Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Bursa Jual Beli
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Makmur Hendrik
Episode Terbaru :
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Pituah

Pisau gadang pisau tambatu
Dibaok urang ka taluak bayua
Di makan anak dari salido
Rumah gadang basandi batu
Adat basandi alua
Alua nan kaganti rajo
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Palanta
This is not a Login form

Name:

Message:

Advertisement
BAB II : Dasar Pokok Adat Minangkabau (4) Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Ditulis oleh Admin   
Rabu, 29 Desember 2004

4. Sifat Pribadi Minang
 Salah satu tujuan adat pada umumnya, adat Minang pada khususnya adalah membentuk individu yang berbudi luhur, manusia yang berbudaya, manusia yang beradab.

Dari manusia-manusia yang beradab itu diharapkan akan melahirkan suatu masyarakat yang aman dan damai, sehingga memungkinkan suatu kehidupan yang sejahtera dan bahagia, dunia dan akhirat. Suatu Baldatun Toiyibatun wa Rabbun Gafuur. Suatu masyarakat yang aman dan damai dan selalu dalam lindungan Tuhan.

Untuk mencapai masyarakat yang demikian, diperlukan manusia-manusia dengan sifat-sifat dan watak tertentu. Sifat-sifat yang ideal itu menurut adat Minang antaranya sebagai berikut :

a.  Hiduik Baraka, baukue jo bajangka artinya hidup berpikir, berukur dan berjangka

Dalam menjalankan hidup dan kehidupan orang Minang dituntut untuk selalu memakai akalnya. Berukur dan berjangka artinya harus mempunyai rencana yang jelas dan perkiraan yang tepat.
Kelebihan manusia dari binatang adalah tiga alat vital yang mempunyai kekuatan besar bila dipakai secara tepat dalam menjalankan hidupnya. Ketiga alat tersebut adalah otak, otot dan hati.
Pengertian peningkatan sumber daya manusia tidak lain dari mengupayakan sinergi ketiga kekuatan itu untuk memperbaiki hidup dan kehidupannya.
Dengan mempergunakan akal pikiran dengan baik, manusia antara lain akan selalu waspada dalam hidup, seperti dalam pepatah berikut :

Dalam mulo akhie mambayang  ( Dalam awal akhir terbayang )
Dalam baiak kanalah buruak  ( Dalam baik ingatlah buruk )
Dalam galak tangieh kok tibo  ( Dalam tawa tangis menghadang )
Hati gadang hutang kok tumbuah  ( Hati ria hutang tumbuh )

Dengan berpikir jauh kedepan kita dapat meramalkan apa yang bakal terjadi, sehingga tetap selalu waspada.

alun rabah lah ka ujuang  (Belum rebah sudah keujung)
Alun pai lah babaliak (Belum pergi sudah kembali)
Alun di bali lah bajua  (Belum dibeli sudah dijual)
Alun dimakan lah taraso  (Belum dimakan sudah terasa)

Didalam merencanakan sesuatu pekerjaan, dipikirkan lebih dahulu sematang-matangnya dan secermat-cermatnya. Pendek kata dibuat rencana yang mantap dan terinci.

Dihawai sahabih raso  (Diraba sehabis rasa)
Dikaruak sahabih gauang  (Dijarah sehabis lobang0

Dalam melaksanakan sesuatu pekerjaan, perlu dilakukan sesuai dengan urutan prioritas yang sudah direncanakan, seperti kata pepatah :
Mangaji dari alif  Mengaji dari alif
Babilang dari aso  Berhitung dari satu

Dalam melakukan sesuatu, haruslah mempunyai alasan yang masuk akal dan bisa dipertanggungjawabkan. Jangan asal berbuat tanpa berpikir.

Mancancang balandasan  (Mencencang berlandasan)
Malompek basitumpu (Melompat bersitumpu )

Dalam melaksanakan suatu tugas bersama, atau dalam suatu organisasi kita tak mungkin berjalan sendiri-sendiri. Salah satu kelemahan orang Minang adalah kebanyakan mereka menderita penyakit "Excessive Individualisme", penyakit susah diatur, merasa lebih super dari orang lain, karenanya dihinggapi penyakit "pantang taimpik".

Struktur organisasi dipenghujung abad ke XX ini, baik organisasi pemerintah, angkatan bersenjata, organisasi sosial, maupun organisasi perusahaan mempunyai struktur piramida, lancip ke atas.

