Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Weblink
Advertisement
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Nan kuriak iyolah kundi
Nan merah iyolah sago
Nan baiak iyolah budi
Nan indah iyolah baso
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Si Mini Dari Sumatera Barat, Kecil Tak Berarti Buruk PDF Print E-mail
Written by Sarbaini Anwar   
Friday, 03 December 2004
Hewan piaran ini terbilang mungil dibanding hewan sejenis pada umumnya. Kalau dewasa, ia hanya memiliki bobot badan kurang lebih 162 kg dengan tinggi 99 cm. Sedangkan hewan sejenis biasanya berbobot 200-500 kg dengan tinggi minimal 140 cm. Saking mininya dia termasuk sapi terkecil nomor dua di dunia. Sementara sapi paling kecil di dunia diraih Dexter dari daratan Afrika

Tempat hidupnya di daerah pesisir pantai, tak berlebihan ia disebut sapi Pesisir. Terlebih, sapi Pesisir juga merajai hampir semua populasi sapi di Kabupaten Pesisir Selatan Sumatera Barat (Sumbar). Sesuai nian dengan nama yang disandang. Tercatat pada tahun 2001, sebanyak 96 443 ekor sapi Pesisir tersebar di kabupaten tersebut (Biro Pusat Statistik Sumbar, 2001). Sebagian besar pemilik ternak ini memelihara ternaknya dengan membiarkan sapi mereka lepas siang malam tanpa atau dengan sedikit sekali campur tangan pemiliknya. Meski demikian, menurut mahasiswa S3 Program Studi Ilmu Ternak Institut Pertanian Bogor (IPB) yang baru saja meraih gelar doktor rabu (24/11), Sarbaini Anwar di kalangan masyarakat Pariaman Sumatera Barat, sapi yang tak berpunuk itu sudah sejak lama memegang peran penting dalam pengadaan ternak potong sehari-hari. “ Akhir-akhir ini pejantan sapi Pesisir juga sangat populer sebagai hewan kurban di hari raya Idul Adha masyarakat sana,”ujarnya. Melihat perkembangan tersebut, pria kelahiran Pasaman, 1 Januari 1956 sangat khawatir suatu saat nanti keberadaan dan kualitas genetik sapi Pesisir punah. Apalagi ia memandang kebiasaaan mengkonsumsi masakan berdaging yang melekat pada masyarakat Minang kian hari bukannya surut. “Kebutuhan daging dan uang segar oleh masyarakat peternak yang tinggi membuat sumber daya genetik terbaik dari sapi Pesisir terkuras,”imbuhnya. Beranjak dari itulah, Staf Pengajar Fakultas Peternakan Universitas Andalas ini berusaha mengkaji keragaman karakter eksternal dan DNA mikrosatelit sapi Pesisir Sumbar. Beberapa penemuan berharga sangat penting bagi upaya peningkatan produksi sapi Pesisir masa yang akan datang, diantaranya sapi tersebut mempunyai pola warna tunggal dengan lima macam warna yakni putih, kuning, coklat, merah bata dan hitam dimana warna merah bata dominan, derajat heterozigositas (keanegaragaman zigot) DNA mikrosatelit sangat tinggi. Disamping itu tinggi pundak, tinggi pinggul, lebar kepala dan panjang kepala dapat dijadikan sebagai ukuran tubuh pembeda antar ke tiga subpopulasi sapi pesisir Sumbar. Sementara bentuknya yang kecil kata Dekan Fakultas Peternakan IPB, Dr Ir Ronny Rachman Noor, MRurSc sekaligus sebagai anggota komisi penguji sidang terbuka hari itu mengatakan kemungkinan disebabkan oleh dua hal yakni lingkungan atau genetik. Lebih lanjut ia menguraikan, bagaimana secara ilmiah lingkungan bisa mempengaruhi bentuk tubuh sapi Pesisir. Berbeda di tengah daratan, daerah pesisir minim unsur hara. Tanaman rumput sebagai sumber pakan agak sulit dijumpai. Mereka beradaptasi lingkungan dengan makan makanan yang berserat kasar seperti pelepah kelapa. “Inilah salah satu keunggulannya, sapi Pesisir dapat mengkonsumsi makanan kasar dan dapat bertahan hidup pada lingkungan daerah sedikit nutrisinya,”tambahnya. Sedangkan Sapi biasa jika dilepas di pesisir 2 bulan saja belum tentu bisa survive (bertahan) hidup. Keunikan sapi Pesisir tentu membawa harapan baru bagi dunia peternakan Indonesia. Bayangkan pulau-pulau kecil dan luas pesisir terpanjang di dunia yang selama ini tak tersentuh bisa menjadi tempat potensial pengembangan peternakan sapi jenis ini. Pada akhirnya nanti negara Indonesia tak perlu mengimpor daging lagi. Sebab kebutuhan daging dalam negeri bisa tercukupi. Ternyata ukuran kecil bukan berarti buruk, dan besar tak selalu berarti baik. (ris-ipb)
 

Disertasi Sarbaini Anwar, Doktor Ilmu Ternak IPBDisertasi Sarbaini Anwar, Doktor Ilmu Ternak IPB (25/11/2004)
http://www.ipb.ac.id/

Trackback(0)
Comments (0)add comment

Write comment
You must be logged in to a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy
 
< Prev   Next >
Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Donasi Terakhir

Donasi untuk Cimbuak
Dari Jumlah
 Harmailis Rp.   200.007,--
 Ajo Duta / Mak Uncu Rp.   1.000.000,--
Inyiak Jangkuang Rp.   56.789,--
Dave, Melbourne Rp. 300.000,--
Balance Sementara
Rp. 1.116.796,--
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 11 guests and 12 members online
Generated in 0.80025 Seconds