|
Paradox Intuisi Kegagalan dalam implementasi sering terjadi. Misal seseorang punya intuisi bahwa tempat itu strategis buat toko bahan bangunan. Sayang, orang lain keburu mengontrak tempat itu. Atau, ia tepat dengan intuisinya sehingga mendapatkan order tetapi ketika order dilaksanakan, jalannya ambur adul. Mana barangnya telat, keliru, kurang, rusak, dll, sehingga laba yang diharap tak diperoleh mbalah rugi. Lagi2, yang disalahkan intuisi.
Dalam kasus saya, implementasi mendominasi aktivitas saya. Barangkali 80% aktivitas saya habis untuk manajemen proyek yang selalu 'heboh'. Justru kekuatan saya bertumpu pada 'eksekusi'. Dalam eksekusi dimana data2 & informasi melimpah saya lebih percaya data2 itu. Kalaupun terpaksa 'awur2an' atau 'intuitif', jumlahnya tak seberapa. Saya fokus hanya menggunakan intuisi untuk membaca situasi tender, ketika data2 & informasi benar2 tidak lengkap. Jika sudah berhadapan dengan ketidak jelasan, bung Rusdi kek, bung Nukman kek, bung Nugix kek, tak akan ada pilihan lain selain 'awur2an' yang belakangan saya yakini sebagai intuisi.
Mendayagunakan Intuisi (bisa) panjang jalannya. Sudah kesulitan menentukan fokus, dihadang kesulitan membuktikan atau implementasi masih dihadang lagi dengan paradox intuisi. Paradox intuisi adalah ketika apa yang kita tangkap dari intuisi tidak didukung kenyataan yang ada. Ini membutuhkan keyakinan yang tinggi.
Paradox tak hanya berlaku didunia intuisi. Didunia rasional atau akal juga terjadi. Misal, 1 x 0 = 0; 1,000 x 0 = 0. jika begitu 1 = 0 ? Ada hukum Newton / Coulomb bahwa masa tarik menarik / tolak menolak dengan gaya m1 x m2 ; r^2. jika dua benda tsb menempel berarti r = 0. Jika r=0, gaya jadi ruar biasa besarnya, tak berhingga sehingga meleduk ?
Aplikasi Intuisi Intuisi bisa diterapkan dimana saja. Termasuk intuisi ibu-anaknya. Jika intuisi ibu tajam, anaknya yang berada dilain kota sakit, si ibu bisa tahu. Bahkan anaknya resahpun terdeteksi ibunya. Menurut sebuah survay, wanita lebih tajam intuisinya dibanding dengan pria terutama menyangkut keadaan orang2 yang dikasihinya.
Intusi banyak digunakan dalam bisnis karena pelaku2 bisnis senantiasa berada dalam ketidak pastian dan mendorong mereka 'awur2an'. Mereka tidak sadar bahwa yang mereka anggap awur2an itu namanya intuisi. Yang juga padat intuisi adalah dunia ilmu dan sain. Penemuan2 bersal dari intuisi. Mereka yang berada pada dunia ilmu sebaiknya menyimak intuisi dengan lebih saksama. Intuisi bisa mendorong karir mereka.
Yang juga banyak menggunakan intuisi termasuk organisasi kreatip semacam biro iklan. Dunia seni semacam arkitek, system designer / programmer, fashion, dll. Orang2 itu sering kebingungan mengapa tahu2 mak jedul ada gagasan brilian. Ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan mereka tentang intuisi. Atau, karena intuisi dicemari muatan mistis menimbulkan rasa antipati.
Intuisi juga hinggap dikalangan profesional. Seorang akuntan yang tajam intuisinya bisa mendeteksi bahwa neraca keuangan ngapusi. Opsir bea cukai yang tajam intuisinya tahu dengan cepat orang2 yang menyelundupkan sesuatu. Pilot yang tajam intuisinya tahu jika ada yang tak beres dengan pesawat terbangnya. Mekanik2 banyak yang hanya dengan mendengar suara mesin langsung tahu apa yang rusak.
Intuisi masih merupakan hal yang nyolowadhi. Sigmund Freud bilang bahwa kita ini bak gunung es. Hanya 1/8 berada dalam alam kesadaran yang 7/8 berada di alam-bawah-sadar (abadar). Secara misterius abadar menyerap data2, mengolahnya dan mak pencolot muncul ke alam bawah sadar.
Inilah basis teori prof. George W. Ladd dalam menurunkan petunjuk2 praktis tentang bagaimana mendayagunakan, mengaktifkan, dan menandai saat2 intuisi meloncat loncat. Bab ini cukup panjang, +/- 8 postingan. Sumber berasal dari makalah ketika saya mengikuti seminar pertengahan 90an.