Struktur organisasi yang semacam ini, memaksa orang-orang dalam formasi yang berlanggo-langgi, atau bertingkat-tingkat. Ada yang disebut bawahan dan ada atasan, ada yang memerintah dan ada pula yang harus menjalankan perintah. Orang Minang kebanyakan belum dapat menyesuaikan diri dengan pola kemasyarakatan yang baru ini. Apalagi bila dalam organisasi itu hanya balego awak samo awak. Dalam kondisi yang demikian, akan berlaku pameo "Iyo kan nan kato beliau, tapi lakukan nan diawak". Inilah agaknya salah satu sebab kenapa dipenghujung abad XX ini orang-orang Minang sudah jarang yang menonjol dipentas nasional. Kalau ada yang menonjol satu dua, maka yang duduk menjadi bawahannya, mungkin sekali bukan orang Minang. Mari kita koreksi diri kita masing-masing dan mari kita pelajari kembali ajaran adat kita yang berbunyi sbb :

bajalan ba nan tuo  (Berjalan dengan yang tua)
Balayie ba nakhodo  (Berlayar ber-nakhoda)
Bakata ba nan pandai  (Berkata dengan yang pandai)

Pepatah diatas mengisyaratkan bahwa nenek moyang kita lebih memahami pola organisasi modern dibandingkan kita. Renungkanlah.

Masih bayak diantara kita yang belum punya cita-cita hidup. Tidak tahu apa yang ingin dicapai dalam hidup ini. Namun ada juga yang punya cita-cita , tetapi tidak tahu bagaimana cara yang harus ditempuh untuk mencapai cita-cita itu.

Nenek moyang kita ribuan tahun yang lalu sudah tahu apa yang ingin dicapainya dalam hidup ini, dan sudah tahu pula cara apa yang harus ditempuh untuk mencapai cita-cita itu. Cobalah kita cermati pepatah berikut :

Nak kayo kuek mancari  (Ingin kaya, bekerja keraslah)

Nak tuah bertabur urai  (Ingin tuah, bertabur hartalah)
Nak mulie tapeki janji  (Ingin mulia, tepati janji)
Nak namo tinggakan jaso  (Ingin nama, berjasalah)
Nak pandai kuek baraja  (Ingin pandai, rajinlah belajar)

Salah satu syarat untuk bisa diterima dalam pergaulan ialah bila kita dapat membaca perasaan oang lain secara tepat. Dalam zaman modern hal ini kita kenal dengan ilmu empathi, yaitu dengan mencoba mengandaikan kita sendiri dalam posisi orang lain. Bila kita berhasil menempatkan diri dalam posisi orang lain, maka tidak mungkin kita akan memaksakan keinginan kita kepada orang lain. Dengan cara ini banyak konflik batin yang dapat dihindari. Pepatah mengajarkan dengan tepat sebagai berikut :

Elok dek awak  (Yang elok menurut kita)
Katuju dek urang (disukai orang lain )

Segala sesuatu yang munurut pikiran sendiri adalah baik, belum tentu dianggap baik pula oleh orang lain. Kacamata yang dipakai mungkin sekali berbeda, sehingga pendapatpun berbeda pula. Kepala sama hitam, pikiran berbeda-beda.

Nenek moyang orang Minang, sebelum ilmu manajemen berkembang di tanah air sejak tahun 1950-an yang lalu, telah lama meyakini bahwa "perencanaan yang matang" adalah salah satu unsur yang sangat penting untuk terlaksananya suatu pekerjaan. Pepatah berikut meyakini kita akan kebenarannya :

