Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Bursa Jual Beli
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Pituah

Bundo kanduang
Limpapeh rumah nan gadang
Amban puruak pegangan kunci
Amban puruak aluang bunian
Pusek Jalo kumpulan tali
Hiasan dalam nagari
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Kota Solok Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Ditulis oleh Litbang Kompas   
Kamis, 31 Maret 2005
TIDAK hanya Benua Afrika yang memiliki Tanjung Harapan, Kota Solok juga memiliki Tanjung Harapan, yaitu salah satu dari dua kecamatan di kota itu. Apabila "Castle of Good Hope"--julukan Tanjung Harapan di Afrika Selatan dalam bahasa Inggris--begitu populer sebagai kota persinggahan para pelaut dari seluruh dunia, kota kecil di Sumatera Barat ini juga punya peran cukup signifikan dalam jalur yang menghubungkan Pulau Sumatera-Jawa.


MEMANG, tak hanya kota yang berada di ketinggian 390 meter di atas permukaan laut ini saja yang dilintasi Jalan Lintas Sumatera. Namun, bila dibandingkan dengan dua kabupaten tetangganya yang juga dilewati jalan ini, kota yang berjarak 64 kilometer dari Padang ini jauh lebih ramai. Rumah-rumah berderet lumayan padat di sepanjang jalan, bukan kehijauan hutan di atas bukit seperti saat melintas di Kabupaten Solok dan Sawahlunto/Sijunjung.
Posisinya sungguh strategis. Terletak pada perpotongan rute yang menghubungkan kota-kota besar di Sumatera, seperti Medan, Padang, Bukittinggi, Pekanbaru, Bengkulu, dan Jambi. Letaknya yang beraksesibilitas tinggi didukung kehadiran Terminal Bareh Solok, yang artinya Beras Solok. Sarana transportasi yang berskala pelayanan regional mendorong peran kota ini menjadi simpul pergerakan penumpang dan barang. Terminal bertipe a ini dilewati oleh berbagai angkutan antarkota antarprovinsi atau AKAP maupun antarkota dalam provinsi atau AKDP.
Sayangnya, terminal kebanggaan ini mendapat tantangan berat. Seiring tajamnya penurunan harga tiket penerbangan, jumlah pengunjung terminal ini ikut melorot. Pada saat harga tiket penerbangan Jakarta-Padang Rp 650.000, sebuah perusahaan bus AKAP mampu mencari penumpang untuk empat bus. Namun, ketika biaya perjalanan naik pesawat berkurang hingga Rp 300.000 atau turun 46 persen, perusahaan angkutan darat hanya mendapat penumpang untuk satu bus. Maklum, selisih harga tiket bus dengan tiket pesawat sekitar Rp 250.000 hingga Rp 275.000. Tak heran, setelah naik 9,6 persen per tahun pada kurun tahun 1999 hingga 2001, pengunjung terminal turun 15,7 persen di tahun 2002.
Lepas dari merosotnya animo terhadap bus umum, kegiatan angkutan darat terbukti sebagai urat nadi perekonomian Solok. Sumbangan terbesar terhadap nilai total perekonomian dihasilkan oleh aktivitas transportasi jenis ini, 16,49 persen di tahun 2001. Bahkan, bila umumnya terminal besar dialokasikan di pinggiran (finger area) agar tak mengganggu berbagai kegiatan perkotaan yang lain, sarana transportasi yang memiliki pelayanan 24 jam ini justru berada di jantung kota, seakan menegaskan keberadaannya dalam struktur perekonomian makro.
Selanjutnya, kehadiran kota yang dilintasi tiga sungai ini sebagai titik penting pergerakan di Pulau Sumatera pun mendorong maraknya berbagai sektor, terutama kegiatan tersier. Kegiatan jasa dan perdagangan lebih terasa gemanya dibanding Kabupaten Solok dan Sawahlunto/Sijunjung. Tak heran bila kedua kabupaten beserta Kota Sawahlunto memosisikan diri menjadi wilayah belakang atau hinterland kota kecil ini.
Penduduk di kabupaten tetangga memanfaatkan sarana perbelanjaan di kota yang berada di gugusan patahan semangka Bukit Barisan ini untuk membeli berbagai barang kebutuhan. Sekitar 1.000 kios, 500 toko, dan 140 los tersedia setiap hari melayani konsumen. Meski perdagangan eceran mendominasi kegiatan perniagaan, terdapat juga perdagangan partai besar komoditas beras hasil persawahan lokal maupun kabupaten tetangga. Tanpa membedakan partai besar ataupun eceran, tak kurang dari 32 persen tenaga kerja terserap di kegiatan niaga ini.
Ramainya kegiatan pengangkutan dan juga jual beli sedikit banyak mendorong perkembangan properti. Kebutuhan ruang, termasuk tempat usaha, terus meningkat. Sumbangan kegiatan ini pun menduduki tiga terbesar, yakni 13,28 persen.
Seperti daerah lain, perkembangan sektor properti memicu konversi lahan hijau. Area hutan dan sawah yang selama ini masih dominan dalam tata guna lahan kota ini terus terancam. Hampir separuh permukaan tanah di kota yang luasnya 0,14 persen dari Provinsi Sumatera Barat masih tertutup persawahan dan hutan, dengan rincian hutan 24 persen dan sawah sekitar 22 persen dari luas kota.
Selain luasannya mendominasi, tenaga kerja yang terserap juga cukup banyak. Menurut sensus penduduk tahun 2000, lebih kurang 11 persen tenaga kerja berkecimpung dalam usaha budidaya tanaman pangan. Keberadaan pertanian di tengah-tengah kota ini menjadi sesuatu yang unik, namun sekaligus bisa menimbulkan masalah di kemudian hari.
Persawahan yang terkonsentrasi di pusat kota salah satunya disebabkan oleh morfologi yang landai. Bagian barat dan utara yang berbatasan dengan kabupaten lain cenderung berbukit-bukit, ladang dan kebun terlihat di kiri kanan. Sayangnya, bagian kota yang bisa dicapai dengan mobil pribadi tak sampai satu jam ini tak bisa dijangkau kendaraan umum.
Menggulirkan roda perekonomian sebuah kota memang tak gampang. Dengan sumber daya alam terbatas serta minimnya dukungan aparat yang berkinerja tinggi, pemerintah kota (pemkot) harus mencari langkah-langkah tepat untuk menentukan nasib kota di masa datang. Lapangan usaha yang berprospek cerah dapat digarap lebih optimal. Misalnya, usaha angkutan dan komunikasi yang diperkirakan menjadi peluang bagus yang harus dimanfaatkan. Partisipasinya terhadap nilai total perekonomian kota terus tumbuh 4,38 persen per tahun selama tahun 1999-2001.
Selain perekonomian, pemkot memiliki pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Peleburan Kota Solok ke Kabupaten Solok akibat minimnya jumlah kecamatan mengancam keberadaan pemerintah kota. Alternatif pemecahan antara lain dengan meminta beberapa kecamatan dari kabupaten tetangga. Sayangnya, ini tak mudah karena berhubungan berbagai hal, misalnya hilangnya pendapatan asli daerah serta dana alokasi umum kabupaten yang merelakan kecamatannya. Sementara itu, pemekaran dua kecamatan yang sudah ada juga tak bisa semata-mata untuk mencapai kuota jumlah kecamatan. Pertanyaan besar apakah pelayanan kepada masyarakat dapat lebih ditingkatkan dengan pemekaran kecamatan harus bisa dijawab. Apa pun jalan yang diputuskan, jangan sampai Solok justru menjadi "Castle of No Hope".

