Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Bursa Jual Beli
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Makmur Hendrik
Episode Terbaru :
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Pituah

Kaluak paku kacang balimbiang
Buah simantuang penggang-penggangkan
Anak dipangku kamanakan dibimbiang
Urang kampuang di petenggangkan
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Palanta
This is not a Login form

Name:

Message:

Advertisement
Latar Belakang Munculnya Adat Dan Nagari Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Ditulis oleh E. St. Rangkayo Mulie   
Kamis, 19 Agustus 2004
Saat ini masyarakat baik yang dikampung apalagi yang dirantau memahami adat sebagai sesuatu yang memberatkan. Bila ditanya apa itu adat, memang sulit untuk dijelaskan secara gamblang. Dalam pikirannya, seolah olah apa yang terjadi dan dilihat dalam setiap acara beradat itulah yang disebut adat. Sehingga dengan latar belakang berbeda-beda, masing masing mereka memberikan jawaban yang berbeda-beda pula.

Hal ini mengakibatkan akan terjadinya bias, terlihat membingungkan dan tidak logis. Kita tidak bisa menyesalkan terjadinya kondisi tersebut. Mereka tidak salah karena pengertian adat itu bisa sempit dan bisa luas.
             Kok dibalun sabalun kuku
             Kok dikambang saleba alam
             Dalam kulik manganduang isi,
             Dalam isi ado bapanguba,
             Dalam panguba batareh pulo

Dalam Bahasa Indonesia :
             Kalo dikecilkan sekecil kuku
             Kalo bibesarkan selebar alam
             Dalam kulit mengandung isi
             Dalam isi ada plasma
             Dalam plasma ada nucleus/intisari.
Jadi jawaban apa adat itu tergantung pengertian dan pengetahuannya pada lapisan mana. Sehingga diperlukan sekali bertanya kepada yang tahu, berguru kepada yang pandai.
Latar belakang munculnya adat tidak terlepas dari munculnya nagari, ada empat fase munculnya adat/nagari yaitu :
1. Taratak
2. Dusun
3. Koto
4. Nagari

1. Fase Taratak
Pada saat nenek moyang kita dahulu mulai berpikir untuk menetap pada suatu daerah, saat itulah mulai dicari wilayah yang sesuai dan menjanjikan untuk didiami, semak belukar dibabat, kayu ditebangi, lurah ditimbun, bukit diratakan, air dialirkan kesawah ladang.
Lalu ditanamlah ke dalam tanah tiang-tiang pembatas tanah yang disebut dengan batu lantak dengan syarat dan upacara tertentu. Batu-batu lantak itulah menandakan hak bamiliak harato bapunyo (hak milik harta yang berpunya) yang tidak boleh diganggu gugat. Pekerjaan membersihkan lahan itulah yang disebut dengan malaco.
Sedang kegiatan menetapkan batas-batas pendirian pondok/rumah sekarang masih dipertahankan dengan menyebut maantak tanah. Dengan memanggil dan disaksikan oleh seluruh karib kerabat, pihak yang berbatasan tanah dan yang dituakan di kampung diadakan acara syukuran.
Semakin hari anak kemenakan berkembang biak, daerah wilayah makin diperluas, lalu dibuatlah umpuak/pembagian yang jelas terutama untuk kemenakan perempuan yang disebut dengan ganggam dan baumpuak. Agar tidak terjadi pergeseran sesama mereka, silang jo salisiah, bantah jo kalah, dandam jo kesumat, maka dibuatlah aturan secukupmya.
Yang akan mengatur hak dan kewajiban masing masing, hubungan sesama mereka dengan alam dan Sang Pencipta sehingga tercipta keharmonisan.
             Barek samo dipikua ringan samo dijinjiang
             tatungkuik samo makan tanah tatilantang samo dapek angin
             nan hiduik samo dipaliharo nan mati samo disalamaikkan.
Dalam bahasa Indonesia
             Berat sama dipikul ringan sama dijinjing
             Tertelungkup sama makan tanah terlentang sama dapat angin
             Yang hidup dipelihara yang mati sama diselamatkan.
Proses hingga terlahirnya masyarakat aman dan damai itulah yang disebut dengan taratak, sehingga wilayahnya disebut dengan taratak. Taratak taratua, tertata dengan rapi.

