Falsafah Adat Merupakan Ilmu Falsafah adat merupakan ilmu yang tidak bisa diterima begitu saja, karena harus dipelajari memahaminya sehingga dapat bermanfaat dalam kehidupan.
Dalam pepatah dan petitih adat yang tertuang kata tidak hanya cukup diartikan yang tersurat, tetapi harus dicari juga yang tersirat dalam setiap kata pepatah tersebut, misalnya: Gajah mati meninggalkan gading Harimau mati meninggalkan belang Manusia mati meninggalkan nama Dalam pepatah ini hanya dapat disimpulkan arti nyata saja yakni perbandingan kematian ketiga jenis makhluk Tuhan ini meninggalkan yang nyata yaitu gading, belang dan nama tentu nama baik. Pepatah ini juga baru sanggup menuntut manusia dalam bentuk cita-cita supaya kelak meninggalkan nama baik setelah tiada. Lawan dari pepatah diatas adalah : Keatas tidak berpucuk Kebawah tidak berurat Ditengah tengah dilobangi kumbang Ini pepatah sumpah di Minangkabau yang jelas pada waktu mulai dilontarkan oleh nenek moyang orang Minangkabau belum sanggup menyatakan sumpah agar dilaknati oleh Tuhan dan di azab. Karena itu menurut Prof. Mr. Nasroen dalam bukunya Minangkabau dan Negeri Sembilan pada bab dasar falsafah Minangkabau, ada 3 rahmat yang diberikan Tuhan kepada nenek moyang Minangkabau yaitu Pikiran, Rasa dan Keyakinan. Faktor 1 dan 2 ada dalam diri manusia sendiri dan faktor 3 ada dalam agama yang diyakini. Bagi orang Minangkabau yang hendak merantau tidak dilepas begitu saja oleh sang ibu dan ninik mamaknya, tapi diberi bekal moril dan materil, dengan moril dia bisa hidup menyesuaikan diri ditempat yang baru dan dengan bekal materil dia akan bisa berusaha menurut ukuran kemampuannya. Pepatah yang mengandung moril bagi anak yang mau merantau adalah : Dimana berdiri, Disitu bumi dipijak Disitu langit dijunjung Masuk kandang kambing mengembek Masuk kandang kerbau melenguh Begitu banyaknya pepatah Minangkabau baik cara bermasyarakat, menuntut ilmu, berekonomi, berpolitik dan menjaga keamanan . Pepatah Bermasyarakat Hilang sama rugi Mendapat sama berlaba Ringan sama dijinjing Berat sama dipikul
Pulau pandan jauh ditengah Dibalik pulau siangsa dua Hancur badan dikandung tanah Budi baik terkenang jua
Pisang emas dibawa berlayar Masak sebuah dalam peti Hutang emas dapat dibayar Hutang budi dibawa mati
nan merah ialah sago Nan kurik ialah kendi Nan indah ialah baso Nan baik ialah budi
Pepatah Menuntu Ilmu Berburu kepadang datar Dapat rusa belang kaki Berguru kepalang ajar Bagai bunga kembang tak jadi
Tampaknya dalam menuntut ilmu ini terasa masih kurang pepatah yang dimungkinkan belum berkesempatannya orang Minangkabau menuntut ilmu dan baru ada setelah hadist nabi "Tuntutlah ilmu itu mulai dari ayunan sampai keliang kubur, carilah ilmu itu walaupun ditanah Cina". Disini jelas kemauan menuntut ilmu sudah mulai maju dan lebih moderat. Karena tanah Cina dikenal terdapat kebudayaan kuno bahkan Islam terlebih dahulu masuk ke negeri ini.
