Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Weblink
SPTT Cimbuak
Cimbuak Toolbar
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Asa lai angok angok
Asa lai jiwo jiwo patuang
Namun nan bana disabuik juo
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Dua Anson dari Sumatera PDF Print E-mail
Written by media angkasa   
Sunday, 28 November 2004
Sumatera boleh dibilang banyak memberikan sumbangan pesawat terbang selama perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI. Pesawat DC-3 Dakota dengan registrasi RI-001 dan diberi nama "Seulawah," berasal dari sumbangan rakyat Aceh.
Disamping ini, masih ada dua pesawat lain yang "pengadaannya" memakai jalan hampir mirip dengan Seulawah, yaitu pesawat delapan penumpang Avro Anson, beregistrasi RI-003 dan RI-004.
Dalam kunjungan dinas pertamanya ke Sumatera tahun 1947, Wakil Presiden Mohammad Hatta menyadari sulitnya perhubungan

antar kota di daerah ini, mendasari pembelian Avro Anson RI-003. Sedangkan Dakota RI-001 yang dibeli setelah RI-003, digunakan untuk pesawat Kepresidenan.
Pada 27 September 1947, berdasarkan keputusan dari Wakil Presiden Mohammad Hatta, di Sumatera Barat didirikan Panitia Pengumpulan Emas yang diketuai Mr. Abdul Karim. Dari panitia itu, terkumpul 14,5 kilogram emas yang sebagian besar berupa perhiasan dari kaum ibu Sumatera Barat terutama sekali dari ibu-ibu kota Bukitinggi, kota kelahiran Bung Hatta.
Perhiasan tersebut kemudian dilebur menjadi emas batangan. Emas-emas itu dimasukkan ke dalam kaleng biskuit, cukup untuk membeli pesawat transpor sedang.
Pesawat yang diincar tak lain adalah Avro Anson milik Paul H. Keegan, seorang warga negara Australia. Kebetulan pesawat yang masih beregistrasi Australia, VH-BBY ini, ditawarkan pada pihak RI melalui Opsir Udara II Muhammad Sidik Attamimi.
Muhammad Sidik Attamimi sendiri waktu itu sedang ditugaskan Nasution membeli peralatan perhubungan di Singapura. Pesawat bermesin Armstrong Siddeley Cheetah IX 320 tenaga kuda ini pun diterbangkan ke lapangan terbang Gadut, Bukittinggi dari Singapura (baca Angkasa, Januari 1995).
Tapi rupanya Keegan ingin pembayaran dilakukan di Songkla, Thailand. Pesawat buatan Inggris ini pun diterbangkan lagi ke Thailand bersama utusan RI terdiri dari Komandan Pangkalan Udara Gadut, Opsir Udara I Iswahyudi sebagai penerbang, Wakil II Kepala Staf Angkatan Udara merangkap pejabat AU pada Komandemen Sumatera, Komodor Muda Udara Halim Perdanakusuma sebagai navigator. Keduanya memang diperintahkan Suryadarma untuk membangun AURI di Sumatera.
Awak lainnya adalah Is Yasin sebagai operator, Opsir Udara II Muhammad Sidik Attamimi, seorang pemuda Burma H. Savage serta staf Wakil Presiden, Aboe Bakar Loebis sebagai penumpang ("30 Tahun Indonesia Merdeka" - Red).
Emas sebanyak itu memang tidak semuanya digunakan untuk membayar Anson. "Hanya 12 kilogram saja yang digunakan, sisanya untuk membeli mesin cetak untuk mencetak uang," cerita Abu Bakar Loebis kepada Angkasa baru-baru ini.
Tapi rupanya RI-003 ini mengalami nasib naas, tidak pernah sampai ke Bukittinggi. Pada 12 Desember 1947, Anson yang diterbangkan oleh Halim Perdanakusuma dan Iswahyudi jatuh di Tanjung Hantu, Malaysia. Karena cuaca buruk. Kala itu Abu Bakar Loebis mengambil jalan darat menuju Penang.
Hancur di Maguwo
Walau jenisnya sama dengan RI-003, namun Anson RI-004 bernasib lebih baik. Pada Desember 1947 sampai April 1948, RI-004 ini ada di Bukittinggi. Saat Presiden Soekarno akan mengadakan kunjungan kerja ke Sumatera, pesawat buatan tahun 1935 ini diterbangkan dari Bukittinggi ke Yogyakarta. Sayangnya Anson ini hancur akibat serangan Belanda saat Clash II, di Lanud Maguwo sebelum digunakan.
Sama dengan RI-003, pesawat bermesin ganda ini pun dibeli dari hasil sumbangan emas masyarakat Sumatera. Adalah Abdul Teuku Hamid Aswar yang turut berperan dalam pembelian ini.
Teuku Abdul Hamid Aswar yang juga dikenal sebagai seorang wartawan, sebenarnya adalah warga Aceh yang pindah ke Sumatera Barat akibat revolusi sosial tahun 1946.
Atas saran Presiden Soekarno, Teuku Abdul Hamid Aswar dan beberapa rekannya membentuk perusahaan untuk menembus blokade ekonomi Belanda pada tahun 1947 dengan nama Central Trading Corporation (CTC). Perusahaan yang berkedudukan di Bukittinggi ini diberi wewenang untuk mengusahakan peralatan yang dibutuhkan TNI.
Emas yang digunakan untuk membeli Avro Anson RI-004, sebagian berasal dari perhiasaan istri Teuku Hamid Aswar. "Selain berupa perhiasaan, ada juga emas lembaran seperti pembungkus dalam kotak rokok," cerita Syahrul Aswar, putera Teuku Hamid Aswar kepada Angkasa.
Sedang CTC yang disebut Bung Karno sebagai alat perjuangan pada perjuangan fisik yang kemudian atas saran Bung Hatta ditingkatkan menjadi badan hukum, amat besar jasanya pada perjuangan kemerdekaan.
Begitu besar jasanya, sehingga Presiden Soekarno sendiri 28 Juli 1958 yang meresmikan gedung bertingkat kantor pusat Central Trading Corporation di Jalan Kramat Raya 94-96 dalam rangkain memperingati 10 tahun perusahaan tersebut. CTC dalam perkembangannya kemudian oleh pemerintah dilebur dalam PT Panca Niaga, yakni perusahaan yang terdiri dari bekas perusahaan-perusahaan dagang Belanda. Hingga saat ini gedungnya masih disebut sebagai gedung CTC/Panca Niaga.

sumber : http://www.angkasa-online.com/10/02/utama/utama4.htm
 

Trackback(0)
Comments (0)add comment

Write comment
You must be logged in to a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy
Last Updated ( Sunday, 28 November 2004 )
 
< Prev   Next >


Advertisement

Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Yayasan Cimbuak
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 2 guests and 3 members online
Powered By PageCache
Generated in 0.65769 Seconds