2. Fase Dusun
Sudah menjadi kebiasaan nenek moyang kita  untuk berpindah-pindah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Semakin produktif dan prospektif wilayah yang dihuni semakin lama mereka menetap. Tentu saja semakin lama anggota keluarga semakin bertambah.
Dalam perkembangannya, kadang-kadang terjadi perjumpaan dan kesesuaian untuk juga bisa melaco didekat atau diluar wilayah yang telah menjadi taratak. Dengan semakin bertambahnya warga atau kaum wilayah tersebut, maka disusunlah aturan atau norma yang menjelaskan hak dan kewajiban masing-masing kaum yang menghuni wilayah tersebut.
                batanggang samo lapa
                Takuruang samo mati
                Batenggang bakeh  nan sampik
                Duduak surang basampik sampik
                Duduak basamo balapang lapang
                Kok lai samo dimakan
                Kok indak samo dicari
                Lamak diawak katuju diurang
                Awak dapek urang buliah
                Sairiang samo sajalan saayun salangkah
                Sakik samo diubek
                Sanang samo dirasokan.

Dalam bahasa Indonesia
                Begadang sama lapar
                Terkurung sama mati
                Bertenggang kepada yang sempit
                Duduk sendiri bersempit sempit
                Duduk bersama berlapang lapang
                Jika ada sama dimakan
                Jika tidak ada sama dicari
                Enak sama kita enak juga bagi orang lain
                Kita dapat orangpun dapat.
                Seiring sama sejalan seayun selangkah
                Sakit sama diobati
                Senang sama dirasakan.
Proses penyunsunan kesatuan wilayah, masyarakat/beberapa kaum dengan segala aturan dan norma yang disepakati itulah yang disebut dengan dusun.

3. Fase Koto
Karena anak kemenakan berkembang, wilayah semakin lebar maka aturan dan norma hidup semakin diperluas skopnya, membutuhkan adanya pemimpin diwilayah tersebut. Pemimpin yang akan :
                Manantukan lantak pasupadan,
                Manantukan inggo jo biteh,
                Kok kusuik ka manyalasaikan
                Karuah nan kamanjaniahkan
                Nan mamacik naraco keadilan
Dalam bahasa Indonesia
                Menentukan tanda pembatas
                Menentukan wilayah dan batas
                Jika ada masalah yang akan menyelesaikan
                Jika keruh yang akan menjernihkan
                Yang memegang neraca keadilan
Maka dipilihlah seorang pangkatuo/pangatuo/tuo kampung dan didirikanlah rumah gadang secara bergotong royong sebagai pelambang kebesaran pemimpin.
Diharapkan dengan adanya pemimpin dengan segala hak dan kewajiban dan atributnya  akan tercipta masyarakat harmonis, elok susunnya bak siriah rancak liriknyo bak ma atua (bagai sirih yang bagus susunnya setelah dijalin)
Daerah/dusun tersebut menjadi makmur, aman dan damai yang dalam bahasa sangsekerta disebut kerto, sebagai akibat adaptasi berdasarkan struktur morfologis, kerto berobah jadi koto.
Karena begitu subur dan makmurnya makin banyak pendatang (dagang lalu) yang menetap disana. Bagi pendatang baru didusun tersebut harus mengikuti aturan :
                 dima bumi dipijak disitu langit dijunjuang.
                 bajalan mairiang,
                 Bakato baiyo
                 Baiyua maisi
Dalam bahasa Indonesia
                 Dimana bumi dipijak disana langit dijunjung
                 Berjalan mengiringi
                 Berkata sepakat
                 Ikut beriur.
Ada juga yang mengatakan koto berasal kata kuta, artinya suatu wilayah yang dipagar untuk menahan serangan dari luar yang akan merugikan penghuninya, itulah yang disebut rumah berpagar adat, kampung bapaga buek, nagari bapaga undang, Tagak suku pado suku, tagak kampuang pado kampuang, taga banagari pada nagari.

