Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Bursa Iklan
Radio Online
Weblink
Advertisement
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Berita Yayasan
Pituah

Nak Urang koto ilalang
Nak lalu ka pakan Baso
Malu jo sopan kok lah ilang
Habihlah raso jo pareso
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Cerpen : Si Ul PDF Print E-mail
Written by Makmur Hendrik   
Tuesday, 11 January 2005

Ada dua hal yang mambuatku bangga pada ayahku. Pertama dia seorang anggota Mobrig, singkatan Mobile Brigade.. Pasukan elit kepolisian. Dia kelihatan gagah, baik dalam pakaian dinas tempurnya yang memakai topi baja, maupun dalam  pakaian dinas harian yang dilengkapi baret berwarna ungu.

Ayahku telah bertempur sejak zaman revolusi, menumpas pergolakan DI/TII di Aceh, Sulawesi Selatan dan terakhir pemberontakan PRRI di Riau Daratan.
      Kebanggaanku kedua adalah mendengar bunyi siulnya.
Hampir semua warga di gang becek tempat ayah dan ibuku menyewa sebuah rumah petak kecil mengenal dan juga menyukai alunan siulnya. Banyak lagu yang dia alunkan lewat siulnya. Namun yang paling kusukai adalah siulnya saat membawakan lagu Timang-timang.
“Timang-timang… anakku sayang….”
Begitu suara siulnya selalu bergema membelah malam atau menerobos gerimis, saat dia pulang dari kantor mengayuh sepeda dinasnya.
   Prosesi setelah dia berada di ruang tamu rumah kami, yang sekaligus berfungsi sebagai ruang keluarga dan ruang makan, sudah hafal di luar kepalaku. Dia akan duduk di kursi rotan separoh reot di ruang tamu itu. Kemudian memanggilku untuk membukakan sepatu dinasnya. Membuka tali sepatu yang banyak lobang-lobang di bahagian depannya itu.
Kemudian memijat kakinya. Malam hari tugasku pula
menyemirkan sepatu dan kopelriem. Menggosok kuningan pada kopelriem itu dengan brasso sampai berkilat, untuk dipakai ayah bertugas esok pagi.
 Tugas rutin itu kulakukan dengan senang hati dari hari berbilang minggu. Minggu berbilang bulan, bulan berbilang tahun. Aku bangga pada ayahku yang menjadi anggota Brimob, pasukan tempur kepolisian. Bangga pada siulnya yang melankolis, terutama saat mendendangkan lirik lagu Timang-timang.
 Tapi itu dulu. Dulu sekali. Saat aku masih duduk di
bangku SMP. Kini, sejak masuk SMA, terutama menjelang ujian akhir, kebanggaanku pada sosoknya yang gagah dalam pakaian dinas punah. Kebanggaanku pada siulnya yang mengalun di sore atau malam hari saat dia pulang bertugas, tak peduli apa pun lagu yang dia siulkan, hilang tak berbekas. Yang tersisa adalah perasaan dongkol dan marah.
Pemicunya adalah pembicaraan ayah dan ibu di suatu malam.
Hari sudah larut, gerimis yang turun sejak sore masih
belum reda. Karena besok ada ulangan ilmu pasti, saat itu aku masih belajar di kamarku, dengan penerangan lampu semprong. Dari kamar ayah dan ibu, yang hanya berbatas dinding papan dengan kamarku, sayup-sayup kudengar ibu menangis. Kemudian kata-kata ibu yang diucapkan perlahan.
 â€œSaya tidak minta belikan baju atau perhiasan. Saya
tahu gaji abang kecil. Tapi, uang yang sayab terima habis untuk membayar sewa rumah, pembayar uang sekolah dan sesekali memberi Rahman uang jajan. Sisanya untuk makan hari demi hari tak cukup. Kendati hanya untuk membeli minyak lampu, ikan asin, minyak goreng, tahu dan tempe.
Saya harus mengutang di warung atau tetangga. Tahun demi tahun seperti itu tentu tak baik untuk pertumbuhan anak.
Saya tahu abang menyuruh saya berhemat. Tapi uang yang akan dihemat itu benar yang tak ada…” ujar ibu. 
Lama tak ada suara. Kemudian kudengar ayah menarik nafas panjang dan berat. Bangkit dari pembaringan
“Uang mana lagi yang harus aku berikan selain gaji?
Aku tak pandai dan tak mau memeras toke-toke untuk meminta uang. Aku juga tak bisa membeking orang-orang yang menyelundupkan getah ke Singapura. Aku bukannya tak tahu gajiku tak mencukupi untuk kehidupan kita. Tapi aku tak punya keahlian lain untuk mencari tambahan,” ujar ayah perlahan.

