|
Pituah |
Malompek samo patah Manyaruduak samo bungkuak Tatungkuik samo makan tanah Tatalantang samo minum aie |
|
|
KABUPATEN Sawahlunto Sijunjung |
|
|
|
Ditulis oleh Ratna Sri Widyastuti/Litbang Kompas
|
|
Kamis, 31 Maret 2005 |
POSISI sebagai kabupaten terluas ketiga di Provinsi Sumatera Barat sebentar lagi tak bisa disandang. Nanti, setelah empat kecamatan yang berbatasan dengan Provinsi Jambi dan Riau memisahkan diri, peringkat luasan daerah ini akan turun menjadi kabupaten kedua paling sempit se-Sumatera Barat
DENGAN pemekaran ini, hampir 49 persen wilayah Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung akan hilang. Padahal, bakal daerah yang kelak bernama Kabupaten Dharmasraya itu adalah lokasi kegiatan pertanian yang mengemuka dalam skala kabupaten. Budidaya sayur-mayur salah satunya. Usaha ini dilakukan sekitar 33.000 petani, termasuk warga suku Jawa yang bertransmigrasi. Hingga saat ini, komoditas sayur dari daerah tersebut dikirim ke Pekanbaru. Demikian pula perkebunan, sektor yang menjadi salah satu dari tiga tiang utama struktur perekonomian kabupaten induk yang dilintasi 29 sungai ini. Lapangan usaha yang berpartisipasi terhadap nilai total perekonomian 10,37 persen di tahun 2002 memusatkan kegiatan di bagian tenggara, terutama kelapa sawit milik swasta. Perkebunan sawit umumnya menggunakan pola plasma inti. Secara umum, tak kurang 77.000 hektar lahan ditanami sawit, menghasilkan 873.000 ton tandan buah segar sawit. Dari sekitar 60 perusahaan yang mendapat izin di bidang perkebunan, kira-kira dua per tiga memilih tempat usaha di bagian tenggara yang bakal mekar. Badan-badan usaha tersebut selain memanfaatkan lahan yang lebih landai dibanding bagian utara, juga mempekerjakan sebagian masyarakat sekitar yang umumnya transmigran dari Pulau Jawa, untuk mendukung kegiatannya. Tandan buah segar atau lebih sering disingkat TBS yang dihasilkan dari kelapa sawit itu diolah menjadi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di pengolahan kelapa sawit yang tersebar di perkebunan-perkebunan besar di kabupaten yang dilewati Bukit Barisan ini. Tak kurang dari lima mesin pengolah memproduksi 335 ton TBS per jam tersedia. Minyak sawit mentah ini kemudian diangkut dengan truk tangki berwarna hijau ke Palembang, Batam, juga Padang untuk diekspor ke Malaysia, Singapura, serta Eropa. Berbeda dengan perkebunan besar, aktivitas perkebunan yang diusahakan rakyat mayoritas menghasilkan komoditas karet yang sebarannya lebih merata. Di sepanjang jalan di luar ibu kota kabupaten, tampak pohon-pohon karet ditanam di kebun-kebun milik warga, terutama di Kecamatan Sungai Rumbai dan Kamang Baru. Hasil sadapan karet akan dimasak dengan cuka atau tawas sehingga menjadi gumpalan hitam berbau menyengat. Ojol-demikian julukan hasil masakan karet ini-dikirim ke Pekanbaru dan Padang untuk diolah menjadi lateks. Bahkan, 40 persen pasokan ojol ke pabrik lateks di Padang berasal dari tanaman karet di kabupaten ini. Lateks dari Padang dikapalkan ke Singapura, Amerika, dan Jepang menjadi bahan baku industri di negara tersebut. Hasil pertanian lain yang bisa diandalkan adalah produk hutan yang sebagian terletak di daerah bakal pisah. Dengan luasan hutan total 60 persen dari luas kabupaten, kayu bulat dan kayu gergajian hasil 14 saw mill resmi serta hasil hutan nonkayu, seperti sarang burung walet, terus diproduksi. Sebagian hutan berada di daerah bakal kabupaten baru. Secara keseluruhan, April 2001 hingga Maret 2002, tak kurang 5.000 