 

Komentar

Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar.
Silahkan login atau daftar.

Powered by AkoComment 2.0!

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
Member Area
Radio Online Minang Pendengar: 10 dari 50 (10 Unik)
Peak: 27
Server Status: Online
Bitrate: 24 Kbps
Sedang Di putar: Dipaso Makan Umpan

Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Donasi Terakhir

Donasi untuk Cimbuak
Dari Jumlah
 Harmailis Rp.   200.007,--
 Ajo Duta / Mak Uncu Rp.   1.000.000,--
Inyiak Jangkuang Rp.   56.789,--
Dave, Melbourne Rp. 300.000,--
Balance Sementara
Rp. 1.116.796,--
Situs Terbaik
Member
 Cimbuak.net | Minangkabau Community Portal Groups Online
 Admin ( 1 ) Admin 1
 Anggota ( 10 ) Anggota 10
 Tamu ( 17 ) Tamu 17
  Total  28
 Angoota ( 7,354 ) Angoota  7,354


Statistik
Agg Baru  AdeLailaF...
Hari Ini 17
Minggu Ini 106
Bulan Ini 427
Tahun ini 3,156
Online Sekarang
Online Sekarang
Saat ini ada 17 pengunjung dan 11 anggota yang online
User Terbaru

dd.rj.basa

Terdaftar pada
2008-07-19 00:46:05

Pengunjung: 3589875