----o0o---

PIKIRANKU selalu dibuncah oleh pertengkaran ayah dan ibu malam itu. Aku kemudian mulai membanding-bandingkan kehidupan kami dengan kehidupan beberapa orang anak anggota Mobrig teman ayah, yang sama-sama satu SMA denganku. Aku tak perlu datang ke rumah mereka untuk melihat  perbedaan. Cukup melihat keseharian mereka di sekolah.  Dari sana sudah bisa terlihat perbedaan yang mencolok antara kehidupan keluarga kami dengan mereka.
Paling tidak ada tiga orang anak Mobrig yang sama-sama sekolah denganku. Dua lelaki, satu wanita. Pangkat ayahku dengan ayah mereka setara. Kalau di ketentaraan sama-sama berpangkat kopral.

Mereka ke sekolah memakai sepeda. Sementara aku harus berjalan kaki menempuh jarak tiga kilometer dari rumah ke sekolah. Namun yang paling mencolok adalah pakaian. Baju atau celana yang kupakai pasti ada tambalannya. Kalau baju ditambal pada krah bahagian leher, kalau celana pada bahagian pantat. Mereka tak pernah sekalipun kulihat memakai pakaian yang bertambal.
Dari perbedaan itu ada perasaan tak sedap mengenai ayah, yang menyelusup diam-diam ke dalam hatiku. Aku menduga ayah pasti mempunyai pendapatan lebih dari gajinya.
Sebagaimana teman-teman sepasukannya, yang anaknya satu sekolah denganku. Perasaan tak sedap itu hari demi hari menggumpal menjadi perasaan dongkol. Akibatnya, jika sore-sore kudengar alunan siulnya di ujung gang becek di mana kami tinggal, aku segera mengemasi buku. Menyelusup lewat pintu belakang. Cabut ke rumah teman atau ngeluyur
dan begadang di Pasar Bawah atau di Pasar Pusat.
Hal itu kulakukan untuk menghindari pekerjaan rutin yang kini membuat dadaku sesak. Membuka sepatu dan kaos kaki ayah, kemudian memijati kakinya. Malamnya menyemirkan sepatu lars, kopelriem dan membrasso bahagian kuningannya sampai berkilat. Kini, untuk menghindar  dari pekerjaan yang tak kuinginkan itu aku sering tidur di rumah teman
dengan alasan belajar, karena ujian akhir sudah dekat.
Kendati semuanya bohongku belaka. Yang kulakukan adalah menghindar dari rumah, karena dongkol dan marah pada ayah.
Namun ibu ternyata mengetahui alasan perubahan sikapku. Bahwa aku jarang di rumah karena tak ingin membuka sepatu dan memijit kaki ayah. Wanita berhati tabah dan penuh kasih sayang itu menasehatiku agar tidak meneruskan perlawanan diam-diamku kepada ayah. Aku tidak menolak tapi
tidak pula mengiyakan nasehat ibu. Sampai suatu malam, waktu itu kami bertiga sedang makan. Di meja ada telur dadar, ada tempe goreng, ada tumis kangkung dan tahu. Wuah mewah benar. Belum tentu sekali setahun dapat makan semewah ini di rumah kami.
“Kalau lulus aku mauk masuk kedokteran di Padang..” ujarku tanpa kata pembukaan apapun. Ayah dan ibu menatapku.
“Bagus….. belajar yang rajin…...”
ujar ayah pendek, sambil menyuap.
Sambil mengunyah aku melanjutkan, bahwa kalau lulus tes untuk masuk ke kedokteran harus membayar sejumlah uang.
Saat kusebutkan jumlah uang yang wajib dibayar pada saat mendaftar setelah lulus testing, tangan ayah yang akan menyuap terhenti tiba-tiba. Dia bertukar pandang dengan ibu. Kendati peristiwa itu hanya sesaat, namun aku melihatnya dengan jelas. Setelah itu ayah kembali makan.
Hanya saja, biasanya dia makan sampai dua kali bertambah.
Kali ini tak sekalipun. Perkataanku tentang jumlah uang yang harus dibayar untuk bisa menjadi mahasiswa kedokteran seperti mematahkan selera makannya. Aku tak peduli, yang jelas keinginanku sudah kusampaikan. Sebagai seorang ayah dia harus memenuhi kewajibannya.
Aku sendiri sebenarnya tak peduli dengan sekolahku.
Jangankan soal bisa atau tak bisa masuk kedokteran,
bagaimana lulus ujian saja tak kupikirkan.
Ketidak-pedulian itu dapat dilihat dari aktifitasku
sehari-hari. Dalam seminggu paling tidak ada dua atau tiga hari aku bolos sekolah. Aku lebih suka keluyuran dengan Boby, teman sekelasku yang ayahnya bekerja di Kantor Pajak. Mereka tinggal di rumah dinas di Komplek Nyamuk, sekitar satu kilometer dari rumahku. Hidup keluarganya tak hanya sekedar kaya, tapi melimpah ruah. Aku sering nebeng minjam baju, celana atau sepatu Boby.

