|
WISATA dan belanja adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan kota ini. Keelokan alam di beberapa sisi wilayahnya menjadi daya tarik tersendiri. Pusat perdagangan pun begitu mudah dijumpai. Kota kecil yang luasnya hanya 0,06 persen dari luas Provinsi Sumatera Barat ini populer dengan sebutan Kota Jam Gadang. Jam Gadang yang artinya jam besar menjadi simbol sekaligus pusat keramaian kota.
Dari menara tempat berdiri Jam Gadang inilah kegiatan wisata dan belanja bisa segera dimulai. Pasalnya, tempat-tempat bernuansa sejarah yang menjadi saksi perkembangan kota di masa lalu seperti bekas kediaman Bung Hatta, Benteng Fort de Kock, dan Lubang Jepang berada tak jauh darinya. Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan yang usianya tergolong tua pun mudah dijangkau dari tempat ini.
Agak ke pinggir kota, di perbatasan Bukittinggi dengan kaki Gunung Singgalang terdapat lembah atau lebih dikenal dengan sebutan Ngarai Sianok yang menjadi magnet kunjungan wisata. Tebing berketinggian 100-120 meter dan dengan panjang sungai 15 kilometer ini tak hanya indah dipandang mata, tetapi juga menjadi ajang pendakian wisatawan mancanegara yang melancong ke sana.
Setelah menyusuri obyek wisata, mengunjungi pasar yang berada tepat di utara Jam Gadang adalah agenda selanjutnya. Pasar Atas, nama pusat perdagangan tadi, merupakan salah satu kebanggaan Bukittinggi. Di sinilah hasil kerajinan daerah terutama bordir yang menghiasi beraneka model kebaya dan mukena ditawarkan. Harganya pun bervariasi dari Rp 150.000 hingga Rp 900.000 per potong.
Mengenali bordir asli daerah ini membutuhkan keahlian tersendiri mengingat ada pula barang serupa buatan Tasikmalaya, Jawa Barat, yang lebih banyak menggunakan teknik krancang solder. Bordir asli Bukittinggi biasanya memanfaatkan teknik krancang langsung yang tergolong agak rumit dan makan waktu.
Pasar Atas adalah salah satu wadah masyarakat melakukan kegiatan ekonomi di samping pusat perdagangan lain, seperti Pasar Lereng, Pasar Bawah, Pasar Banto, serta Pasar Aur Kuning. Kecuali pasar lainnya yang menjual barang eceran, Pasar Aur Kuning khusus melayani permintaan barang dalam jumlah besar atau grosir. Sama halnya dengan Pasar Tanah Abang Jakarta, demikian pula masyarakat setempat menyebut pasar ini sebagai Tanah Abangnya Bukittinggi.
Pasar Aur Kuning adalah yang terbesar dengan menempati bangunan 12.872 meter persegi. Di dalamnya terdapat 1.340 unit toko dan petak los 3.557 unit yang semuanya terisi penuh. Dua pasar lain yang tergolong besar adalah Pasar Atas dan Pasar Bawah. Masing-masing menampung 1.153 dan 1.379 pedagang.
Dunia perdagangan yang ditandai dengan banyaknya tempat perbelanjaan, toko, dan restoran sangat lekat dengan keseharian masyarakat Bukittinggi. Hasil sensus terakhir tahun 2000 mencatat 36.389 tenaga kerja yang 38,5 persen berkecimpung di bidang ini.
Meski bukan yang utama, perdagangan termasuk usaha hotel dan restoran, merupakan penyumbang terbesar ketiga kegiatan ekonomi wilayah ini. Jumlahnya Rp 107,6 milyar dan selalu meningkat dari tahun ke tahun. Penyumbang utama kegiatan ekonomi Kota Bukittinggi berasal dari jasa, terutama jasa pemerintahan (27,14 persen), disusul pengangkutan dan komunikasi (22,04 persen). Kegiatan ekonomi kota tahun 2000, Rp 590,5 milyar.
Bagi Pemerintah Kota Bukittinggi, bergairahnya transaksi jual beli berdampak sangat positif. Selain mengantungi sekurang-kurangnya Rp 1,4 milyar dari retribusi pasar, mereka juga mampu meraup keuntungan dari berkembangnya jumlah angkutan yang makin marak. Dari hasil bagi pajak bahan bakar kendaraan bermotor tahun 2001 diperoleh pemasukan Rp 1 milyar.
Majunya usaha perdagangan, menyisakan pula hal-hal yang kurang menguntungkan. Pemusatan kawasan perdagangan berdampingan dengan arena wisata seperti saat ini, perlahan mulai menimbulkan masalah.
Guguk Panjang tercatat sebagai kecamatan terpadat dibanding dua kecamatan lainnya. Selain menjadi kawasan bisnis, daerah ini juga disesaki permukiman penduduk. Arus lalu lintas yang padat akibat penggunaan badan jalan sebagai tempat parkir seperti di Jalan a Yani, misalnya, sangat mengurangi kenyamanan berkendara. Kerapian kota pun terlihat kurang diperhatikan.
Rata-rata laju pertumbuhan penduduk 1,02 persen selama 10 tahun sejak 1990 serta dijadikannya Bukittinggi sebagai tujuan wisata masyarakat daerah sekitar, turut menjadi biang keladi kotornya kota. Bertebarannya sampah di mana-mana muncul sebagai masalah klasik.
Tahun 2000 perkiraan sampah yang dihasilkan tiap hari rata-rata 292 meter kubik. Dari jumlah itu tidak semuanya terangkut. Dalam sehari setidaknya tersisa empat persen. Jika tak cepat diantisipasi, buruknya pengelolaan sampah lambat laun akan memperburuk wajah Bukittinggi. Apalagi mengingat sarana kebersihan seperti truk sampah yang jumlahnya 17 buah dan gerobak sampah 36 buah.
Masih banyak yang harus dibenahi di Bukittinggi. Penataan kota yang lebih manusiawi dengan pembagian wilayah berdasarkan fungsi wisata, perdagangan, konservasi industri, maupun permukiman perlu segera direalisasikan.
Niscaya acara wisata serta belanja di udara sejuk dan nyaman di antara keindahan alam akan terus dapat dinikmati. Gunung Singgalang, Gunung Merapi, dan Gunung Sago yang mengelilingi akan menjadi saksi munculnya kembali decak kekaguman. Rancak bana..., indah nian Bukittinggi. (Nila Kirana/ Litbang Kompas) http://www.kompas.com/kompas-cetak/0208/09/NASIONAL/kota59.htm
|
1. Ditulis oleh khanesa pada Senin, 09 Januari 2006 jangan sampai kota yang dikenal bersih jadi kota terkotor nantinya... |
Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar. Silahkan login atau daftar. Powered by AkoComment 2.0! |