Balabieh ancak-ancak  (Berlebihan berarti ria)
Bakurang sio-sio  (Kalau kurang sia-sia)
Diagak mangko diagieh  (Dihitung dulu baru dibagi)
Dibaliek mangko dibalah  (Dibalik dulu baru dibelah)
Bayang-bayang sepanjang badan  (Bayang-bayang sepanjang badan )(Beban
 jangan lebih dari kemampuan)
Nan babarieh nan dipahek (Yang dibaris yang dipahat)
Nan baukue nan dikabuang  (Yang diukur yang dipotong)
Jalan nan luruih nan ditampuah  (Jalan lurus yang ditempuh)
Labuah pasa nan dituruik  (Jalan yang lazim yang dituruti)
Di garieh makanan pahat  (Digaris makanan pahat)
Di aie lapehkan tubo  (Di air lepaskan racun)
Tantang sakik lakek ubek  (Ditempat yang sakit diberi obat)
Luruih manantang barieh adat  (Lurus menentang baris adat)

b. Baso basi - malu jo sopan

Adat Minang mengutamakan sopan santun dalam pergaulan. Budi pekerti yang tinggi menjadi salah satu ukuran martabat seseorang. Etika menjadi salah satu sifat yang harus dimiliki oleh setiap individu Minang.

Adat Minang menyebutkan sebagai berikut :

nana kuriak iyolah kundi  (Yang burik ialah kundi)
Nan merah iyolah sago  (Yang merah ialah sega)
Nan baiak iyolah budi (Yang baik ialah budi)
Nan indah iyolah baso  (Yang indah ialah basa (basi))
Kuek rumah dek basandi  (Kuatnya rumah karena sendi)
Rusak sandi rumah binaso  (Rusak sendi rumah binasa)
Kuek bangso karano budi  (Kuatnya bangsa karena budi)
Rusak budi bangso binaso  (Rusak budi bangsa binasa)

Adat Minang sejak berabad-abad yang lalu telah memastikan, bila moralitas suatu bangsa sudah rusak, maka dapat dipastikan suatu waktu kelak bangsa itu akan binasa. Akan hancur lebur ditelan sejarah.

Adat Minang mengatur dengan jelas tata kesopanan dalam pergaulan. Kita tinggal mengamalkannya. Pepatah menyebutkan sebagai berikut:

Nan tuo dihormati  (Yang tua dihormati)
Nan ketek disayangi  (Yang kecil disayangi)
Samo gadang bawo bakawan  (Sama besar bawa berkawan)
Ibu jo bapak diutamakan  (Ibu dan ayah diutamakan)

Budi pekerti adalah salah satu sifat yang dinilai tinggi oleh adat Minang. Begitu pula rasa malu dan sopan santun, termasuk sifat-sifat yang diwajibkan dipunyai oleh orang-orang Minang. Pepatah Minang memperingatkan :

Dek ribuik rabahlah padi  (Karena ribut rebahlah padi)
Di cupak datuak Tumangguang  (Di cupak Datuk Tumenggung)
Hiduik kok tak babudi  (Hidup kalau tak berbudi)
Duduak tagak kamari cangguang  (Duduk berdiri serba canggung)
Rarak kaliki dek binalu  (Gugur pepaya karena benalu)
Tumbuah sarumpun ditapi tabek  (Tumbuh serumpun di tepi tebat)
Kalau habih raso jo malu  (Kalau habis rasa dan malu)
Bak kayu lungga pangabek  (Bagaikan kayu longgar pengikat)

Kehidupan yang aman dan damai, menjadi idaman Adat Minang. Karena itu selalu diupayakan menghindari kemungkinan timbulnya perselisihan dalam pergaulan. Budi pekerti yang baik, sopan santun (basa basi) dalam pergaulan sehari-hari diyakini akan menjauhkan kita dari kemungkinan timbulnya sengketa. Budi perkerti yang baik akan selalu dikenang orang, kendatipun sudah putih tulang di dalam tanah.

Pepatah menyebutkan sbb:

Pucuak pauah sadang tajelo  (Pucuk pauh sedang terjela)
Panjuluak bungo linggundi  (Penjuluk bunga linggundi)
Nak jauah silang sangketo  (Supaya jauh silang sengketa)
Pahaluih baso jo basi ( Perhalus basa basi (budi pekerti))
Pulau pandan jauah ditangah  (Pulau pandan jauh di tengah)
Dibaliak pulau angso duo  (Dibalik pulau angsa dua)
Hancua badan di kanduang tanah  (Hancur badan dikandung tanah)
Budi baiak takana juo  (Budi baik terkenang juga)
Nak urang koto ilalang  (Anak orang koto Hilalang)
Nak lalu ka pakan baso  (Mau lewat ke pekan Baso)
Malu jo sopan kok lah ilang  (Malu dan sopan kalau sudah hilang)
Habihlah raso jo pareso  (Habislah rasa dan periksa)

c. Tenggang raso

Perasaan manusia halus dan sangat peka. Tersinggung sedikit dia akan terluka, perih dan pedih. Pergaulan yang baik, adalah pergaulan yang dapat menjaga perasaan orang lain. Kalau sampai perasaan terluka, bisa membawa bencana. Karena itu adat mengajarkan supaya kita selalu berhati-hati dalam pergaulan, baik dalam ucapan, tingkah laku maupun perbuatan jangan sampai menyinggung perasaan orang lain. Tenggang rasa salah satu sifat yang dianjurkan adat.