---o0o---

TETAPI pertengkaran antara ibu dengan ayah malam itu ternyata membawa perubahan yang luar biasa untuk ukuran keluarga kami. Dalam dua bulan terakhir menu di meja makan tidak hanya tahu dan tempe. Atau goreng ikan asin yang membuat lidahku serasa jadi tebal dan gatal-gatal. Kini agak sering bervariasi. Terkadang ada telur dadar, terkadang ada gulai ikan. Selain itu, jika selama ini  ibu lebih sering mengatakan tak ada uang jika aku minta jajan saat akan ke sekolah, dalam dua bulan terkahir ibu agak sering memberiku uang jajan. Malah terkadang  tanpa
kuminta terlebih dahulu.
Namun sungguh mati, perubahan mendadak itu justru
membuatku jadi curiga. Kenapa tiba-tiba saja ayah bisa memberi ibu uang belanja lebih dari tahun-tahun
sebelumnya? Kenapa setelah ada pertengkaran dan air mata ibu? Gaji tentu tak bisa naik tiba-tiba. Itu berarti gaji yang selama ini diberikan ayah kepada ibu hanya sebagian.
Lalu, sebagian lagi dari gaji yang tak diserahkan ayah
kepada ibu dia pergunakan untuk apa? Tak hanya gaji. Ayah pasti punya penghasilan sampingan. Aku tahu dari cerita teman-temanku, yang ayahnya juga bertugas di pasukan Mobrig atau di kepolisian. Ayah pasti tak jujur pada ibu.
Dia pasti punya isteri simpanan, atau suka berjudi, dan mabuk-mabuk.

