|
Pituah |
Adat babarih babalabeh Baukua jo bajangko Tungku nan tigo sajarangan Patamo banamo alua jo patuik Kaduo banamo anggo tanggo Katigo banamo raso pareso |
|
|
Kabupaten Pesisir Selatan |
|
|
|
Ditulis oleh Krishna P Panolih/ Litbang Kompas
|
|
Kamis, 31 Maret 2005 |
O dari Bunguih o ka Batang Kapeh, gilo balayia-layia sajo, kaia putuih ikan lah lapeh, gilo bacamin aia juo lah diak kanduang ei (O dari Bungus ke Batang Kapas, asyik berlayar-layar saja, kail putus ikan telah lepas, "gila" bercermin air jualah adik kandung). Itulah potongan bait dalam tradisi menceritakan kaba (cerita) Minangkabau yang dikenal sebagai rebab Pesisir Selatan. Tradisi ini dikenal sejak lama di kabupaten di selatan Sumatera Barat (Sumbar).
Identik dengan istilah pesisir yang bisa berarti beragam atau dinamis terhadap unsur-unsur sekitarnya, tradisi sastra lisan ini kemudian diapresiasi oleh masyarakat daerah sekitar Pesisir Selatan seperti Padang, Solok, dan Agam. Begitu dalam makna tradisi itu sehingga tali rebab pun tergambar dalam lambang daerah yang berhari jadi pada 15 April 1948. Nama Pesisir Selatan berasal dari istilah di masa penjajahan Belanda dulu, yaitu afdeling zuid beneden landen (dataran rendah bagian selatan). Ketika itu pada tahun 1903 wilayah Kerajaan Bandar Sepuluh Inderapura dan Kerinci dikuasai Belanda, yang lalu menjadi afdeling dan dipimpin asisten residen yang berkedudukan di Inderapura sebagai pusat pemerintahan. Melalui Undang-Undang (UU) Nomor 12 Tahun 1956 daerah ini berstatus Kabupaten Daerah Tingkat II Pesisir Selatan Kerinci, dan baru pada tahun 1957 sah menyandang nama Pesisir Selatan. Topografi daerah ini beragam antara dataran, gunung, dan perbukitan yang juga perpanjangan gugusan Bukit Barisan. Letaknya di pinggir pantai. Berdasarkan penggunaan lahan, hingga tahun 2000 wilayahnya terdiri dari 45,29 persen hutan, termasuk kawasan lindung Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), Cagar Alam Koto XI Tarusan, dan rawa gambut. Kendati tanahnya sarat dengan hutan, pertanian-khususnya tanaman bahan makanan-menjadi penggerak utama kehidupan ekonomi kabupaten. Padi yang dihasilkan di Kecamatan Pancung Soal, Sutera, dan Bayang, menyumbang 19,17 persen dari total kegiatan perekonomian tahun 2000 yang besarnya Rp 1,3 trilyun. Tahun 2001 dari luas panen 40.123 hektar, diperoleh produksi padi 201.916 ton. Tahun sebelumnya luas panen komoditas yang menyerap 60 persen pasar tenaga kerja ini 39.922 hektar dengan produksi 181.966 ton. Selama dua tahun itu didapat surplus gabah kering giling 48.599 ton (2000) dan 90.063 ton (2001). Selain untuk kebutuhan lokal, beras Pesisir Selatan juga dipasarkan ke Padang, Solok, Payakumbuh, Pekanbaru, Bengkulu, dan Jambi. Perikanan terhitung belum banyak menyokong. Meskipun bergaris pantai 218 kilometer, sumbangannya enam persen dalam kegiatan perekonomian. Komoditas laut yang khas Pesisir Selatan adalah teri super. Teri ini dikenal karena aromanya yang khas, kepala tidak lepas dan warna yang tetap putih bersih walaupun dicuci dan direbus. Dari total produksi 20.723 ton (2001) komoditas perikanan, dihasilkan teri sekitar 7.894 ton. Kecamatan Koto XI Tarusan, Kota Painan, Sungai Nipah (Kecamatan IV Jurai), Sutera, dan Batang Kapas kaya dengan jenis ikan ini. Selain dijual di pasar lokal dengan harga rata-rata Rp 20.000 per kilogram, teri kering ini juga dijual ke Padang hingga Pekanbaru. Produksi teri tersebut masih mengalami kendala karena musim tangkapan hanya berlangsung dari bulan April hingga September. Jenis tangkapan lain yang menjadi alternatif adalah tongkol, kembung, dan tuna. Di sini juga terdapat kendala karena jumlah kapal nelayan tradisional hanya 494 buah. Itu pun rata-rata di bawah lima ton. Ada peluang baru yang