Perekonomian Menurut Adat. Pepatah yang memanfaatkan perekonomian sangat banyak sekali bahkan lebih menonjol sekali cara berekonomi dan kegotong royongan yang akhirnya menjadi milik nasional. Sebagai contoh pepatah : Kebukit sama mendaki Kelurah sama menurun Hak nan bersama Harta yang bermilik Di Minangkabau terdapat dua jenis harta yakni pusaka tinggi dan pusaka rendah atau disebut juga tembilang besi dan tembilang perak yang pengaturannya diatur pengaturannya diatur pemimpin kaum (penghulu atau Ninik Mamak), harta pencarian oleh ayah. Dalam mencari nafkah apakah sebagai pedagang, pekerja, petani dan lainnya terdapat pula tuntunan yang di pepatahkan nenek moyang orang Minangkabau: Kayu pulai di koto alam Batangnya bersendi sendi Jika kita pandai dalam alam Patah tumbuh hilang berganti Bahkan petuah juga diberikan bagi yang merantau mencari kebutuhan perut yang tidak terisi, punggung yang tidak tertutup dengan pepatah : Kalau jadi anak ke pekan Ikan beli belanak beli lebih dulu Kalau jadi anak merantau Induk semang cari dahulu Artinya jika jadi seorang muda pergi merantau, harus cari pemimpin yang bisa mengajarkan berekonomi yang baik.
Cara Berpolitik dan Menjaga Keamanan Orang Minangkabau adalah ahli-ahli politik karena mendapat pepatah dari nenek moyangnya dengan tujuan tercapainya kebahagiaan bersama melalui musyawarah dan mufakat. Di alam Minangkabau meskipun banyak kerajaan-kerajaan, tetapi penuh dengan pepatah-pepatah dan pemimpin harus berbuat adil : Raja adil raja disembah Raja tidak adil raja disanggah Sedangkan dalam mencapai tujuan ada juga pepatahnya Ibarat mengambil rambut dalam tepung Tepung tidak terserak Rambut tidak putus Jadi jelaslah hampir seluruh sektor kehidupan dilengkapi dengan pepatah petitih yang bila kita gali kembali, maka kita yakin orang Minangkabau akan lebih unggul dari seluruh kehidupan didaerah lainnya. Dasar falsafah hidup orang Minangkabau memang luas meliputi :
a. Susunan masyarakat b. Perjalanan masyarakat c. Perekonomian Keduniaan dan keakhiratan agar sempurna diatur dalam suatu sistem pergaulan hidup yang tujuannya untuk menjadi kebahagian dunia akhirat, hal yang penting yang berhubungan dengan dunia ialah : a. Seorang pribadi b. Pergaulan hidup c. Perekonomian.
Perekonomian Minangkabau yang Bersifat Islami Bila kita telusuri sejarah kehidupan orang Minangkabau mulai dari sebelum masuk Islam, maka dapat kita simpulkan telah punya dasar-dasar yang kuat. Karena itu Islam dapat memperkuat dan penyempurna. Kita bersyukur pada Tuhan, bahwa suatu bagian penduduk bumi yang mempersiapkan diri sebelumnya menantikan ajaran Nya. Akhirnya baku menjadi "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah" (ABS SBK) yang kini dipegang teguh oleh setiap orang yang mengaku dirinya sebagai orang Minangkabau. Menurut penulis penamaan alam Minangkabau bagi daerah yang sangat cocok biar bagaimana masuknya pengaruh luar, namun masyarakatnya harus tetap berpegang pada pepatah alam terkembang jadi guru. Disini ada perubahan pandangan maju karena adanya pengkajian terputus-putus untuk mempelajari alam, apalagi terkait dengan ilmu Allah, maka manusia Minangkabau tidak akan sombong dan takabur terhadap pencipta alam berikut isinya. Sekalipun orang Minangkabau pernah sebagai pemeluk Hindu dan Budha bahkan sebelumnya animisme, tetapi setelah Islam masuk maka ajaran Hindu, Budha, dan animisme berangsur angsur hilang. Yang perlu ditelaah sekarang guna menguji keampuhan dari filosofi terdahulu adalah perkiraan diungkapkan atau sampaikan pepatah para pendahulu Minangkabau. Ini perlu guna menguji kemampuan orang Minangkabau sejak zaman purbakala hingga zaman sekarang ini. Perlu atau tidaknya kita melestarikan falsafah ini nantinya tentu berhasil tidaknya kita menetapkan apakah falsafah Minangkabau itu memang tak lekang kena panas, tak lapuk karena hujan.
Penulis adalah pengamat sosial
Sumber : BSP No. 40-41, 1992 Disadur oleh : Dewis Natra Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar. Silahkan login atau daftar. Powered by AkoComment 2.0! |