Atau mungkin gabungannya. Punya bini simpanan, sekaligus suka judi dan suka mabuk. Aku hampir bisa memastikan, ayah telah membohongi ibu. Dan hal itu sudah terjadi berbilang tahun! Oo, alangkah sakitnya hati ibu jika dia tahu.
Kepada Boby kuceritakan kecurigaanku tentang ayah. Sekaligus  mengajaknya untuk mencari tahu tentang perangai ayah. Tak berselang lama, kesempatan untuk memata-matai perangai ayah datang juga. Sehabis magrib kudengar ayah berkata pada ibu bahwa dia akan piket dan pulang agak larut. Aku punya firasat, alasannya itu omong kosong belaka. Sebab dalam dua tiga bulan ini sudah sering dia
pergi sehabis magrib dan pulang larut malam. Bahkan
kadang-kadang malah subuh. Alasannya selalu piket.
Aku segera menemui Boby di rumahnya. Menceritakan perihal ayahku. Boby meminjam vespa abangnya yang bekerja di Caltex. Kami bergegas menyusuri jalan yang biasanya ditempuh ayah untuk ke kantornya. Dalam waktu tak terlalu lama ayah bisa kami susul. Dari jarak tak begitu jauh, di bawah cahaya bulan sabit yang mulai muncul, dia kami lihat mengayuh sepeda dinasnya yang berwarna hitam. Aneh, katanya piket. Tapi tak berpakaian dinas dan tak membawa
bedil.
“Jangan terlalu dekat. Nanti dia tahu…” ujarku pada Boby.
Ayah ternyata memang tidak menuju ke Markas Mobrig di Sukajadi dimana dia seharusnya piket. Ayah mengarahkan sepedanya kearah Sungai Siak. Kecurigaanku makin menebal.
Beberapa ratus meter menjelang sungai, dia berbelok ke sebuah pekarangan rumah yang dipagari dengan kawat berduri. Boby menghentikan vespanya di bawah pohon gajus yang tumbuh di pinggir jalan. Sekitar dua puluh meter dari jalan masuk ke pekarangan rumah besar berpagar kawat berduri tersebut.
“Kita ikuti ke dalam?” tanya Boby.
Aku ragu. Cahaya bulan membuat kami dapat melihat cukup jelas rumah yang dituju ayahku. Sebuah rumah besar semi permanen beratap seng. Kulihat ada beberapa bendi di halaman. Beberapa beca dan sepeda.  Nampaknya rumah itu cukup ramai. Rumah apa ini? Pikiranku jadi tak sedap.
Apakah rumah ini tempat berjudi, atau rumah inikah yang disebut sebagai rumah tempat para pelacur menjajakan diri?
Ya Tuhan…!
“Pssst., ada yang keluar..” bisik Boby.
Kami menunggu sambil berdiam diri di bawah pohon gajus berdaun rimbun yang melindungi kami dari cahaya bulan.
Sebuah bendi keluar. Di dalamnya ada dua lelaki dan
seorang perempuan. Dari baju yang dipakainya aku tahu lelaki itu bukan ayahku.
“Itu ada lagi yang keluar…” bisik Boby.
Dua buah beca kami lihat bergerak perlahan ke arah pagar.
Nampaknya muatan beca itu berat karena sarat dengan kardus-kardus besar. Kentara sekali kedua tukang beca itu harus mengerahkan tenaganya untuk mendayung. Persis di pintu pagar mereka berhenti karena disusul oleh dua lelaki yang berboncengan di sebuah motorpit. Pengendara motorpit
itu berhenti di dekat kedua beca tersebut.
“Pelan-pelan saja Pak. Muatannya piring dan gelas
dari Singapura. Barang-barang itu akan dibawa ke
Bangkinang. Jangan sampai ada yang pecah, ya?” ujar lelaki yang duduk di boncengan motorpit.
“Baik Pak…” ujar salah seorang pengayuh beca tersebut.
“Kami duluan. Kami tunggu di terminal Pasar Pusat,” ujar yang membawa motorpit sembari memasukkan persneling. Kemudian motorpitnya menderu ke arah pasar pusat.
Kedua beca itu untuk sesaat masih tertegak di pintu pagar rumah besar tersebut.
“Setelah menerima upah mengantar barang-barang ini aku akan cari penumpang ke rumah sakit. Kau masih akan ke pelabuhan?” tanya salah seorang di antara pengayuh beca itu kepada teman di sebelahnya.
“Ya, aku ke pelabuhan. Malam ini kabarnya ada kapal
dari Tanjungpinang yang masuk. Mudah-mudahan ada muatan yang bisa diantar,” ujar lelaki kedua.
Jantungku seperti berhenti berdetak mendengar suara lelaki yang akan menuju ke pelabuhan itu. Aku hapal benar. Itu suara ayahku!
“Jangan pulang terlalu larut. Tiap malam pulang subuh, nanti dapat penyakit rabu basah. Kau bakalan tak bisa dinas..” ujar lelaki pertama.
“Anakku sebentar lagi akan ujian akhir. Kalau lulus
dia ingin masuk kedokteran di Padang. Aku harus bekerja keras mengumpulkan uang. Agar dia bisa melanjutkan sekolah  ke Padang. Bangga punya anak jadi dokter kan?”
“Semoga berhasil. Ayo kita pergi..” ujar lelaki pertama, setelah beberapa saat terdiam.
Mereka mulai mengerahkan tenaga. Menggenjot beca
bermuatan berat itu. Makin lama makin jauh dari tempat kami. Lalu, tiba-tiba terdengar suara siul. Melantunkan lagu Timang-timang. Makin lama makin sayup. Siul yang akhir-akhir ini amat kubenci dan menyalakan marah di hatiku.