Pepatah memperingatkan sebagai berikut :

Bajalan paliharo kaki  (Berjalan pelihara kaki)
Bakato paliharo lidah  (Berkata pelihara lidah)
Kaki tataruang inai padahannyo (Kaki tertarung inai imbuhannya)
Lidah tataruang ameh padahannyo  (Lidah tertarung emas imbuhannya)
Bajalan salngkah madok suruik  (Berjalan selangkah, lihat kebelakang)
Kato sapatah dipikia an ( Kata sepatah dipikirkan)

Nan elok dek awak katuju dek urang
Lamak dek awak lamak dek urang
Sakik dek awak sakik dek urang

artinya :
Yang baik menurut kita, harus juga disukai orang lain
Yang enak menurut kita, harus juga enak menurut orang
Kalau sakit bagi kita, sakit pula bagi orang

d. Setia (loyal)

Yang dimaksud dengan setia adalah teguh hati, merasa senasib dan menyatu dalam lingkungan kekerabatan. Sifat ini menjadi sumber dari lahirnya sifat setia kawan, cinta kampung halaman, cinta tanah air, dan cinta bangsa. Dari sini pula berawal sikap saling membantu, saling membela dan saling berkorban untuk sesama.

Pepatah menyebutkan sbb:

Malompek samo patah  (Melompat sama patah)
Manyarunduak samo bungkuak  (Menyerunduk sama bungkuk)
tatungkuik samo makan tanah ( Tertelungkup sama makan tanah)
Tatalantang samo minun aia  (Tertelantang sama minun air)
Tarandam samo basah  (Terendam sama basah)
Rasok aia pulang ka aia ( Resapan air kembali ke air)
Rasok minyak pulang ka minyak  (Resapan minyak kembali ke minyak)

Bila terjadi suatu konflik, dan orang Minang terpaksa harus memilih, maka orang Minang akan memihak pada dunsanaknya. Dalam kondisi semacam ini, orang Minang sama fanatiknya dengan orang Inggris. Right or wrong is my country. Kendatipun orang Minang "barajo ka nan bana", dalam situasi harus memihak seperti ini, orang Minang akan melepaskan prinsip.

Pepatah adat mengajarkan sbb:

Adat badunsanak, dunsanak patahankan
Adat bakampuang, kampuang patahankan
Adat banagari, nagari patahankan
Adat babangso, bangso patahankan

artinya :
Adat bersaudara, saudara dipertahankan
Adat berkampung, kampung dipertahankan
Adat bernegeri, negeri dipertahankan
Adat berbangsa, bangsa dipertahankan

Parang ba suku samo dilipek
Parang samun samo dihadapi
artinya
Perang antar suku sama disimpan
Perang terhadap penjahat sama dihadapi

Dengan sifat setia dan loyal semacam ini, pengusaha Minang sebenarnya lebih dapat diandalkan menghadapi era globalisasi, karena kadar nasionalismenya tidak perlu diragukan.

e. Adil

Adil maksudnya mengambil langkah sikap yang tidak berat sebelah, dan berpegang teguh pada kebenaran. Bersikap adil semacam ini, sangat sulit dilaksanakan bila berhadapan dengan dunsanak sendiri. Satu dan lain hal karena adanya pepatah adat yang lain yang berbunyi "Adat dunsanak, dunsanak dipatahankan".

