Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Bursa Jual Beli
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Makmur Hendrik
Episode Terbaru :
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Pituah

Nan babarih nan dipahek
Nan baukua nan di kabuang
Jalan luruih nan ditampuah
Labuah Pasa nan dituruik
Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Palanta
This is not a Login form

Name:

Message:

Advertisement
Kota Sawahlunto Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Ditulis oleh Gianie/ Litbang Kompas   
Kamis, 31 Maret 2005
SEJAK ditemukannya batu bara di sekitar Sungai Ombilin tahun 1868 dan produksi pertamanya yang dimulai pada tahun 1892, geliat perekonomian Kota Sawahlunto praktis bergantung pada sektor pertambangan. Areal penambangan batu bara di Kota Tambang seluas lebih kurang 16.000 hektar, yang tersebar di Kecamatan Talawi, memiliki tambang dalam satu-satunya di Indonesia.

Kegiatan penambangan selain dilakukan perusahaan milik negara, juga perusahaan swasta dan masyarakat.Produksi batu bara yang mayoritas dihasilkan oleh kuasa pertambangan PT Tambang Batubara Bukit Asam Unit Produksi Ombilin (PT TBBA UPO) ini dikonsumsi pasar domestik untuk keperluan beberapa industri semen, kegiatan listrik negara, dan perusahaan swasta lokal lainnya. Sedangkan untuk pasar Asia, dinikmati oleh perusahaan Ma-sefield AG (Malaysia), Sungmin (Korea), dan Jepang.

Untuk mendukung kegiatan produksi, kegiatan pendistribusiannya pun menggiatkan sektor angkutan darat dan pelayaran. Distribusi batu bara dari lokasi penambangan ke konsumen melalui jalur darat menggunakan truk dan kereta api batu bara menuju pengapalan di Pela-buhan Teluk Bayur.
Penambangan batu bara Om-bilin telah beroperasi selama 109 tahun. Bila melihat data cadangan batu bara tertambang (tahun 2001) dari tambang terbuka yang besarnya 1,8 juta ton, dengan perhitungan volume produksi tambang terbuka sekitar satu juta ton per tahun, cadangan ini hanya mampu bertahan selama dua tahun (sampai 2003). Sedangkan cadangan tertambang dari tambang dalam bisa bertahan lama.
Cadangan batu bara dari tambang dalam memang menjanji-kan. Namun, penambangan dari tambang dalam ini tidak semudah penambangan dari tambang terbuka. Di samping memperhitungkan tingkat keselamatan penambang, penambangan di tambang dalam memerlukan peralatan yang lebih canggih yang berarti memerlukan investasi besar. Sementara, mening-katnya jumlah penambang tanpa izin oleh masyarakat yang merasa berhak karena batu bara berada di tanah ulayat, menjadi kendala utama dalam mengundang investor.
Di luar kendala tersebut, karena batu bara adalah non renewable resources, orientasi kemampuan ekonomi daerah pascabatu bara perlu dikembangkan. Memang tidak dapat dipungkiri, usaha pertambangan batu bara menjadikan kemampuan ekonomi per kapita (PDRB per kapita) Kota Sawahlunto meningkat setiap tahun. Sampai tahun 1999 angka PDRB per ka-pita mencapai Rp 9,1 juta. Angka ini melebihi angka PDRB per kapita Provinsi Sumatera Barat dan nasional yang masing-masing Rp 4,5 juta dan Rp 5,5 juta.
Namun, jika ditinjau tanpa memasukkan unsur batu bara, PDRB per kapita turun menjadi Rp 5,1 juta. Angka yang masih tergolong tinggi, dengan kontribusi terbesar berasal dari sektor jasa dan industri pengolahan.
Bersama sektor pertambangan, sektor pertanian yang juga termasuk dalam kegiatan yang hasilnya menjadi input bagi kegiatan ekonomi lainnya, sebenarnya menjadi sumber mata pencarian utama penduduk. Sektor pertanian menyerap 4.952 tenaga kerja (21,49 persen dari total tenaga kerja yang terdata), sementara sektor pertambangan menyerap 5.049 tenaga kerja (21,91 persen).
Akan tetapi, soal kontribusi terhadap total kegiatan ekonomi, sektor pertanian tiap tahun menyumbang tidak lebih dari lima persen. Tahun 1999, misalnya, sektor pertanian hanya me-nyumbang empat persen atau senilai Rp 19,2 milyar. Sedangkan sektor pertambangan setiap tahun memberi kontribusi hampir 50 persen. Pada tahun 1999 saja kontribusinya 45,92 persen atau senilai Rp 220,9 milyar. Ini menunjukkan penduduk yang banyak bekerja di sektor pertanian adalah tenaga kerja yang kurang produktif.
Adapun potensi unggulan yang sedang dikembangkan pemkot (pemerintah kota) untuk menghadapi era pascatambang adalah industri yang berbasis kerakyatan, seperti kerupuk ubi kubang di Kenagarian Kubang. Serta usaha ayam buras di Desa Kumbayau, ikan air tawar di Desa Rantih, dan batu bata di Desa Sijantang.
Dengan visi menjadikan Sa-wahlunto sebagai kota wisata tambang yang berbudaya, pemkot juga mempersiapkan kegiatan wisata yang memanfaatkan aset dan kegiatan pertambangan sebagai obyek dan daya tarik wisata. (Gianie/ Litbang Kompas
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0105/11/NASIONAL/kota08.htm

Komentar

Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar.
Silahkan login atau daftar.

Powered by AkoComment 2.0!

Terakhir kali diperbaharui ( Kamis, 31 Maret 2005 )
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
Member Area
Radio Online MinangSaat ini Radio Cimbuak
sedang Offline
Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Donasi Terakhir

Donasi untuk Cimbuak
Dari Jumlah
 Harmailis Rp.   200.007,--
 Ajo Duta / Mak Uncu Rp.   1.000.000,--
Inyiak Jangkuang Rp.   56.789,--
Dave, Melbourne Rp. 300.000,--
Balance Sementara
Rp. 1.116.796,--
Situs Terbaik
Member
 Cimbuak.net | Minangkabau Community Portal Groups Online
 Tamu ( 0 ) Tamu 0
  Total  0
 Angoota ( 7,356 ) Angoota  7,356


Statistik
Agg Baru  A2d
Hari Ini 0
Minggu Ini 85
Bulan Ini 401
Tahun ini 3,148
Online Sekarang
    Online Sekarang
    User Terbaru

    penyok

    Terdaftar pada
    2008-07-19 10:28:40

    Pengunjung: 3596893