|

Sawahlunto - Warga Mundam Sakti, Kabupaten Sawahlunto - Sijunjung, Sumatera Barat, hampir sebagian besar menggantungkan hidup dengan bercocok tanam di sawah dan ladang. Bahkan sudah menjadi tradisi, saat menuai padi atau ketika musim tanam tiba, mereka bekerja sambil diiringi nyanyian.
Penduduk Desa Mundam Sakti, tengah sibuk menyambut panen padi ladang yang terletak jauh di hulu sungai. Selain membawa perlengkapan pertanian, setiap peladang juga membawa perlengkapan tambahan berupa ban bekas. Ban bekas ini akan dipakai untuk menyusuri sungai dalam perjalanan pulang dari ladang. Tak lupa pula membawa saluang atau seruling.
Perjalanan menuju ladang yang terletak di tengah hutan, bukanlah hal yang mudah. Begitu keluar dari kampung, harus menempuh jalan setapak yang terjal dan rimbunnya semak belukar, untuk sampai ke ladang tujuan. Suara saluang diperdengarkan mengiringi perjalanan dan menemani saat-saat melepas lelah.
Sudah menjadi kebiasaan penduduk setempat, memainkan saluang ketika pergi ke ladang. Sesampai di ladang, mereka langsung menuju dangau atau pondok, melepas lelah. Alunan saluang kembali diperdengarkan.
Beramai-ramai padi dituai dengan ani-ani. Keberadaan hamparan ladang padi hingga jauh ke daerah hulu ini, karena lahan disekitar kampung sudah habis untuk bertanam.
Mengolah padi ladang, memang beda dengan padi sawah. Sebagian masih memakai tenaga manusia, termasuk proses melepas gabah dari tangkai atau istilah setempat disebut mairik. Begitu mairik selesai, mereka bersiap pulang. Perjalanan pulang dari ladang ke rumah, tidaklah seberat sewaktu berangkat.
Mereka akan menyusuri sungai dengan ban-ban bekas atau disebut benan. Babenan atau memakai ban bekas menyusuri sungai beramai-ramai, sejak beberapa tahun terakhir, telah menjadi tradisi warga setempat, ketika musim panen tiba.
Di tempat lain, di Desa Mundam Sakti, maroncah atau menggemburkan tanah sawah dengan menggunakan tenaga kerbau, tengah berlangsung. Pekerjaan ini biasa dilakukan sebulan menjelang tebar benih. Sejak subuh, belasan ekor kerbau digiring menuju sawah. Para pendendang, mulai beraksi begitu tiba di sawah.
dendang dengan irama khas ini akan menunjukkan kapan saat kerbau harus berbelok, berjalan lurus atau saat berhenti. Diyakini, tanpa dendang, kerbau akan sulit diperintah.
Setiap berlangsung maroncah, selain terdiri dari para pendendang, harus ada satu orang diantara petani yang bertugas sebagai supir, yang selalu berjalan di depan sebelah kiri iring-iringan kerbau. Supir kerbau ini tak sendirian menjalankan tugas. dibantu 2 orang sebagai penggembala, yang bertugas menghalau kerbau dari arah belakang selama proses maroncah berlangsung. Bagus atau tidaknya hasil maroncah, tergantung sang supir yang memimpin rombongan.
Di kalangan petani Mundam Sakti, dikenal ada 3 jenis hasil maroncah. Roncah gulai labu, jika yang dikerjakan hanya bagian tengah sawah saja. Bagian tepi pematang, luput dari injakan kaki kerbau. Sebaliknya, roncah gulai kacang, hanya mengenai bagian tepi pematang. Terbaik adalah roncah gulai ayam. Sawah secara merata diinjak kerbau, mulai dari bagian tengah hingga pinggir.
Waktu terus berjalan. Meski dendang maroncah makin hari makin jarang terdengar ditelan deru mesin traktor. Namun masih menyisakan hektaran sawah di Ranah Mundam Sakti yang terus merindu akan dendang maroncah dan pijakan kaki-kaki kerbau membalikkan tanah.(Idh)
Sumber : http://www.indosiar.com/v2/culture/culture_read.htm?id=18827&tp=horison
Trackback(0)
|