Adat Minang mengajarkan sbb :

Bakati samo barek ( Menimbang sama berat
Maukua samo panjang  (Mengukur sama panjang)
Tibo dimato indak dipiciangkan  (Tiba dimata tidak ditutupkan)
Tibo diparuik indak dikampihkan  (Tiba diperut tidak dikempiskan)
Tibo didado indak dibusuangkan  (Tiba didada tidak dibusungkan)
Mandapek samo balabo  (Mendapat sama beruntung)
Kahilangan samo marugi  (Kehilangan sama merugi)
Maukua samo panjang  (Mengukur sama panjang)
mambilai samo laweh  (Menyambung sama luas)
Baragiah samo banyak  (Berbagi sama banyak)
Gadang kayu gadang bahannyo  (Besar kayu besar bahannya (iuran))
Ketek kayu ketek bahannyo  (Kecil kayu kecil bahannya (andilnya))
Nan ado samo dimakan  (Yang ada sama dimakan)
Nan indak samo dicari  (Yang tidak ada, sama dicari)
Hati gajah samo dilapah  (Hati gajah sama disuap)
Hati tungau samo dicacah ( Hati kuman sama dicicip (dicercah))
Gadang agiah baumpuak  (Yang besar dibagi beronggok)
Ketek agiah bacacah  (Yang kecil dibagi secercah)

(Kata-kata "dimata,diperut, didada dalam hal ini artinya bila masalah itu menyangkut dunsanak kita sendiri).

f. Hemat Cermat

Pepatah adat menyebutkan sbb:

Manusia

Nan buto pahambuih lasuang  (Yang buta peniup lesung)
Nan pakak palapeh badia  (Yang tuli pelepas bedil)
Nan patah pangajuik ayam  (Yang patah pengusir ayam)
Nan lumpuah paunyi rumah ( Yang lumpuh penunggu rumah)
Nan binguang kadisuruah-suruah  (Yang dungu untuk suruh-suruhan)
Nan buruak palawan karajo  (Yang jelek penantang kerja)
Nan kuek paangkuik baban  (Yang kuat pengangkut beban)
Nan tinggi jadi panjuluak  (Yang tinggi jadi galah)
Nan randah panyaruduak  (Yang pendek penyeruduk)
Nan pandai tampek batanyo  (Yang pandai tempat bertanya)
Nan cadiak bakeh baiyo  (Yang cerdik tempat berunding)
Nan kayo tampek batenggang  (Yang kaya tempat minta tolong)
Nan rancak palawan dunia  (Yang cantik pelawan dunia)

Tanah

Nan lereng tanami padi  (Yang lereng tanami padi)
Nan tunggang tanami bamboo  (Yang tunggang tanami bambu)
Nan gurun jadikan parak  (Yang gurun jadikan kebun)
Nan bancah jadikan sawah  (Yang basah jadikan sawah)
Nan padek ka parumahan  (Yang padat untuk perumahan)
Nan munggu jadikan pandam  (Yang ketinggian jadikan kuburan)
Nan gauang ka tabek ikan  (Yang berlubuk jadikan tambak ikan)
Nan padang tampek gubalo  (Yang padat tempat gembala)
Nan lacah kubangan kabau  (Yang berlumpur kubangan kerbau)
Nan rawan ranangan itiak  (Yang berawa renangan itik)

Kayu

Nan kuek ka tunggak tuo  (Yang kuat untuk tiang utama)
Nan luruih ka rasuak paran  (Yang lurus untuk sudut paran)
Nan lantiak ka bubungan  (Yang lentik untuk bubungan)
Nan bungkuak ka tangkai bajak   (Yang bungkuk untuk tangkai bajak)
Nan ketek ka tangkai sapu  (Yang kecil untuk tangkai sapu)
Nan satampok ka papan tuai  (Yang setapak tangan untuk ani-ani)
Rantiangnyo ka pasak suntiang  (Rantingnya untuk pasak sunting)
Abunyo pamupuak padi  (Abunya pemupuk padi)

Bambu

Nan panjang ka pambuluah  (Yang panjang untuk pembuluh (saluran))
Nan pendek ka parian     (Yang pendek untuk perian (tempat air))
Nan rabuang ka panggulai  (Yang rebung untuk penggulai (digulai))

Sagu

Sagunyo ka baka huma  (Sagunya untuk bekal ke dangau)
Ruyuangnyo ka tangkai bajak  (Ruyungnya ke tangkai bajak)
Ijuaknyo ka atok rumah (Ijuknya untuk atap rumah)
Pucuaknyo ka daun paisok  (Pucuknya untuk daun rokok)
Lidinyo ka jadi sapu  (Lidinya untuk sapu)

g. Waspada

Sifat waspada dan siaga termasuk sifat yang dianjurkan adat Minang seperti sbb :

