku dan kaumnya selama dia berfungsi sebagai  urang sumando didalam rumah kepunyaan suku dan kaum isterinya dan didalam kawasan Ninik Mamak didalam korong kampung dan nagari. Hal itu dilambangkan dengan pemakaian saluak diatas kepalanya.

5. Bahwa marapulai dijemput orang jadi urang sumando, hendaklah disadarinya perihal urang sumando tersebut, ialah sumando ke korong kampung, kawin dengan Ninik Mamak, nikah nyata dengan perempuan. Hal itu bisa terjadi karena sekata dulu Ninik Mamaknya, sepakat ibu serta bapaknya. Maka oleh karena itu, hendaklah  diketahuinya condong yang akan menimpa, ranting yang akan menyangkut ataupun pantangan dan larangan. Dengan tujuan agar tercapai maksud tersebut diatas, dipakaikanlah pakaian kebesaran yang bernama "kain sisamping" itu kepadanya.

Note : dari Adat Marapulai karangan : Bahri Rangkayo Mulia, Buletin Sungai Puar No. 24 Maret 1988. 

Disadur oleh    : Erwin Moechtar

Komentar
1. Foto pakaian marapulai
Ditulis oleh anno pada Sabtu, 11 Juni 2005
Assalamualaikum, 
 
Baa kok indak disaratokan jo foto-fotonyo. 
 
Wassalam
2. malam bai "inai"
Ditulis oleh fendychaniago pada Rabu, 24 Mei 2006
ka sia ambo minta tolong carikan atau informasikan tata cara atau acara apo apo sajo nan dilakukan pada malam ba inai, tarimo kasih
3. mencari bentuk pelaminan khas minang
Ditulis oleh Tamu pada Kamis, 29 Juni 2006
dear. 
 
kepada teman atau web.. yang mempunyai bentuk pelamianan serta baju anak dara, serta marapulai minang baik yang di Gedung atau Rumah kami minta tolong dikirimkan ke Email kami ( Alamat e-mail ini telah diblok oleh spam bots, Anda membutuhkan Javascript untuk melihatnya )  
atas perhatanya kami ucapkan terimakasih  
 
Hormat kami  
Djaya Baya Furniture & wedding Organizer 
4. tata krama Perhelatan Mianang
Ditulis oleh jaya pada Rabu, 12 Juli 2006
dunsana kasadony, senandainaya ado Urang Mianang nan tau tanatang baralek gadang sarato jo caronyo tolong kami untuk dijalehkan dari Luhak agam ( bukittinggi )  
 
dan bagaimana sabetulnya bentuk pakaian adat sabana adat maianang kabau serta Pelaminanan minang yang sebetulnya dan harus di lestarikan , karena banyak sekalai pembaharuan tahta rajodirajo dari urang kini . 
:upset

Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar.
Silahkan login atau daftar.

Powered by AkoComment 2.0!

Terakhir kali diperbaharui ( Sabtu, 28 Agustus 2004 )
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
Member Area
Radio Online MinangSaat ini Radio Cimbuak
sedang Offline
Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Donasi Terakhir

Donasi untuk Cimbuak
Dari Jumlah
 Harmailis Rp.   200.007,--
 Ajo Duta / Mak Uncu Rp.   1.000.000,--
Inyiak Jangkuang Rp.   56.789,--
Dave, Melbourne Rp. 300.000,--
Balance Sementara
Rp. 1.116.796,--
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Situs Terbaik
Member
 Cimbuak.net | Minangkabau Community Portal Groups Online
 Anggota ( 7 ) Anggota 7
 Tamu ( 1 ) Tamu 1
  Total  8
 Angoota ( 7,161 ) Angoota  7,161


Statistik
Agg Baru  antoni_056
Hari Ini 15
Minggu Ini 97
Bulan Ini 412
Tahun ini 3,040
Online Sekarang
Online Sekarang
Saat ini ada 1 pengunjung dan 7 anggota yang online
User Terbaru

antoni_056

Terdaftar pada
2008-07-04 14:28:59

Pengunjung: 3466064