Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Bursa Jual Beli
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Pituah

Nan babarih nan dipahek
Nan baukua nan di kabuang
Jalan luruih nan ditampuah
Labuah Pasa nan dituruik
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Kota Bukittinggi Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Ditulis oleh Nila Kirana/ Litbang Kompas   
Kamis, 24 Maret 2005

WISATA dan belanja adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan dari
kehidupan kota ini. Keelokan alam di beberapa sisi wilayahnya menjadi
daya tarik tersendiri. Pusat perdagangan pun begitu mudah dijumpai. Kota kecil yang luasnya hanya 0,06 persen dari luas Provinsi Sumatera Barat ini populer dengan sebutan Kota Jam Gadang. Jam Gadang yang artinya jam besar menjadi simbol sekaligus pusat keramaian kota.

 

Dari menara tempat berdiri Jam Gadang inilah kegiatan wisata dan
belanja bisa segera dimulai. Pasalnya, tempat-tempat bernuansa sejarah yang menjadi saksi perkembangan kota di masa lalu seperti bekas kediaman Bung Hatta, Benteng Fort de Kock, dan Lubang Jepang berada tak jauh darinya. Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan yang usianya tergolong tua pun mudah dijangkau dari tempat ini.

Agak ke pinggir kota, di perbatasan Bukittinggi dengan kaki Gunung
Singgalang terdapat lembah atau lebih dikenal dengan sebutan Ngarai
Sianok yang menjadi magnet kunjungan wisata. Tebing berketinggian
100-120 meter dan dengan panjang sungai 15 kilometer ini tak hanya
indah dipandang mata, tetapi juga menjadi ajang pendakian wisatawan
mancanegara yang melancong ke sana.

Setelah menyusuri obyek wisata, mengunjungi pasar yang berada tepat di utara Jam Gadang adalah agenda selanjutnya. Pasar Atas, nama pusat perdagangan tadi, merupakan salah satu kebanggaan Bukittinggi. Di sinilah hasil kerajinan daerah terutama bordir yang menghiasi beraneka model kebaya dan mukena ditawarkan. Harganya pun bervariasi dari Rp 150.000 hingga Rp 900.000 per potong.

Mengenali bordir asli daerah ini membutuhkan keahlian tersendiri
mengingat ada pula barang serupa buatan Tasikmalaya, Jawa Barat, yang lebih banyak menggunakan teknik krancang solder. Bordir asli
Bukittinggi biasanya memanfaatkan teknik krancang langsung yang
tergolong agak rumit dan makan waktu.

Pasar Atas adalah salah satu wadah masyarakat melakukan kegiatan
ekonomi di samping pusat perdagangan lain, seperti Pasar Lereng, Pasar
Bawah, Pasar Banto, serta Pasar Aur Kuning. Kecuali pasar lainnya yang
menjual barang eceran, Pasar Aur Kuning khusus melayani permintaan
barang dalam jumlah besar atau grosir. Sama halnya dengan Pasar Tanah Abang Jakarta, demikian pula masyarakat setempat menyebut pasar ini sebagai Tanah Abangnya Bukittinggi.

Pasar Aur Kuning adalah yang terbesar dengan menempati bangunan 12.872 meter persegi. Di dalamnya terdapat 1.340 unit toko dan petak los 3.557 unit yang semuanya terisi penuh. Dua pasar lain yang tergolong besar adalah Pasar Atas dan Pasar Bawah. Masing-masing menampung 1.153 dan 1.379 pedagang.

Dunia perdagangan yang ditandai dengan banyaknya tempat perbelanjaan, toko, dan restoran sangat lekat dengan keseharian masyarakat Bukittinggi. Hasil sensus terakhir tahun 2000 mencatat 36.389 tenaga kerja yang 38,5 persen berkecimpung di bidang ini.

Meski bukan yang utama, perdagangan termasuk usaha hotel dan restoran, merupakan penyumbang terbesar ketiga kegiatan ekonomi wilayah ini.
Jumlahnya Rp 107,6 milyar dan selalu meningkat dari tahun ke tahun.
Penyumbang utama kegiatan ekonomi Kota Bukittinggi berasal dari jasa,
terutama jasa pemerintahan (27,14 persen), disusul pengangkutan dan
komunikasi (22,04 persen). Kegiatan ekonomi kota tahun 2000, Rp 590,5 milyar.