Siul yang membuatku curiga ayahku berlaku tak jujur pada ibuku. Bahkan malam ini, aku memata-matainya karena ingin menangkap basah dia di rumah isteri simpanannya. Atau menangkap basah dia sedang berjudi sambil menenggak minuman keras.
Kini, lelaki yang kumata-matai itu mengayuh becak dalam pelukan embun yang mulai turun. Mencarikan uang agar anaknya bisa masuk fakultas kedokteran. Aku ingat uang jajan yang akhir-akhir ini sering diberikan ibu. Ingat menu makanan yang berubah di rumah. Aku ingat kata-katanya kepada ibu malam itu.
“Uang mana lagi yang harus aku berikan selain gaji?
Aku tak pandai dan tak mau memeras toke-toke untuk meminta uang. Aku juga tak bisa membeking orang-orang yang menyelundupkan getah ke Singapura. Aku bukannya tak tahu gajiku tak mencukupi untuk kehidupan kita. Tapi aku tak punya keahlian lain untuk mencari tambahan….”
Ayah memang tak punya keahlian lain untuk mencari
tambahan. Yang ada padanya hanyalah tenaga. Dan tenaganya itulah ternyata yang dia pergunakan. Mengayuh beca sehabis seharian berdinas, untuk mencari tambahan belanja bagi anak dan isterinya. Untuk mencari uang agar anaknya bisa masuk fakultas kedokteran. Dia semakin jauh mendayung
nasibnya dalam deraan dinginnya embun malam. Siulnya seperti masih kudengar sayup-sayup. Melantunkan lirik lagu Timang-timang. Kemarin siul itu amat kubenci. Malam ini siul itu seperti mengiris jantungku. Tubuhku menggigil.
Ingin kupeluk kakinya yang lelah mendayung beca itu.
Mendayungkan nasib kami. Seorang anggota pasukan elit kepolisian, yang telah mempertaruhkan nyawanya di berbagai medan pertempuran. Mulai dari zaman revolusi, sampai menumpas pergolakan di Aceh, Sulawesi dan Sumatera Barat.
Kini mengihlaskan dirinya menjadii kuli penarik beca.
Untuk mencari tambahan penghasilan dalam  menghidupi anak dan isterinya.
Aku tak kuasa mengikis rasa berdosaku. Aku tak ingin
menangis. Namun aku sungguh tak kuasa menahan air mata yang mengalir membasahi pipiku. Ya Tuhan, ya
Rosul...,Ampun!. @.-

---o0o---

Catatan:
- Mobrig: Kini jadi Brimob. Motorpit: Sepeda motor buatan Amerika merek BSA atau Triumph.