Suplement Intuisi [7a] : MBTI?xml:namespace prefix = o ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:office" /> Semula saya kurang mengindahkan BJ karena tampak kurang meyakinkan. Pada akir 80-an saya membaca MBTI dan kaget ternyata saya termasuk golongan intuitive. Wé lha dhalah .... jangan2 yang selama ini saya anggap aji pengawuran itu intuisi ? Segera saya bongkar kembali data2 lama. Tidak seperti BJ yang datanya banyak, data saya relatip sedikit; setahun paling2 dua losin tender. Data2nya lengkap dengan kolom2 harga pokok, harga penawaran (bid price) dan harga final dan dilengkapi dengan data aktual. Nyaris semua harga final saya harga awur2an, ada yang menang, ada yang kalah. Ada yang terlalu tinggi, ada yang terlalu rendah. Hasil evaluasi mengecewakan dan meragukan karena sulit sekali menarik kesimpulan. Namun demikian, sesudahnya saya menyimak intuisi dengan lebih saksama dan hasilnya positip. Yang semula saya anggap harga awur2an ternyata lebih akurat. Saya makin pédé. Dulu setiap negosiasi harga akir selalu meresahkan dan membuat saya terjebak dalam keraguan. Mau pasang harga berapa ? Kini saya bisa dengan tenangnya .... bum ... harganya segini. Dan .... binggo ! .... menang. Demikian berulangkali sehingga ber-turut2 menang terus2an. Makin lama saya makin yakin dengan intuisi saya dan selama belasan tahun saya 'meraja lela'. Mungkin juga harga2 yang saya buat sebenarnya harga awur2an tetapi saya meyakini itu sebagai intuisi dan membuat saya makin pédé, makin tegas, dan makin rileks. Saya makin mampu membaca situasi atau orang2 yang terkait dengan fokus saya saat itu. Dengan catatan :
- Kadangkala intuisi kliru tetapi saya lebih toleran dengan keterbatasannya.
- Saya tidak terpeleset kemistisme, tetap tampil rasional sebagaimana layaknya Ingsinyir pro dan Eksekutip kaliber Internasional.
- Sepanjang informasi2 & proses lengkap, saya lebih mengandalkan akal & pancaindra. Proyek Management adalah situasi dengan informasi lengkap. Jadwalnya jelas, spesifikasi teknik gamblang, batas2 kontrak, harga2, dll. Masih dilengkapi analisa proyek, neraca akuntansi, dokumen2 belanja, dll analisa2 kwantitatif.
The Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) adalah type2 psikologi yang dikembangkan Chatherine Briggs dan anaknya Isabel Myers berdasarkan teori CG Jung. Ada 4 sumbu yang menggolongkan type2 dalam 16 kwadran. Sumbu2 tsb : 1. Sumber energy Dalam sumbu E___I, ada yang Extrovert ada yang Introvert. Extrovert mendapatkan enerji dengan berinteraksi dan Introvert dengan berkonsentrasi. 2. Cara mengindra Dalam sumbu S___N, ada yang menggunakan Sensing atau panca indra. Ada yang menggunakan iNtuition atau indra ke-6. 3. Cara membuat keputusan Dalam sumbu T___F, ada yang menggunakan Thinking atau akal dan ada yang menggunakan Feeling atau perasaan. 4. Gaya Hidup Dalam sumbu J___P, ada yang bergaya hidup Judging, yaitu teratur, terstruktur, definite, terjadwal, ada pula yang Perceiving yaitu luwes, acak, impulsif, dan terbuka. MBTI belum mendapatkan pengakuan ilmiah tetapi telah dipakai secara luas termasuk untuk rekruitment2. Saya termasuk [I]ntrovert, i[N]tuitive, [T]hinking, dan [J]udging. Disingkat menjadi INTJ. Type ini memiliki sifat2 sangat mempercayai intuisinya. Menurut David Kiersey : http://lab.simerson.net/personal/psych/intj.shtml " The most important preference of an INTJ is intuition, but this is seldom seen. Rather, the function of thinking is used to deal with the world and with people " Yang paling disukai INTJ adalah intuisi tetapi ini tidak kentara. Mereka bahkan lebih banyak menggunakan akal dalam berhubungan dengan dunia dan manusia. http://www.insightsystem.com/intj.htm " INTJs place their trust in logical analysis and intuition to guide their thoughts and decisions. " INTJ menempatkan analisa2 logika dan intuisi dengan penuh keyakinan yang menuntun mereka dalam berpikir dan membuat keputusan. Kesimpulan : Anda tidak harus jadi INTJ untuk mempercayai intuisi. Untuk mempercayai intuisi butuh proses dan waktu. Dengan segala kelemahannya, intuisi memiliki kelebihan2. Pada saat yang bersamaan saya juga tidak menyarankan untuk bersandar kepada intuisi secara berlebihan.
Diposting pada mailing list UGM (Disadur oleh : Dewis Natra)
Trackback(0)
|