Maminteh sabalun anyuik  (Memintas sebelum hanyut)
Malantai sabalun lapuak  (Dibuat lantai baru sebelum lapuk)
Ingek-ingek sabalun kanai  (Siaga sebelum kena (bahaya))
Sio-sio nagari alah ( Sia-sia negeri akan kalah)
Sio-sio utang tumbuah  (Sia-sia hutang timbul)
Siang dicaliak-caliak  (Siang dilihat-lihat (waspada))
Malam didanga-danga  (Malam didengar-dengar)

h. Berani karena benar

Islam mengajarkan kita untuk mengamalkan "amal makruf, nahi mungkar" yang artinya menganjurkan orang supaya berbuat baik, dan mencegah orang berbuat kemungkaran.

Menyuruh orang berbuat baik adalah mudah. Tapi melarang orang berbuat mungkar, mengandung resiko sangat tinggi. Bisa-bisa nyawa menjadi taruhan. Untuk bertindak menghadang kemungkaran seperti ini, memerlukan keberanian.

Adat Minang dengan tegas menyatakan bahwa orang Minang harus punya keberanian untuk menegakkan kebenaran. Berani karena benar. Pepatahnya adalah sbb :

Kok dianjak urang pasupadan  (Kalau dipindahkan orang pematang)
Kok dialiah urang kato pusako ( Kalau dirubah orang Adat Miang)
Kok dirubah urang Kato Daulu ( Kalu dirubah orang Kato Dahulu)
Jan cameh nyawo malayang ( Jangan cemas jiwa melayang)
Jan takuik darah taserak  (Jangan takut darah menyembur)
Asalkan lai dalam kabanaran  (Asalkan masih dalam kebenaran)
Basilang tombak dalam perang  (Bersilang tombak dalam perang)
Sabalun aja bapantang mati  (Sebelum ajal berpantang mati)
Baribu sabab mandating  (Beribu sebab yang dating)
Namun mati hanyo sakali  (Namun mati hanya sekali)
Aso hilang duo tabilang  (Esa hilang dua terbilang)
Bapantang suruik di jalan  (Berpantang mundur di jalan)
Asa lai angok-angok ikan  (Asal masih nafas-nafasan ikan)
Asa lai jiwo-jiwo sipatuang  (Asal masih jiwa-jiwanya capung)
Namun nan bana disabuik juo  (Namun yang benar disebut juga)
Sekali kato rang lalu  (Sekali orang berbicara lancing)
Anggap angin lalu sajo  (Anggaplah angin lalu saja)
Duo kali kato rang lalu ( Dua kali orang berbicara lancing)
Anggap garah samo gadang  (Anggaplah lelucon sesama temen)
Tigo kali kato rang lalu  (Tiga kali orang berbicara lancing))
Jan takuik darah taserak (Jangan takut darah tersembur)

i. Arif bijaksana, tanggap dan sabar

Orang yang arif bijaksana, adalah orang yang dapat memahami pandangan orang lain. Dapat mengerti apa yang tersurat dan yang tersirat. Tanggap artinya mampu menangkis setiap bahaya yang bakal datang. Sabar artinya mampu menerima segala cobaan dengan dada yang lapang dan mampu mencarikan jalan keluar dengan pikiran yang jernih.

Ketiga sifat ini termasuk yang dinilai tinggi dalam adat Minang, seperti kata pepatah berikut :

Tahu dikilek baliuang nan ka kaki  (Tahu dengan kilat beliung kekaki)
Kilek camin nan ka muka ( Kilat cermin yang ke muka)
Tahu jo gabak diulu tando ka ujan  (Tahu dengan mendung dihulu tandakan hujan)
Cewang di langik tando ka paneh  (Mega dilangit tandakan panas)
Ingek di rantiang ka mancucuak ( Ingat ranting yang akan menusuk)
Tahu didahan ka maimpok  (Tahu dahan yang akan menimpa)
Tahu diunak kamanyangkuik  (Tahu duri yang akan mengait)
Pandai maminteh sabalun anyuik  (Pandai memintas sebelum hanyut)

Begitulah adat Minang menggambarkan orang-orang yang arif bijaksana dan tanggap terhadap masalah yang akan dihadapi. Orang-orang yang sabar diibaratkan oleh pepatah sbb:

