Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Gunuang biaso timbunan kabuik
Lurah biaso timbunan aia
Lakuak biaso timbunan sampah
Lauik biaso timbunan ombak
Nan hitam tahan tapo
Nan putiah tahan sasah
Disasah bahabih asa
Dikikih bahabih basi
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Parameter Keberhasilan Itikaf PDF Print E-mail
Written by Hikmatulloh   
Friday, 05 November 2004
Sepuluh hari sebelum satu syawal, umat Islam mulai berlomba-lomba untuk mendapatkan apa yang disebut dengan Lailatul Qadar. Dimana diterangkan Allah swt. dalam sebuah suratnya yaitu dalan Al-Qur`an surat Al-Qadar yang berjumlah lima ayat. Keterangannya mengenai turunnya Al-Qur`an pada Lailatul Qadar (Malam Kemuliaan),

dimana lebih baik dari seribu bulan, maka turunlah malaikat Jibril untuk mengatur segala urusannya di dunia. Pada malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar. Tafsir ayat-ayat pada surat Al-Qadar ini sangat beragam sekali, ada mufasir - ahli tafsir - yang menafsirkan bahwa Lailatul Qadar hanya berlaku pada zaman Nabi Muhammad saw, dan tidak akan muncul lagi karena Al-Qur`an sudah tidak diturunkan lagi. Ada juga yang menafsirkan bahw Lailatul Qadar masih tetap ada dan akan berulang setiap tahun, terjadi pada sepuluh hari sebelum Iedul Fitri lebih tepatnya pada hari-hari berbilangan ganjil, 21, 23, 25 . . . dst.
 
Pun, Lailatul Qadar diartikan, akan datang kesejahteraan sampai terbit fajar. Karena hal inilah banyak orang yang berlomba-lomba untuk mendapatkan malam kemuliaan ini. Bahkan sebagian orang percaya bahwa bila mendapatkan Lailatul Qadar maka air-air akan membeku, angin bertiup dengan spoi-spoi, seluruh tumbuhan berdzikir kepada Allah, dengan bergoyang-goyang bahkan mirip bersujud kepada Allah.
 
Pada umumnya kebanyakan dari orang muslim berkeyakinan, barang siapa yang berhasil mendapatkan Lailatul Qadar ini, maka amalannya telah lebih baik dari pada seribu bulan, dan sudah dipastikan masuk surga, sehingga tidak perlu merisaukan amalannya lagi. Tidak perlu memikirkan amalannya lagi karena dengan mendapatkannya malam kemuliaan, maka kewajiban kita terpenuhi, toh sudah lebih baik dari seribu bulan. Penuhlah masjid-masjid ketika itu, terutama pada malam hari, banyak orang sengaja pergi ke mesjid. Ada yang membaca Al-Qur`an, ada yang shalat lail (tahajud) ada yang ngobrol, bahkan paling banyak adalah orang yang hanya pindah tidur, yang penting mereka bisa berada di dalam mesjid pada malam yang disebut Lailatul Qadar.
 
Maka di Indonesia, sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam tidak ketinggalan dalam beritikaf di mesjid-mesjid pada sepuluh hari terakhir tersebut. Mulai dari langgar - masjid kecil - sampai masjid jami, diisi oleh orang-orang yang beritikaf. Banyak mesjid yang menyediakan makan sahur sekaligus untuk berbuka, tetapi kebanyakan tidak menyediakan makan, hanya sekedarnya untuk berbuka saja. Namun hal ini tidak dipermasalahkan karena orang datang biasanya setelah isya dan pulang ke rumah sebelum subuh atau ba'da shalat subuh. Mufasir kontemporer menafsirkan Khoirun Min Alfi Sahrin yang artinya lebih baik dari seribu bulan, bukan berarti orang yang mendapat malam kemuliaan akan mendapatkan pahala yang lebih baik dari pada seribu bulan beribadah.
 
Mereka menafsirkan bahwa orang yang mendapat malam kemuliaan akan beramal lebih baik dibandingkan hari-hari sebelumnya, dan amalnya tidak menurun sampai akhir hayatnya. Dalam berakhlak, akan lebih baik akhlaknya, dalam berinfak lebih banyak dan lebih ikhlas dalam memberikannya, dalam beramal shaleh lebih banyak dan kontinyu. Sabda nabi: "barangsiapa yang hari ini lebih baik dari pada hari kemarin, maka beruntunglah ia, barang siapa yang hari ini sama saja dengan hari kemarin, maka rugilah ia". Rupanya hadits ini menjadi pegangan dalam penilaian kita. Tafsir ini memberikan parameter, bahwa perbuatan kitalah yang memberi tahu apakah itikaf kita berhasil atau gagal. Apabila setelah lebaran - Iedul Fitri - amal perbuatan kita bertambah baik, maka berhasilah itikaf kita, dan insya Allah akan terus berusaha memperbaiki dirinya dari mulai segi ibadah, akhlak, serta dalam berikhtiar mencari rahmat Allah swt dimuka bumi ini.
 
Akan tertapi, apabila amal perbuatan kita tetap saja stagnan - dalam keadaan semula - apalagi malah bertambah "jelek " maka, janganlah berharap malam Lailatul Qadar itu kita dapatkan Apabila semua warga Indonesia yang beragama Islam ataupun satu per sepuluhnya berhasil dalam itikaf, maka kemungkinan besar Negara Kesatuan Republik Indonesia akan terlepas dari multi krisis yang kita alami sekarang ini. Para pejabat akan semakin giat dalam bekerja dengan niat hanya karena Allah. Para pengusaha akan semakin banyak dalam mengeluarkan zakatnya, sehingga kaum duafa akan terbantu dalam masalah ekonominya dan akan semakin giat mencari rahmat illahi. Maka kepada yang beritikaf apabila mempunyai cita-cita mencapai kemuliaan itu, maka kita sendirilah yang dapat menilai hasil itikafnya. Apakah kita sudah siap untuk melaksanakan konsekuensinya atau hanya tetap sebagaimana hari-hari sebelumnya?.
 
*Hikmatulloh, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Program Pendidikan Ulama Tarjih (PPUT), FAI-Tarbiyah, Malang

Sumber : www.alhikmah.com

Trackback(0)
Comments (0)add comment

Write comment
You must be logged in to a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy
 
< Prev   Next >
Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Donasi Terakhir

Donasi untuk Cimbuak
Dari Jumlah
 Harmailis Rp.   200.007,--
 Ajo Duta / Mak Uncu Rp.   1.000.000,--
Inyiak Jangkuang Rp.   56.789,--
Dave, Melbourne Rp. 300.000,--
Balance Sementara
Rp. 1.116.796,--
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 13 guests and 7 members online
Powered By PageCache
Generated in 0.65767 Seconds