meter kubik kayu gergajian dan 31.000 kayu bulat dihasilkan dan dikirim ke pabrik-pabrik kayu lapis di Riau. Sayangnya, penjarahan hutan juga meluas. Diperkirakan, peningkatan hutan kritis 20 persen per tahun. Hasil-hasil hutan dan kebun inilah yang mendorong kegiatan perdagangan, selain perdagangan kebutuhan pokok. Tak heran bila nilai sumbangan aktivitas niaga terhadap nilai total perekonomian menduduki peringkat kedua, 10,78 persen. Tantangan besar bagi kabupaten induk, nilai PDRB perdagangan akan melorot sebab kegiatan jual beli, terutama hasil hutan dan perkebunan, terpusat di calon kabupaten baru. Bila tak dipersiapkan langkah dan strategi jitu, yang akan tersisa hanya perdagangan eceran berupa warung dan toko di permukiman, serta pasar-pasar tradisional yang keramaiannya memuncak seminggu sekali. Masih tak beranjak dari topik pemekaran, lapangan usaha yang berpeluang terbesar menyelamatkan struktur perekonomian sang induk adalah pertanian tanaman pangan. Komoditas padi dan hortikultura lain sekarang cukup banyak ditanam di bagian utara. Apalagi 70 persen penduduk kabupaten yang berjarak 110 kilometer dari Padang ini mengais rezeki lewat tanaman pangan. Peluang lain yang dapat dimanfaatkan adalah kandungan deposit bahan tambang di perut bumi Sawahlunto/Sijunjung, termasuk di bagian utara yang morfologinya lebih bergelombang. Terdapat cukup banyak simpanan batu kapur, grafit, andesit, granit, kalsit, kaolin, pasir kuarsa, fosfat, silika, lempung kuarsit, dan emas. Seandainya tak ada pemisahan empat kecamatan, pemerintah kabupaten yang bertanggung jawab membenahi infrastruktur. Meski tertolong oleh kehadiran jalan negara yang bagaikan ruas-ruas utama tulang punggung prasarana transportasi, jalan-jalan jenis lain kurang diperhatikan kondisinya. Tak kurang 40 persen jalan dalam kondisi rusak, terutama daerah transmigrasi yang berbatasan dengan Provinsi Jambi. Diperlukan perjalanan empat jam menggunakan mobil untuk menuju daerah tersebut dari ibu kota pemerintahan. Padahal, waktu tempuh antara Padang dan ibu kota pemerintahan Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung hanya tiga jam. Selain jauh, harus lewat jalan negara di Provinsi Jambi dan Bukit Barisan, sebagian jalan masih berupa tanah berdebu saat kemarau dan berlumpur bila hujan turun. Belum lagi sarana transportasi umum yang melayani penduduk relatif terbatas. Tak heran bila daerah ini seakan terisolasi dari pelayanan pemerintahan kabupaten yang dilintasi Sungai Batanghari ini. Ratna Sri Widyastuti/Litbang Kompas http://www.kompas.com/kompas-cetak/0308/05/otonomi/471648.htm
Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar. Silahkan login atau daftar. Powered by AkoComment 2.0! |
|
Pendengar: 2 dari 50 (2 Unik) Peak: 25 Server Status: Online Bitrate: 24 Kbps Sedang Di putar: Yetti - 08 baju kuruang |
|
Yayasan Palanta Cimbuak |
 Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko |
|
Donasi Terakhir |

| Dari | Jumlah | | Harmailis | Rp. 200.007,-- | | Ajo Duta / Mak Uncu | Rp. 1.000.000,-- | | Inyiak Jangkuang | Rp. 56.789,-- | | Dave, Melbourne | Rp. 300.000,-- | Balance Sementara
| Rp. 1.116.796,-- | |
|
Member |
 | Groups |
Online |
 | Anggota |
13 |
 | Tamu |
2 |
 | Angoota |
7,173 |
| Statistik |
| Agg Baru |
anwal |
| Hari Ini |
6 |
| Minggu Ini |
95 |
| Bulan Ini |
406 |
| Tahun ini |
3,044 |
|
|
Online Sekarang |
|
Saat ini ada 2 pengunjung dan 13 anggota yang online |
|
User Terbaru |
anwalTerdaftar pada 2008-07-05 12:08:47
|
|