|
Hewan piaran ini terbilang mungil dibanding hewan sejenis pada umumnya. Kalau dewasa, ia hanya memiliki bobot badan kurang lebih 162 kg dengan tinggi 99 cm. Sedangkan hewan sejenis biasanya berbobot 200-500 kg dengan tinggi minimal 140 cm. Saking mininya dia termasuk sapi terkecil nomor dua di dunia. Sementara sapi paling kecil di dunia diraih Dexter dari daratan Afrika
Tempat hidupnya di daerah pesisir pantai, tak berlebihan ia disebut sapi Pesisir. Terlebih, sapi Pesisir juga merajai hampir semua populasi sapi di Kabupaten Pesisir Selatan Sumatera Barat (Sumbar). Sesuai nian dengan nama yang disandang. Tercatat pada tahun 2001, sebanyak 96 443 ekor sapi Pesisir tersebar di kabupaten tersebut (Biro Pusat Statistik Sumbar, 2001). Sebagian besar pemilik ternak ini memelihara ternaknya dengan membiarkan sapi mereka lepas siang malam tanpa atau dengan sedikit sekali campur tangan pemiliknya. Meski demikian, menurut mahasiswa S3 Program Studi Ilmu Ternak Institut Pertanian Bogor (IPB) yang baru saja meraih gelar doktor rabu (24/11), Sarbaini Anwar di kalangan masyarakat Pariaman Sumatera Barat, sapi yang tak berpunuk itu sudah sejak lama memegang peran penting dalam pengadaan ternak potong sehari-hari. “ Akhir-akhir ini pejantan sapi Pesisir juga sangat populer sebagai hewan kurban di hari raya Idul Adha masyarakat sana,â€ujarnya. Melihat perkembangan tersebut, pria kelahiran Pasaman, 1 Januari 1956 sangat khawatir suatu saat nanti keberadaan dan kualitas genetik sapi Pesisir punah. Apalagi ia memandang kebiasaaan mengkonsumsi masakan berdaging yang melekat pada masyarakat Minang kian hari bukannya surut. “Kebutuhan daging dan uang segar oleh masyarakat peternak yang tinggi membuat sumber daya genetik terbaik dari sapi Pesisir terkuras,â€imbuhnya. Beranjak dari itulah, Staf Pengajar Fakultas Peternakan Universitas Andalas ini berusaha mengkaji keragaman karakter eksternal dan DNA mikrosatelit sapi Pesisir Sumbar. Beberapa penemuan berharga sangat penting bagi upaya peningkatan produksi sapi Pesisir masa yang akan datang, diantaranya sapi tersebut mempunyai pola warna tunggal dengan lima macam warna yakni putih, kuning, coklat, merah bata dan hitam dimana warna merah bata dominan, derajat heterozigositas (keanegaragaman zigot) DNA mikrosatelit sangat tinggi. Disamping itu tinggi pundak, tinggi pinggul, lebar kepala dan panjang kepala dapat dijadikan sebagai ukuran tubuh pembeda antar ke tiga subpopulasi sapi pesisir Sumbar. Sementara bentuknya yang kecil kata Dekan Fakultas Peternakan IPB, Dr Ir Ronny Rachman Noor, MRurSc sekaligus sebagai anggota komisi penguji sidang terbuka hari itu mengatakan kemungkinan disebabkan oleh dua hal yakni lingkungan atau genetik. Lebih lanjut ia menguraikan, bagaimana secara ilmiah lingkungan bisa mempengaruhi bentuk tubuh sapi Pesisir. Berbeda di tengah daratan, daerah pesisir minim unsur hara. Tanaman rumput sebagai sumber pakan agak sulit dijumpai. Mereka beradaptasi lingkungan dengan makan makanan yang berserat kasar seperti pelepah kelapa. “Inilah salah satu keunggulannya, sapi Pesisir dapat mengkonsumsi makanan kasar dan dapat bertahan hidup pada lingkungan daerah sedikit nutrisinya,â€tambahnya. Sedangkan Sapi biasa jika dilepas di pesisir 2 bulan saja belum tentu bisa survive (bertahan) hidup. Keunikan sapi Pesisir tentu membawa harapan baru bagi dunia peternakan Indonesia. Bayangkan pulau-pulau kecil dan luas pesisir terpanjang di dunia yang selama ini tak tersentuh bisa menjadi tempat potensial pengembangan peternakan sapi jenis ini. Pada akhirnya nanti negara Indonesia tak perlu mengimpor daging lagi. Sebab kebutuhan daging dalam negeri bisa tercukupi. Ternyata ukuran kecil bukan berarti buruk, dan besar tak selalu berarti baik. (ris-ipb)
Disertasi Sarbaini Anwar, Doktor Ilmu Ternak IPBDisertasi Sarbaini Anwar, Doktor Ilmu Ternak IPB (25/11/2004) http://www.ipb.ac.id/
Trackback(0)
|