4. Fase Nagari
Dalam fase ini ada beberapa kelompok yang memisah dari inti, coba merantau ke daerah yang relatif dekat, kemudian didaerah baru tersebut mengalami fase yang sama dengan daerah asal. Dari taratak manjadi dusun, dari dusun manjadi koto, tetapi mereka tetap menjalin hubungan yang erat dan memakai aturan dan norma yang sama dengan daerah asal,
                 Dibubuik indak layua
                 Diasak indak mati
                 Anak ciek kamanakan satu,

Dalam bahasa Indonesia
                 Dicabut tidak layu
                 Dipindah tidak mati
                 Anak satu kemenakan Satu
Agar hubungan kekerabatan tidak putus karena telah berdiri beberapa koto, maka berdasarkan kesepakatan beberapa Tuo kampung yang memiliki kaitan norma dan kekeluargaan maka didirikanlah nagari. Dan daerah asal/jolong disebut dengan jorong.
Dari sini muncullah,
                 Tuah kato samufakat
                 Nan bana kato baiyo
                 Bulek aia ka pambuluah
                 Bulek kato ka mufakat
Dalam bahasa Indonesia
                 Tuah kata karena mufakat
                 Yang benar kata bersama
                 Bulat air ke pembuluh
                 Bulat kata ke mufakat

                 Baragiah-ragiah
                 Babagi indak bacarai
                 Sarumpun bak sarai
                 Sakalupak bak tabu
                 Basimpang babalahan
                 Bakarek bapanggabuangan
                 Basasok bajarami
                 Nagari bapaga undang
                 Kampuang bapaga jo pusako
Dalam bahasa Indonesia
                 Saling memberi
                 Berbagi tapi tidak bercerai
                 Serumpun seperti serai
                 Sekelupak seperti tebu
                 Bersimpang berbelahan
                 Berpotong bersambungan
                 Bersosok berjerami
                 Nagari berpagar undang
                 Kampung berpagar pusaka.
Seluruh aspek kehidupan baik secara individual maupun kolektif, saparuik, sapasukuan, sakoto sanagari, hak dan kewajiban serta seluruh aturan dan norma yang telah disepakati sifat gotong royong tenggang rasa dan lain-lain, semua saling menjalin satu sama lain, dan sebagai pengikut jalinan itu yang disebut adat. Tali pengikat inilah yang disebut adat:
                  Indak lapuak dek hujan
                  Indak lakang dek paneh
                  Dirandam indak basah
                  Dibaka indak anguih
Dalam bahasa Indonesia
                  Tidak lapuk karena hujan
                  Tidak lekang karena panas
                  Direndam tidak basah
                  Dibakar tidak hangus
Dapat disimpulkan adat adalah  merupakan pandangan hidup yang menata keharmonisan kehidupan antar manusia dengan manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan Sang Pencipta yang berpedoman kepada keserasian alam sekelilingnya. Itulah sebabnya adat memposisikan alam terkembang jadi guru.
                  Panakiak pisau sirauik
                  Ambiak galah batang lintabuang
                  Salodong jadikan niru
                  Satitiak jadikan lauik
                  Sakapa jadikan gunuang
                  Alam takambang jadikan guru.

Sumber : Surek kaba Anak Nagari Sungai Pua " Apa Basi" edisi I Desember 2002
Disadur oleh : Dewis Natra

Komentar

Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar.
Silahkan login atau daftar.

Powered by AkoComment 2.0!

Terakhir kali diperbaharui ( Sabtu, 28 Agustus 2004 )
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
Member Area
Radio Online Minang Pendengar: 2 dari 50 (2 Unik)
Peak: 25
Server Status: Online
Bitrate: 24 Kbps
Sedang Di putar: 02 - Senyumlah

Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Donasi Terakhir

Donasi untuk Cimbuak
Dari Jumlah
 Harmailis Rp.   200.007,--
 Ajo Duta / Mak Uncu Rp.   1.000.000,--
Inyiak Jangkuang Rp.   56.789,--
Dave, Melbourne Rp. 300.000,--
Balance Sementara
Rp. 1.116.796,--
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Situs Terbaik
Member
 Cimbuak.net | Minangkabau Community Portal Groups Online
 Anggota ( 1 ) Anggota 1
 Tamu ( 4 ) Tamu 4
  Total  5
 Angoota ( 7,173 ) Angoota  7,173


Statistik
Agg Baru  anwal
Hari Ini 6
Minggu Ini 95
Bulan Ini 406
Tahun ini 3,044
Online Sekarang
Online Sekarang
Saat ini ada 4 pengunjung dan 1 anggota yang online
User Terbaru

anwal

Terdaftar pada
2008-07-05 12:08:47

Pengunjung: 3477031