Home
Daftar Anggota
Galleri
Resep
Restoran Minang
Bursa Jual Beli
Games
Download
Kamus Minang
Chat
Menu Situs
Berita
Artikel
Prosa
Tokoh Minang
Adat Budaya
Agama
Kolom Khusus
Pariwisata
Berita Keluarga
Giring2 Perak
Pituah

Kok diajak urang pasupadan
Kok dialiah urang kato pusako
Kok dirubah urang kato dahulu
Jan cameh nyawo malayang
Jan takuik darah taserak

Milis Minang
Rantaunet
Surau
Aktivis Minang
Media Padang
PosMetro Padang
Advertisement
Kabupaten Padang Pariaman Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Ditulis oleh FX Sriyadi Adhisumarta Litbang Kompas   
Kamis, 31 Maret 2005
Empat dari lima Presiden Indonesia telah mengubah wajah Padang Pariaman. Setidaknya, perubahan itu secara fisik bisa ditelusuri lewat undang-undang (UU) dan peraturan pemerintah (PP). Pada zaman Soekarno keluar UU Nomor 12 Tahun 1956. Salah satu pasalnya menetapkan Padang Pariaman menjadi daerah otonom dalam lingkungan Provinsi Sumatera Tengah.
 Satu tahun kemudian, muncul UU Darurat RI No 19/1957 yang menghapus Provinsi Sumatera Tengah dan membentuk Provinsi Sumatera Barat, Jambi, serta Riau. Padang Pariaman berada di Sumatera Barat yang beribu kota di Bukittinggi.
Semasa pemerintahan Soeharto, lewat PP Tahun 1979 ibu kota Sumatera Barat dipindahkan dari Bukittinggi ke Padang. Pesatnya perkembangan Kota Padang membutuhkan lahan untuk menunjang aktivitasnya. Alasan itulah yang mendasari turunnya PP No 17/1980 mengenai perluasan wilayah Padang. Kabupaten Padang Pariaman melepaskan sebagian wilayahnya, Kecamatan Koto Tangah, Pauh, dan Lubuk Begalung untuk perluasan ibu kota yang baru.
Meski masa pemerintahannya singkat, BJ Habibie sempat membuat UU No 49/1999 yang menetapkan Kepulauan Mentawai menjadi daerah otonom. Kepulauan seluas 2.311 kilometer persegi ini kemudian lepas dari Kabupaten Padang Pariaman.
Pemerintahan Abdurrahman Wahid tidak melakukan perubahan atas wilayah Padang Pariaman. Namun, tidak begitu dengan pemerintahan Megawati. Satu tahun setelah ia menjadi presiden, lahirlah UU No 12/2002 yang menaikkan status administratif Pariaman dari semula kota administratif menjadi kota otonom. Daerah yang luasnya 73 kilometer persegi ini lalu lepas dari kesatuan wilayah Kabupaten Padang Pariaman menjadi Kota Pariaman pada tanggal 10 April 2002.
Kabupaten yang dilalui 12 sungai ini sepertiga kegiatan ekonominya disumbang oleh pertanian. Pada tahun 2000, lahan budidaya pertanian Padang Pariaman-masih termasuk Kota Pariaman-luasnya 61 persen, dengan Kecamatan VII Koto seluas 14.314 hektar sebagai wilayah pertanian terbesar. Total kegiatan ekonomi tahun ini tercatat Rp 1,9 trilyun, di mana pertanian menyumbang Rp 576 milyar. Sebagian besar hasil pertanian ini berasal dari tanaman bahan makanan padi dan palawija sebesar Rp 409 milyar.
Produktivitas padi di kabupaten ini terbilang bagus. Tahun 2000 rata-rata per hektarnya 5,8 ton, lebih baik 0,6 ton dari tahun sebelumnya menurut data Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan. Produksi padi tahun itu naik hingga 6.000 ton, menjadi 314.184 ton. Meskipun produksinya naik, luas panen padi tahun 2000 turun 4.000 hektar lebih dibanding tahun 1999 menjadi 54.144 hektar.
Letaknya yang berada di pinggir Samudera Hindia membuat Padang Pariaman mempunyai obyek wisata bahari yang menjanjikan. Sayangnya, kelebihan ini belum dikelola secara lebih baik. Memang, melihat data wisatawan yang berkunjung ke Padang Pariaman, akan timbul kesan bahwa kabupaten ini cukup diminati wisatawan. Lihat saja, tahun 2000 jumlah wisatawan domestik yang berkunjung ada 1,1 juta orang, sementara wisatawan mancanegara 7.417 orang.
Namun, lihat juga angka jumlah wisatawan yang menginap. Ternyata, hanya sebesar 2.792 orang untuk tahun 2000 atau sekitar 8 orang saja per hari. Data ini menunjukkan bahwa wisatawan tidak atau kurang tertarik untuk tinggal lebih lama di wilayah tersebut. Padahal, tahun 2005 nanti Bandara Ketaping yg bertaraf internasional direncanakan selesai dibangun di Kabupaten Padang Pariaman. Kalau daerah ini jauh-jauh hari tidak meningkatkan sarana dan prasarana pariwisata, wisatawan hanya akan transit di sini. Dengan demikian, lepaslah peluang untuk meraup pendapatan yang lebih besar dari usaha pariwisata.
Meskipun punya garis pantai sepanjang 72 kilometer, produksi ikan laut Padang Pariaman masih kalah dibanding hasil perikanan air tawarnya. Ikan yang ditangkap dari Samudera Hindia sekitar 17.000 ton, sedangkan yang dihasilkan di perairan umum dan budidaya di kolam-kolam serta sawah sudah mendekati 23.000 ton. Sumbangan perikanan terhadap kegiatan ekonomi juga tidak besar, hanya Rp 81 milyar. Hasil perikanan laut turun drastis dibandingkan dengan tahun 1999 menjadi sebesar 27.000 ton.
Sementara itu, dalam bidang tambang dan galian, Padang Pariaman potensial terutama dalam produksi bahan galian C. Di Kecamatan IV Koto Aur Malintang terdapat bahan tambang obsidian yang menurut perkiraan lebih dari satu juta meter kubik. Sedangkan bahan galian seperti trans, andesit, dan sirtukil bisa ditemukan di Kecamatan VII Koto, 2x11 Enam Lingkung dan Batang Anai.
Padang Pariaman juga terkenal akan sulaman indahnya. Hasil kerajinan ini bahkan sudah diekspor ke luar negeri, ke Malaysia. Di negeri ini sulaman Padang Pariaman sangat digemari. Namun, belakangan ini terdengar cerita bahwa bukan lagi hasil sulaman yang diekspor, melainkan orang-orang yang menyulam tersebut yang diangkut ke sana. Di negeri jiran itu tangan-tangan terampil mereka dikaryakan dan diupah untuk membuat sulaman.
Negeri ini akan kehilangan sulaman indah bila tidak lagi dihasilkan di tanah kelahirannya meskipun tradisi merantau dan kerja keras dikenal melekat pada masyarakat Padang Pariaman. Suatu hari nanti bisa-bisa Malaysia yang menjadi produsen sulaman Padang Pariaman, sementara Indonesia menjadi konsumennya. Kalau itu yang terjadi, betapa ironisnya!
FX Sriyadi Adhisumarta Litbang Kompas
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0208/02/NASIONAL/kabu27.htm