Gunuang biaso timbunan kabuki  (Gunung biasa timbunan kabut)
Lurah biaso timbunan aia ( Lurah biasa timbunan air)
Lakuak biaso timbunan sampah  (Lekuk biasa timbunan sampah)
Lauik biaso timbunan ombak  (Laut biasa timbunan ombak)
Nan hitam tahan tapo  (Yang hitam tahan tempa (pukul)))

Nan Putiah tahan sasah (Yang putih tahan cuci)

disasah bahabih aia  (Dicuci berhabis air)
Dikikih bahabih basi  (Dikikir berhabis besi)

j. Rajin

Sifat yang lain yang pantas dipunyai orang Minang menurut adat adalah rajin seperti kata pepatah berikut ini :

Kok duduak marawuik ranjau  (Kalau duduk meraut ranjau (jebakan))
Tagak maninjau jarah  (Berdiri mengintai mangsa (berburu))
Nan kayo kuek mancari  (Ingin kaya ulet mencari (uang))
Nan pandai kuek baraja  (Ingin pandai rajin belajar)

k. Rendah hati

Mungkin lebih dari separoh orang Minang hidup dirantau. Hidup dirantau artinya hidup sebagai minoritas dalam lingkungan mayoritas suku bangsa lain. Mereka yang merantau ke Jakarta, mungkin kurang merasakan sebagai kelompok minoritas.Tapi mereka yang merantau ke Bandung, Semarang, Malaysia, Australia, Eropa, Amerika mereka hidup ditengah-tengah orang lain yang berbudaya lain. Bagaimana perantau Minang harus bersikap ?

Adat Minang memberi pedoman sbb:

Kok manyauak di hilie-hilie  (Kalau menimba (air) di hilir-hilir)
Kok mangecek dibawah-bawah  (Kalau bicara bersahaja)               Tibo dikandang kambiang mangembek  (Tiba dikandang kambing mengembek)


Tibo dikandang kabau manguak  (Tiba dikandang kabau menguak)
Dimano langik dijunjuang  (Dimana langit dijunjung)
disinan bumi dipijak  (Disana bumi dipijak)
Disitu rantiang di patah ( Disitu ranting di patah)

Ini berarti sebagai perantau yang hidup dalam lingkungan budaya lain, maka kita sebagai kelompok yang minoritas harus tahu diri dan pandai menempatkan diri. Baris pertama diatas tidak berarti kita harus merasa rendah diri, tetapi justru berarti kita orang yang tahu diri sebagai pendatang. Bila dalam beberapa saat kita bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan, malah bisa jadi orang teladan dan tokoh masyarakat dilingkungan baru. Pada saat itu dia tidak perlu lagi "manyauak di hilie-hilie" malah mungkin menjadi "disauakkan dihulu-hulu", didahulukan selangkah, ditinggikan seranting, diangkat menjadi pemimpin bagaikan penghulu dilingkungannya.


Sumber : Adat Minangkabau Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang


 

Komentar

Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar.
Silahkan login atau daftar.

Powered by AkoComment 2.0!

Terakhir kali diperbaharui ( Rabu, 29 Desember 2004 )
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
Member Area
Radio Online MinangSaat ini Radio Cimbuak
sedang Offline
Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Donasi Terakhir

Donasi untuk Cimbuak
Dari Jumlah
 Harmailis Rp.   200.007,--
 Ajo Duta / Mak Uncu Rp.   1.000.000,--
Inyiak Jangkuang Rp.   56.789,--
Dave, Melbourne Rp. 300.000,--
Balance Sementara
Rp. 1.116.796,--
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Situs Terbaik
Member
 Cimbuak.net | Minangkabau Community Portal Groups Online
 Anggota ( 7 ) Anggota 7
 Tamu ( 1 ) Tamu 1
  Total  8
 Angoota ( 7,161 ) Angoota  7,161


Statistik
Agg Baru  antoni_056
Hari Ini 15
Minggu Ini 97
Bulan Ini 412
Tahun ini 3,040
Online Sekarang
Online Sekarang
Saat ini ada 1 pengunjung dan 7 anggota yang online
User Terbaru

antoni_056

Terdaftar pada
2008-07-04 14:28:59

Pengunjung: 3466014