*) Makmur Hendrik
-     Lahir di Buluhcina, Siak Hulu – Kampar, tanggal 7 Juni 1947.
- Asisten Dosen di Jurusan Mesin FKT IKIP Padang
(1975-1986) dan Dosen Akademi Pulisistik Padang (1987 –1990)
- Wartawan/Redaktur Singgalang-Padang, Kompas (Padang), Semangat (Padang), Media Indonesia (Jakarta), Sumatera Express (Palembang), Genta Pekanbaru (1993 – sekarang).
- Anggota Komisi Pemilihan Umum Provinsi Riau, Periode 2003 – 2008.
- Memenangkan sayembara penulisan cerpen untuk pertama kali pada Tahun 1965. Saat Korem Sumbarut di Bukittinggi mengadakan sayembara dalam rangka memperingati Hari Pahlawan, dengan judul yang telah ditentukan panitia.
Yaitu “Pahlawan Pembangunan”. Saat itu (1965)
masih kelas II di STM Negeri Bukittinggi. Peserta adalah mahasiswa dan pelajar.
- Pada tahun 1980-an memenangkan beberapa kali sayembara penulisan cerpen tingkat nasional. Salah satu di antaranya adalah cerpen berjudul “Siul” ini,  ditulis sekitar tahun 1984.
- Cerpen pemenang sayembara tingkat nasional yang
dijadikan film: Buah Hati Mama, Melintas Badai, Luka di Atas Luka dan Yang Kukuh yang Runtuh.
- Novel yang pernah ditulis: Melintas Badai (1983),
 Terjebak di Perut Bumi (1984). Kumpulan Cerpen:  Di
Langit Ada Saksi (1986).
- Novel silat yang sudah dibukukan: Tikam Samurai (Si Bungsu) – 12 jilid, Si Giring-Giring Perak-7 jilid. Palimo Agam, Intan Suri, Romusa, Panglima Sakai.
- Setamat Sekolah Teknik Negeri di Jalan Patimura (1963) di Pekanbaru, masuk STM Negeri di Bukittinggi dan IKIP di Padang. Setelah 30 tahun bermukim di Sumatera Barat, pulang ke Pekanbaru akhir tahun 1992. Bekerja di surat kabar Genta, kemudian di KPU Riau.
- Isteri: Yunri Hatta, kelahiran Bukittinggi. Anak: Heny Eka Surya, SE (Ekonomi - Unand Padang), Eva Devy, S.Si (Sastra Inggeris - Unand Padang), Evi Yunita S.Si (Kimia Murni - ITB Bandung), Essy Lestari Mahasiswa Angkatan I Fakultas Kedokteran – Unri). Cucu: Audry, 2,5 tahun.
@.-

Trackback(0)
Comments (10)add comment

ramli said:

Ambo penggemar barek Makmur Hendrik wakatu dulu. :grin. Kalau di cimbuak di buek carito basambuang Tikam Samurai atau giring-giring perak atau nan lainnyo mungkin rancak bana tu mah. smilies/smiley.gif
 
report abuse
vote down
vote up
January 11, 2005
Votes: +0

hensyam said:

Samo nan sabalumnya, ambo juo panggemar Makmur Hendrik. Kalaulah bisa, cubolah cimbuak mamuek carito basambuang dari Makmur Hendrik, samacam Tikam Samurai. Rancak bana tuh caritonya.

Apolagi bagi nan tingga di rantau, susah bana mandapekkan karangan2 dari beliau. Alah labiah 15 tahun, baru kali ko ambo mambaco kambali karangannyo. Moga2 cimbuak bisa mampatimbangkannyo.
 
report abuse
vote down
vote up
August 09, 2005
Votes: +0

erwin said:

Dunsanak kasadonyo,
Kami alah kontak ka pak Makmur Hendrik, baliau justru tidak mampunyoi file-file karangan inyo dulu, baliau maminta ka masyarakat jiko masih ado nan punyo tolong di copykan ka baliau, supayo bisa di filing dengan batua.
:x
 
report abuse
vote down
vote up
August 09, 2005
Votes: +0

benhur said:

karangan makmur sabana tageh indak lupo awak dicaritonya walaupun alah lamo awak mambaconyo, saroman jo cariyo sigiring-giring perak, tikam samurai, sapik kalo sigalapuang bagai
kalau sanak di tim cimbuak alah mangontak liau, dan inyo indak punyo file-file cxarito tu mungkin ka singgalang jo haluan masih manyimpan arsip karangan makmur, antahlah........
 