Komentar

Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar.
Silahkan login atau daftar.

Powered by AkoComment 2.0!

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
Member Area
Radio Online Minang Pendengar: 2 dari 50 (2 Unik)
Peak: 25
Server Status: Online
Bitrate: 24 Kbps
Sedang Di putar: 07 LNGANG KAMPUANG

Yayasan Palanta Cimbuak
Yayasan Palanta Cimbuak
Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang
Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko
Donasi Terakhir

Donasi untuk Cimbuak
Dari Jumlah
 Harmailis Rp.   200.007,--
 Ajo Duta / Mak Uncu Rp.   1.000.000,--
Inyiak Jangkuang Rp.   56.789,--
Dave, Melbourne Rp. 300.000,--
Balance Sementara
Rp. 1.116.796,--
Cimbuak Features

Cimbuak Chat


Cimbuak Chat


Free Email


Free Email
Situs Terbaik
Member
 Cimbuak.net | Minangkabau Community Portal Groups Online
 Anggota ( 13 ) Anggota 13
 Tamu ( 2 ) Tamu 2
  Total  15
 Angoota ( 7,173 ) Angoota  7,173


Statistik
Agg Baru  anwal
Hari Ini 6
Minggu Ini 95
Bulan Ini 406
Tahun ini 3,044
Online Sekarang
Online Sekarang
Saat ini ada 2 pengunjung dan 13 anggota yang online
User Terbaru

anwal

Terdaftar pada
2008-07-05 12:08:47

Pengunjung: 3476079