|
Written by M. Ihsan Setiawan
|
|
Thursday, 25 November 2004 |
Allahu Akbar … Allahu Akbar … Allahu Akbar … Laailaaha illalloohu Allahu Akbar ... Allahu Akbar … Allahu Akbar … walillahilhamd Suara takbir bergema dengan intonasi dan nada yang berbeda di segenap penjuru arah tatkala hilal Syawal tiba. Takbiran merupakan tanda berakhirnya bulan Ramadhan dan dimulainya bulan Syawal dengan hari bersejarahnya Iedul Fitri yang merupakan hari kemenangan umat Islam.
Aktivitas ini bukanlah hal yang asing di telinga kita bahkan ia merupakan tradisi turun-temurun dari orang tua kita sejak dahulu. Ketika malam takbiran tiba kita temui beragam jenis aktivitas manusia dalam mempersiapkan hari raya di keesokan harinya. Sebagian manusia pergi ke mall sekedar untuk membeli pakaian baru, sebagian manusia pergi ke pasar untuk membeli makanan lebaran, sebagian manusia membeli pernik-pernik lebaran, beberapa keluarga terlihat bergotong royong menghiasi rumah dengan hiasan lebaran, ibu-ibu membuat ketupat lebaran dan beragam lauknya di dapur. Intinya mereka sibuk dengan aktivitas yang bernuansa duniawi. Lalu kemanakah nuansa ibadah dan akhiratnya? Tidak salah dan tidak dilarang kita melakukan aktivitas tersebut sebagai ungkapan kegembiraan terhadap kedatangan hari raya Iedul Fitri. Namun cobalah kita sisihkan sekedar waktu untuk merenung dan memuhasabah diri aktivitas Ramadhan yang baru saja kita lakukan, selanjutnya kita susun aktivitas ke depan dari hasil Ramadhan tahun ini. Bila gagal dengan target yang kita canangkan, maka beristighfarlah atas kelalaian yang kita lakukan dan selanjutnya berusaha mengejar ketingggalan yang tersisa. Bila kita berhasil maka bersyukurlah karena kesuksesan ini tidak datang dari kita, tetapi dengan taufik dan iradah-Nya. Bentuk dari kesyukuran tersebut adalah berazam untuk terus berkesinambungan dalam ibadah yang kita lakukan bahkan menambah kualitas dan kuantitasnya. Inilah yang harus kita lakukan dan yang paling kita utamakan dari segala aktivitas lainnya. Seorang salaf (generasi terdahulu) berkata, "Setiap kebaikan akan melahirkan kebaikan." Doktor Aqram Ridho dalam bukunya Buyutuna Fii Ramadhan (Rumah Kita di Ramadhan) menegaskan perlunya kita membuat beberapa langkah aktivitas ke depan setelah Ramadhan. Beliau membagi aktivitas dalam tiga skala utama. 1.Terhadap Allah, di antaranya: Menjaga sunah-sunah tatowwuan dalam sholat. Melakukan sholat qiyam walaupun hanya satu kali dalam seminggu.Membiasakan diri untuk melakukan sholat subuh berjama'ah pada waktunya. Membiasakan diri melakukan shaum sunnah diantaranya shaum Senin-Kamis. Menjaga kebiasaan membaca Al Qur`an. 2.Terhadap keluarga, di antaranya: Berkelakuan baik terhadap pasangan hidup. Membiasakan dan melatih anak untuk selalu melakukan sholat sebagaimana yang dilakukan pada bulan Ramadhan.Membuat time table aktivitas keluarga seperti yang dilakukan ketika bulan Ramadhan. 3.Terhadap sesama, diantaranya: Menjaga kontinuitas dalam melakukan kebaikan dan silaturahmi terhadap kerabat serta bergaul baik dengan tetangga.Menghidupkan suasana ber-tafaqu fiddin dalam bentuk kelompok study keislaman di masjid atau dengan teman-teman.Menghiasi diri dengan akhlak yang baik. Itulah beberapa hal yang dapat kita lakukan ketika berakhirnya shaum Ramadhan dan datangnya hari kemenangan Iedul Fitri. Semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang diterima amal ibadah shaum Ramadhan dan mendapatkan derajat Al Muttaqin. Amin. Wallohu'alam bish showab.
Sumber : www.alhikmah.com
Trackback(0)
|
|
Last Updated ( Thursday, 25 November 2004 )
|