report abuse
vote down
vote up
September 20, 2005
Votes: +0

ayoe manan said:

saya sudah lama sekali mencari novel silat Tikam Samurai untuk melenkapi koleksi saya sampai kemana2 saya cari tapi gak ketemu2 juga. dimana saya bisa dapatkan lagi ? ada yang mau membantu saya ? thank before ....
maaf, saya tidak bisa berbahasa minang karena saya orang banjarmasin, kalimantan selatan tapi saya penggemar berat tulisan2 makmur hendrik ....
 
report abuse
vote down
vote up
June 14, 2006
Votes: +0

Webmaster said:

Dear ayoe manan, kami sudah berusaha untuk mendapat kan karangan2 Makmur Hendrik dan telah menghubungi beliau. Akan tetapi ternyata beliau sendiri tidak mempunyai master dari karangan2 beliau itu snediri, bahkan beliau meminta kalau ada diantara kita yg mempunyainya untuk mengcopykan untuk beliau untuk di filling dgn benar.
Pada saat ini kami masih berusaha mencari novel2 tersebut, dan kalau bisa mempersembahkannya untuk user cimbuak semua smilies/smiley.gif
 
report abuse
vote down
vote up
June 14, 2006
Votes: +0

febri said:

Ambo sendiri pernah menemui Bang (begitu inyo akrab disapo) Makmur Hendrik guna mancari cerbung Tikam Samurai, tapi sama yang diakuinya ka admin, beliau indak menyimpan file-file ttg cerbung tu lai. Amat disayangkan memang, malah beliau bersedia membeli buku-buku tu, jiko ada nan manyimpan!
 
report abuse
vote down
vote up
June 16, 2006
Votes: +0

udin said:

ambo juo penggemar tulisan carito silat makmur hendrik. Juo lah panek mancari sambungan tikam samurai jo neraka vietnam. Kaduoannyo munkin pernah tabit di singgalang jo haluan. Cubo cimbuak mahubungi singgalang jo haluan munkin disinan masih ado naskah carito-carito makmur hendrik. kalo ado kan bisa ditayang dicimbuak atau singgalang jo haluan mamuek ulang atau menerbitkannyo jadi buku. Ambo kiro banyak nan mananti-nanti. Sakian tarimo kasih
 
report abuse
vote down
vote up
June 18, 2006
Votes: +0

samsir alam said:

Wakatu ambo sakola SD,di simpang PLTA batang agam urang-urang rami manungukan koran dropan dari padang manunggu cerbung abang awakko,eh setelah ambo di STM negri Bukit tinggi hampia tiokhari ka-pasa ateh(taman bacaan) pai mambaco karangan MH kini lah 17th berlalu rindu juga kabukik tambun tulang
 
report abuse
vote down
vote up
October 13, 2006
Votes: +0

andiko said:

Ambo salah satu penggemar tulisan Pak Makmur Hendrik-ko. Dulu dengan susah payah ambo mangumpuakan satu persatu novel baliau yang berjudul tikam samurai, jo giring-giring perak. Tapi namun sayang seluruh bukutu tatingga di tampek kos waktu kuliah di Padang. Setahu ambo, di taman bacaan di Padang Teater masih meminjamkan buku tu untuak di baco, namun sayang indak buliah di bao pulang. Ambo setuju kalau semua karya itu diterbitkan ulang.

Oh yo, baa kalau di tanyo baliak ka penerbit partamonyo ?

salam

andiko
 
report abuse
vote down
vote up
February 12, 2007
Votes: +0

Write comment
You must be logged in to a comment. Please register if you do not have an account yet.

busy
Last Updated ( Wednesday, 12 January 2005 )
 
< Prev   Next >


Advertisement

Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Donasi Terakhir

Donasi untuk Cimbuak
Dari Jumlah
 Harmailis Rp.   200.007,--
 Ajo Duta / Mak Uncu Rp.   1.000.000,--
Inyiak Jangkuang Rp.   56.789,--
Dave, Melbourne Rp. 300.000,--
Balance Sementara
Rp. 1.116.796,--
Situs Terbaik
Online Sekarang
We have 20 guests and 22 members online
Generated in 4.58979 Seconds