Bagi Pemerintah Kota Bukittinggi, bergairahnya transaksi jual beli
berdampak sangat positif. Selain mengantungi sekurang-kurangnya Rp 1,4 milyar dari retribusi pasar, mereka juga mampu meraup keuntungan dari berkembangnya jumlah angkutan yang makin marak. Dari hasil bagi pajak bahan bakar kendaraan bermotor tahun 2001 diperoleh pemasukan Rp 1 milyar.

Majunya usaha perdagangan, menyisakan pula hal-hal yang kurang
menguntungkan. Pemusatan kawasan perdagangan berdampingan dengan arena wisata seperti saat ini, perlahan mulai menimbulkan masalah.

Guguk Panjang tercatat sebagai kecamatan terpadat dibanding dua
kecamatan lainnya. Selain menjadi kawasan bisnis, daerah ini juga
disesaki permukiman penduduk. Arus lalu lintas yang padat akibat
penggunaan badan jalan sebagai tempat parkir seperti di Jalan a Yani,
misalnya, sangat mengurangi kenyamanan berkendara. Kerapian kota pun terlihat kurang diperhatikan.

Rata-rata laju pertumbuhan penduduk 1,02 persen selama 10 tahun sejak 1990 serta dijadikannya Bukittinggi sebagai tujuan wisata masyarakat daerah sekitar, turut menjadi biang keladi kotornya kota.
Bertebarannya sampah di mana-mana muncul sebagai masalah klasik.

Tahun 2000 perkiraan sampah yang dihasilkan tiap hari rata-rata 292
meter kubik. Dari jumlah itu tidak semuanya terangkut. Dalam sehari
setidaknya tersisa empat persen. Jika tak cepat diantisipasi, buruknya
pengelolaan sampah lambat laun akan memperburuk wajah Bukittinggi.
Apalagi mengingat sarana kebersihan seperti truk sampah yang jumlahnya 17 buah dan gerobak sampah 36 buah.

Masih banyak yang harus dibenahi di Bukittinggi. Penataan kota yang
lebih manusiawi dengan pembagian wilayah berdasarkan fungsi wisata,
perdagangan, konservasi industri, maupun permukiman perlu segera
direalisasikan.

Niscaya acara wisata serta belanja di udara sejuk dan nyaman di antara keindahan alam akan terus dapat dinikmati. Gunung Singgalang, Gunung Merapi, dan Gunung Sago yang mengelilingi akan menjadi saksi munculnya kembali decak kekaguman. Rancak bana..., indah nian Bukittinggi.
(Nila Kirana/ Litbang Kompas)
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0208/09/NASIONAL/kota59.htm

 

Komentar
1. Ditulis oleh khanesa pada Senin, 09 Januari 2006
jangan sampai kota yang dikenal bersih jadi kota terkotor nantinya... :roll

Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar.
Silahkan login atau daftar.

Powered by AkoComment 2.0!

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
Member Area
Radio Online Minang Pendengar: 1 dari 50 (1 Unik)
Peak: 25
Server Status: Online
Bitrate: 24 Kbps
Sedang Di putar: Anroy's - Kasiah Tak Sampai

Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Donasi Terakhir

Donasi untuk Cimbuak
Dari Jumlah
 Harmailis Rp.   200.007,--
 Ajo Duta / Mak Uncu Rp.   1.000.000,--
Inyiak Jangkuang Rp.   56.789,--
Dave, Melbourne Rp. 300.000,--
Balance Sementara
Rp. 1.116.796,--
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Situs Terbaik
Member
 Cimbuak.net | Minangkabau Community Portal Groups Online
 Anggota ( 12 ) Anggota 12
 Tamu ( 1 ) Tamu 1
  Total  13
 Angoota ( 7,173 ) Angoota  7,173


Statistik
Agg Baru  anwal
Hari Ini 6
Minggu Ini 95
Bulan Ini 406
Tahun ini 3,044
Online Sekarang
Online Sekarang
Saat ini ada 1 pengunjung dan 12 anggota yang online
User Terbaru

anwal

Terdaftar pada
2008-07-05 12:08:47

Pengunjung: 3476327