dikembangkan dalam lahan perikanan, yaitu budi daya kerapu, rumput laut, dan kerang mutiara di daerah Tarusan, Painan, dan Kecamatan Batang Kapas. Kontribusi perkebunan dan kehutanan, masih dalam lapangan usaha pertanian, tidak besar, di bawah empat persen. Kelapa sawit misalnya, produksinya 25.062 ton (2000) dan banyak dihasilkan di Kecamatan Lunang Silaut, Lengayang, dan Linggo Sari Baganti. Sementara kayu yang sampai pertengahan tahun 2002 produksinya 110 meter kubik, kebanyakan berupa meranti dan rimba campuran yang berasal dari Kecamatan Pancung Soal. Produk kayu ini bukan berasal dari kawasan hutan lindung, melainkan dari sisa lahan hutan yang akan dijadikan lahan perkebunan 100 hektar. Memang Pesisir Selatan hampir setengahnya berwujud hutan, namun hutan tersebut tidak dominan berupa hutan produktif. Sumbangan hutan dan produk hasil hutan tidak sampai satu persen dari total kegiatan ekonomi. Sementara itu, pemerintah kabupaten masih berharap dalam tahun anggaran 2002, setidaknya dari bagi hasil bukan pajak kehutanan, Iuran Hasil Hutan Rp 57 juta dan Iuran Hak Pengusahaan Hutan Rp 768 juta. Kegiatan pasar di tingkat kabupaten biasanya terpusat di ibu kota kabupaten. Namun, hal ini tidak terjadi di Painan, ibu kota Pesisir Selatan yang berjarak 96 kilometer dari Padang. Kegiatan pasar berlangsung di masing-masing kecamatan. Sementara suplai barang kebutuhan sehari-hari sangat tergantung pada distribusi dari Padang. Kondisi ini semakin parah karena hanya ada satu jalan provinsi yang menghubungkan jalan antarkecamatan. Teri super, kelapa sawit, dan kayu boleh dibilang menjadi komoditas andalan perdagangan, walaupun belum berkualitas ekspor. Perdagangan besar dan eceran menjadi penyumbang kegiatan ekonomi utama kabupaten yang diapit Kota Padang dan Provinsi Bengkulu ini, sebesar Rp 276,6 milyar atau 21,3 persen. Pemerintah kabupaten sedang giat menggenjot berbagai program dalam wadah kawasan pengembangan (KP), yang terbagi dalam lima wilayah. KP pariwisata di utara, perkebunan besar di selatan, pertanian dan perkebunan rakyat di sebelah timur, perikanan laut di sebelah barat, dan perdagangan serta industri rumah tangga di kawasan tengah. Kawasan pengembangan ini selain membantu pembangunan Pesisir Selatan menjadi lebih terarah, juga membantu pemerintah kabupaten membuat program kerja yang terencana Krishna P Panolih/ Litbang Kompas) http://www.kompas.com/kompas-cetak/0208/13/NASIONAL/kabu08.htm
|
1. Gulai Lauak Ditulis oleh joys pada Jumat, 19 Mei 2006 Kok 'nak tau jo lamak gulai lauak, makanlah di lapau nasi Sungai Nipah, di tapi lawik 7 km sasudah Painan sabalun Batangkapeh. Indak promosi doh ! sabab ciek 'tu nan indak lapau saya doh, salabiahnyo lapau urang. | 2. Gulai Lauak Ditulis oleh joys pada Jumat, 19 Mei 2006 Kok 'nak tau jo lamak gulai lauak, makanlah di lapau nasi Sungai Nipah, di tapi lawik 7 km sasudah Painan sabalun Batangkapeh. Indak promosi doh ! sabab ciek 'tu nan indak lapau saya doh, salabiahnyo lapau urang. |
Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar. Silahkan login atau daftar. Powered by AkoComment 2.0! |
|
Saat ini Radio Cimbuak sedang Offline |
|
Yayasan Palanta Cimbuak |
 Dari Awak, Oleh Awak, Untuak Kampuang Nio berpartisipasi? Silakan klik disiko |
|
Donasi Terakhir |

| Dari | Jumlah | | Harmailis | Rp. 200.007,-- | | Ajo Duta / Mak Uncu | Rp. 1.000.000,-- | | Inyiak Jangkuang | Rp. 56.789,-- | | Dave, Melbourne | Rp. 300.000,-- | Balance Sementara
| Rp. 1.116.796,-- | |
|
Member |
 | Groups |
Online |
 | Anggota |
7 |
 | Tamu |
0 |
 | Angoota |
7,161 |
| Statistik |
| Agg Baru |
antoni_056 |
| Hari Ini |
15 |
| Minggu Ini |
97 |
| Bulan Ini |
412 |
| Tahun ini |
3,040 |
|
|
Online Sekarang |
|
Saat ini ada 7 anggota yang online |
|